Penulis Topik: Soal Hukum dan Kebijakan dalam Kasus Perumahan  (Dibaca 7 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Soal Hukum dan Kebijakan dalam Kasus Perumahan
« pada: Juni 07, 2018, 04:30:02 PM »
Edisi Curhat : 6 Juni 2018

18 tahun lamanya kami hidup mengontrak, sudah sangat ingin memiliki rumah sendiri. Kami mencoba membeli rumah secara kredit, tapi selalu gagal, ditolak oleh pihak bank. Karena gaji saya terlalu kecil. Seringkali pihak marketing menyarankan agar kami merekayasa slip gaji, tapi saya dan istri gak mau melakukan hal seperti itu, karena takut akan dosa akibat berbohong. Tapi kami tak patah arang, terus berusaha untuk mendapatkan rumah yang kami impikan. Dan kali ini, kami gagal kembali membeli rumah secaea kredit, bukan karena gaji kami terlalu kecil, tapi karena terlalu besar. Serba salah, gaji kecil salah. Gaji besar juga salah.

Sebenarnya gaji kami tidaklah besae, apalagi terlalu besar, tapi hanya sedikit lebih besar dari sebelumnya. Tapi kali ini kami mencoba mengambil rumah subsidi dari pemerintah. Salah satu syaratnya, gaji tak boleh lebih dari 4 jt. Sementara gaji saya, lebih sedikit dari itu.

Rumah subdisi diperuntukan bagi masyarakat miskin, masyarakat dengan penghasilan rendah. Sehingga memberikan rumah pada kami, dengan penghasilan lebih sedikit dari 4 jt, dianggap tidak tepat sasaran. Padahal, saya baru saya mendapatkan gaji sejumlah itu tiga bulan terakhir ini. Mengapa kondisi lainnya tidak diperhatikan, bahwa kami telah belasan tahun mengontrak, dengan penghasilan kecil dari upah sebagai guru honor, sejak zaman upah honor masih Rp. 30.000 perbulan. Dengan honor sekecil itu, saya berangkat mengajar, menempuh perjalanan 10 km, dengan semangat mengajar anak negeri dan harapan suatu waktu akan diangkat menjadi PNS. Tapi harapan tinggal harapan, setelah belasan tahun mengajar, saya hanya mendapatjan janji-janji, tak pernah diangkat dengan honor tak lebih dari Rp. 500 rb. Dan sekarang, saya dinyatakan tak berhak mendapatkan rumah murah subsidi pemerintah, karena dianggap mampu, hanya karena saya baru saja mendapatkan pekerjaan dengan upah yang layak. Walaupun begitu, faktanya kami tidak mampu membeli rumah selain rumah subsidi yang DP nya bisa terjangkau oleh kami. Untuk Kredit rumah non Subsidi, dari mana bisa dikatakan bahwa kami mampu ? Apa sekarang saya harus balik lagi jadi guru honorer agar bisa kredit rumah subsidi ? Mengapa kebijakan pemerintah ini membuat kami jadi serba salah ?

Saya sering mengajukan Kredit perumahan sejak setelah saya memutuskan berhenti dari profesi guru honorer dan beralih bekerja di perusahaan kecil, dengan gaji 1.3 jt. Namun saya selalu ditolak dengan alasan gaji terlalu kecil. Dan setelah 7 tahun, gaji neningkat menjadi 2.5 jt.  Untuk terakhir kalinya saya mengajukan kredit rumah subsidi. Dan kali ini tampaknya kami diterima, hingga sudah keluar SP3. Kami sangat senang, dan hampir setiap pekan kami libur kerja kami melihat rumah yang sedang dalam proses pembangunan. DP telah kami bayar. Dan kami bayangkan, usai lebaran ini, kami bisa menempati rumah impian kami.

Sementara itu, istri saya terus menghitung-hitung, bagaimana dari mana bayar biaya akad, dari mana nanti akan bayar cicilan rumah, dan bagaimana biaya untuk membangun dapur. Karena rumah subsidi itu tanpa disediakan dapur. Melihat kecemasan pada wajah istri, saya jadi berpikir keras, bagaimana untuk memperoleh penghasilan tambahan. Akhirnya saya curhat di medsos tentang masalah kami. Tak disangka, ada orang baik hati menawari saya pekerjaan dengan gaji yang menarik. Saya pun setuju dan mulai pindah kerja. Saya kumpulkan uang, untuk biaya pindah ke rumah baru usai lebaran ini. Tapi tak terduga, marketing perumahan tiba-tiba dan sangat cepat memberi kabar bahwa rumah sudah diberikan pada pembeli lain. Dengan alasan sekarang gaji saya sudah besar, jadi tidak berhak lagi mendapatkan rumah subsidi. Saya termenung, dengan keraguan, benarkah pekerjaan baru yang saya dapatkan ini sebuah keberuntungan ? Saya ambil tawaran kerja yang baru, agar kelak lancar bayar cicilan rumah, tapi kakau tahu bahwa malah akan jadi hambatan untuk mendapatkan rumah, niscaya saya tak akan ambil pekerjaan baru ini. Biar dengan gaji lebih sedikit, tapi diperkenankan memiliki rumah yang kami impikan.

Sekarang harapan kami untuk segera mendapatkan rumah baru pupus sudah. Sementara usia kami tak muda lagi. walaupun mulai hari ini kami bisa menabung untuk DP rumah non subsidi, namun faktor usia akan jadi alasan berikutnya untuk penolakan.

Mengetahui pembatalan itu, istri saya bersedih. Berulang kali dia berkata,"Harus bagaimanakah kita ?"

Saya bilang,"Kita akan mengajukan gugatan hukum ke pengadilan terkait hal ini." Walaupun saya bukan ahli hukum, tapi saya punya tekad, untuk mencari kebenaran dan keadilan, berharap pihak berwenang mengevaluasi kembali kebijakan-kebijakannya. Apakah suatu aturan harus dijalankan secara textbook tanpa menimbang hati nurani ? Apakah hakim hakim di negeri ini masih menggunakan timbang rasa dalam memutuskan ataukah hanya semata terpaku pada logika ? Adakah orang yang dapat memberikan solusi atas permasalahan ini ? Saya harus pergi ke pengadilan untuk mengetahuinya. Soal pasal-pasal yang akan dijadikan dasar untuk gugatan, akan saya siapkan.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
1064 Dilihat
Tulisan terakhir November 27, 2012, 06:33:25 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1727 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 27, 2012, 04:48:22 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
1456 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 22, 2013, 11:49:50 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
1479 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 20, 2013, 08:20:58 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
810 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 09, 2015, 09:09:18 AM
oleh gumalta
3 Jawaban
661 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 16, 2016, 01:36:21 AM
oleh Ziels
0 Jawaban
463 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 09, 2016, 03:13:02 PM
oleh Sultan
2 Jawaban
693 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 14, 2016, 04:32:05 PM
oleh Sultan
2 Jawaban
569 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 24, 2016, 04:34:28 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
16710 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2016, 02:43:48 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan