Penulis Topik: Masyarakat yang Awam Agama  (Dibaca 52 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9038
  • Thanked: 53 times
  • Total likes: 291
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Masyarakat yang Awam Agama
« pada: Juli 08, 2017, 06:33:56 PM »
Kang Jalal, [08.07.17 15:43]
---------------------
Antara Kang Asep & mereka Ada pertentangan nilai apa kang sehingga mereka bersikap demikian?
===============

Akan saya ceritakan lata belakangnya ...

Kehidupan masyarakat di sana, awam dengan agama. Mayoritas masyaraktnya tak dapat membaca tulis al Quran. Jarang orang mempraktikan ibadah seperti shalat dan puasa. Hampir setiap penduduk memiliki kambing atau sapi, tapi tak pernah ada yang berqurban. Bukan hanya itu, penyakit masyarakat masih kuat, seperti judi dan mabuk-mabukan. Kegemaran mereka adalah berjudi dengan adu babi dan anjing.

Paman Dusman, paman saya itu merasa prihatin atas kondisi masyarakat sekitarnya, terpanggil untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Lalu berjuang, mencari dukungan masyarakat untuk mendirikan masjid. Akhirnya, ada salah seorang warga yang dermawan mewakafkan tanah. Dan masyarakat bersedia gotong royong mendirikan mesjid.

Masjid sudah berdiri, dan paman saya mengajar mengaji mulai dari anak-anak hingga nenek-nenek. Namun tak lama kemudian musibah datang menimpa paman, istrinya meninggal saat melahirkan anak yang ketiga. Saya menangis meraung-raung atas kepergian bibi yang saya cintai. Tangisan saya terhenti, ketika kedua anak bibi saya yang berusia 7 dan 8 tahun, Kaka dan Dede menghampiri, memeluk bahu saya dan berkata, "Mama pergi ke surga ya ?" saya menyeka air mata untuk menjawab pertanyaan si kecil dan memeluknya.

Sejak kepergian bibi, paman saya seolah kehilangan arah. Dia sering pergi pergi meninggalkan kampung halaman seorang diri selama berhari-hari, meninggalkan dua orang anak kecil di rumahnya. Di pagi hari yang buta, saya mendapati kedua anak itu sedang bekerja. Kaka terlihat sedang mencuri beras. Dede sedang mencuci piring dan gelas, dengan pakaian kusut dan kumal. Jelas ibunya telah tiada lagi disisi mereka untuk mengurusnya. Ayahnya masih hidup, tapi entah dia pergi ke mana.

Tangan-tangan kecil itu memunguti kayu-kayu bakar di kebun. Mereka berdua hendak menanak nasi untuk sarapan mereka sendiri sebelum pergi ke sekolah. Kulihat, mereka hanya menanak secangkir beras dan tak ada lagi beras lainnya. Bila hari ini tak ayahnya tak pulang, entah makan apa anak ini sore nanti.

Mereka berdua pergi ke sekolah dengan pakaian lusuh, tak ada lagi seorang ibu yang menyisir rambut mereka dan menyetrika pakain seragam sekolah.  Kadang mereka bangun kesiangan, dan pergi ke sekolah dengan perut kosong, karena tak sempat menanak nasi.

Melihat keadaan keponakan yang memprihatinkan, saya tergerak untuk membantu mengurus mereka. Saya sering berkunjung untuk merawat dan menghibur kedau keponaan saya.

Itulah keadaan keponakan saya yang memprihatinkan. Di tengah kesulitan hidup yang menerjang, kemudian paman saya meminta bantuan agar saya mau meneruskan perjuangannya berdakwah di tengah masyarakat. Untuk sementara, paman Dusman merasa tak sanggup. Dia tenggelam di dalam problematika hidupnya sendiri. Sayapun dipertemukan dengan staff DKM. Mereka menyetujui bahwa saya menggantikan paman Dusman untuk berceramah dan mengajar mengaji para santri.

Hampir setahun lamanya, saya menjadi pengajar di masjid tersebut. Bulan ramadhan saya menyelenggarakan pesantren kilat. Selama ini, saya sendirian dan tak ada ustadz lain yang membantu. Walaupun seringkali merasa letih, saya terus berjuang karena belas kasihan terhadap anak-anak dan warga masyarakat di sana.

Dari minggu ke minggu, anggota majelis taklim ibu-ibu mulai bertambah. Setiap kali jadwal ceramah, mesjid penuh sesak.  Selama ini tak ada masalah, hingga datang jemaah baru bernama ibu Rosi. Wanita kira-kira berumur 55 tahun, berkaca mata. Dia bukan dari golongan masyarakat awam, melainkan dari kalangan ahli. Setiap kali datang ke majelis, dia menenteng-nenteng kitab kuning.  Ketika sesi tanya jawab di buka, dia bertanya atau menyangkal pendapat saya dengan menggunakan referensi dari kitab kuning tersebut.  Dan saya menjawabnya dengan kitab sihah sittah.

Suatu hari, saya mengupas bab wudhu, pasal tentang hal-hal yang membatalkan wudhu. Seorang jamaah bertanya, "Apakah wudhu kita batal, apabila bersentuhan dengan suami ?"

saya jawab, "tidak".

Bu Rosi menyangkal sambil menoleh ke arah ibu yang bertanya tadi, "batal bu. Kalau menurut keyakinan ahlu sunnah wal jamaah, itu batal."

saya katakan, "terserah ibu, mau pilih jawaban saya atau bu Rosi. Tapi saya tidak mengetahui, apa dasar hukumnya sehingga sentuhan suami membatalkan."

bu Rosi membuka kita kuningnya dan membacakan darinya tentang hal yang membatalkan wudhu, salahnya satunya bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. "tuh bu... Menurut kitab ini, sentuhan dengan suami itu batal."

saya berkata, "menurut kitab yang ibu baca barusan, saya dengar batal bila bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Pertanyaan saya, kalo suami itu muhrim atau bukan muhrim ?"

semua jamaah menjawab, "muhrim". Saya menunggu bantahan selanjutnya dari bu Rosi, tapi gak ada bantahan.

"Saya katakan kita tidak batal wudhu walaupun bersentuhan dengan suami, berdasarkan riwayat dalam kitab hadits Nasa`i." saya mengacungkan kitab hadits Nasai agar dilihat oleh semua, menegaskan bahwa soal batal wudhu itu bukan pendapat saya sendiri. Lalu saya membacakan riwayat tentang Rasulullah yang mencium pipi Aisyah r.a, lalu beliau shalat isya. Lalu saya berkata, "Rasulullah mencium Aisyah, itu berarti Rasulullah saw menyentuh istrinya atau tidak menyentuh ?"

semua jamaah menjawab, "menyentuh".

"Lalu, kenapa Rasulullah langsung shalat gak wudhu lagi ? Itu menunjukan bahwa menyentuh istri tidak membatalkan wudhu." ujar saya.

Kemudian, saya tunjukan hadis-hadis lainnya di dalam sihah sittah, tentang hal-hal yang membatalkan wudhu sehubungan dengan istri, misalnya berjima, menyentuh lubang kemaluan, dan masih banyak lagi. Kemudian saya berkata, "saya mencari dalil tentang batalnya wudhu karena menyentuh istri, dan saya belum menemukan hingga saat ini."

saya tidak bersikap otoriter, atau memaksakan keyakinan terhadap jamaah. Saya hanya menjelaskan alasan tentang jawaban saya. Keyakinan mana yang hendak dipraktikan, itu terserah jamaah sendiri. Dan bahkan saya sedang dengan bantahan-batahan bu Rosi, barangkali saya dapat menemukan ilmu baru. Tapi bu Rosi tidak membantah lagi. Saya pikir bu Rosi menerima argumen saya, tapi ternyata keliru. Dia mulai kasak-kusuk, membuat fitnah dan hasutan, agar warga merasa risau dan benci terhadap saya. Dituduhnya lah saya berfaham wahabi. Seorang ibu-ibu yang setia pada saya melaporkan bahwa bu Rosi mengatakan pada ibu-ibu lain, "hati-hati tuh ustadz Rohman, dia itu wahabi. Kalau ahlu sunnah wal jamaah, batal wudhu kalau bersentuhan dengan istri." padahal waktu itu, saya tak tahu menahu tentang istilah wahabi.

Bu Rosi pun mengajak warga untuk mengadu pada ustadz Wiro. Dia adalah ustadz di kampung sebelah. Bu Rosi berkata pada ustadz Wiro, "Ustadz, tolonglah isi ceramah di masjid Al Amanah. Kalau tidak, nanti masyarakat kami akan dijadikan wahabi." Akhirnya bu Rosi dan pak Wiro sepakat mendatangi pengurus DKM, meyakinkan mereka untuk mengusir saya. Kedua DKM dan staff ini adalah warga yang awam terhadap agama. Karena itu, ketika dijejali faham oleh bu Rosi yang dianggap ahli ilmu, ahli kitab, jajaran DKM tak berdaya untuk menolak. Akhirnya sayapun diusir seperti yang saya ceritakan dalam cerpen berjudul "Berhenti Menjadi Penceramah".

Sebenarnya sayapun ingin melepaskan diri dari beban mengajar di Masjid tersebut. Dan rasa-rasanya pundak saya hampir patah dalam memikulnya. Tapi saya merasa tak tega untuk meninggalkan. Karena tidak ada ustadz atau pihak lain yang berkenan menggantikan saya. Karena itu, jika ustadz Wiro bersedia menggantikan saya, tentu saya merasa gembira. Tapi saya tidak berharap mereka memberhentikan saya dengan cara-cara yang menyakitkan.

Selepas saya meninggalkan masjid al Amanah, saya pikir ustadz Wiro menerukan mengajar masyarakat di tempat itu. Tapi ternyata tidak. Dia hanya datang sakali untuk berceramah dan mengusir saya, lalu dia tak pernah datang lagi. Dia tidak mengizinkan saya mengajar mengaji di mesjid tersebut, tetapi juga dia sendiri tak mau mengajar mengaji. Itu berarti dia lebih suka masyarakt tetap jauh dari kehidupan agama.

Jangankan mengajar dengan tanpa dibayar, bahkan pak Wiro tidak melaksanakan tugasnya untuk mengajar agama di SD, walaupun dia jelas-jelas dibayar oleh pemerintah. Saya mengenal dua tahun sebelumnya, karena saya menggantikan dia di SD untuk mengajar Agama. Pak Rusnawan, kepala sekolah SD itu meminta saya mengajar di sekolah yang dia pimpin. Dia berkata, "Sebenarnya kami punya guru agama, sudah PNS, yaitu ustadz Wiro. Tapi dia hampir tak pernah mengajar. Hanya datang satu atau dua kali dalam sebulan, untuk membuat laporan-laporan administrasi saja. Sementara dia tetap menerima gaji dari pemerintah setiap bulannya. Makan gaji buta." Dia mengambil uang rakyat, tapi tidak melaksanakan kewajibannya terhadap rakyat untuk mengajar agama di tengah masyarakat dan di sekolah. Sementara, saya setiap hari menempuh perjalanan 10 km, untuk untuk mengajar agama di sekolah tersebut, yang semestinya menjadi tugas dan tanggung jawab pak Wiro. Berapa upah honor saya ? Rp. 30.000,-  / bulan. Setelah pengorbanan yang saya lakukan, bukannya ucapan terima kasih yang saya dapatkan dari pak Wiro, tapi justru penghinaan dan pengusiran.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 125
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 10
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Masyarakat yang Awam Agama
« Jawab #1 pada: Juli 14, 2017, 08:03:00 PM »
Saya salut dengan idealisme Kang Asep atas usaha anda untuk mengajar di masjid tersebut dengan berbagai cobaannya.

Seperti yang juga saya pikirkan bahwa di zaman ini, banyak sekali kasus - kasus serupa di berbagai persoalan dalam kehidupan. Intinya, kezaliman mulai meluas tidak hanya di bidang - bidang yang sudah secara umum diketahui oleh masyarakat saja seperti contohnya politik, ekonomi, kehidupan sosial sehari - hari tetapi sudah mulai merambah ke bidang - bidang yang sudah terbiasa di cap positif oleh masyarakat seperti agama, pendidikan, dan sebagainya.

Dalam kasus di atas, saya memandang bahwa figur Bu Rosi ini sesungguhnya tidak secara tulus mendebat anda untuk menemukan kebenaran, tetapi mulai ada unsur pemaksaan kehendak di dalamnya yang berujung pada penghasutan dan pemfitnahan para jamaah.
Jika memang dia benar - benar tulus untuk mendebat anda demi menemukan kebenaran, maka pertama seharusnya dia melontarkan suatu argumen yang mendukung pendapatnya, dan bila kemudian telah diketahui bahwa argumennya terbukti salah oleh adanya argumen - argumen lain yang menyangkalnya dan terbukti pula kebenarannya, seharusnya dia bisa berbesar hati untuk menerima argumen - argumen yang sudah terbukti benar tersebut ; yang dilontarkan oleh anda. Tetapi nyatanya dia malah bersikap diam yang tak bertanggung jawab lalu kemudian melarikan diri ke upaya - upaya pemfitnahan dan penghasutan yang tidak relevan untuk sekedar "meyakinkan" bahwa pendapatnya benar dan anda adalah golongan Wahabi. Kasus - kasus seperti ini pun banyak terjadi dalam lingkungan kehidupan saya.

Kemudian ada tokoh dari kalangan agama si Ustadz Wiro yang tidak bertanggung jawab dan seenaknya sendiri dengan keengganannya untuk mengajar di SD dan menjadi pengganti anda di masjid tersebut pun juga sudah masuk dalam daftar pemikiran saya yang sudah saya ungkapkan pada paragraf sebelumnya.
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
1039 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 30, 2012, 02:09:18 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1224 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 11, 2013, 03:31:03 PM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
2803 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 21, 2014, 04:34:49 PM
oleh kang radi
1 Jawaban
805 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 04, 2015, 12:37:10 AM
oleh Monox D. I-Fly
15 Jawaban
2108 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 31, 2015, 01:24:01 PM
oleh Sandy_dkk
4 Jawaban
1228 Dilihat
Tulisan terakhir April 02, 2015, 09:49:21 AM
oleh comicers
0 Jawaban
381 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2015, 08:14:03 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
392 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 03, 2016, 11:11:55 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
384 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 11, 2016, 06:10:52 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
32 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 11, 2017, 02:13:30 AM
oleh Kang Asep