Komunitas Para Pemikir

Bahasa dan Sastra => My Journal => Topik dimulai oleh: Kang Asep pada Juni 12, 2018, 12:54:16 PM

Judul: Menulis karena Cinta
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juni 12, 2018, 12:54:16 PM
Gembira kami rasakan saat kami berjumpa kembali, setelah 20 tahun lamanya berpisah.

Wina, dia adalah sahabat saya semasa sekolah dahulu. Dialah yang mencomblangi saya dengan Giawitri, sehingga terjadilah kisah cinta antara saya dengan Gia.

Melepas rindu, kami berbincang, bercanda ria, seperti masa masa sekolah dahulu. Kami ungkap kembali cerita-cerita lama, hingga tiba-tiba Wina berkata,"Dulu aku comblangi kamu sama Gia. Aku jadi tukang pos, nganterin surat-surat kamu ke dia, surat dia ke kamu. Sekarang kalau dipikir aku heran, kok mau-maunya aku kalian suruh-suruh begitu. Padahal dikasih upahpun tidak. He..he.."

Saya mengeluarkan dompet, mengeluarkan uang 100 rb dan memberikannya pada Wina, dengan nada canda saya bilang,"Nih upah kamu jadi mak Comblang."

Wina mengambil uang itu sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dalam hati saya bergumam,"Hah.. Dasar ibu-ibu, sekarang aja semuanya dinilai uang. Cinta adalah uang. Uang adalah cinta. Dulu kamu tak mengerti soal uang. Dan setelag kamu ngerti soal uang, kamu lupa tentang bagaimaba itu cinta. Kamu comblangi kami, karena kamu suka itu, kamu cinta itu. Kamulah sebenarnya penulis skenario kisah cinta saya dengan Giawitri. dan kamu sendiri yang pertama kali menikmati kisah cinta kami. Kamu menikmati kelucuan dan romantisme cinta kami berdua."

Sepeti Wina, ketika dia remaja melakukan sesuatu untuk saya karena cinta. Sama sekali, tidak berpikir soal upah. Demikian pula saya, sejak dahulu saya menulis bukan dengan harapan akan suatu upah, tapi semata karena cinta. Apabila cinta ini sirna, niscaya pena saya akan berhenti dan tertegun karena dihadang tanya,"Mengapa aku harus menulis ? Untuk apa menulis ? Berapa untungnya ? Adakah upah yang aku dapatkan ? Berapa banyak orang memberi apresiasi pada tulisan saya ? Mengapa saya saya harus bersusah payah menulis dan membagikannya pada orang lain ?" Tapi saya tidak atau belum kehilangan cinta ini, sehingga tak perduli dengan semua tanya itu.Saya menulis tidak untuk apapun, melainkan hanya karena Cinta. Dan semoga saya tak pernah kehilangan cinta ini.
Judul: Re:Menulis karena Cinta
Ditulis oleh: Ziels pada Juni 14, 2018, 05:08:29 PM
Demikian pula saya, sejak dahulu saya menulis bukan dengan harapan akan suatu upah, tapi semata karena cinta. Apabila cinta ini sirna, niscaya pena saya akan berhenti dan tertegun karena dihadang tanya,"Mengapa aku harus menulis ? Untuk apa menulis ? Berapa untungnya ? Adakah upah yang aku dapatkan ? Berapa banyak orang memberi apresiasi pada tulisan saya ? Mengapa saya saya harus bersusah payah menulis dan membagikannya pada orang lain ?" Tapi saya tidak atau belum kehilangan cinta ini, sehingga tak perduli dengan semua tanya itu.Saya menulis tidak untuk apapun, melainkan hanya karena Cinta. Dan semoga saya tak pernah kehilangan cinta ini.

Iya iya...duh...lah...hahaha...semangat teroosss pak!!!