Penulis Topik: Senandung Perjalananku  (Dibaca 887 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9465
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Senandung Perjalananku
« pada: November 10, 2013, 07:49:13 AM »
Mungkin orang menganggap saya agak kolot, culun, aneh, bodoh atau apalah namanya, karena sebenarnya saya ini penakut dan mudah khawatir terhadap banyak hal. Kalau pakai motor di jalanan, saya menjalankan dengan pelan-pelan seperti aki-aki udah ubanan yang menjalankan motor seperti menjalankan sepeda santai. Banyak hal yang saya khawatirkan di jalanan, takut jatuh, takut ngerem mendadak, takut menyenggol kendaraan lain, taku melanggar rambu-rambu lalu lintas. Pokoknya, banyak lah yang saya takutkan.

Kalau hal-hal yang mengkhawatirkan itu hilang dari pemikiran saya, lalu muncul pula pemikiran-pemikiran lain yang menarik untuk saya pikirkan, rencana-rencana, konsep-konsep, peristiwa-peristiwa masa lalu, dan lain sebagainya. Kadang-kadang saya teringat hal-hal lucu, lalu saya tersenyum. Dan orang-orang yang berpapasan dengan saya saya, dikiranya saya melempar senyum padanya.  Kadang-kadang saya teringat hal-hal yang membuat saya marah, muka saya jadi cemberut. Otomatis reaksi orang-orang yang berpapasan dengan saya, tampak tidak senang. Bahkan tiba-tiba tawa saya meledak, karena saya teingat hal-hal yang benar-benar menggelikan. Lebih repot kalau saya teringat hal-hal memalukan. Rasanya ingin ngumpet, sembunyi di bawa jok. Seperti dalam satu perjalanan tertentu di atas motor, saya mengeluarkan suara panjang, “Hooooo….. wadow!” sampai orang-orang di lampur merah terperangah mendengar teriakan saya. Teriakan itu karena saya teringat suatu peristiwa beberapa tahun lalu di perpustakaan, ketika saya menanyakan novel Enny Arrow kepada petugas Perpustakaan. Itu sangat memalukan sekali. Silahkan baca dalam cerpen berjudul : Terlambat Setahun Untuk Merasa Malu. Rasa malu saya bertambah, karena saya tanpa sadar berteriak di lampu merah, mengundang perhatian orang-orang.

Gejolak pemikiran menimbulkan gejolak emosi sepanjang perjalanan yang saya lalui. Dan gejolak emosi itu secara disadari atau tidak, dan kebanyakannya tidak diasari menimbulkan beragam ekspresi pada wajah saya. Semakin kuat gejolak emosi itu, semakin kuat pula exkpresinya, sehingga dapat ditangkap dengan jelas oleh orang-orang yang melihat wajah saya, walaupun untuk sekilas.

Ekspresi-ekspresi, gumamam serta teriakan aneh sepanjang perjalanan yang saya lalui, membuat diri saya sendiri risih. Karena saya mirip dengan orang gila. Kadang tersenyum, tertawa, menangis, cemberut, dan kadang mengeluarkan ekspresi dengan suara-suara. Sampai-sampai, saya sendiri bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya sudah gila?”

Tanpa sengaja, suatu hari saya menemukan sebuah artikel yang menjelaskan bahwa banyak ilmuwan yang mempunyai masalah psikologi. Karena mereka terlalu keras berpikir, lalu mereka mengalami semacam suatu gangguan mental, sehingga mereka, ketika melakukan penelitian berjam-jam di laboratorium, mereka sering mengeluarkan suara-suara aneh. Lalu saya bergumam, “jangan sampai deh, saya seperti para ilmuwan gila itu!”

Akhirnya, untuk mengendalikan pikiran dan emosi saya selama perjalanan, saya selalu bersenandung sepanjang perjalanan. Saya menyanyikan lagu-lagu tempo dulu, seperti lalu Koes Plus, Broery, Panbers, dan lain sebagainya. Menyenangkan sekali rasanya, bernyanyi-nyanyi sepanjang jalan, menghilangkan kebosanan dan membuat hati tetap dengan ekspresi riang. Saking asyiknya, kadang saya menyanyi dengan sangat keras, mengundang perhatian orang-orang. Sampai-sampai ada yang berkomentas, “Wah … ada artis lewat!”  he..he… malu juga dikomentarin begitu.

Akhirnya, saya memutuskan untuk diam seperti para pengendara yang lain, kalau sedang berkendara di jalanan. Tapi ternyata itu sangat berat bagi saya. Capek dan bosan. Kalau enggak, pikiran suka melayang ke sana ke mari. Saya berpikir, bagaimana cara agar saya tetapt riang gembira sepanjang perjalanan yang saya lalui ketika saya berkendara untuk jarak yang jauh. Akhirnya saya menemukan ide, bahwa saya akan mengganti senandung lagu-lagu cinta dengan bacaan ayat-ayat suci al Quran.

Sejak saat itu, saya selalu membawa catatan ayat-ayat al Quran dalam saku baju saya untuk saya hafalkan. Sepanjang perjalanan, saya mengulang-ngulang ayat-ayat al Quran yang ingin saya hafalkan. Kalau lupa, saya akan menepi untuk membuka catatan ayat-ayat al Quran yang saya simpan dalam saku baju. Saya membacanya sebentar, mengingatnya, lalu meneruskan perjalanan sambil mengulang kembali ayat-ayat al Quran yang tadi saya baca. Ketika saya sudah merasa hafal betul dengan ayat-ayat tadi, saya berhenti lagi dan menepi untuk membuka kembali catatan, dan melihat, apa ayat selanjutnya untuk saya hafalkan.

Pada dasarnya, saya suka bersenandung. Dulu senandung saya adalah lagu-lagu cinta. Bahkan seringkali menyanyikan sebuah lirik lagu yang bunyinya, “Ingin ku ulangi, dosa yang terindah, yang pernah kita lakukan”  enak memang dilantunkan, tapi kalau dipikir-pikir, berapa kali saya teriak-teriak “ingin mengulangi dosa yang terindah”, Astagfirullahal Adzim! Padahalnya, bagaimana kalau kata-kata yang kita ucapkan menjadi sebuah doa yang terkabulkan ? cilaka!

Sekarang sayaranya lebih baik. Saya tidak harus berhenti dari melakuan hobi saya, yaitu bersenandung di atas kendaraan sepanjang perjalanan. Saya hanya perlu mengubah liriknya saja dengan ayat-ayat suci al Quran. Ini lebih baik dan lebih bermanfaat. saya kadang tidak peduli, saat berhenti di lampu merah, saya bersenandung dengan ayat-ayat suci Al Quran, menarik perhatian orang-orang. Kenapa saya harus malu, pangamen dengan rambut warna warni, baju lusuh, celana robek-robek, bergerak dari satu angkot ke angkot lain mencari urang recehan sambil menyanyikan lagu dengan lirik semacam yang berisi ratapan-ratapan duniawi, seperti juga yang dinyanyikan oleh para artis di atas panggung, di hadapan publik, mereka tidak merasa malu. Kenapa saya harus malu, sedangkan saya bersenandung dengan ayat-ayat suci al Quran? Apakah ada orang yang tidak suka mendengarkan ayat suci al Quran ? ataukah polisi lalu lintas akan menilang saya karena bersenandung dimulai dengan tau`dz dan basmalah di lampu merah ? sejauh ini, tak seorangpun yang protes kepada saya. Dan sampai detik ini, saya belum menemukan orang lain melakukan hal sama, seperti yang saya lakukan. Apakah Anda suka melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re: Senandung Perjalananku
« Jawab #1 pada: November 12, 2013, 04:48:13 PM »
Quote (selected)
'
Akhirnya, untuk mengendalikan pikiran dan emosi saya selama perjalanan, saya selalu bersenandung sepanjang perjalanan. Saya menyanyikan lagu-lagu tempo dulu, seperti lalu Koes Plus, Broery, Panbers, dan lain sebagainya. Menyenangkan sekali rasanya, bernyanyi-nyanyi sepanjang jalan, menghilangkan kebosanan dan membuat hati tetap dengan ekspresi riang. Saking asyiknya, kadang saya menyanyi dengan sangat keras, mengundang perhatian orang-orang. Sampai-sampai ada yang berkomentas, “Wah … ada artis lewat!”  he..he… malu juga dikomentarin begitu. [/size]Akhirnya, saya memutuskan untuk diam seperti para pengendara yang lain, kalau sedang berkendara di jalanan. Tapi ternyata itu sangat berat bagi saya. Capek dan bosan. Kalau enggak, pikiran suka melayang ke sana ke mari.



Kok sama seperti adie ^_^, cuma untuk menghapal alquran dimotor belum pernah dilakukan
Kelakuan seperti ini sudah lama banget dan masih sampai sekarang
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9465
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: Senandung Perjalananku
« Jawab #2 pada: November 12, 2013, 09:21:15 PM »
^ makanya saya ceritakan, karena saya yakin ada banyak orang yang mempunyai pengalaman serupa.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Senandung Perjalananku
« Jawab #3 pada: Desember 14, 2015, 09:35:50 PM »
Kalau hal-hal yang mengkhawatirkan itu hilang dari pemikiran saya, lalu muncul pula pemikiran-pemikiran lain yang menarik untuk saya pikirkan, rencana-rencana, konsep-konsep, peristiwa-peristiwa masa lalu, dan lain sebagainya. Kadang-kadang saya teringat hal-hal lucu, lalu saya tersenyum. Dan orang-orang yang berpapasan dengan saya saya, dikiranya saya melempar senyum padanya.  Kadang-kadang saya teringat hal-hal yang membuat saya marah, muka saya jadi cemberut. Otomatis reaksi orang-orang yang berpapasan dengan saya, tampak tidak senang. Bahkan tiba-tiba tawa saya meledak, karena saya teingat hal-hal yang benar-benar menggelikan. Lebih repot kalau saya teringat hal-hal memalukan. Rasanya ingin ngumpet, sembunyi di bawa jok. Seperti dalam satu perjalanan tertentu di atas motor, saya mengeluarkan suara panjang, “Hooooo….. wadow!” sampai orang-orang di lampur merah terperangah mendengar teriakan saya. Teriakan itu karena saya teringat suatu peristiwa beberapa tahun lalu di perpustakaan, ketika saya menanyakan novel Enny Arrow kepada petugas Perpustakaan. Itu sangat memalukan sekali. Silahkan baca dalam cerpen berjudul : Terlambat Setahun Untuk Merasa Malu. Rasa malu saya bertambah, karena saya tanpa sadar berteriak di lampu merah, mengundang perhatian orang-orang.

Gejolak pemikiran menimbulkan gejolak emosi sepanjang perjalanan yang saya lalui. Dan gejolak emosi itu secara disadari atau tidak, dan kebanyakannya tidak diasari menimbulkan beragam ekspresi pada wajah saya. Semakin kuat gejolak emosi itu, semakin kuat pula exkpresinya, sehingga dapat ditangkap dengan jelas oleh orang-orang yang melihat wajah saya, walaupun untuk sekilas.

Ekspresi-ekspresi, gumamam serta teriakan aneh sepanjang perjalanan yang saya lalui, membuat diri saya sendiri risih. Karena saya mirip dengan orang gila. Kadang tersenyum, tertawa, menangis, cemberut, dan kadang mengeluarkan ekspresi dengan suara-suara. Sampai-sampai, saya sendiri bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya sudah gila?”

Saya juga sering begitu Kang, dan saya juga sering curiga jangan-jangan saya memang sudah gila?
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
4 Jawaban
1040 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 02, 2015, 09:31:17 PM
oleh Monox D. I-Fly
3 Jawaban
1555 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 05, 2015, 09:07:08 AM
oleh ratna
Senandung Pagi

Dimulai oleh ratna Puisi

0 Jawaban
137 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 05, 2016, 10:23:31 AM
oleh ratna

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan