Penulis Topik: Putri Kecilku  (Dibaca 684 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Putri Kecilku
« pada: Juni 29, 2014, 06:04:32 PM »
Melalui telepon istriku mengabarkan bahwa Aura, putriku yang berumur lima tahun setengah, sangat rewel. Bahkan dalam empat malam terakhir Aura menangis hampir sepanjang malam. Dia minta saya segera pulang. Rupanya dia kangen berat sama aku, ayahnya.

Sebenarnya tanggung bulan. Aku belum menerima gaji dari perusahaan tempat aku bekerja. Oleh karena itu, aku meminta istriku agar bisa membujuk Aura. Tapi segala bujuk rayu istriku tidak mempan. Anakku semakin sering mengamuk.

Yoga, anakku yang sulung merasa sangat kasihan melihat ibunya yang dalam kondisi lelah pulang kerja dihadapkan pada adiknya yang rewel dan ngamuk-ngamuk. Bahu ibunya sudah terasa seakan mau patah, karena Aura sering minta digendong semalaman. Dengan rasa sedih, Yoga berkata padaku melalui sms, “Ayah, ... mulai sekarang, ayah ngemanja Dede. Beginilah akibatnya kalau anak dimanja.”

Anak sulungku menuduhku telah memanjakan si Kecil, sehingga ia menjadi anak yang rewel. Saya menyangkalnya, “Kalau Dede rewel, itu karena hari-harinya tidak bahagia. Emank sudah meninggal. Dede merasa kehilangan guru, ratu, dan sahabat bermain. Dia bersedih. Kamu harus mengerti itu. Kalau kamu kasihan kepada ibumu, maka dekati adikmu, temani hari-harinya! Jangan biarkan adikmu larut dalam kesedihan! Gembiarakanlah adikmu, berikan perhatian dan kasih sayangmu pada dia!”

Yoga membalas, “Baik ayah, saya mengerti! Tapi bagaimana sekarang, apa  yang harus saya lakukan ? aku kasihan sama ibu.”

“Sabarlah, ayah segera pulang!” jawabku melalui sms.

Di dalam perjalanan pulang di dalam bis, berkali-kali air mataku jatuh bercucuran, mengingat betapa kurasakan beban penderitaan putriku itu. Dia telah kehilangan Emak, nenekku yang sangat menyayangi dia. Emak sangat ingin memberinya nama Siti, maka kuberikan putriku itu nama Aura Siti Cantika. Kini Emak telah tiada, tiada seorangpun yang bisa menggantikan dia. Sedangkan istriku sibuk bekerja, pergi pagi, pulang larut malam. Kadang hari libur atau hari minggu pun, istriku kerja lembur. Sedangkan aku sendiri, pergi jauh, mencari peruntungan ke Kota Jakarta.  Untuk itu Aura aku titipkan pada Mama ku, neneknya Aura. Tapi setiap kali aku pulang dari Jakarta, Aura mengeluh bahwa dia tidak ingin diasuk oleh Neneknya. Anakku bilang, “Nenek galak, dia tidak sayang padaku, tidak pernah memeluk, tidak pernah menciumku.” Sebenarnya bukan Neneknya itu tidak sayang, tapi belaian kasih sayang Mama ku, mungkin tidak sama seperti belai kasih sayang Emak, nenekku.

Yoga mengabari, Aura terus menungguku seharian, dan tidak mau masuk ke dalam rumah sebelum aku datang. Aku mencoba berbicara dengan putriku melalui telepon. Telepon di terima, tapi tidak ada suara yang terdengar. Putriku telah kehilangan suaranya, akibat tangisan berhari-hari. Untunglah datang pamannya, yang berhasil membujuk dan membawa Aura ke rumahnya agar bermain dengan sepupunya.

Saat aku tiba, Aura segera berlari kepadaku. Kami berpelukan erat dan lama sekali. Perjumpaan ini terasa membahagiakan. Di sisi lain hatiku merasa haru dan prihatin, ternyata putriku tidak bahagia, bila aku tidak berada di dekatnya. Aku telah datang, bertekad untuk membuat putriku bergembira kembali sebagaimana dahulu.

Dua hari kemudian, aku berbincang dengan putriku. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku harus kembali ke Jakarta, karena ada urusan yang harus diselesaikan. Putriku langsung menangis dan berkata, “Ayah tidak sayang sama aku, kalau ayah balik ke Jakarta.”

Saya berkata, “Kan ayah harus bekerja.”

Putriku menjawab, “Di sini juga ayah bisa mencari kerja.”

“Iya... nanti ayah akan mencari kerja di sini. Tapi sekarang, gaji ayah belum diambil. Ayah harus mengambil uang gaji dulu ke Jakarta, tidak lama. Paling dua hari.”

“Dua hari itu lama.” ujar Putriku. “Sudah biarin tidak usah diambil aja uangnya.”

“Lha... kalau tidak diambil ... nanti ayah gak punya uang. Bagaimana” Jawabku.

“Biarin gak punya uang. Ayah gak pernah ngasih uang sama aku.” Demikian ucap putriku di tengah isak tangisnya.

Hatiku tersentak. Mengapa putriku berkata demikian. Semua jerih payah dan hasil kerjaku, adalah untuk anak dan istriku. Tapi memang aku jarang sekali memberikan uang langsung ke putriku. Karena semua gaji yang kuterima aku serahkan kepada istriku. Aku mencoba klarifikasi, “Dede, ... ayah gak ngasih uang ke Dede, karena uang ayah semuanya dikasih ke ibu. Jadi, kalau ibu ngasih uang ke Dede, itu sama saja uang dari ayah. Ayah sekarang harus ke Jakarta, ngambil uang gaji.”

“Tidak usah diambil. Uangnya juga Cuma sedikit.” Kata putriku, dia tetap ingin aku tidak kembali ke Jakarta.

“Tidak sedikit De, .. lumayan ada 2 juta rupiah. Cukuplah untuk nanti ayah beli kado. Kan sebentar lagi, tanggal 5 juli, Dede Ulang Tahun. Dede mau dikasih kado sama ayah kan ?”

“Gak mau ... uang ayah gak cukup buat beli kue ulang tahun aku.” Masih dalam tangisnya.

“Ya cukup lah De, ... uang 2 juta cukup untuk beli kueh ulang tahun yang besar sama untuk beli kado.” Ujarku.

“Gak usah pake uang dari Jakarta, pake uang yang ada di sini aja.” Kata Putriku bersikukuh.

“Di sini ayah gak punya uang De, ... lagian kalo uang gaji ayah gak diambil sayang banget, itu hasil kerja keras ayah selama sebulan.” Aku mencoba memberinya pengertian.

“Kenapa ayah maksa ? ayah gak sayang sama aku ya ? ayah lebih sayang sama AA dari pada sama aku.” Tangisnya semakin keras.

Untuk kedua kalinya, hatiku tersentak. “Ayah sayang sama AA, sayang sama Dede juga.”

Tak disangka, putri kecilku bertanya, “Kalau sayang, kenapa ayah bikin Dede menangis ?”

Sejenak aku terdiam. Aku bertanya kepada diriku sendiri, benarkah aku yang membuat dia menangis ? aku tidak bemaksud membuatnya menangis. Aku mencoba menyangkalnya lagi. “Ayah kan harus bekerja.”

Aura menjawab, “Tapi aku tidak mau dititipin ke orang lain.”

Aku terdiam dan sedih. Dia menyebut neneknya “orang lain”. Nyatalah bahwa putriku itu tidak bahagia bersama yang lain, dan mengharapkan aku atau ibunya selalu ada di dekatnya. Lalu ku peluk peluk putriku dan kugendong, lalu aku berkata, “Baiklah! Maafkan ayah! Ayah tidak akan kembali ke Jakarta dan akan selalu ada di sini untuk menemanimu.”

Tangisan putriku mereda. Dia tampak tenang mendengar janjiku. Aku memeluknya erat dan lama.

Tidak lama kemudian, putriku ingin mandi. Dia mandi sendiri, pakai baju dan dandan sendiri. Lalu menanyakan mukena dan sajadah. Ia hendak melaksanakan shalat dhuhur. Aku terharu. Seolah Aura itu sangat bersyukur dan hendak sujud syukur mendengar janjiku yang membahagiakan. Ia menjadi riang gembira kembali. Hal itu terlihat, putriku langsung mengambil sapu dan membersihkan rumah. Aku pun gembira melihatnya. Langsung ku telepon istriku, mengabarkan kepadanya tentang hal menggembirakan yang kulihat dari putriku. 

Kubuka Laptop dan kutulis cerita ini disaksikan oleh putriku. Ia membaca apa yang kutulis tentangnya, dan kadang mengoreksi apa bila ada tulisanku yang keliru dalam ejaaan atau ada perkataan dia yang aku salah kutip.

Akhirnya aku putuskan, demi kebahagiaan putriku, selama putriku belum merelakanku untuk pergi ke Jakarta, aku akan tetap di Bandung bersamanya.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
755 Dilihat
Tulisan terakhir September 02, 2013, 08:00:02 AM
oleh Abu Zahra
9 Jawaban
817 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 13, 2016, 10:24:02 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
158 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 27, 2016, 08:33:10 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
19 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 13, 2018, 08:56:57 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan