Penulis Topik: Memenuhi Panggilan Ilahi  (Dibaca 899 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Memenuhi Panggilan Ilahi
« pada: April 18, 2014, 06:42:16 AM »
Emak, ibuku


Meskipun dia bukan ibuku, tapi sampai usia saya sepuluh tahun saya mengira dia adalah ibuku. Sebab dia adalah sosok wanita pertama yang ku kenal di dunia ini yang hadir di dalam kenangan masa kecilku. Dialah yang pertama-tama mendidik dan membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Jika saya menangis, dialah yang memelukku, merayuku, membelaiku, memangku dan membelaku hingga air mataku mengering. Tidur malamku tidak pernah jauh dari dekapannya. Aku memanggilnya “Emak”. Bila aku sakit, dialah yang merawatku dengan penuh kasih sayang. Dia selalu menenangkan hatiku, merawat dan mengobati luka tubuh maupun batinku. Dialah pelindungku, pendidikku di masa kecilku, sehingga kurasa dialah ibuku.

Baru setelah usiaku menginjak sepuluh tahun, aku diberi tahu bahwa sebenarnya Emak itu bukan ibuku, melainkan nenekku. Aku bertengkar dengan bibiku yang usianya beda lima tahun denganku. Karena marah dengan kenakalanku, bibiku berkata, “Kamu kira kamu ini anak Emak, bukan, kamu ini anak si Mamah. Kamu itu dulu hendak dibuang samak bapakmu, akulah yang mengejar bapakmu dan menangisimu, dan merebut kamu dari gendongan bapakmu, lalu kamu diurus sama Emak.”  Mendengar berita ini, saya bersedih selama berhari-hari. Ibuku melihat kesedihanku dan bertanya, “Nak, ... kenapa kamu sedih... apa yang kamu sedihkan?” sayapun bertanya lirih, “Mak, ... benarkah saya ini bukan anak emak ... ?”

“Siapa yang bilang ?”

“Noni.” Saya bilang. Noni adalah bibiku yang kukira kakak perempuanku.

“Enggak.. kamu anak Emak.” Kata ibuku seraya memelukku. Kurasa ibuku berbohong. Tapi kebohongan itu telah menenangkan hatiku. Tapi setiap kali aku bertengkar dengan Noni, selalu saja hal itu diungkit-ungkit. Bila hal itu diungkit, aku langsung terdiam, masuk kamar dan bersedih. Ibuku memergoki Noni ketika mengungkit-ngungkit hal itu dan ibuku marah padanya.

Saya tidak ingin bertanya pada Mamah, apakah benar aku ini anaknya. Tidak perlu ditanyakan lagi, karena aku sadar bahwa perkataan Noni itu benar. Buktinya wajahku sangat mirip dengan Ade yang tinggal bersama Mamah. Orang-ornag sering mengatakan kami kembar, bahkan para tetangga sulit membedakan yangn mana aku dan mana adikku. Tanpa diklarifkasi oleh Mamah, saya sudah yakin kalau saya memang anaknya. Walaupun demikian, Mamah meneguhkan keyakinanku. Dia menguatkan perkataan Noni bahwa memang saya ini adalah anaknya. Lalu dia menceritakan sejarah masa kecilku, kenapa sampai diserahkan kepada nenek. Alasannya, karena mamaku itu dalam kondisi sulit, hidup miskin, tidak sanggup merawatku.

Kenangan Masa Kecilku

Kenangan pertama yang kuingat adalah ketika umurku baru berusia satu tahun. Waktu itu perutku terasa lapar dan ingin makan. Rupanya aku telah menyampaikan keinginanku, pastinya dengan bahasa balita, saya tidak ingat pasti. Yang jelas, ibuku telah meletakan aku di kursi, lalu dia pergi ke dapur hendak mengambil makanan. Tapi kurasa ibuku terlalu lama pergi, aku sudah tidak sabar ingin makan. Akupun turun dari kursi sendirian dan menyusul ibuku ke dapur. Kutemukan ibuku di dapur, ku tarik bajunya dan tiba-tiba ibuk tertawa-tawa. “ha..ha...ha.... lihat.... si Ujang sudah bisa jalan sendiri.” Aku tidak mengerti, mengapa ibuku tertawa dan berkata begitu. Hanya setelah aku dewasa ibuku memberi tahu bahwa waktu itu aku dalam usiaku satu tahun, aku baru belajar berdiri dan berjalan selangkah-selangkah dengan dibimbing. Dan dia tertawa karena heran bercampur gembira ketika melihatku berjalan sendiri dari ruang depan ke dapur tanpa ada yang membimbing.

Sejak usiaku baru dua hari, aku sudah makan nasi. Ibuku mengunyahkan nasi itu dimulutnya, setelah lembut ia mengeluarkannya dari mulutnya lalu memberikannya kepadaku. Saya masih ingat hangat, nikmat dan lembutnya nasih kunyahan ibuku itu, karena hingga usiaku kelas lima SD, saya masih sering minta ibuku untuk mengunyahkan nasi untukku..

Bila kuingat ibuku di masa kecilku, maka aku simpulkan bahwa aku telah menjalani masa kecil yang bahagia. Amatlah riang hatiku, bila ku kenang bagaimana hari-hari di mana aku pergi berkebun bersama ibuku. Sebelum bekerja, ibuku membuatkanku ayunan dari kain sarung dan menggantungnya di pohon atau di dalam saung di kebun, hingga aku sering terlelap tidur di dalam ayunan itu. Kadang-kadang aku enggan menunggu diayunan dan memilih menyertai ibuku mencangkul atau mengambil ubi-ubi jalar yang digali ibuku.

Ibuku mengajariku banyak hal tenang tanah, hewan, tanaman dan kebun. Dia juga memperkenalkanku akan hal-hal berbahaya yang harus dihindari. Seperti pada suatu hari, di kebun aku diikuti oleh seekor ular kobra. Aku tidka takut padanya. Aku hanya heran, mengapa ular itu mengikuti aku. Lalu ular itu menaikan tubuhnya dan melebarkan kepalanya, dengan mata yang merah menatap ke arahku. Aku senang melihatnya. Aku berteriak kepada ibuku, “Mak!  Lihat itu apa .. ?” pada waktu itu aku belum tahu, kalau hewan itu bernama ular.

Ibuku terkejut melihat ular itu dan berusaha mengusirnya. Tapi sang ular tidak mau pergi. Ibukunya melempari ular tersebut dengan tanah berkali-kali, barulah dia pergi. Ibuku segera menghampiri dan memelukku. Ia khawatir dengan keselamatanku. Sementar aku heran dengan yang dilakukan ibuku, mengapa ia harus melempari ular itu. Lalu dia perkenalkan bahwa yang tadi itu ular, sangat berbahaya dan harus dijauhi. Dikemudian hari, tak disangka, ketika aku sudah menginjak usia remaja, aku justru menjadi pawang ular seperti si Panji yang gemar menangkap ular. Sampai kamar tidurku dipenuhi dengan berbagai macam ular, dan aku dapat mengendalikan mereka.

Didikan Keras Ibuku

Kadang-kadang ibuku mendidiku dengan keras. Walaupun demikian, saya beryukur bahwa ibuku telah mendidiku dengan keras, sehingga manfaatkan bisa kurasakan kini. Ibuku tidak pandai mengaji dan membaca al Quran, tapi dia ingin agar aku pandai membaca al Quran. Oleh karena itu, setiap malam dia menyuruhku pergi ke mesjid untuk belajar mengaji. Bila aku malas, ibuku memarahiku, kadang memukul dan menjewerku. kadang-kadang ibuku bertindak berlebihan, ia menjewer telingaku dan menariknya tinggi-tinggi hingga tubuhku terangkat dan kakiku tidak menyentuh lantai. Kejadian ini tidak hanya menyakitkan telingaku, tapi sakit sampai ke lubuk hatiku, mengapa ibuku keterlaluan dalam mendidiku. Tetapi, kasih sayang aku pada ibuku lebh besar dari rasa sakit hatiku. Oleh karena itu, saya memaafkan sepenunya. Bila ibu adalah dosa ibuku, aku bermohon kepada Allah agar dia mengampuni ibuku sepenuhnya, agar tidak ada hal sekecil apapun yang menghalanginya dari meraih kehidupan surgawi. Lagi pula, dari hasil didikan keras ibuku, menfaat yang kuperoleh tidak ternilai harganya. Ini aku bisa mengaji dan membaca al Quran, mengerti hukum-hukum agama, dapat menuntun anggota keluarga maupun yang lainnya ke jalan kebenaran, jalan yang lurus dan terang benderang menuju kepada Allah.


Memasuki Dunia Persilatan

Ketika aku duduk di bangku kelas satu SMP, aku mengalami suatu peristiwa di mana aku dikeroyok oleh sekelompok anak berandalan. Aku dipukuli habis-habisan. Sekolahku terganggu akibat ulah mereka, karena aku selalu dihadang setiap pergi dan pulang sekolah. Padahal, aku adalah siswa paling berprestasi, dikagumi oleh guru maupun teman-teman. Tetapi akibat gangguan anak-anak berandal itu, aku tidak dapat konsentrasi belajar, dan prestasiku menurun drastis.

Melihat kecemasan pada diriku terhadap gangguan anak berandal, bapakku menyuruhku untuk berguru ilmu silat kepada Pamanku, namanya Mang Uman. Akupun bersemangat untuk berguru padanya. Akibat ketekunanku belajar ilmu silat, dalam waktu singat aku menguasai pelajaran-pelajaran dari pamanku, dan tidak takut lagi pada berandal-berandal itu. Tidak seorangpun anak berandal yang mampu mengalahkanku dalamb bertarung. Walaupun aku dikeroyok, tubuhku hampir tidak tersentuh, dan mereka selalu aku buat babak belur.

Aku mulai menyukai dunia perkelahian. Setelah dapat memukuli orang lain, mengalahkan dan mempencundagi mereka, saya merasakan kegembiraan luar biasa. Itu sangat menyenangkan. Sehingga aku merasa ketagihan berkelahi.

Bahkan aku menantang orng-orang untuk berkelahi. Kalau ada orang, baik yang sebaya atau yang lebih dewasa, mengaku belajar beladiri, segera saya tangtang berkelahi. Singkatnya, sejak saat itu saya telah berubah menjadi berandal  dan tidak ada perhatian untuk belajar di sekolah.

Setelah Pamanku menyatakan aku telah menerima cukup ilmu darinya, dan tidak ada lagi yang harus dia ajarkan, saya merasa belum puas, lalu mencari guru lain. Belajar ilmu silat dari satu guru ke guru, dari satu perguruan hingga ke perguruan lain. Hal ini membuat ibuku tidak suka, karena aku jadi lupa belajar dan sering bolos sekolah. Tapi aku bersikukuh ingin memperdalam ilmu silat.
« Edit Terakhir: Juli 03, 2015, 10:53:22 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Memenuhi Panggilan Ilahi
« Jawab #1 pada: April 18, 2014, 06:49:10 AM »
Memasuki Dunia Mistik

Bukan hanya ilmu silat yang diajarkan oleh pamanku, tapi juga ilmu-ilmu mistik. Dia mengajarkanku mantra dan doa-doa. Salah satu mantar digunakan dengan cara membacakannya pada air. Kata Paman, “semburkanlah airnya kepada musuh, niscaya dia akan terjungkal dan pingsan.” Saya ragu dengan kebenaran hal itu. Lalu saya mencoba menyemburkan air mantra itu pada dedaunan, dan ternyata tidak terjadi apapun. Aku komplain pada Pamanku, tapi dia berhasil meyakinkanku bahwa memang tidak akan terjadi apa-apa kalau disemburkan ke tanaman. Tapi lain lagi kalau disemburkan kepada orang, reaksinya akan kelihatan. Sampai sekarang, saya tidak pernah menyembur orang dengan air mantra. Walaupun demikian, ajaran-ajaran ilmu kesaktian seperti itu setidaknya telah membuatku lebih percaya diri, memiliki keyakinan yang kokoh secara internal, dan membuatku masuk semakin dalam ke dunia mistik.

Beberapa pelajaran mistik dapat kubuktikan kebenarannya. Dia pernah mengajarkanku ilmu yang beranama “Semu Gunting”, di mana sentuhan tangan saya bisa menyebabkan tubuh orang yang kusentuh menjadi hangus. Ini terbukti. Dalam beberapa kejadian, ketika saya berkelahi, sentuhan tangan saya membuat tangan lawan menjadi hitam seperti kena api, kadang menjadi biru, dan kadang kulit mereka terkelupas.

Aku juga pernah bersemedi selama tiga hari tiga malam dalam mushola pribadinya dengan hanya berbekal sekepal nasi. Bila maghrib tiba, aku berbuka puasa dengan memakan sepertiga dari nasih tersebut, lalu melanjutkan semedi. Oleh karna itu, kebiasaan semedi sudah saya lakukan sejak usia saya kelas dua SMP.   


Belajar Ilmu Filsafat

Bukan hanya ilmu-ilmu kesaktian dan ilmu silat, Pamanku juga mengajarik filsafat. Boleh dibilang, guru filsafat yang pertama adalah Pamanku sendiri. Dia mengkritik orang-orang yang berkata, “Shalatku, zakatku, sedekahku, dan semua ibadahku adalah untuk Allah.” Kata beliau, yang salah itu bukan ucapanya, tapi itikadnya. “Jangan mengatakan `untuk Allah` seperti `memberi kepada Allah`”. Pamanku berkata, “Bagaimana kalau kamu membawa satu liter beras lalu kamu sedekahkan kepada orang kaya, apakah orang kaya itu akan menerimanya ? tentu tidak, bahkan mungkin marah, karena dianggapnya suatu penghinaan. Demikian pula, bila kamu berpikir shalatmu itu untuk Allah seolah-olah Allah butuh kau sembah.” Ini adalah salah satu contoh bagaimana Pamanku mengajariku filsafat. Filsafat yang diajarkan Pamanku, jauh lebih banyak dari jumlah jurus-jurus silat yang kupelajari darinya.

Kebrutalan Di Sekolah

Karena masuk ke dalam dunia persilatan dan mistik, aku jadi gemar berkelahi. Aku memimpin sebuah gang yang suka memicu keonaran. Setiap malam keluyuran, pulang pagi dan tidur, tidak pergi sekolah. Semua itu membuat ibuku menjadi sedih. Tapi sekarang, ibuku tidak sanggup berlaku keras lagi padaku, karena aku suka melawan. Aku menjadi anak yang paling brutal dan ditakuti oleh anggota keluarga. Akupun sudah dikeluarkan dari sekolah. Terutama karena kebrutalanku tidak hanya menimpa teman-temanku, tapi juga mengenai guru-guruku. Aku pernah melempar Pak Husen, guru kesenian itu, dengan benda elektronik. Untungnya dia menghindar sehingga selamat dari lemparanku. Di dalam kelas, bila ada kawan yang tidak aku sukai, maka langsung aku pukuli di depan guru yang sedang mengajar. Dengan segala tindakanku itu, wajar bila sekolah ingin mengeluarkan aku. Saya malah gembira, karena sudah enggan untuk sekolah. Tapi ibuku datang ke sekolah, menangis dan memohon agar aku tidak dikeluarkan dari sekolah.

Karena kebrutalanku di sekolah, aku telah dibenci oleh kawan-kawan sekolahku. Aku diasingkan dan tidak diajak dalam berbagai kegiatan mereka. dan bahkan kawan-kawanku menyusun rencana untuk mengajak semua laki-laki di sekolah itu untuk mengeroyokku. Secara tidak sengaja aku mendengar rencana ini, ketika mereka berunding di belakang mesjid. Aku tidak takut sedikitpun, bila aku akan dikeroyok oleh mereka. Aku merasa sanggup untuk membuat mereka semua babak belur. Tetapi di sudut hati yang lain, saya bersedih sedalam itukah kebencian mereka kepada saya.

Rencana penyeroyokan itu tidak pernah terjadi. Di dalam kelas, aku menyeret Jamus, si provokator itu dan memaki-makinya. “kamu yang mengajak ornag-ornag untuk mengeroyok saya ... anjing loe, bangsat loe, mau gua abisin loe... ?” lalu dia meminta maaf padaku.

Bila aku naksir seorang cewek, tidak boleh seorangpun laki-laki lain mendekatinya. Mungkin Nino, salah seorang kawanku tidak tahu kalau aku naksir sama Desri, dia kutemukan sedang bercanda dengan Desri. Sepulang sekolah aku mencegat Nino dan membantingnya ke sudut jalan, lalu kuancam, “Sekali lagi loe dekati Desri, loe mampus!” Nino sangat ketakutan, dan tidak datang lagi ke sekolah. Terakhir yang datang orang tuanya, minta surat pindah. Kalau mengingat hal ini, saya masih merasa sangat bersalah.

Doa dan Tangisan Ibuku

Sejak kasus aku hendak dikeluarkan dari sekolah, ibuku selalu menangis setiap malam serya memanjatkan doa pada Tuhan bagiku. Ditarunya sebuah gelas berisi air bening. Usai berdoa, dia meniup air itu, lalu memintaku agar mau meminumnya. Sebenarnya aku enggan meminum air doa itu. Tapi aku masih punya rasa kasihan, karena ibuku berdoa sambil meneteskan air mata, sangat berharap aku menjadi anak yang shaleh. Akhirnya, aku pun meminum setiap air doa yang diberikan ibuku. Anehnya, setelah berkali-kali aku meminum air doa itu, terasa ada kedamaian tersendiri dalam hatiku, hatiku yang keras terasa lunak.

Perubahan Hidupku

Suatu hari, Noni mengajaku ke pasar. Aku bersedia mengantarnya. Saat itu kulihat sebuah buku tergantung di Toko Buku Hidup Baru Ujung Berut. Judulnya adalah “Cara Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang” karya Dale Carnagie. Saya tertarik untuk membelinya, harganya empat ribu lima ratus rupiah. Mungkin sekarng harganya mencapai lima puluh ribu rupiah.

Sesampainya di rumah, saya membaca buku tersebut. Hasilnya luar biasa. Ini sebuah buku yang hebat. Dan kehidupan saya mengalami perubahan drastis setelah membaca buku tersebut. Intisari dari buku itu telah membuat saya sadar, bahwa selama ini yang salah lakukan tidak lain hanyalah mencari perhatian orang-orang. Menurut buku itu, saya boleh saja mencari perhatian orang lain, tapi yang saya lakukan salah besar. Cara yang tepat untuk mendapatkan perhatian orang lain adalah harus dengan cara memberi mereka perhatian. Beritakan perhatian penuh pada orang lain, dengar secara seksama bila orang lain berbicara. Inilah inti pesan dari Dale Carnagie yang telah benar-benar mengubah jalan hidupku. Saya mengalami perubahan drastis ini kelas dua SMU semester II.

Sejak itu, saya benar-benar berubah secara drastis. Saya rajin pergi sekolah, tidak nakal, tidak berkata kasar, dan cenderung mengalah dan mau memberi perhatian pada orang lain. Tetapi kawanku di sekolah sudah kehilangan rasa simpaik dan kepercayaan kepadaku. Tapi saya memaklumi dan memaafkan mereka. saya pikir, wajar saja mereka membenciku, karena selama bertahun-tahun aku telah menyakiti mereka. Tapi hal ini tidak menyurutku semangatku untuk berubah menjadi lebih baik.

Jasa Ibu dan Para Guru

Selepas sekolah, saya berjumpa dengan Kang Irman, yang di forum ini sering saya sebut sebagai Sang Guru. Beliau adalah guru dalam bidang krachtology. Ilmu kebatinan dan filafat saya mencapai kematangannya di bawah bimbingan beliau. Dengan bimbingan beliau, saya telah berubah menjadi anak yang khidmat dan berbakti pada orang tua, orang yang dituakan serta menjadi suri tauladan bagi seluruh anggota keluarga. Kini saya menjadi orang yang dapat dibanggakan oleh ibuku. Dan aku gembira bahwa ibuku telah ridho kepadaku.

Bila ibuku sakit, segera aku merawatnya. Memijitnya, menghiburnya dan memberinya obat. Bila semua itu tidak cukup, segera saya membawanya ke rumah sakit. Sang Guru telah mendidikku. Dengan ajaran-ajaran yang diberikannya padaku, aku berubah menjadi cahaya, yang dengan cahaya itu aku dapat menerangi jalan orang-orang yang tengah dalam kegelapan, bahkan aku menjadi pembimbing spiritual ibuku sendiri. Dalam setiap gerak langkahnya, dalam menghadapi masalah-masalah sulit yang dihadapinya, dan keputusan-keputusan yang dibuatnya, ibuku selalu meminta saran pendapatku. Demikian pula mamaku, bila ia bingung dalam suatu urusan, maka ia menyerahkankan kepadaku seraya berkata, “Mamah tidak tahu apa yang harus Mamah lakukan. Sekarang, Mamah minta pendapatmu, apapun pendapat dan keputusanmu, akan Mama ikuti. Sebab, terbukti kamu selalu berkata benar, memberikan keputusan yang terbaik dan ramalan-ramalanmu tidak satupun yang meleset dari kenyataan.” Ini sekedar untuk menggambarkan, bagaimana si anak badung yang sering membuat ibunya menangis, kini menjadi anak yang baik. Bukan saja sebagai anak yang berbakti pada orang tua, tapi lebih dari itu, saya menjadi guru spiritual bagi ayah ibuku sendiri. Walaupun demikian, saya tidak akan mampu membelas segenap jasa ayah ibuku padaku. Karena anugrah ilmu yang telah Allah berikan kepadaku ini, adalah berkata doa-doa ibuku untukku di malam hari dengan penuh rasa kasih dan air mata, dengan sungguh-sungguh dia memohon agar aku dijadikan hamba Tuhan yang arif dan bijaksana. Jika memang kebaikan itu ada pada diriku, semua itu atas jasa-jasa ibuku, sehingga jasa yang besar ini mustahil mampu saya balaskan. Hanya Allahlah yang bisa membalas segenap kebaikan ayah ibuku.

Tentu saja, selain jasa ibuku, aku juga tidak melupakan jasa-jasa para guru, Mang Uman, Mang Apin, Kang Irman, Abu Zahra, Habib Bakar, Abah Thantan, Ust. Yusuf, Ust. Husain al Kaf, dan para guru yang banyak yang tidak bisa kusebut satu persatu. Anugrah dari Allah telah datang melalui perantaraan para guru ini. Semoga Allah membalas segenap kebaikan mereka.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Memenuhi Panggilan Ilahi
« Jawab #2 pada: April 18, 2014, 06:49:49 AM »
Mengasuh Putra Putriku

Anak pertamaku lahir. Aku memberitahu ibuku, “Mak, istriku sudah melahirkan.” Ibuku menangis bahagia dan menciumiku. Ia amat terharu karena aku telah menjadi ayah.

Ketika anakku berusia enam bulan, aku berdiskusi dengan istriku, bahwa kami akan menitipkan anak kami ke panti asuhan. Tidak ada pilihan lain, karena kami harus bekerja. Rencana kami terdengar oleh ibuku. Maka ibuku berkata padaku, “kenapa harus kamu titipkan ke panti asuhan. Biar Emak saja yang mengasuh.”

Waktu itu penghasilan kami tidak seberapa. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku dan istriku harus bekerja. Dan kami belum bisa menjamin kehidupan orang tua kami. Ayah dan ibuku masih harus bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Bahkan ibuku bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji hanya tiga ratus ribu rupiah perbulan. Aku tahu, ibuku tidak tega kalau anakku dititipkan ke panti asuhan. Tapi dia juga berat untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga, memikirkan bagaimana ia akan dapat makan sehari-hari. Bagaimanapun rasa kasih sayangnya padaku lebih besar, sehingga apapun resikonya dia memilih untuk meninggalkan pekerjaannya dan mengasuh putraku.

Sebenarnya saya tidak ingin merepotkan ibuku. Biar putraku dititip ke panti asuhan saja. tapi ibuku bersikukuh ingin mengasuh putraku. Lalu saya berkata, “Mak, tidaklah baik bila saya menyuruh Emak mengasuh putraku lalu saya memberi upah. Bila saya memberi Emak uang, maka itu bukanlah upah, tapi pemberian saya untuk Emak. Jangan sekalipun itu disebut upah. Emak mengasuh putraku atau tidak, bila saya bekerja, tentu saya akan menyisihkah sebagian penghasilan saya untuk Emak. Kesediaan Emak mengasuh putraku itu adlah wujud kasih sayang  Emak kepada saya. Dan bila saya memberikan sebagian rezeki saya, itu adalah kewajiban bakti saya sebagai anak kepada Emak.” Ibuku sepakat dengan yang kukatakan.

Waktu itu aku bekerja sebagai guru honor. Gajiku hanya tujuh puluh lima ribu rupiah perbulan dari satu sekolah. Saya mengajar di empat sekolah, maka total saya memperoleh tiga ratus ribu rupiah. Dari total pendapatan saya sebulan tersebut, saya sisihkan setengahnya untuk saya berikan kepada ibuku.

Setahun sudah berlalu. Pamanku berkunjung menemui ibuku. Pamanku bertanya padaku, “Apa kamu suka memberi uang pada ibumu?”

“Ya setiap bulan.”

“Berapa ?” tanyanya.

“Seratus lima puluh ribu rupiah.” Jawabku.

Pamankku tampak tidak suka. Dia berkata, “Kalau jadi pembantu di tempat orang lain saja upahnya tiga ratus ribu, masa kamu Cuma ngasih seratus lima puluh ribu rupiah. Yang benar saja?!”

Mendengar perkataan pamanku, aku jadi marah dan berkata, “Paman! Ibuku bukan pembantuku. Dia mengasuh putraku, seperti dia mengasuh diriku, tidak minta upah atau balasan materil. Dan saya memberi uang menurut kemampuan saya, bukanlah memberi upah paman, tapi atas dasar kasih sayang saya kepada ibuku. Dia mengasuh putraku atau tidak, niscaya saya menyisihkan pendapatanku untuknya.”

Pamanku terdiam. Tapi hatiku menangis, dan rasa tertusuk kesakitan. Betapa akupun ingin  menyenangkan ibuku dengan harta benda, tapi apa boleh buat, ingin hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Setiap kali pendapatan saya meningkat, tentu sayapun meningkatkan pemberian saya kepada ibuku.

Putra pertamaku sudah besar. Lahirlah anakku yang kedua, perempuan. Ibuku pula yang mengasuh. Rasanya saya telah terlalu banyak merepotkan ibuku. Tapi bagaimana lagi, situasi kondisinya membuat saya tidak punya pilihan lain. Hanya saya yakin, ibuku bahagia dapat mengasuh putra putriku. Seperti seorang ibu yang selalu bahagia berada di dekat anak-anaknya yang lucu dan menggemaskan, seperti aku bahagia bersama anak-anaku, seperti itu pula ibuku bahagia menjalani hidup bersama putra putriku.

Jivitindriya

Dalam dua tahun terakhir ini, ibuku pulang pergi ke rumah sakit Rotinsulu, rumah sakit khusus paru. Ibuku mengidap suatu penyakit paru yang belum jelas jenisnya. Sampai dua tahun, dokter belum dapat menemukan, apa yang menjadi penyebab banyaknya cairan di dalam paru-paru ibuku. Pernah di duga TBC, kanker dan Tumor. Tapi semua itu tidak terbukti. Dokter masih terus melakukan penyelidikan.

Setelah melalui pengobatan di rawat inap, kadang ibuku sehat kembali. Dia beraktifitas seperti sediakala. Bahkan ia kembali mengasuh anakku, mengantarnya ke sekolah, dan seringkali mengajaknya jalan-jalan ke pasar minggu untuk membelikan gaun cantik untuk putri kecilku. Tapi kemudian, penyakit paru nya itu kambuh lagi, dan harus menjalani rawat inap.

Sekitar tiga bulan yang lalu, ibuku juga dirawat di RS. Al Islam Bandung. Kali ini beliau dirawat bukan karena penyakit paru, tapi karena demam berdarah. Aku bersama kerabat yang lain saling bergantian menunggui ibuku di RS. Pada saat giliaran aku berjaga, seperti biasa kualirkan energi kracht ke sekujur tubuhnya untuk membantu kesembuhan. Tapi kali ini, kutemukan hal baru, yaitu bahwa daya hidup ibuku itu sudah meredup dan terus meredup. Ibuku telah dipanggil oleh Tuhan yang Maha Kasih. Walaupun demikian, secara medis ibuku tampak semakin sehat. Aku kecup keningnya dengan sepenuh rasa sayangku padanya.

Soalnya meredupnya daya hidup ibuku, aku rahasiakan dari semua orang. Kurasa karib kerabatku tidak akan mengerti tentang apa yang aku katakan. Hanya ketika situasi dan kondisinya tepat, aku menyampaikan semua itu pada adik dan mamahku. “Walaupun Emak tampak sehat, tapi sebenarnya daya hidupnya telah melemah. Emak sudah dipanggil oleh Allah. Sesungguhnya, bila saya mengobati orang, saya mengalirkan energi kracht ke dalam tubuh orang. Salah satu fungsinya adalah untuk memeriksa daya hidup, yang saya menyebutnya Jivitindriya. Bila jivitinndriya ini kuat, maka sekeras apapun sakit seseorang, dia akan sembuh seperti sedia kala. Umurnya masih panjang. Tapi kalau jivitindriya ini melemah, maka tidak ada obat apapun yang dapat menyembuhknnya. Karena ia memang sudah ingin pergi dari dunia ini. Walaupun demikian, tentu kita ingin berusaha untuk berikhtiar untuk kesembuhannya sebagai wujud dari kasih sayang kita.” Adik dan ibuku kandungku mendengarkan dengan seksama. Sementara dalam hati saya bergumam, “Sebenarnya obat-obatan itu hanya membuat ibuku semakin sakit saja. tapi apa boleh buat. Jika saya melarang ibuku untuk pergi ke dokter dan menelan obat dari dokter, maka aku akan dipandang penjahat. Dan saya ceritakan tentang melemahnya jivitindriya itu kepada adik dan mamahku, agar keduanya menjadi saksi bahwa saya telah mengetahui akan dekatnya waktu ibuku untuk menghadap ilahi.

Di satu sisi, dengan mengetahui dekatnya panggilan ilahi untuk ibuku, hancurlah sudah banyak harapan. Aku berharap, ibuku dapat menyaksikan putriku menikah kelak. Aku berharap, aku dapat memboyong ibuku ke rumahku sendiri, rumah besar atau kecil, tentu ibuku bahagia karena melihat aku, anak yang diasuhnya sejak kecil, telah dapat memiliki rumah sendiri. Tapi dengan tanda-tanda yang kulhat pada diri ibuku itu, tampaknya harapan-harapan itu hanyalah tinggal harapan yang tidak dapat kuwujudkan. Hanya saja, bila memang semua itu kehendak Tuhan, tiada hal terbaik yang harus kulakukan kecuali berserah diri, ikhlas dengan segala ketentuan dari Tuhan.

Mencari Pekerjaan Baru

Dalam situasi di mana ibuku sakit keras, perusahaan tempatku bekerja memberhentikan aku dengan alasan aku telah lalai dalam menjalankan tugasku. Aku tidak menyangkalnya. Aku menerima tuduhan itu, mengakuinya dan rela dengan keputusan bosku. Aku memang melakukan beberapa kelalaian. Selain karena faktor kelemahan aku sendiri, aku seringkali bolos kerja karena harus merawat orang tuaku, terutama ibuku. Mungkin, dengan berhenti kerja, aku bisa lebih fokus untuk mengurus orang tua. Tapi, ternyata dengan tidak bekerja aku, lebih sulit lagi mengurus orang tua. Untuk menunggu ibuku yang sedang di rawat di RS saja aku bingung masalah ongkos dan bekal untuk makan sehari-hari. Permasalahan dalam rumah tangga sendiripun semakin bertambah banyak, karena pengeluaran tetap banyak sedangkan pendapatan sudah tidak ada. Ini menjadi dilemma. Olah karena itu, saya mencoba mencari pekerjaan lagi.

Sebulan sudah berlalu, tapi aku masih belum mendapat pekerjaan baru. Aku coba minta bantuan dari sahabatku, kang Ratno di Jakarta, barangkali dia bisa memberikan informasi lowongan kerja. Sementara aku tetap berusaha mencari pekejaan di Bandung. Sebelum ada panggilan kerja atau untuk sekedar interview, aku mengambi alih pekerjaan rumah tangga di rumah, mulai dari mencuci piring, cuci baju, ngepel lantai hingga nyetrika. Aku lakukan semua itu dengan senang hati. Karena ketika aku masih bekerjapun di perusahaanpun, pekerjaan-pkerjaan rumah tangga biasa kulakukan bersama istriku, hanya porsinya lebih sedikit karena waktunya yang lebih sempit. Jadi, ketika aku menganggur, semua pekerjaan rumah tangga dapat saya lakukan karena waktuku lebih banyak untuk mengerjakan semua itu.

Ketika aku sedang menyetrika baju kemejaku, aku teringat kepada sabda sang Buddha dalam suatu sutta, “Dana akan datang kepada mereka yang menjalankan kesucian.” Saya meyakini bahwa perkaan sang Buddha itu benar. Selaras dengan ajaran Islam, seperti dalam firman Allah : Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Q.S 65:3)

Pemikiran tersebut, membuatku semakin bersemangat untuk bekerja, mengerjakan apapun yang baik untuk kukerjakan. Aku yakin, bila aku menjalani hidup suci, tentu Allah akan mencukupkan rezekiku dari arah yang tidak disangka-sangka, jadi tidak perlu saya risau dengan nasibku ini. Saya hanya perlu berdoa dengan sungguh-sungguh dan bekerja dengan semangat ditopang oleh keyakinan. Usai berpikir seperti itu, hpku berbunyi. Ada sms dari kang Ratno, memberi informasi lowongan kerja di Jakarta.

Aku teleh melewati serangkaian wawancara, tinggal menungguk keputusan dari direksi, apakah aku diterima atau tidak. Melaliu sms kang Ratno bertanya, “Menurut intuisi akang, apakah Akang akan diterima kerja atau tidak?”

Aku menjawab, “menurut intuisi, saya akan diterima kerja. Jika dalam seminggu tidak ada panggilan panggilan kerja untuk saya, berarti intuisi saya meleset.”

Beberapa hari kemudian ada informasi dari bagian HRD, bahwa aku telah diterima kerja, dan supaya secepatnya aku datang ke Jakarta untuk mulai kerja. Tapi aku minta waktunya sedikit diundur karena ada beberapa pekerjaan di Bandung yang harus diselesaikan. HRDnya menyetujui.


Merasakan Dekatnya Panggilan Ilahi Untuk Ibuku

Selain soal pekerjaan yang harus diselesaikan di Bandung, ada hal lain yang membuat aku tidak segera pergi ke Jakarta, yakni aku merasakan firasat yang sangat kuat bahwa ibuku tidak dapat menunggu lebih lama lagi, dia harus segera memenuhi panggilan ilahi. Kepada istriku aku berkata, “Bu, ... kurasa Emak akan segera pergi menghadap ilahi. Kalau saya pergi ke Jakarta sekarang, saya khawatir tidak dapat mengantar kepergian ibuku.” Lalu sayapun segera kirim sms ke Kang Ratno, “Soal pekerjaan di Bandung mungkin bisa saya atasi, tapi ada persoalan lain. Melihat dari tanda-tandanya, sepertinya usia nenek saya (ibu saya) tidak akan lama lagi. Saya khawatir, umurnya tidak lewat dari bulan ini. Harus ada yang membimbing beliau dalam menghadapi panggilan ilahi. Jika saya pergi sekarang, siapakah yang akan membimbing ibuku dalam menghadapi panggilan ilahi.”

Kang Ratna membalas, “Pembimbing yang paling tepat saya kira adalah Akang.  Jika pekejaan diambil terlebih dahulu sambil menunggu saatnya untuk membimbing, apakah tidak bisa? Tapi saya yakin, Akang bisa memutuskan terkait hal ini berdasarkan petunjuk yang benar.”

Saya belas, “Bila saya berangkat sekarang, saya khawatir nanti saya akan terlambat datang untuk ibuku. Tapi menurut batin saya sendiri, saya memang harus pergi ke Jakarta, bukan hanya untuk kebaikan saya, tapi juga untuk nenek saya. Mungkin sebaiknya saya melakukan bimbingan sekarang, sebelum saya pergi ke Jakarta.”

“Silahkan kang! Saya mendukung apa yang Akang rencanakan, ke Jakarta atau tidak ke Jakarta. Dan lagi saya sudah rindu.” Balas kang Ratna.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Memenuhi Panggilan Ilahi
« Jawab #3 pada: April 18, 2014, 06:50:28 AM »
Memenuhi Panggilan Ilahi

Keesokan harinya sekitar pukul 10.00, Aku menghampiri ibuku. Ia tampak cemas. Saya rasakan benar kecemasannya itu. Sebenarnya ia harus memenuhi panggilan ilahi sejak tiga bulan yang lalu. Tetapi masih ada ssuatu yang menahan dirinya di dunia ini. Masih ada sesuatu yang ia tunggu.  Ibuku seperti orang yang hendak menyeberangi sebuah jembatan di mana air yang mengalir di bawahnya sangatlah deras dan menakutkan. Ibuku ragu dan takut untuk menyeberang. Dia menungguku untuk mengangarnya pegi melalui jembatan itu. Ibuku juga membutuhkan persetujuan dariku, kalau dia akan menyeberang jembatn itu dan tidak akan kembali lagi untuk selamanya. Ya. Ibuku membutuhkan persetujuanku seperti aku meminta restu dan persetujuan ibuku, ketika aku hendak pergi ke Jakarta untuk bekerja. Dan aku tidak mungkin pergi bila ibuku tidak rela dengan kepergianku. Tempo lalu, ketiak aku akan pergi ke Jakarta, aku menunggu kerelaan ibuku, stelah itu aku mencium tangannya dan barulah pergi menggunakan bis malam ke Jakarta. Demikian pula ibuku, ia akan pergi jauh ke dunia lain untuk selamanya, ia menunggu kerelaanku agar ia pergi dengan tenang.

Memang jujur, sebelumnya aku merasa belum sanggup untuk ditinggal pergi oleh ibu yang sangat aku sayangi. Tapi di pagi itu, aku merasa kasihan pada ibuku, bila ia tertahan lebih lama lagi di dunia ini. Maka aku memegang tangannya, mengusap kepala dan mencium keningnya. Aku berkata lirih, “Mak, ... janganlah Emak takut pada kematian ... karena kematian itu adalah bagian yang harus diterima oleh semua orang. Kullu nafsin dzaaiqatul maut, setiap diri pasti akan mati. Bahkan bagi orang beriman, mati itu bagaikan orang yang keluar Dari Penjara Menuju Istana.  Segala beban yang selama ini menghimpit akan dilepaskan, segala kesusahan akan ditinggalkan. Dan saya bersaksi, bahwa Emak adalah orang beriman. Oleh karena itu, yakinlah, sabar dan tenanglah! Insya Allah Emak akan memperoleh surgaNya yang indah. Ketika saya diserang penyakit jantung, saya tidak memohon kesembuhan kepada Allah, tetapi saya memohon agar Allah menganugrahkan keikhlasan dan kepasrahan kepada diri saya, seraya saya memohon, ya Allah bila aku akan mati saat ini, maka satu saja aku minta, matkanlah aku dalam keadaan berserah kepadaMu. Bila aku belum sanggup untuk berserah padamu, maka tangguhkanlah kematianku dan berilah umur panjang, agar aku tidak mati kecuali dalam keadaan berserah, sperti firmanMu, walaa tamutunna illaa waantum muslimuun. Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat, maka sesungguhnya sabar itu berat, kecuali bagi orang yang khusyu. Bukankah Allah telah memberi tahu, bahwa khusyu diperoleh melalui dizkir. `Alam ya`ni antakh sya`a qulubuhum bidzikrillah. Dan ingatlah, hanya dengan dzikir itulah hati menjadi tentram. Alaa bidzikrillahi tatmainul quluub.  Maka saat-saat kita menghadapi panggilan ilahi, pusatkan seluruh perhatian kepada Allah, hadapkan seluruh jiwa kepada ilahi, khusyu memohon pertolongan kepadaNya, terus menerus menyebut nama Nya, Allah, Allah, Allah. Jangan lepas dari itu, dan jangan bergeming, bagaikan batu karang yang tidak bergeming walaupun walaupun diterjang badai ombak.”

Sampai di situ, kulihat ibuku menyimak dengan seksama. Sebelumnya, saya telah menjelaskan kepada ibuku tentang makna surah An-Nisa ayat 69. “Taatlah kamu pada Allah dan taatlah kamu pada Rasul dan ulil Amri”, siapakah Allah, siapakah Rasul dan siapa ulil Amri yang wajib ditaati itu. Kewajiban bagi saya untuk menyampaikan apa yang harus saya sampaikan kepada ibuku, hal penting yang harus difahami, diyakini sebelum ibuku pergi. Saya sampaikan sebagaimana yang diajarkan oleh para guruku Abu Zahra, Habib Bakar,Ust. Husain, dan semuanya. Saya intisari dari apa yang mereka semua ajarkan, lalu aku sampaikan kepada ibuku. Lalu, sambil tetap mengusap-ngusap ibuku, aku bertawasul kepada Allah melalui empat belas orang suci. Usai bertawasul, saya pegang kening ibuku dan mengucapkan “subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha ilallah.” Lalu kupegang perutnya, dan mengucapkan “laa hawla walaa quwata ilaa billah.” Lalu saya mengusap kedua tangannya dari bahu hingga ke ujung jari sambil berucap, “Ya Allah, inni atawajahu ilaikum binabiyikum, nabiyi rahmah, muhammadin Sallahu alaihi wa aliihi.” Ya Alah, sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepadaMu dengan lantaran nabiMu, Nabi yang penuh dengan rahmat, Nabi Muhammad SAW.

Ibuku terlihat tenang. Ia memejamkan matanya, seolah hendak tidur.  Aku mundur satu langkah. Hatiku bergumam, “sekarang penghalang itu telah dilepaskan. Ibuku telah siap untuk pergi.”

Sementara itu, ayahku juga sakit keras. Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Ia sesak nafas, sulit bernafas, dan gerahamnya bengkak. Kalau sudah sesak, ia sampai terjungkal-jungkal. Walaupun begitu, dapat kurasakan bahwa daya hidup ayahku masih sangat kuat. Hanya tentu saja, aku tidak bisa tinggal diam melihat kesusahan ayahku. Aku segera meluncur ke rumah sakit untuk mendaftarkan ayahku.

Baru saja tiba di rumah sakit, bibiku memberitahuku bahwa ibuku ngedrop. Segera saya pulang, melesat dengan kencang. Khawatir saya terlambat mengantar kepergian ibu. Sepanjang perjalanan, sudah kuat keyakinan saya, bahwa ibu memang hendak pergi menghadap ilahi.

Saat tiba di rumah, semua orang sudah mengerumuninya, pamanku, bibiku, mamahku, dan adikku. Mereka sedang menuntun ibuku mengucapkan kalimat tahlil “laa ilaaha ilallah”. Aku segera memburunya, merangkulnya, mengangkat dan mendekapkannya ke dadaku, lalu kusebut nama Tuhanku dan Tuhan ibuku, Allah, Allah, Allah.... ibuku mengikuti lisanku, Allah, Allah, Allah, Allah, Allah.... lalu dia menyebut nama Tuhan untuk yang terakhir kalinya, Allah.... setelah itu hanya nafas yang tersengal-sengal. Walaupun begitu, saya yakin, ibuku masih menyebut-nyebut nama Tuhan di dalam hati dan pikirannya, sebagaimana yang sering aku ajarkan kepadanya. Tiba-tiba mata ibuku terbuka, memandang ke arahku dengan pandangan yang jauh ke dalam hakikat. Aku berkata kepadanya, “Mak... jangan takut ...ini aku anakmu” dengan isyarat aku memberi tahu ibuku, bahwa aku telah rela dan siap mengantar ibuku pergi menyeberangi jembatan itu. Lalu ibuku terpejam lagi dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Aku tahu ... ibuku telah pergi. Tapi ... aku tidak sanggup untuk mengatakan pada karib kerabatku bahwa ibuku telah pergi. Sementara adikku telah menyiapkan kendaraan hendak membawa ibuku ke rumah sakit. Tidak sempat aku berpikir lebih banyak, karena harus segera bertindak. Segera ku gendong ibuku, dan kumasukan ke dalam taksi untuk di bawa ke RS. Pamanku menghadang di jalan, dia marah dan berkata, “Ini bukan waktunya di bawa ke RS, tapi waktunya di bimbing, bagaimana kamu ini ?”

Saya jawab, “Paman, ... ibuku telah tiada, ia telah pergi ... biar kita bawa ibuku ke rumah sakit, biar nanti dokter yang membuat pernyataan, saya tidak sanggup mengatakannya.”

Pamanku membuka mulutnya, rupanya masih hendak membantahku lagi, tapi aku segera berkata, “Paman ... ini bukan waktunya untuk berdebat ... kalau Paman mau membimbing ibuku, silahkan masuk saja ke dalam mobil, Paman bisa melakukannya di dalam mobil. Silahkan!”

Dokter menyatakan bahwa ibuku telah meninggal. Isak tangispun pecah di ruang UGD RSUD Ujung Berung. Bibiku roboh ke lantai dan tak sanggup untuk bangun. Ruang UGD pun menjadi gaduh dengan suara-suara keras tangisan.

Kuhampiri jasad ibuku. Aku mengusap kepalanya dan menicum keningnya. Aku berucap, “Assalamualaikum Emak ... innaka anti lafaratun, wa nahnu insya Allahu biki lahiquun. Salam sejahtera bagimu Emak ... engkau telah meninggalkan kami semua ... dan Insya Allah kami akan segera menyusulmu. Salam sejahtera bagimu hei Ahli dzikir dari ahli dzikir, semoga engkau dikumpulkan dengan para ahli dzikir kepada Allah.” Ku kecup keningnya untuk yang terakhir kali.

Sesampai di rumah, banyak orang yang tumbang jatuh ke lantai, menangis tersedu sedan. Tampaknya mereka begitu sedih dan kesakitan. Apakah mereka begitu menyayangi ibuku, sehingga menangis begitu keras. Dan apakah aku tidak menyayangi ibuku, sehingga tidak jatuh air mataku ? akulah yang lebih giat dalam merawat ibuku siang malam dengan penuh kasih sayang, bukan mereka. akulah yang senantiasa menghibur dan menenangkannya dari kegelisahan, bukan mereka. akulah yang menuntun ibuku dari jalan yang gelap kepada jalan yang terang, bukan mereka. tapi mengapa mereka menangis lebih keras dari pada aku ? sebenarnya mereka sedang menangisi dan meratapi diri mereka sendiri. Inilah hakikat yang kuketahui, yang tentu saja tidak dapat kukatakan. Selama ini, ibuku sering menolong mereka di dalam berbagai kesulitan. Bahkan rumah ibuku hampir habis terjual untuk menyelesaikan problem putri-putrinya. Tentu, kepergian ibuku sangat menyedihkan. Kelak, siapakah lagi yang akan menjdi pelindung mereka, siapa lagi yang akan membantu kesulitan-kesulitan mereka, siapa lagi yang akan membela mereka. jadi, mereka menangis, mengasihani diri mereka sendiri.
Aku menghampiri keponakanku yang sedang menangis meraung-raung. Sambil mengusap-usap kepalanya, “kenapa kamu menangis seperti ini?”

“Kasihan Emak ... lihat .. dia kenapa ? owh. .. kasihan....” demikian katanya, sambil menunjuk ke arah jenazah yang sudah ditutup dengan kain samping.

“Itulah kematian ... jika kamu sayang padanya, jika memang kasihan padanya, menangislah! Tapi bukan dengan cara seperti ini ... bacalah surah al Fatihah, dan mohonlah agar pahala bacaannya dilimpahkan kepada alhmarhumah .. !” lalu aku membantu membimbing dia memaca surah fatihah.

Sesaat kemudian anakku, Aura dan para sepupunya yang sebaya datang menghampiri jenazah nenek buyutnya. Mereka duduk dengan manis di samping jenazah, lalu mengangkat tangan dan berdoa.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
556 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 08, 2013, 11:04:12 AM
oleh Youlian
Bisikan Ilahi

Dimulai oleh Sultan Puisi

0 Jawaban
57 Dilihat
Tulisan terakhir September 14, 2017, 01:32:18 AM
oleh Sultan
Hati Ilahi

Dimulai oleh Sultan Puisi

0 Jawaban
68 Dilihat
Tulisan terakhir September 20, 2017, 03:53:50 AM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan