Penulis Topik: Menguji Keadilan Sang Istri  (Dibaca 822 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9458
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Menguji Keadilan Sang Istri
« pada: Desember 06, 2014, 05:40:21 AM »
“Sayang, ... bolehkah aku mengajakmu makan di sebuah restorwan mewah, di mana ketika kita makan, kita akan dihibur dengan alunan lagu-lagu romantis, ada taman dan kolam air mancur.” Ajakku kepada istri.

Istriku menjawab, “Jangan yang terlalu mewah dong Yah ...yang sederhana saja!”

Aku tahu, istriku itu memang menyukai kesederhanaan. Tidak suka sesuatu yang mahal-mahal, yang mewah dan berlebihan. Akhirnya, kuajak istriku makan di sebuah restoran sederhana.

Usai makan, aku berbicara pada istriku, “Sayang, bolehkah kita mendiskusikan persoalan yang kemarin ?”

“Yang mana ?” tanya istriku.

“Persoalan yang katamu, telah membuatmu terluka hati ..?”

Istriku mengangguk, tanda mengizinkan.

“Sayang, ... hingga saat ini, aku belum pernah bertemu lagi dengan Tin, karena untuk menemuinya aku menunggu izin dan kerelaan darimu.” Kata saya.

“Silahkan bertemu dengan siapa saja, asal jangan dia!” jawab istriku.

“Kenapa ?” tanyaku.

“Dia itu beda ... kamu pernah ada perasaan sama dia. Jangan bermain api, kalau kamu gak mau terbakar nanti!” kata istriku.

“Istriku, kamu suka bercerita, bahwa diantara teman-temanmu tidak sedikit yang melakukan perselingkuhan. Coba kamu perhatikan, diantara mereka semua, adakah pria yang ketika mau berslngkuh dia bilang-bilang sama istrinya ? minta izin dan kerelaan istrinya ? ataukah mereka semua melakukannya secara diam-diam, menyimpan rahasia dari istrinya ?” tanyaku.

Istriku diam.

“Jika aku mau curang, atau mengkhianati cintamu, kenapa aku harus repot-repot meminta izin dan kerelaanmu untuk bertemu dia ? aku bisa menemui dia tanpa izinmu, tanpa kerelaanmu, atau tanpa kau tahu. Tapi aku tidak ingin. Aku telah berjanji padamu, bahwa aku tidak akan menemui dia, kecuali dengan izin dan kerelaan kamu. Apakah itu semua tidak cukup membuat hatimu merasa aman ?” tanyaku.

Istriku balik bertanya, “Tidak semata-mata kamu ingin bertemu dengannya, kecuali karena ada cinta dihatimu untuknya. Iya kan ?”

Saya menjawab, “Aku tidak akan berbohong padamu, istriku .. bahwa aku mencintainya. Apakah berdosa bila aku mencintainya ? apakah aku harus membenci dan memusuhinya ? walaupun aku mencintainya dan seandainya dia juga masih mencintaiku, tapi aku mengerti hukum dan aturan. Bagaimana mungkin suamimu yang mencintai kebenaran dan Keadilan, hendak berbuat sesat dengan cara berpacaran dengan istri orang lain ? apakah kamu masih melihat kemungkinan itu ada pada diriku, sedangkan aku tidak melihatnya hal itu ada pada diriku sendiri ?”

“Kenapa kamu harus bertemu dengannya ? kenapa kamu sangat ingin bertemu dengannya ? kenapa kamu tidak melupakan keinginanmu untuk bertemu dengannya ?” tanya istriku bertubi-tubi.

“Aku menguji Keadilan istriku. Jangan karena kebencian atau kecemburuan kamu pada seseorang, lalu kamu berbuat tidak adil padanya! Kamu tahu, sebenarnya hatiku terbakar cemburu, bila si Lanang, saudara sepupu ibumu itu menemui kamu dengan berbagai-bagai alasan. Karena di masa lalu, dia pernah ada hati sama kamu. Adilkah aku, bila karena dia pernah menyukaimu di masa lalu, lalu sekarang aku melarangmu untuk kenal, melarangmu untuk bertemu dengannya ?” tanyaku.

“Itu tidak adil.” Jawab istriku.

“Aku tidak ingin, karena kecemburuanku pada si Lanang, lalu aku berbuat tidak adil pada kalian berdua. Sebatas si Lanang datang ke rumah untuk mengantarkan makanan kiriman dari ibumu, tak pantas aku melarangnya. Lalu, ... apakah kecemburuanmu akan membuatmu berlaku tidak adil dengan melarang kami untuk tidak pernah bertemu lagi seumur hidup kami ?” tanyaku pada istri.

Istriku diam termenung. Matanya berkaca-kaca. Lalu dia mengajakku pulang.

Di rumah, setelah kami bersantai, di tempat tidur aku memeluk istriku, mencium keningnya dan berkata lembut, “Sayang, ... apakah kamu tidak merasa bahwa selama ini aku mencintai dan menyayangi kamu ? apakah kamu meragukan cinta dan kasihku padamu ?”

Istriku menjawab dengan suara yang lirih, “Aku takut, cintamu luntur karena dia.”

Aku mencoba meyakinkan dia, “Bila ada seorang perempuan yang menggoda, aku akan semakin erat berpegang padamu, sayang. Aku takut aku tergoda, maka aku kuatkan cinta dan kasih sayangku padamu. Semakin aku digoda wanita lain, aku semakin menyayangimu. Aku dapat mengharapkan istriku menjadi pegangan yang kuat, saat godaan menghadang, karena istriku tidak hanya cantik, tapi baik, pengertian, menjalankan kebenaran dan keadian. Tetapi, ... bila kau telah menyimpang dari jalan kebenaran dan mulai bebuat ketidak adilan, ... aku takut ... kau tidak dapat menjadi pegangan yang kuat lagi bagi suamimu.”

Istriku berkata, “Sebenarnya aku mengizinkan kamu untuk bertemu dengannya, kalau untuk sebatas silaturahim. Tapi aku membaca puisi-pusimu tentang Tin Hayatin, sehingga aku sangat cemburu.”

Aku menjelaskan, “Sayang, aku ini ibarat pelukis. Untuk melukis, aku membutuhkan model yang cantik, agar lukisanku kelak laku dijual. Semua itu kulakukan demi mencari nafkah untukmu. Tapi setelah lukisan itu jadi, kau lihat lukisannya sangat bagus, menggambarkan wanita yang sangat cantik dan mempesona. Lalu kamu mencemburui lukisan itu dan model yang dilukisnya. Apakah tindakanmu itu benar, istriku ?”

Istriku terdiam. Lalu dia membenamkan wajahnya di dadaku.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Menguji Keadilan Sang Istri
« Jawab #1 pada: Desember 18, 2015, 07:59:27 PM »
Seandainya Kang Asep ada di posisi istri Akang, kira-kira apa yang Akang rasakan?
 

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
901 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 15, 2013, 04:08:25 PM
oleh Awal Dj
5 Jawaban
1891 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 16, 2014, 08:19:53 PM
oleh Abu Zahra
Keadilan

Dimulai oleh Kang Asep Filsafat

4 Jawaban
1097 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 06, 2014, 12:38:38 PM
oleh kang radi
6 Jawaban
2084 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 13, 2016, 04:42:21 PM
oleh Sandy_dkk
2 Jawaban
1607 Dilihat
Tulisan terakhir November 25, 2014, 01:00:09 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1130 Dilihat
Tulisan terakhir November 29, 2014, 07:33:41 PM
oleh Kang Asep
12 Jawaban
1603 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 18, 2015, 04:39:14 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
545 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 08, 2016, 08:08:05 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
261 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 27, 2016, 06:12:32 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
87 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 03, 2018, 01:43:03 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan