Penulis Topik: Pertemuan Terakhir  (Dibaca 729 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9465
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Pertemuan Terakhir
« pada: April 13, 2014, 10:08:11 PM »

Ilustrasi[1]

Setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, akhirnya secara tidak sengaja aku bertemu juga dengan Nurhayati Bin Salam. Ketika lewat di depan sebuah rumah, kulihat seorang perempuan keluar dari pintu rumahnya. Saya terkejut setengah mati, karena ternyata dia adalah perempuan yang selalu hadir di dalam mimpi-mimpiku selama ini. “Nur, ... kamu tinggal di sini?”

“Hai ... Jang... !” senyumnya langsung menembus jantungku.

Kami bersalaman dengan rasa yang menggebu-gebu. Maklum sudah begitu lama kerinduan menyiksa batinku. Sentuhan jari jemarinya yang lembut saat kami bersalaman, mengguncang seluruh ragaku.

“Mari mampir dulu! Masuk!” ajak Nur.

Tentu saja saya ingin mampir. Kami duduk di ruang tamu dan mulai berbincang dengan penuh semangat. “Kemana suamimu?”

“Kerja.” Jawabnya.

Kulihat seorang anak laki-laki kira-kira seusia anakku keluar dari kamar sambil membawa bola, “itu anakmu?” tanya saya.

“Iya. Yang kecil, adeknya sedang sekolah.”

“Siapa nama anakmu itu?”

“Ini, yang laki-laki namanya Rijal. Adiknya Fitri.” Jawab Nur.

Banyaklah yang kami perbincangkan. Tidak terasa hampir dua jam berlalu. Saya harus tahu diri, mesti pamit. Tidak baik berlama-lama di rumahnya, apalagi suami Nur sedang tidak di rumah. Sebenarnya berat hati untuk beranjak dari kursi itu. Rasanya ingin sepuluh tahun lagi aku duduk di situ bersama Nur.

“Nur.... sekarang saya ini sakit-sakitan. Dan saya tidak yakin bahwa saya akan berumur panjang. Entahlah ... apakah Tuhan masih akan memberiku kesempatan untuk melihatmu lagi ataukah ini adalah terakhir kali aku melihat dirimu. Nur... ada suatu hal yang sangat ingin saya sampaikan padamu. Saya khawatir, rasa ini akan saya bawa mati sebelum kamu tahu apa yang kurasakan tentang dirimu. Izinkanlah aku mengatakannya kepadamu!” kata saya setengah mengiba.

Sejurs ia menatap tajam, seolah ingin menebak apa yang ada di balik dadaku. “Memangnya, apa yang mau kamu katakan?”

Aku menarik tangan Nur, mengajaknya ke luar rumah. “Ayo Nur ... saya tidak ingin hal ini di dengar oleh anakmu, mari bicara di luar saja!”

Nurhayati mengikut langkahku. Setelah berjalan beberapa saat, kami berhenti di suatu tempat di mana di situ tumbuh bunga-bunga berwarna kunbing, seperti bunga matahari, tapi dengan bentuk yang lebih kecil. Entahlah bunga apa itu namanya.

Masih ku genggam erat tangannya, “Nur, bila menggenggam jemarimu merupakan sebuah dosa, maka maafkanlah saya. Saya tahu, kamu sudah ada yang punya, demikian pula diri saya ini sudah tidak sendiri lagi, tapi izinkanlah Nur. Karena saya ibarat seorang musafir yang tengah kehausan di padang pasir. Dan sentuhan tanganmu ini, air bahagia bagi lelaki yang hampir mati.”

Mata yang indah itu masih menatapku. Entahlah apa arti tatapan itu. Yang jelas, ia tidak menarik tangannya sedikitpun. Saya rasa, dia mengerti rasa kerinduanku padanya.

Dengan lirih saya berkata,“Nur... entahlah kenapa, betapa saya ingin kamu tahu, bahwa aku sangat mencintaimu. Dari ujurng timur, hingga ujung barat dunia ini, tidak ada wanita yang kucintai seperti halnya dirimu. Kamu telah menempati lubuk hatiku yang paling dalam, yang tidak bisa tersisihkan oleh wanita manapun. Selama dua puluha lima tahun terakhir ini, kamu selalu hadir di dalam mimpi-mimpiku. Walaupun kini ada seorang wanita yang baik, yang cantik yang menyayangiku dengan sepenuh hati, dan aku juga sayang dan mencintainya, tapi kuingin kau tahu Nur, cintaku kepadamu tiada bandingannya. Bila kamu mencintai suamimu, apakah itu berarti kamu tidak mencintai ayahmu ? bukankah kau tahu perbedaannya antara cinta yang kau rasakan pada suami dengan cinta pada ayahmu ? demikian pula cintaku padamu, Nur, tiada duanya, tiada bandingannya, tidak tergantikan dan tak dapat tersisihkan. Tapi kurasa kamu tidak mempercayai cinta suciku. Sama seperti ketika kamu menolak cintaku 19 tahun yang lalu, dengan alasan kamu tidak percaya dengan cintaku, menganggap cintaku hanya sekedar cinta monyet belaka. Seandainya bisa, maka belahlah dadaku, agar kamu melihat sendiri, seperti apa rasa ini, dan lalu kamu percaya bahwa dirimu ada di dalam ruang yang paling istimewa di dalam lubuk hatiku. Bila saja saya tahu, bahwa kamu percaya dengan apa yang kurasakan, maka aku memperoleh kebahagiaan. Dan ini adalah hadiah terbesar sepanjang hidupku dan di dalam pertemuan yang terakhir ini, walaupun kam tetap tidak dapat kumiliki.  Tapi sekarang saya menemui jalan buntu untk dapat meyakinmu. Musnah sudah harapan, untuk kamu mengerti apa yang aku rasakan. Saya harus puas dengan dapat menumpahkan segenap isi hati ini. Walaupun sesungguhnya tidak dapat kutemukan sebaris katapun yang mampu untuk melukiskan apa yang kuraskan tentang dirimu. Seandainya manusia yang mati bisa terlahir kembali ke dunia ini, aku ingin mati dan terlahir kembali untuk memperoleh kesempatan mencintai dan dicintai olehmu. Jiwaku merana, karena dalam kehidupan ini tidak sanggup meraihmu. Tapi bahagia dan bersyukur saat teringat, bahwa di dunia ini Tuhan memperkenankan diriku mengenalmu, wujud terindah.

Kau bukan milikku, dan aku bukan milikmu. Agama mengharamkan aku untuk menyentuhmu. Tapi, bila aku adalah seorang lelaki yang sedang sekarat, dan aku seperti musafir yang kehausan berhari-hari di padang pasir, maka di perjumpaan terakhir kita ini, sudikah kau izinkan saya untuk mengecup keningmu agar aku tidak mati dalam dahaga ? atau belailah wajahku dengan tanganmu yang lembut untuk menenangkan jiwaku! Jika memang kau tidak dapat mencintaiku, setidaknya tunjukanlah rasa ibamu padaku, kasihanilah saya yang telah menanggung derita cinta ini seperempat abad lamanya! Setelah itu aku akan pergi meninggalkan dirimu untuk selama-lamanya.”

Nurhayati menarik tangannya dengan lembut. Dia memalingkan wajahnya ke arah samping, tanpa berkata sepatah katapun. Wajahnya menunduk. Dia tampak sedih dan bingung. Hancurlah hatiku, remuklah dadaku. Mataku mulai berkata-kaca dan meneteskan air mata.

Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara nyanyian ....

Masa yang terindah
Kini semua tlah berakhir
Karna kau berubah
Tak seperti dulu lagi

Aku terbangun ...
Ternyata suara nyanyian itu adalah lagu Indah Dewi Pertiwi dari alarm HP istriku pukul 3.30 dini hari, Jumat, 11 April 2013. Aku bermimpi lagi tentang Nurhayati. Duh... ampun! Aku sudah berusaha melupakan dia. Tapi mengapa perempuan ini selalu hadir di dalam mimpi-mimpi setelah seperempat abad berlalu ?! dan kurasa ... dengan dalamnya perasaanku pada Nurhayati dan seringnya aku bermimpi tentangnya, mustahil akupun tidak hadir pula di dalam mimpinya. Ingin sekali berjumpa dengan dia untuk bertanya, “Pernahkah kamu bemimpi tentang saya ? benarkah nama anak laki-lakimu itu Rijal, seperti dalam mimpiku ? dan anak perempuanmu Fitri?” kurasa mimpi-mimpi tentang Nurhayati bukan mimpi biasa. Mimpinya sangat detail dan kronologisnya tersusun rapi. Dan tiada mimpi yang terindah yang kurasakan, selain mimpi tentang Nurhayati.
 1. https://lh4.googleusercontent.com/-U86AoL-o7og/TYgoKyiEw2I/AAAAAAAAADk/MmgwnSo8hAY/s1600/pertemuan+terakhir.jpg
« Edit Terakhir: Desember 25, 2015, 07:07:53 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Pertemuan Terakhir
« Jawab #1 pada: Desember 24, 2015, 10:53:58 PM »
maka di perjumpaan terakhir kita ini, sudikah kau izinkan saya untuk mengecup keningmu agar aku tidak mati dalam dahaga ? atau belailah wajahku dengan tanganmu yang lembut untuk menenangkan jiwaku!
Saya juga kalau suatu saat bertemu dengan mantan saya, saya ingin membelai rambutnya dan mengecup keningnya sambil berkata "Terima kasih pernah mencintaiku".
 

Tags: nurhayati mimpi 
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
6039 Dilihat
Tulisan terakhir April 23, 2013, 10:48:58 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1235 Dilihat
Tulisan terakhir April 15, 2013, 08:23:52 AM
oleh Abu Zahra
1 Jawaban
2850 Dilihat
Tulisan terakhir November 09, 2015, 02:18:13 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
4157 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 19, 2013, 04:17:05 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1545 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 29, 2013, 09:58:12 AM
oleh Abu Zahra
2 Jawaban
968 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 28, 2017, 08:53:31 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
440 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 04, 2016, 07:18:19 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
349 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 12, 2016, 06:26:01 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
74 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 03, 2017, 01:22:33 AM
oleh Sultan
0 Jawaban
12 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 04, 2018, 06:08:16 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan