Penulis Topik: Kado Istimewa Untuk Utari  (Dibaca 1511 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9274
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 354
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kado Istimewa Untuk Utari
« pada: April 11, 2014, 12:26:20 AM »
Sepulang sekolah, anakku  yang masih duduk di kelas 1 SD sering bercerita tentang temannya bernama Utari. Saking seringnya dia bercerita tentang Utari, saya sampai heran dan bertanya-tanya, mengapa Utari -gadis cilik teman sekelas anakku itu- tampaknya sangat menarik perhatian anakku. Tapi saya tidak tahu, apa yang membuat anakku tampak kagum pada Utari.

Saya kenal dengan Utari, karena kebetulan saya adalah guru olahraga mereka.  Saya mengajari anak-anak melompat, seorang demi seorang. Ketika saya melatih seorang anak, siswa-siswa yang lain memperhatikan. Ada pula yang enggan memperhatikan dan lebih memilih bermain-main sendiri atau bermain kejar-kejaran dengan temanya. Apalagi anakku sendiri, tampaknya tidak terlalu tertarik untuk menyimak apa yang aku ajarkan, dan bagaimana cara teman-temannya melompat. Dia terus saja bermain kejar-kejaran dengan teman-teman yang lain. Tetapi, ketika saya memanggil “Utari!”, Utari segera mendekat, dan seketika anakku berhenti berlari-lari. Terlihat ia sangat tertarik untuk memperhatikan bagaimana Utari balajar melompat. Anakku berkomentar, mengkritik dan memuji Utari dengan wajah yang tampak penuh senyum kebahagiaan. Mungkin dia tidak menyadari kalau perilakunya itu saya amati dengan seksama dan penuh rasa heran. Saya memang heran dengan perilaku anakku, karena hal seperti itu tidak ia lakukan terhadap siswa/siswi yang lain. Terbukti, setelah utari selesai melakukan tugasnya, ia segera pergi bermain kejar-kejaran kembali sampai giliran dia sendiri yang saya ajari untuk melompat.

Ketika anakku duduk di bangku kelas IV, kami memberi uang jajan/bekal sekolah sebanyak tiga ribu rupiah perhari. Suatu hari, saya mendapati anakku selalu menyimpan uang jajan di dalam kaleng. Semakin hari, uang itu semakin banyak. Akhirnya saya bertanya, “Nak, kamu menyimpan uang jajanmu ya ? apa kamu tidak jajan di sekolah ?”

“Jajan. Saya hanya menyimpan sebagian.” Jawab anakku.

“Untuk apa, kalau mau menabung, kenapa gak menabung di sekolah, ke ibu guru?” tanya saya.

“Saya sisihkan uang seribu untuk menabung di sekolah, seribu untuk jajan, dan seribu untuk disimpan di rumah.” Jawabnya.

“Lha... untuk apa disimpan di rumah? Kamu mengumpulkan uang, memangnya kamu mau beli apa?” saya sudah kenal karakter anakku. Kalau dia sangat menginginkan sesuatu, dan dia pikir ayah bundanya tidak punya cukup uang untuk membelikannya atau tidak akan berkenan membelikannya, maka dia akan mengumpulkan uang dengan menyisihkan uang jajannya.

“saya mau beli kado.” Jawab anakku.

“Kado untuk siapa?” tanya saya penasaran.

“Untuk teman.” Jawabnya.

Owh... saya tahu, siapa teman yang dia maksud. Untuk memastikan, saya tanya lagi, “Teman di mana, di rumah (lingkungan rumah) atau di sekolah ?”

“Di sekolah, teman sekelas.” Katanya.

Saya tersenyum lebar, “Pasti Utari, benar kan?”

Anakku tersenyum malu, “Iya.”
“Memangnya, kapan ulang tahun Utari?”

“Nanti, bulan depan.” Jawab Yoga, anakku.

“ternyata masih lama. Kenapa kamu kumpulkan dari sekarang ? kalau kamu ngumpulin seribu dalam sehari, 20 hari aja kamu punya 20 ribu rupiah. Cukup untuk beli kado. Gak perlu sampai 2 bulan.” Saya mengkritik. Tapi sebenarnya hati saya sangat heran dan kagum. Pertama, tetap heran dengan perhatiannya yang istimewa terhadap Utari. Padahal yang saya tahu, gadis kecil hitam manis itu tidak tampai mempunyai perhatian khusus pada anakku. Dan rasa kagum saya adalah untuk kemauan keras, tekad, smangat dan ketekunan anakku.

Di zaman sekarang, bekal sekolah tiga ribu rupiah itu sudah kecil. Sedangkan anakku, membaginya lagi untuk menabung dan menyimpan di rumah untuk beli kado istimewa. Kalau dia mau membeli sesuatu yang lebih mahal dari harga seribu, dia akan mengumpulkannya selama beberapa hari, baru membelanjakannya. Sebagai guru yang berpengalaman mengajar di sekolah selama 12 tahun, saya tahu berapa rata-rata anak SD jajan di sekolah. Dan uang jajan anakku jauh di bawah rata-rata anak sekolah. Memang saya sengaja, mengajarinya hidup prihatin. Terlebih memang kondisi ekonomi kami belum memadai. Saya sebagai kepala keluarga hanya mendapatkan gaji honor dari sekolah sebesar tiga ratus lima puluh ribu rupiah perbulan. Jika istriku tidak bekerja pula, niscaya tidak akan untuk bekal tiga ribu rupiah perhari pun belum tentulah dapat kami berikan. Tapi di sudut sana, ada seorang anak lain yang hidupnya jauh lebih prihatin dari anakku. Dia tidak pernah terlihat jajan. Saya heran dan bertanya padanya, “Nak, kenapa kamu tidak pernah terlihat jajan?”

“Tidak, pak. saya tidak jajan.” Raut wajahnya sedih.

Saya mendesak, “apa kamu dibekali uang jajan sama bapakmu?”

“Dibekali Pak.” jawab Ilham, anak itu.

“Berapa bapakmu membekali kamu setiap hari?” tanya saya.

Anak itu tertunduk, “Seratus rupiah. Apa yang bisa saya beli dengan uang seratus rupiah pak?”

Tubuhku serasa menjadi lemas karena rasa haru. Betapa malangnya anak ini. Sedangkan anakku jauh lebih beruntung, masih bisa bekal uang tiga ribu rupiah sehari.

Lalu saya menceritakan apa yang dialami Ilham kepada salah seorang orang tua siswa yang kebetulan akrab dengan saya. Sejak saat itu, Ilham sering diberi uang oleh teman saya itu. Alhamdulillah.

Sayapun menceritakan tentang Ilham kepada Yoga, agar anakku itu bersabar dan bersyukur atas karunia yang telah Allah berikan kepadanya. Alhamdulillah, Allah telah menganugrahkan sifat-sifat yang baik padanya. Walaupun saya tidak tahu pasti, apakah rasa ketertarikan anakku pada Utari itu merupakan hal yang baik dan pantas ataukah kurang baik atau kurang pantas, yang jelas saya kagum dengan kesungguhannya itu. Coba kita lihat, kebanyakan anak-anak seusianya, kalau mau memberi kado ulang tahun pada temannya, tidak mau repot-repot menyisihkan uang jajannya. Cukuplah merengek pada ayah bundanya, sampai diberikannya uang. Tidak demikian dengan anakku. Dia tidak pernah bilang, kalau dia menginginkan sesuatu yang mahal. Seperti ketika ia ingin membeli HP atau sepeda, dia tidak bilang-bilang. Tapi dia diam-diam mengumpulkan uang sendiri. Sepertinya ini bukan hasil dari cara kami mendidik, tapi mungkin sudah karakter yang dibawaanya sejak lahir. Sebab, sejak usianya balita, kalau saya tawari jajan di pasar atau di warung, ia tampak ragu-ragu dan sebelum menerima tawaran dari saya, ia sering bertanya, “Ayah uangnya cukup enggak? Kalau uangnya gak cukup, gak usah deh, lain kali aja.” Perkataan anakku sering kali membuat orang-orang yang ada di warung tampak heran. Dan saya jadi malu, seolah-olah saya terlalu membatasi anakku. Padahal saya sendiri heran dengan perkataan anakku itu.

Hari ulang tahun Utari akan segera tiba. Anakku minta diantar ke pasar untuk membeli kado. Saya menolaknya karena harus bekerja. Akhirnya dia belanja sendiri ke toko terdekat. Sepulang kerja, barang-barang yang dibelinya itu sudah dikemas oleh istriku. Saya tidak sempat melihat apa saja yang dbeli anakku. Penasaran, saya bertanya, “Bu, apa saja yang dibeli anak kita?”

“Banyak ...” lalu istriku menyebutkannya satu persatu sampai membuat saya terbengong-bengong. Dengan benda yang mahal-mahal dan banyak, pastilah Utari itu sangat istimewa dalam hati anakku. Sungguh ajaib. Mungkin bagi orang lain, barang-barang seperti itu tidak termasuk kategori mahal. Tapi bagi kami, itu sudah cukup mahal. Beberapa memang ada yang murah, tapi kalau di total harga barang-barang itu kurang lebih tujuh puluh ribu rupiah. Harga istimewa bagi anakku yang hanya jajan seribu rupiah dalam sehari.

Bel istirahat sekolah berbunyi. Setelah lima belas menit kemudian, saya mencari-cari anakku. “Nak, sudah kamu berikan kado itu pada Utari?”

“Belum, Yah!”

“kenap?” tanyaku lagi.

“Malu yah...soalnya yang lain gak ada yang ngasih kado.” Jawab anakku.

Duh duh, kasihan banget anakku. Saya mencoba menyemangatinya, “Ya udah, gak usah malu. berikan saja. kamu mau berbuat baik, kenapa harus malu?” tanya saya seenaknya, seperti gak pernah muda dan tidak tahu rasa malu yang berat dirasakan kalau menghadapi gadis yang disukai.

“Nati aja deh Yah, pulang sekolah.” Kata anakku.

Kami pulang bersama. Di perjalan saya bertanya lagi. “Nak, sudah kau berikan kado itu?”

“Belum, Yah.” Jawab anakku

“kenapa?”

“Tadi dianya buru-buru pergi. Biar besok aja deh Yah.” Alasan anakku.

Selalu saja ada alasan. Dua minggu sudah berlalu. Kado itu sampai terlihat menjadi dekil di dalam tasnya. Di depan ibunya, saya ngomelin anak saya. “ngapain capek-capek ngumpulin uang, beli barang-barang mahal, dibungkus rapi dengan kertas kado, kalo Cuma disimpan di tas sampai dekil kayak gitu, gak ada gunanya. Sudah bongkar saja, berikan pada adikmu! Lagian kenapa kamu repot-repot mikirin orang lain, tuh pikirn adikmu sendiri. Apa pernah kamu ngasih hadiah sebanyak itu sama adikmu.”

“Ya udah deh Yah ... kasih aja ke Dede.” Lalu anakku pergi ke kamarnya.

Saya agak menyeasl dengan apa yang telah saya katakan. Saya memang agak kesal dengan anakku yang terlalu penakut. Bahkan saya pernah menawarkan untuk membantunya, agar saya yang memberikan kado itu kepada Utari. Tapi anakku menolak dengan alasan yang sama, malu.

Saya tidak berani membongkar sendiri kado itu. “Yoga, kamu dong yang bongkar kado itu, masa Ayah.”

Anakku kembali dari kamar, merobek kertas kado itu dan memberikan isinya kepada adik perempuannya. Saya amati satu persatu, di dalam kado itu ternyata ada cepuk cantik, serutan, pensil warna, gelang-gelang, cincin, buku kecil dan masih banyak lagi. Aura senang menerima pemberian dari kakaknya.

Sekarang, kalau saya teringat dengan kisah tersebut, seringkali saya merasa kasihan pada anakku. Usai kelulusannya dari SD, ia dengan malu-malu ingin sekolah di SMP PGRI. Rupanya karena Utari meneruskan sekolah di SMP PGRI. Saya malah meledeknya. “Ho..ho... ngapain kamu mau sekolah jauh-jauh di sana, tiap hari harus naik ojek, bayar angkot, banyak benar biaya yang harus dikeluarkan. Apa karena Utari sekolah di sna juga?”

Anakku terlihat malu dan kemudian berkata, “Ya sih kalau boleh. Kalau enggak, ya terserah Ayah saja.”

Sejak saat itu, kalau ada orang bertanya, “Yoga, di mana kamu mau sekolah?”

“Gak tahu.”

Mendengar jawaban anakku, kadang saya jadi naik pitam, “Lha, kok ditanya orang mau sekolah di mana jawabnya malah gak tau ? apa kamu tidak punya keinginan?”

“Maksudnya, terserah ayah aja saya aku sekolah di mana.”

Mendengar jawaban seperti itu, saya malah semakin marah, “Lha .. emangnya yang mau sekolah itu ayah apa kamu?”

“Yah.. kan Yoga udah bilang, pengen sekolah di PGRI. Tapi kata ayah, ongkosnya mahal. Tidak ada sekolah lain yang aku minati yah. Jadi, kalau gak di PGRI ya terserah Ayah aja, aku mau disekolahkan di mana.” Jawab anakku.

Mendengar jawaban anakku itu, hatiku jadi luluh. Terbayang olehku, kalau dia sebenarnya punya harapan besar kalau aku akan menyekolahkan dia di SMP PGRI, mungkin benar karena dia ingin bersama dengan Utari. Tapi ketika saya menolak, hancurlah harapannya itu. Walaupun begitu, dia mengerti bahwa dia harus melanjutkan sekolah. Dia memahami kemalangan nasibnya dan bersabar atas semuanya, yang penting baginya bisa melanjtukan sekolah seperti yang lain.

Apa yang terjadi pada anakku, itu seperti mengulang peristiwa yang terjadi pada diriku ketika saya masih kecil dulu, semasa SD pula. Sejak kelas 4 SD, saya udah merasa jatuh cinta pada teman sekelasku bernama Nurhayati Bin Salam dan menyimpan perasaan itu hingga kelas tiga SMU, barulah kemudian berani mengungkapkan. Dari selepas SD hingga SMU memang banyak gadis lain yang pernah menempati hatiku, tapi cinta pertama itu memiliki ruang tersendiri, ruang terdalam di dalam lubuk hati yang tak mungkin terisi lagi dengan yang lainnya. Gambaran yang tepat dari perasaan ini, saya saksikan dalam sebuah film yang dibintangi oleh Bunga Citra Lestari tentang “Cinta Pertama”.  Bukan hanya mengerti, tapi aku mengalami sendiri, bagaimana dalamnya luka karena cinta pertama sejak masa kecil. Tapi sekarang, kenapa aku malah menertawakan anakku, seolah-olah aku tidak tahu, tidak mengerti dan tidak pernah mengalaminya sendiri. Bahkan kejadiannya sangat mirip dengan anakku. Dulu, Nurhayati meneruskan sekolah di SMP PGRI, dan aku merengek pada ayah ibuku agar menyekolahkanku di sana juga. Tapi ayah ibuku tidak mengabulkan permintaanku, karena pertimbangan yang sama, yaitu beban biaya transportasi yang mahal. Akupun di sekolahkan di MTS Ar Rosyidiyah. Dan sekarang anakku juga aku sekolah di sekolah tersebut. Dengan pertimbangan, pendidikan agamanya sangat kental seperti yang saya ketahui dulu, dan terutama karena jaraknya sangat dengan dengan rumah, sehingga beban biayanya murah.

Saya tahu, sebagaimana yang saya rasakan dulu, betapa sedihnya, ketika harapan cinta tidak terpenuhi. Apalagi semua itu harus menjadi rahasia sendiri, karena akibat dianggap masih terlalu kecil, tak layak bercinta dan dicinta atau membagi-bagi kisah kasih. Lalu terpikir oleh saya, untuk menceritakan kisah ini ke publik. Biar menjadi renungan bersama. Juga terbuka bagi saya untuk kritikan. Barangkali ada yang ingin memberi masukan mengenai  sikap yang lebih tepat yang harus saya lakukan dalam situasi dan kondisi yang saya hadapi tersebut.

Selain itu, biar nanti anak saya sendiri membaca cerita yang diturukan oleh saya. Belum tentu ia setuju dengan kebenaran kisah ini. Mngkin saja, dia menyangkal beberapa sesi dari cerita ini, mungkin menyejui seluruhnya. Ini adalah cerita dari versi saya saja. saya telah menduga bahwa ia cinta pada utari. Ini adalah cinta pertamanya. Tapi kalau saya bertanya padanya, “apakah kamu mencintai utari?” pastilah dia akan menjawab, “tidak. Masa anak kecil udah cinta-cintaan?” oleh karena itu saya menduga, cerita ini akan banyak disangkal oleh anakku sendiri. Tapi biarlah saja. Sebab dulupun aku berbohong pada ibuku, ketika aku pulang sekolah, langsung aku membenamkan diri diantara bantal dan guling dengan wajah yang tersenyum-senyum, lalu ibuku membentakku, “Heh... pulang sekolah langsung nyungsep di kasur sambil senyam senyum, kamu tergila-gila sama cewek ya?”

Waktu itu saya kelas 5 SD. Mendengar pertanyaan ibuku yang lebih terdengar sebagai cacian, saya langsung membantah, “Enggak kok ...kok Emak bilang gitu?” padahal hatiku berkata, “Duh aku ketahuan. Kok ibuku bisa tahu ya, kalau aku sedang tergila-gila sama cewek. Aku kan jadi malu, masih kecil.” Lalu sebenarnya dari mana asal usul ideologi, “anak kecil tak pantas punya rasa cinta.” ?

Saya harap, cerpen ini dibaca oleh Utari. Nama sebenarnya dia bukan Utari. Tapi dengan membaca cerita ini, pastilah anaku tahu, siapa yang dimaksud Utari. Tapi saya tidak yakin, Utari akan mengenal bahwa yang dimaksud Utari dalam cerita ini adalah dirinya. Tapi kalau seandainya dia punya perasaan yang sama seperti yang dirasakan anakku padanya, niscaya Utari akan mengerti bahwa cerita ini adalah tentang dirinya. Sebagai ayah, tidak ada yang saya harapkan, kecuali kebahagiaan bagi anakku. Saya doakan, semoga kau bahagia, nak! Walaupun kau masih berusia di bawah umur, tapi ayah rasa kebahagiaan adalah hak semua orang, bukan hanya orang dewasa. Jika cinta telah menyakiti hatimu, maka temukanlah jalan sehingga engkau bahagia dan engkau mendapatkan apa yang menjadi hakmu! Ayah akan membantumu untuk meraih cita-citamu! Semoga jalan hidup yang kau tempuh adalah jalan yang yang dirihdoi oleh Tuhan dan semakin membawamu pada kesucian! Amin!
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Kado Istimewa Untuk Utari
« Jawab #1 pada: April 11, 2014, 08:13:06 AM »
cerita ini membawa para pembaca untuk mengenang masa lalu, ketika masing2 mengalami cinta pertamanya masing2, karena rasanya tidak ada seorangpun yang luput dari pengalaman cinta ini. walaupun mungkin kesan yang ditinggalkan oleh cinta pertama berbeda2 bagi setiap orang. saya sendiri merasa kagum kepada yoga yang sanggup bertahan selama 6 tahun mencintai seseorang, padahal tidak pernah terungkapkan. terlebih lagi dengan ayahnya yang selalu terkenang dengan cinta pertama hingga dewasa. haha

saya sendiri membutuhkan waktu untuk mengingat kembali gadis mana yang 'beruntung' menjadi tempat mampirnya cinta pertama saya. begitu ingat, kok rasanya tidak begitu menggetarkan jiwa ya? saya malah merasa lebih bergetar ketika mengingat kembali pertemuan pertama dengan istri saya, si cinta terakhir. suka senyum2 sendiri jika mengingatnya, rasanya cinta terakhir inilah yang paling berkesan dari segalanya.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9274
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 354
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Kado Istimewa Untuk Utari
« Jawab #2 pada: April 11, 2014, 11:23:49 PM »
ada misteri dalam "cinta pertama" atau mungkin itu hanya ilusi. cinta sejati bukan sekedar rasa ketertarikan akan cantiknya wajah seorang gadis, tapi juga tentang melaksanakan janji yang pernah diikrarkan di alam ruh. Cinta itu bukan pula soal pertemuan yang menyenangkan saat ini, tapi menyangkut sejarah yang panjang. seorang pria normal bisa tertarik pada gadis mana saja yang cantik dan seksi, tapi keindahan yang menyejarah tidak bisa diciptakan oleh sembarang orang.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 15
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Kado Istimewa Untuk Utari
« Jawab #3 pada: April 12, 2014, 06:51:07 AM »
Saya juga mengalami seperti apa yang dialami oleh Yoga bahkan sebelum sekolah SD....... :alas:
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Kado Istimewa Untuk Utari
« Jawab #4 pada: April 15, 2014, 06:27:37 PM »
wah enak nya yach punya pengalaman seperti itu, berbanding terbalik dengan adie yang jatuh cinta itu urutan ke 11 hahaha
 

Offline Sandy_dkk

Re:Kado Istimewa Untuk Utari
« Jawab #5 pada: April 16, 2014, 11:38:21 AM »
ada misteri dalam "cinta pertama" atau mungkin itu hanya ilusi. cinta sejati bukan sekedar rasa ketertarikan akan cantiknya wajah seorang gadis, tapi juga tentang melaksanakan janji yang pernah diikrarkan di alam ruh. Cinta itu bukan pula soal pertemuan yang menyenangkan saat ini, tapi menyangkut sejarah yang panjang. seorang pria normal bisa tertarik pada gadis mana saja yang cantik dan seksi, tapi keindahan yang menyejarah tidak bisa diciptakan oleh sembarang orang.

apa maksudnya "janji yang pernah diikrarkan di alam ruh" kang?
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9274
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 354
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Kado Istimewa Untuk Utari
« Jawab #6 pada: April 18, 2014, 07:08:28 AM »
menurut Habib Bakar atau Abu Zahra, (saya tidak ingat siapa diantara keduanya yang pernah menjelaskan) bahwa dulu ada seorang lelaki yang berkata kepada Imam Ali, "Aku mencintaimu dan ahlul bayt nabi saw". tapi imam Ali menyangkalnya, "Kamu bohong, sebab di alam ruh dulu, kamu bukanlah orang yang mencintai kami."

mohon maaf kepada para guru, bila saya keliru dalam menyampaikan hadis. tapi intisari dari riwayat itu adalah mereka yang tidak mencintai imam Ali di alam ruh, tidak akan menjadi pengikut imam Ali di dunia ini. mereka yang setia terhadap imam Ali di dunia ini, sebenarnya perjanjian itu telah dibuat sejak alam ruh. bahkan peristiwa tragis karbala adalah tragedi yang sudah disepakati antara Allah dan Imam Husain sejak di alam ruh. Imam Husain rela disembelih di Karbala untuk memenuhi janjinya kepada Allah.

berlandaskan kepada ilmu kebatinan dan berbagai pengalaman spriitual yang saya alami, maka saya meyakini kebenaran cerita tersebut. sebelum lahir ke dunia ini, kita telah bertemu di alam ruh, bisa saling mencintai atau saling membenci. apa yang kita lakukan di alam ruh, mempunyai pengaruh besar terhadap diri kita di dunia ini. demikian pula dengan cinta pada seorang gadis, bisa jadi itu bukan soal ketertarikan jasmaniah. tapi ruh kita dengan ruh gadis itu pernah berjumpa di alam ruh dan saling cinta, dan berjanji untuk saling bertemu di dunia untuk meneruskan hikayat cinta. jika yang saling mencintai adalah ruh, maka kita tidak akan peduli dengan bentuk jasmaninya. seandainya wajah perempuan itu sangatlah jelek sejelek-jeleknya, maka kita tidak akan menemukan yang lebih kita cintai dari pada perempuan tersebut.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
692 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 04, 2012, 04:53:52 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1757 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 12, 2016, 09:14:09 AM
oleh Sandy_dkk
11 Jawaban
3378 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 07, 2013, 01:56:56 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
1198 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 02, 2013, 10:43:59 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
798 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 02, 2013, 06:37:21 PM
oleh Kang Asep
8 Jawaban
1435 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 14, 2013, 09:13:18 AM
oleh comicers
0 Jawaban
1249 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 16, 2014, 09:29:00 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
636 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 26, 2014, 02:56:49 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
620 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 10, 2015, 07:55:55 AM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
204 Dilihat
Tulisan terakhir September 19, 2016, 08:14:08 PM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan