Penulis Topik: Perbedaan dalam Cara Menafsirikan Alat Bukti  (Dibaca 3790 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Perbedaan dalam Cara Menafsirikan Alat Bukti
« pada: Juli 20, 2013, 07:35:10 PM »
Pada tanggal 2 Juli 2013, Mas Budi menyuruh saya mengambil uang sebanyak  Rp. 5.000.000,- di ATM BCA dan sebanyak Rp. 4.500.000 di ATM BRI. Sayapun mengambilnya pada pukul 8.11 WIB. Lalu uang itu saya serahkan kepada Mas Budi, dan saya berkata, “Ini Mas, uangnya sembilan juta setengah!”

“ O ya.!” kata Mas Budi.

Sayapun pergi untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Tak disangka, pada pukul 17.30 Mas Budi menelepon saya. Dia komplain, bahwa uang yang dia terima hanya Rp. 7.000.000,- “Saya sudah menyerahkan semuanya, Mas!” kata saya.

“Saya bersumpah, Demi Allah, uang dari kang Asep hanya tujuh juta.”

“Kenapa tidak dari tadi pagi komplainnya?” tanya saya.

“Karena saya sudah percaya sama kang Asep. Saya sudah mempercayai Kang Asep, tapi kok begini?” kata Mas Budi.

Saya teringat pelajaran dari guru saya untuk tidak mudah bersumpah. Tapi, karena Mas Budi tampaknya mencurigai saya, bahwa saya telah mencuri uangnya, dan karena dia juga telah mendahului bersumpah, maka sayapun jadi ingin bersumpah, untuk menunjukan bahwa saya memang merasa telah menyerahkan uang seluruhnya. “Mas, jika sayapun harus bersumpah, maka saya bersumpah, wallahi, saya merasa telah memberikan semuanya, dan saya tidak  mengambil (menggelapkan, mengkorupsi, menyelewengkan)”.

“Tapi fakatnya, uangnya hanya ada tujuh juta kang. Kemana sebagiannya lagi?”

“Lha saya tidak tahu kemana. Harusnya saya bertanya, kemana uang itu, karena saya sudah menyerahkan semua uangnya.” Jawab saya.

“Ini tanggung jawab Kang Asep, karena Kang Asep yang membawa uang itu.” kata Mas Budi. Ia bersikukuh dan sangat yakin bahwa uang yang dia terima hanyalah tujuh juta rupiah. Mendengar pembicaraannya di telepon, ia begitu yakin, saya termenung. Apakah mungkin saya melakukan suatu kesalahan? Saya mengingat-ngingat kejadian waktu di ATM. Saya teringat, bahwa saya mengambil uang itu dengan dua metoda. Pertama, saya mengambil dengan mengetik angka manual, pada menu transaksi lain. Kedua dengan pengambilan otomatis, dengan angka yang sudah tersedia 2,5 juta rupiah. Antara metoda pertama dan kedua, ada perbedaan. Pada metoda pertama, setelah uang keluar, kartu tidak keluar, tapi sistem menawarkan transaksi lanjutan. Sedangkan pada metoda kedua, setelah menekan tombol transaksi, kartu langsung keluar. Apakah mungkin saya mengambil kartu, memasukannya ke dompet, langsung pergi begitu saja, sedangkan uang saya tinggalkan? Ini hanya sebuah kemungkinan, tapi tidak bisa dipastikan. Tapi karena Mas Budi bersikukuh minta ganti, maka akhirnya saya menyetujui mengganti uangnya dengan cara mencicil.

Besoknya, saya pegi ke BCA cabang Ujung Berung. Saya bermaksud meminta pihak Bank untuk menunjukan rekaman CCTV, untuk memastikan, apakah uang itu saya ambil ataukah saya tinggalkan di ATM lalu diambil orang lain. Tapi pihak Bank menolak, berhubung saya bukan pemilik rekeningnya. Lalu saya meminta Mas Budi untuk meminta kepada pihak Bank agar pihak bank bisa memperlihatkan rekaman CCTV.

Selanjutnya Mas Budi menelepon ke Hallo BCA. Menurut Mas Budi, pihak BCA akan melakukan investigasi, dan membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Saya kaget, kok untuk bisa melihat rekaman CCTV saja butuh waktu selama itu? saya minta Mas Budi untuk menegaskan kepada pihak Bank, bahwa yang diperlukan hanyalah rekaman CCTV itu saja. Dan Mas Budi mencoba menelepon kembali, tapi pihak Bank tidak bisa memberikan dengan cepat, dan tetap meminta waktu sekitar dua minggu.

Kemarin, tanggal 19 Juli 2013, dokumen dari BCA datang ke rumah Mas Budi. Itu adalah hasil investigasi. Tapi tidak ada rekaman CCTV. Hanya ada surat pemberitahuan bahwa transaksi pada tanggal 2 juli 2013 itu pukul 8.11 telah berhasil dilakukan. Saya jadi dongkol, kalau Cuma informasi begitu aja, saya tidak terlalu membutuhkannya. Saya butuh rekaman CCTV.

Bagi Mas Budi, hilangnya uang itu ada beberapa kemungkinan. Pertama, mungkin uang itu dikorupsi oleh saya. Kedua, mungkin uang itu hilang diperjalanan. Ketiga, mungkin uang itu tertinggal di mesin ATM.

Bagi saya, ada tiga kemungkinan juga. Pertama mungkin uang itu hilang diperjalanan. Kedua, mungkin uang itu tertinggal di ATM. Dan yang ketiga, uang itu sudah semuanya saya berikan kepada Mas Budi.

Kemungkinan yang pertama itu kemungkinannya sangat kecil. Saya menyimpan uang semuanya di saku jaket. Kalaupun terjatuh, bagaimana uang yang tujuh juta masih utuh? Bagaimana bisa yang jatuh pas sekali jumlahnya 2,5 juta, yang merupakan jumlah angka dalam 1 kali transaksi. Lagi pula uang sebanyak itu, dengan lembaran merah seratus ribuan, kalau berjatuhan tentu akan terasa, bertebaran dan mengundang keributan. Jadi, bagi saya dua hal saja yang paling mungkin, uang itu ketinggalan di ATM atau memang sudah saya serahkan kepada Mas Budi.

Saya yakin telah menyerahkan uang seluruhnya kepada Mas Budi. Dan Mas Budi yakin hanya menerima sebagian. Tapi Mas Budi telah memutuskan bahwa keyakinan saya yang keliru, sedangkan keyakinan dia benar. Mas Budi pernah berkata kepada saya, “jangan merasa pasti dengan apa yang kita yakini, karena bisa jadi keyakinan itu salah. Tidak ada yang absolut”. Tapi faktanya, sekarang Mas Budi merasa pasti dengan keyakinannya sendiri, sehingga kesimpulannya saya bersalah.

Saya berkata, “kita sama-sama yakin, dan keyakinan kita sama-sama tanpa bukti. Tapi kenapa keyakinan saya yang jadi salah? Untuk membuktikan mana keyakinan yang benar, dan mana keyakinan yang salah, butuh alat bukti. Sekarang, saya bisa merasa puas bila saya telah melihat rekaman CCTV. Bila dari rekaman itu jelas terlihat bahwa saya meninggalkan uang di ATM, lalu diambil oleh orang lain, maka saya tahu, bahwa saya telah benar-benar melakukan kecerobohan. Oleh karena saya dengan rela hati bertanggung jawab, mengganti uang yang hilang. Tapi kalau dari hasil rekaman CCTV itu terbukti saya memang mengambil uang, tidak meninggalkan uangnya di mesin ATM, maka bagi saya lebih kuat keyakinan uang itu telah saya berikan kepada Mas Budi semuanya, dan tidak jatuh di jalan.”

Mas Budi menyangkal, “Bisa saja uang itu digunakan Kang Asep (maksudnya dikorupsi).”

“Betul, rekaman tersebut bagi saya menguatkan keyakinan bahwa uang telah diserahkan semuanya kepada Mas Budi. Sedangkan bagi Mas Budi, rekaman itu menguatkan keyakinan bahwa uang itu telah dikorupsi oleh saya. Secara hukum, tidak terbukti saya telah melakukan korupsi. Benar kan? Bagi saya, dituduh lebih ringan dari dicurigai. Kalau dengan tegas saya dituduh korupsi, maka saya bila dengan tegas beladiri. Saya akan menuntut data dan fakta atas tuduhan. Kalau sekedar dicurigai, bagaimana saya bisa membela diri?” Kalau diibaratkan pukulan, kalau orang jelas-jelas memukul, saya jelas-jelas menangkis. Kalau orang gak jelas, bermaksud memukul atau enggak, saya bingung, kapan saya harus menangkis.

Saya bukannya keberatan soal mengganti uang. Uang itu bisa saya cari. Apalagi bila uang itu bisa dicicil. Tapi nama baik dan kehormatan tidaklah bisa dibeli dengan uang. Walaupun sekarang saya mengganti semua uang Mas Budi, mungkin malah ditafsirkan bahwa saya memang telah menggelapkan uang itu. Bila tidak terbuka kebenarannya saat ini, mungkin selama-lamanya Mas Budi akan mencurigai saya telah melakukan korupsi. Hal ini sungguh tidak menyenangkan. Mas Budi telah bersumpah, dan saya telah bersumpah. Tapi sumpah saya tidak berguna sama sekali.

Pukul tujuh pagi saya disuruh mengambil uang melalui ATM, dan pukul 8.30 sudah menyerahkan uang itu. kalau saya korupsi, maka saya koruptor yang terlalu bodoh. Para koruptor akan mencari jalan yang paling halus, agar tindakan korupsinya tidak diketahui orang lain. Kalau saya menggelapkan uang 2,5 juta rupiah dari 9,5 juta rupiah yang harus disetorkan, itu namanya seperti mencuri di siang bolong yang mencuri di pasar di depan hidung pemilik toko. Bila Mas Budi tidak percaya dengan kejujuran saya, maka berarti Mas Budi juga menganggap saya sangatlah bodoh.

Tidak ada yang lebih saya takutkan di dunia ini melebihi dari dosa. Saya tidak gentar dengan tuduhan apapun yang ditujukan kepada saya, tidak pula khawatir soal harta benda. Saya sangat khawatir, saya akan terjerumus kepada dosa. Beratnya kehidupan dunia ini, tidaklah ada apa-apanya di beratnya beban dosa. Saya berusaha memperoleh alat bukti, bukan karena takut pada tuduhan dan khawatir pada kerugian harta bendawi, tapi untuk menyelamatkan diri dari dosa. Saya menyadari bahwa memang bisa jadi, dalam kasus ini saya telah melakukan kecerobohan, tapi itu hanyalah kemungkinan. Lalu saya, dan orang lain menggunakan prasangka-prasangka, sementara Allah berfirman, Yaa ayuhal ladziina aamanu, ijtanibuu katsiiran minadzan. “Hai orang-orang yang beriman, hindariilah dari kebanyakan berprasangka!” kalau saya membiarkan diri saya berprasangka pada diri saya sendiri, atau membiarkan orang lain berprasangka pada diri saya, maka saya khawatir berdosa. Maka saya berkata kepada Mas Budi, “Silahkan putuskan bahwa saya bersalah, dan harus mengganti uang yang hilang, bila itu memang merupakan keputusan yang baik, benar dan bijaksana menurut Mas Budi!” Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggung jawabannya. Dalam hati saya bergumam, heran dengan Mas Budi, saya khawatir kalau saya memang benar-benar telah bersalah, lalu tidak mau mengakui kesalahan saya, tidak bertaubat atas kesalahan saya, dan lari dari tanggung jawab, tapi apakah Mas Budi tidak khawatir, kalau sebenarnya saya tidak bersalah, lalu dia memutuskan perkara secara tidak adil, dan menuntut kafarah kepada yang tidak berkwajiban kafarah? Tapi ya sudahlah, saya hanya berkewajiban menyampaikan apa yang benar dan apa yang salah menurut pendapat saya. Selanjutnya terserah masing-masing. Bila memang saya yang ceroboh, mudah-mudahan saya dimaafkan atas kecerobohan saya. Dan mudah-mudahan, uang pengganti yang akan saya bayarkan, bisa menjadi jalan ampunan bagi dosa dan kesalahan saya, jalan dan wasilah menuju Allah swt. Amin.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Perbedaan dalam Cara Menafsirikan Alat Bukti
« Jawab #1 pada: Juli 21, 2013, 12:20:40 AM »
^Saya turut prihatin dengan apa yang terjadi terhadap Akang. Tidak mudah memang berhadapan dengan masalah seperti ini. Menurut hemat saya dengan melihat kejadian diatas, letak kecerobohan itu sesungguhnya ada pada diri 'mas Budi' bukan pada akang. Ketika mas budi itu menerima uang sudah semestinya uang itu kemudian dihitung jumlahnya dalam rangka chek dan rechek dengan disaksikan oleh yang menyerahkanya dan hal ini adalah lazim dilakukan. Sehingga ketika mas budi itu bicara tentang fakta maka fakta itu relevan dengan adanya saksi, yaitu yang menyerahkannya. Jika kemudian timbul masalah karena tidak dilakukanya chek dan rechek maka sudah semestinya tanggung jawab ada di pihak mas Budi, demikian pula  jika ada tuduhan korupsi terhadap Akang maka mas budi itulah yang harus membuktikanya bukan akang, jadi Akang gak usah terlalu repot. Jika tidak bisa membuktikannya maka ia menjadi fitnah. Selebihnya saya setuju dengan sikap akang pada paragraf terakhir itu.
« Edit Terakhir: Juli 21, 2013, 12:24:10 AM oleh ratna »
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Perbedaan dalam Cara Menafsirikan Alat Bukti
« Jawab #2 pada: Juli 21, 2013, 03:45:29 AM »
Ya. sebenarnya kami berdua ceroboh. seharusnya saya pun menghitung ulang uang di hadapan Mas Budi. baru menyerahkannya. demikian pula Mas Budi, seharusnya menghitung uang di hadapan saya.

adapun alasan saya tidak menghitung uang lagi, karena sayab yakin bahwa uang yang saya berikan jumlahnya 9,5 juta rupiah. adapun Mas Budi tidak menghitung uang dihadapan saya, karena Mas Budi percaya bahwa saya jujur dan menyerahkan uang sejumlah 9,5 juta rupiah. jadi, kami sama-sama ceroboh.

kepada Mas Budi, saya berkata, "Karena kita sama-sama ceroboh, seharusnya kerugian ditanggung bersama. saya akan bayar setengahnya." Tapi Mas Budi menolak. berarti ia menganggap sepenuhnya saya yang bersalah. sedangkan dia menganggap dirinya tidak punya salah sama sekali, sehingga tidak mau sedikitpun menanggung beban kerugian.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags: curhat 
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
806 Dilihat
Tulisan terakhir November 27, 2013, 09:07:00 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
779 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 20, 2015, 07:51:50 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1380 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 30, 2015, 10:16:44 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
379 Dilihat
Tulisan terakhir April 03, 2015, 11:40:16 AM
oleh joharkantor05
0 Jawaban
870 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 19, 2015, 09:30:42 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
555 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 01, 2016, 12:47:40 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
191 Dilihat
Tulisan terakhir September 14, 2016, 08:04:27 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
517 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 25, 2016, 06:21:37 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
156 Dilihat
Tulisan terakhir April 10, 2017, 09:15:20 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
131 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 15, 2017, 02:23:55 PM
oleh aralia

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan