Penulis Topik: Tiada Pilihan  (Dibaca 714 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Tiada Pilihan
« pada: Januari 30, 2015, 01:55:07 PM »

“Lihat! Bukankah cintaku membawamu ke jalan Tuhan ?” Tanya saya. “Dan aku ingin kamu tahu, setiap aku hendak bertemu kamu, aku akan minta izin pada istriku. Jika istriku tidak mengizinkan aku, marah atau cemburu, aku akan membujuk rayunya, mengajaknya makan di restoran atau jalan-jalan, sambil terus meminta izinnya sampai dia mengizinkan saya. Aku tidak mau berdosa, karena itu aku ingin, jika kita bertemu semua pihak merestuinya, istriku, suamimu, orang tuaku, orang tuamu, saudaraku, saudaramu, kawanku, kawanmu, sahabatku, sahabatmu, guruku, gurumu.”

Tin menanggapi, “Aku gak akan sanggup mengatakan kepada suamiku. Aku bukan dirimu yang bias merayu istrimu sampai dia mengizinkannya. Aku wanita yang tidak berhak dengan caraku begini. Tidak seperti laki-laki, mau mendua juga laki-laki berkuasa. Mungkin kalau dibandingkan, dosaku lebih besar. Itu memang aku sadari sebagai resiko dari pertemuan ini. Kalau aa selalu meminta izin terus sama istri tentang pertemua kita, aa merayu dan membahagiakan istri sampai istri aa puas, tetap saja dia tidak akan bahagia. Dan kalaupun pertemuan kita terjadi tanpa izin istri .. itu adalah resiko kenapa aa mau ketemu sama aku. Dan kalaupun setiap saat bilang semua pertemuan kita sama istri, jelaslah aku begitu jelek di mata istrimu. Aku akan dituduh sebagai wanita yang gak bener, walaupun aku bener. Dan aku harap, aa tuh menjaga nama baikku di mata istrimu .. agar dia tidak beranggapan negative tentangku.”

“Aku hanya tak ingin ada seorangpun yang tersakiti. Kalau ada yang merasa tersakiti, aku harus segera berikan obatnya. Demikian pula terhadap istriku. Lagi pula, itu ujian bagiku. Jika aku tidak apat menyempurnakan kebahagiaan orang yang tinggal seatap denganku, maka bagaimana kamu bias percaya bahwa aku mampu membawamu pada jalan bahagia ? aku akan menjaga nama baikmu di depan istriku, seperti aku menjaga nama baik istriku di depan kamu. Aku gak pernah menceritakan hal-hal buruk tentangnya padamu. Dan aku tidak pernah mengatakan hal-hal buruk tentangmu padanya. Aku katakana pada istriku, akulah yang ingin bertemu denganmu, bukan kamu yang minta. Aku rela dipersalahkan oleh kamu atau istriku. Tapi aku tidak akan membiarkan kamu dipersalahkan oleh istriku atau sebaliknya.” Demikian ku katakan.

Tin berkata, “Iya itu kamu. Tapi bagaimana dengan aku. Jika suamiku tau, entahlah apa yang akan dia lakukan padaku.”

Saya menjawab, “Katakan saja, semua itu aku yang salah. Kalo dia marah, biarkan dia marah kepadaku!”

Dengan nada sedih, Tin berkata, “Sebaiknya, jangan ada pikiran lagi untuk bertemu, kalau jalannya harus begitu!”

Saya menjawab, “Aku tidak akan memaksakan diri untuk bertemu denganmu. Tapi, mau tak mau kita akan bertemu lagi. Aku telah melihat masa depan. Berlandaskan kepada pengalaman sebelumnya, penglihatan mata batinku tidak pernah meleset. Tak ada jalan bagi kita untuk mundur, apapun resikonya. Bukan aku tak mau mundur, tapi tak ada jalan. Bukan aku tidak mau memilih, tapi tak ada pilihan. Bukan aku tidak mau melupakanmu, tapi aku tak bisa. Demikian pula dengan kamu, kamu tidak akan bisa melupakan aku, tak bisa menjauhiku, dan tidak akan mampu memutuskan hubungan persahabatan ini. Kalo kamu bisa, coba saja katakan padaku Jangan pernah hubungi aku lagi! dan hapus semua kontakku! Kamu bisa ? jika tidak, berarti takdir sudah mengikat kita.”

“Memang gak bisa.” Jawab Tin pendek.

“Karena ini satu-satunya jalan, tak ada pilihan.” Ujarku.

Saya berkata, “Masa depan telah kulihat jelas, seperti melihat tayangan sebuah televisi di depan mataku. Ada hal besar yang akan terjadi antara kita. Kelak, suami kamu akan mengetahui semua tentang kita, semua yang kita lakukan dan bahkan semua yang kita katakan. Dia akan marah kepada kita, dan bahkan hingga berkelahi denganku. Lalu kita akan dihadapkan ke sidang pengadilan. Karena itu aku telah siapkan segala jawabannya sejak saat ini. Demikian pula kamu, seharusnya kamu juga mempersiapkan segala jawabannya, karena kamu juga akan ditanya.”

“Ya.” Jawab Tin.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags: tin hayatin 
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
2146 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 02, 2013, 10:47:48 AM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
883 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 03, 2013, 06:47:36 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
760 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 16, 2014, 11:11:17 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
3635 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 29, 2014, 04:48:30 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1666 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 11, 2015, 06:46:36 PM
oleh Ziels
1 Jawaban
302 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 04, 2016, 08:23:43 AM
oleh Goen
1 Jawaban
239 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 07, 2018, 04:11:00 PM
oleh GrabyDeo
0 Jawaban
103 Dilihat
Tulisan terakhir November 10, 2017, 02:27:50 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
18 Dilihat
Tulisan terakhir November 29, 2017, 12:11:16 PM
oleh Kang Asep
Tiada Cinta

Dimulai oleh Kang Asep Puisi

0 Jawaban
202 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 09, 2018, 10:07:12 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan