Penulis Topik: Kembali Ke Jakarta  (Dibaca 652 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kembali Ke Jakarta
« pada: Juli 17, 2014, 06:36:51 PM »
Ke Jakarta aku kan kembali ....
Walau apapun yang kan terjadi ....


Petikan lagu Koes Plus tersebut dapat melukiskan apa yang kuinginkan. Aku ingin kembali ke Jakarta, kembali kepada cinta, berjumpa dengan Fatya. Tapi saat ini, apa yang kuinginkan tidak dapat aku lakukan, karena terikat dengan kewajiban, terkurung dengan aturan. Aku cukup sabar untuk menahan diri, selalu bersedia berjumpa dan berpisah kembali, terbiasa dengan menemukan lalu kehilangan.

Memang aku ingin kembali ke Jakarta, tapi bila tiada jalan untuk dapat aku kembali, maka biarkan saja kunikmati segala harapan dan angan-angan, biar kujadikan inspirasi untuk sajak-sajakku yang kutulis di malam hari.

Untung tak dapat dihalang. Serasa Tuhan selalu memberiku jalan untuk meraih apa yang aku inginkan. Akhirnya istri dan anak-anakku mengizinkan aku kembali ke Jakarta. “Aku akan mencoba berwira usaha di Jakarta.” Demikian yang aku sepakati bersama istriku.

Di Jakarta, aku mulai berwira usaha dengan jualan mie ayam pinggri jalan. Dengan pengalamanku selama ini, mengelola banyak restoran mie ayam milik orang lain, aku yakin, aku akan sukses berwira usaha di Jakarta dalam bidang yang sama.

Setelah dua tiga hari aku berjualan, aku pergi ke hotel Aramoy untuk menemui Fatya. Pintu dibukakan, dan saya diizinkan masuk. Pertemuan kami sangat menyenangkan, bercengkrama dengan gembira. “Aku kembali ke sini untukmu, Fatya!” demikian aku katakan.

“Lalu, di mana sekarnag kang Asep bekerja?”

“Sekarang saya jualan mie ayam pinggir jalan.” Jawab saya.

“Kok jualan mie ayam ? Kang Asep kan bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik sebagai ahli IT?” tanya Fatya.

“Aku kembali ke sini untuk mengajakmu makan siang, Fatya. Maukah ?” ajak saya.

Fatya tampak kaget dan berujar, “Owh.. jadi, kang Asep balik ke Jakarta hanya karena pengen ngajak aku makan siang?”

“Betul sekali!” jawabku.

“Baiklah....!” jawaban Fatya sangat menggembirakan.

Keesokan harinya, Fatya minta izin pulang cepat dari perusahaan, karena sudah janjian dengan saya untuk makan siang bersama. Saya menjemputnya di depan hotel Aramoy, tempat Fatya bekerja.

Di tengah terik matahari, kami boncengan, menerobos kemacetan kota Jakarta. Hal yang lebih menyenangkan adalah mencoba menduga, kenapa Fatya rela meluangkan waktu untukku, memenuhi ajakanku kalau dia sendiri tidak cinta padaku ? Aku bahagia karena merasa Terbang Bersama Cinta.

Malang tidak terduga kapan akan datang. Tiba-tiba ban motor kempes. Kami turun dan berjalan kaki cukup jauh sampai menemukan tukang tambal ban. Fatya berjalan mengikuti dengan sabar. Bintik-bintk keringan menghiasai keningnya, menandakan Fatya tersengat panasnya terik matahari. Tapi hatiku terasa sejuk dan berbunga-bunga.

Setelah menambal ban, kami mampi ke rumah Gadang. Kami hendak makan siang, seperti yang direncanakan. 

Kami sudah duduk di meja makan dan Fatya sedang melihat-lihat menu. Aku pamit sebentar ke toilet. Sebenarnya di belakang, aku hendak melhat isi dompetku. Kurasa tadi malam, laba jualanku tidak cukup banyak. Benar saja, isi dompetku hanya 70 ribu rupiah. Saya khawatir kalau uang itu tidak cukup untuk membayar makan. Saya berpikir untuk menelepon istriku dan minta dikirim uang melalui ATM. Tapi kuingat, kalau kartu ATM nya ada padaku. Kalau aku butuh uang, aku tinggal mengambilnya. Sayangnya, di dekat situ tidak terlihat mesin ATM, sedangkan saya sudah masuk dan duduk di dalam rumah makan. Tidak mungkin rasanya saya harus meninggalkan Fatya sendirian untuk muter-muter nyari mesin ATM. Hal itu akan membuat Fatya tidak suka.

“Duh... bagaimana ini, bagaimana kalau uang tunainya kurang ?” kurasa agak panik.

Fatya sudah memesan menu makannnya. Saya semakin gak enak perasaan. Untungnya, sebelum makanan diantar, istriku teriak-teriak, “Yaaah...! Bangun Yah! Makan sahur dulu!”

Aku terbangun seketika. Wa ka..ka... Ternyata itu hanya mimpi belaka.

Mungkin pembaca kurang percaya, kalau mimpi bisa sedetail itu. Tapi begitulah saya, kalau bermimpi sering mendetail seperti itu. Saya menceritakan mimpi saya apa adanya.
« Edit Terakhir: Juli 17, 2014, 06:41:11 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
968 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 24, 2013, 11:11:00 PM
oleh ratna
0 Jawaban
804 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 24, 2013, 10:37:55 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
890 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 28, 2013, 05:52:22 PM
oleh verdilaurent
0 Jawaban
649 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 30, 2014, 02:07:01 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
535 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 11, 2014, 02:53:05 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
444 Dilihat
Tulisan terakhir April 15, 2015, 02:01:34 PM
oleh comicers
0 Jawaban
521 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 22, 2015, 07:42:36 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
135 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 07, 2017, 11:02:45 AM
oleh namsancourse
0 Jawaban
49 Dilihat
Tulisan terakhir April 28, 2018, 12:13:31 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
69 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 01, 2018, 01:34:02 PM
oleh pahlawanbertopengmu

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan