Penulis Topik: Jalan Untuk Kebaikan  (Dibaca 593 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9465
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Jalan Untuk Kebaikan
« pada: November 29, 2014, 05:08:54 AM »
Orang-orang menanggap keinginan saya untuk bertemu dan menjalin komunikasi dengan Tin Hayatin sebagai keinginan yang salah. Bahkan Odin, dengan tega mengatakan kepada saya, “Jajan perek, lebih baik dari pada kamu gangguin istri orang.” Seolah-olah saya seorang penjahat yang bermaksud mengajak istri orang lain untuk bermaksiat.

Tarman, salah seorang kawan kerja saya, dengan nada yang canda berkata, “Makanya, selagi muda pacaran yang puas. Jangan udah punya anak bini, masih saja gatel.”

Saya menjawab, “Kamu pikir saya ingin menggoda istri orang, lalu mengajaknya bercinta, begitu ? Jika itu yang kamu pikirkan, sungguh aku tidak berminat. Jika aku sekedar hendak melampiaskan hawa nafsu, itu sangat mudah. Banyak wanita menjual diri. Bahkan beberapa menawarkan diri dengan percuma. Tapi saya tidak berselera dengan hal-hal seperti itu.

Keinginan saya untuk bertemu dengan menjalin persahabatan dengannya adalah karena harapan saya dapat berbuat kebaikan kepadanya, berupa apa saja yang bisa saya perbuat. Terlebih, bila ingat dosa-dosa saya kepadanya, saya merasa bersedih. Saya ingin berbuat kebaikan yang banyak padanya, untuk menebus dosa-dosaku. Saya ingin, jika saya mati kelak, saya mati tanpa membawa dosa-dosa.”

Tarman tercengang dan berujar, “Bagus kalau begitu!”

Mendengar pembicaran kami, Badrun menimpali, “Tapi, saya baca di blog kamu .... kamu terlihat seperti seorang pecinta yang gila. Kamu sepertinya ingin pacaran lagi sama dia.”

“Yang kamu baca benar, tapi yang kamu simpulkan mungkin salah,” bantah saya. “Saya tidak berminat untuk memacari istri orang. Saya memang rindu setengah mati pada Tin, tapi tidak berminat untuk mengajaknya bermaksiat. Rasa cintaku rasanya hampir membuatku gila, tapi saya masih kuat menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Dan saya membiarkan rasa cinta itu terpelihara, bahkan berkembang di dalam diri, agar saya memiliki kekuatan untuk berbuat kebaikan terhadap diri saya sendiri dan juga kepadanya.”

Sementara istriku dengan kesal berkata, “Sekarang ini, sudah tidak pantas kamu mikirin perempuan lain. Pikirkan dan urus keluarga dengan benar!”

Wajar! Perempuan mana  yang tidak cemburu hatinya, kalau menyadari ternyata sangat mencintai perempuan lain. Tapi satu hal yang dia belum mengerti, bahwa saya adalah seorang Penguasa Rasa, yang terlatih mengendalikan diri. Jika saya ingin, melalui suatu praktik atau ritual, perasaan cinta yang bergelora di dalam dada saya, dapat saya lenyapkan seketika. Seperti debu yang ditiup dari tangan, hilang tanpa bekas atau seperti santri yang meletakan pecinya sepulang mengaji, semudah itu saya menghapuskan perasaan saya. Tetapi Cinta Yang Tulus Murni yang ada di dalam hati sanubari, itu bersifat kekal abadi. Dia tidak dapat diciptakan, dan tidak pula dapat dimusnahkan, sebab sudah merupakan sifat sejati dari manusia. Dan cinta seperti ini tidaklah patut untuk dicemburui. Gelora asmara yang bergerak dibawah naungan cinta yang suci akan melahirkan kebaikan. Tetapi, baik istriku atau Tin, dan banyak orang disekitarku, belum mengerti kebenaran filsafatku. Mereka hanya mengerti tentang “cinta yang gila”, cinta yang termuat di dalamnya gelora asmara dan nafsu seks. Dan saya harus berbicara dengan bahasa yang dimengerti, bukan bahasa yang tidak dimengerti. Secara bertahap, akhirnya “cinta gila” akan disingkirkan, dan akhirnya orang-orang menemukan cinta yang suci itu. Sementara itu, biarlah saja saya dianggap bersalah dengan “cinta gila” yang terlihat menggebu-gebu di dalam diri saya.

Anak saya juga memprotes. Dia tahu, selama ini saya orang yang gak berminat dengan facebook dan bbm. Tapi kemudian, saya membeli HP Android agar bisa saling berkirim pesan bbm dengan Tin. “Ya, pantas saja ibu cemburu!” kata anakku.

“Tapi ayah gak pacaran sama Tin. Apakah salah bila ayah berteman dengannya ?” tanya saya.

Anak saya tidak menjawab lagi.

Melalui BBM, saya menyampaikan kepada Tin, “Semoga pertemanan ini menjadi jalan kebaikan, bukan jalan keburukan. Amin!”.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
1640 Dilihat
Tulisan terakhir November 07, 2012, 05:09:18 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
957 Dilihat
Tulisan terakhir April 28, 2013, 01:29:10 PM
oleh Abu Zahra
3 Jawaban
2812 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 17, 2016, 11:34:20 AM
oleh Kang hendri
0 Jawaban
669 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 26, 2014, 08:16:50 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
387 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 17, 2014, 01:29:50 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
548 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 24, 2015, 07:38:21 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
447 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 12, 2015, 08:40:16 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
517 Dilihat
Tulisan terakhir September 06, 2015, 12:12:49 AM
oleh Ziels
2 Jawaban
489 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 11, 2015, 06:39:48 AM
oleh ratna
0 Jawaban
485 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 10, 2015, 04:24:27 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan