Penulis Topik: Apakah Anda Seorang Syiah?  (Dibaca 1629 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Apakah Anda Seorang Syiah?
« pada: Juli 15, 2012, 06:53:31 PM »
Ada orang bertanya kepada saya, “Apakah Anda seorang syiah?”. Saya menjawab, “Bahkan saya tidak mengetahui, apakah saya seorang syiah atau bukan, karena saya tidak benar-benar mengetahui apa kriteria seseorang bisa disebut sebagai syiah.

“Bukankah Anda selalu menafsirkan bahwa syiah adalah pengikut Ali bin Abi Thalib?”

Tapi siapa yang bisa menilai, apakah benar saya pengikut Ali bin Abi Thalib. Saya merasa saya hanyalah seorang pelajar yang selalu ingin belajar.

“Bukankah Anda menolak kekhalifahan Abu Bakar?”

Bukan saya yang menolak kekhalifahan Abu Bakar, tapi kaum syiah Rafidah. Mereka menolak kekhalifahan Abu Bakar karena merasa memiliki dalil-dalil tertentu yang mereka yakini. Sedangkan saya tidak merasa landasan yang kuat untuk menolak khalifah Abu Bakar.


“Tapi mengapa, Anda selama ini tampaknya selalu membela akidah syiah?”

Saya tidak membela akidah syiah, tapi saya membela logika. Berdasarkan Logika, jika memang rasulullah saw menunjuk pengganti beliau yang harus menggantikan beliau setelah wafatnya beliau, maka seharusnya kita mengikuti pemimpin yang ditunjuk oleh beliau. Ini adalah logika jika-maka. Keyakinan tersebut tegak dalam sebuah perandaian. Maka kemudian saya mendiskusikan persoalan, apakah benar Rasulullah menunjuk seorang pengganti?

Ada banyak dalil yang di sodorkan oleh kaum syiah kepada saya tentang kebenaran Ali bin Abi Thalib sebagai pewaris pertama nabi. Apakah semua itu dalil yang benar? Saya tidak mengetahuinya. Tetapi saya selalu “menyerang” mereka yang menyalahkan dalil-dalil tersebut, dikarenakan mereka menyangkal akidah syiah dengan cara yang tidak ssuai dengan hukum-hukum logika.

Riwayat Ghadir Khum merupakan landasan yang kuat bagi kaum syiah untuk meyakini bahwa kepemimpinan pertama sepeninggal rasulullah mestilah di tangan Ali bin Abi Thalib. Bagi saya, apakah riwayat Ghadir Khum itu merupakan dalil yang kokoh? Saya tidak mengetahuinya dan merasa sampai saat ini masih dalam proses penyelidikan. Tapi apabil ada orang yang menyalahkan kebenaran riwayat tersebut, maka saya menuntut untuk membuktikannya secara logis.

Ketika saya berhimpun dengan kaum syiah, maka sikap saya adalah sebagaimana ketika berhimpun dengan kaum sunni, yaitu mengemukakan pertanyaan sebanyak-banyaknya. Dengan jawaban-jawaban dari kaum sunni maupun syiah, dengan cara itu, maka pengetahuan saya menjadi berkembang.

Bagi saya, mengetahui mana yang benar dan mana yang palsu dari berbagai versi sejarah itu memang perlu, tapi hal yang lebih perlu adalah  memahami realitas yang terjadi saat ini, yaitu tentang bagaimana membangun semangat dan kebahagiaan. Apakah gunanya menguasai banyak teori sejarah, apabila dalam kehidupan saat ini kita tidak mengalami suatu pencerahan? Sementara kebahagiaan tidaklah mungkin terwujud apabila kita mengingkari akal sehat. Bagi saya, bukanlah masalah jika saya harus mengingkari akidah syiah maupun sunni, selama saya tidak mengingkari akal sehat.

Kalau ada orang berkata, “syiah itu sesat” dan kemana-mana menyebarkan omongan bahwa syiah itu sesat, tapi ketika di tanya, “apa itu sesat”? dia tidak bisa menjelaskannya, maka saya pandang dia itu orang yang kurang bertanggung jawab terhadap apa yang dia katakan.

Mereka berkata, “syiah sesat karena melaksanakan praktik nikah mut`ah?”, maka saya tanya, apakah nikah mut`ah itu, dan apakah anda sudah menyimak dengan benar, apakah alasan-alasan kaum syiah menghalalkan nikah mut`ah? Lalu mereka menjawab, “Tidak perlu mendengarkan alasan-alasan orang syiah, para ulama kita sudah menjelaskan di mana letak kesesatan praktik nikah seperti itu. Dan kita percaya kepada ulama-ulama kita.” Bagi saya, sikap itu bukanlah merupakan sikap yang bijaksana. Sikap bijaksana adalah mendengarkan dari semua pihak, baru kemudian membuat suatu kesimpulan.

Bagi saya, keyakinan kaum syiah maupun keyakinan kaum sunni adalah dua fenomena yang sama-sama perlu saya pelajari. Sementara saya tidak menempatkan diri di dalam keyakinan kaum syiah itu dan juga tidak menempatkan diri di dalam keyakinan kaum sunni. Saya menyebut diri berada di dalam barisan kaum syiah, hanya karena saya rajin menghadiri majelis-majelis syiah. Di sisi lain, sayapun tidak enggan menghadiri majlis-majelis salafiyah yang mempunyai faham berseberangan dengan kaum syiah. Saya menempatkan diri sebegai pelajar, analis dan jurnalis.

Bahkan setelah 7 tahun aktif di majelis syiah, sayapun tidak mampu menguasai dalil-dalil yang pasti tentang kebenaran nikah mut`ah, dan masih simpang siur tentang teori imamah. Sementara umur saya semakin tua, dan saya masih dihadapkan kepada berbagai persoalan yang tidak memiliki kejelasan. Agar belajar tidak menjadi sia-sia, maka niatkan saja belajar itu sebagai ibadah, yaitu bagaimana dengannya kita bisa memperoleh suatu pencerahan spiritual, kebahagiaan yang hakiki.

Akhirnya, saya melihat bahwa agama bukanlah persoalan teori, tapi soal pencapaian kemampuan spiritual. Alangkah bagusnya teori kaum syiah yang menyebutkan bahwa ahlul bait nabi bagaikan bahtera nabi Nuh. Bila kita masuk ke dalamnya, maka selamatlah kita. Di sini kita ditawari sebuah harapan, bahwa dengan tanpa harus bersusah payah mencapai pencerahan-pencerahan spiritual tertentu, asal “masuk ke dalam bahtera” tersebut, maka selamatlah kita. Sebuah tawaran yang menggiurkan memang. Tapi, manakah bahtera yang ditawarkan itu? Dan bagaimanakah cara masuknya? Apakah benar seperti yang mereka katakan, “cukup dengan mencintai keluarga nabi, maka dengan cara seperti itu kita masuk ke dalam bahtera penyelemaat itu.” ?

Segala teori agama itu bagaikan tiang-tiang penyangga bagi atap rumah. Tapi bila tiang-tiang itu tidak memiliki pondasi, maka rumah itu akan rapuh dan mudah runtuh. Maka pondasi agama itu adalah kekuatan keyakinan, ketenangan dan kebahagiaan spritual. Bila hal ini tercapai, maka agama yang kita pegang jadi memiliki pondasi yang kokoh.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
16 Jawaban
2916 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 22, 2012, 05:28:09 PM
oleh kang radi
2 Jawaban
4483 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 11, 2013, 04:01:37 PM
oleh Kang Asep
41 Jawaban
9058 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 23, 2015, 10:12:58 PM
oleh Monox D. I-Fly
36 Jawaban
9544 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 30, 2015, 05:18:53 AM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
961 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 11, 2015, 11:50:18 AM
oleh Monox D. I-Fly
3 Jawaban
1212 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 04, 2015, 05:46:29 PM
oleh Agate
0 Jawaban
85 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 23, 2017, 03:56:05 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
185 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 03, 2017, 12:03:28 AM
oleh Sultan
0 Jawaban
243 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 10, 2017, 07:54:38 AM
oleh comicers
0 Jawaban
46 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 20, 2018, 02:23:56 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan