Penulis Topik: Idah Hamidah dengan Cintanya yang tak Bertepi  (Dibaca 242 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Idah Hamidah dengan Cintanya yang tak Bertepi
« pada: Pebruari 28, 2017, 03:31:05 PM »
Kategori : Cerpen
Edisi : 28 Februari 2017
Judul : Idah Hamidah dengan Cintanya yang tak Bertepi
Pesan Moral :
- jangan membully teman yang tidak pandai bergaul
- jangan membuat seseorang jatuh cinta, jika tidak sanggup memenuhi hasrat cinta itu nantinya.
- Hidup ini tidak boleh larut dalam Kesedihan dan terikat cinta masa lalu,  harus move On.
===========

Siswi baru tersebut namanya Idah Hamidah, pindahan dari Banten. Dia masuk di kelas XI A, dan guru memintanya untuk memperkenalkan diri. Idah sudah berdiri di depan kelas, tapi sulit sekali untuk memulai bicara. Tampaknya dia sangat pemalu. Guru dan teman-teman harus membujuk nya berkali-kali, hingga akhirnya dia mau bicara. Tapi saat bicara, suaranya hampir tidak terdengar sama sekali. Seperti anak TK yang malu-malu dan gak berani bicara dengan suara lantang. Akhirnya guru yang membantu menyebutkan nama Hamidah, agar semua siswa dikelas mendengarnya. Tak percaya rasanya, anak gadis usia SMA, tapi bicara dengan bisik-bisik seperti anak TK.

Hari-hari berikutnya Idah mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan di sekolah. Teman-teman kurang menyukai Idah, sehingga dia seringkali dibully teman-teman atau diasingkan dari pergaulan. Saat istirahat sekolah, seringkali Hamidah terlihat sendirian. Tidak seperti teman-teman lain yang berkelompok, ke kantin bersama, bincang-bincang, bercanda ria bersuka ria.

Melihat keadaan Hamidah yang tidak pandai bergaul, saya merasa kasihan. Saya juga merasa benci pada teman-teman yang saya nilai suka menyepelekan dan bertindak diskriminatif pada Hamidah. Akhirnya saya mencoba untuk menjalin komunikasi dengan Hamidah.

Walaupun mulanya sulit diajak komunikasi, tapi akhirnya Hamidah bisa juga berkomunikasi. Lebih dari itu, kemudian dia selalu mencari saya untuk mengobrol. Sampai kadang-kadang saya kesal dan memarahinya,"kamu gaul donk sama yang lain, jangan sama saya aja !" Tapi Hamidah tidak cukup berani menjalin komunikasi Dengan yang lain, karena tampaknya tidak ada yang cukup terbuka untuk menerimanya selain saya.

Saya memang ingin membantu Hamidah untuk berani bergaul, tapi tidak ingin kemudian dia bergantung pada saya. Apalagi "nempel" terus hingga saya merasa risih.

Karena saya merasa ditempeli terus sama Hamidah, dan agak risih, saya mulai menjauhinya.  Ada rasa sedikit menyesal karena telah mendekatinya, membuat dia ingin dekat terus pada saya. Tapi, saya sulit menjauh dari Hamidah, walaupun saya jengkel dan marah padanya, Hamidah tetap ngikutin saya terus saat istirahat sekolah, kemanapun saya pergi. Bahkan sampe saya masuk ke WC pun, Hamidah nungguin saya di luar. Saya kesal banget,"gila kali nih cewek."

Pernah Hamidah menangis karena saya marah-marahi. Sambil terisak Hamidah berkata,"gak apa aku dimarah-marahi kamu, tapi kamu jangan jauhi aku. Aku gak punya teman selain kamu."

"Gak punya teman... Noh tuh temen banyak. Kamunya aja yang gak mau berteman." Saya masih saja kesel.

Yang bikin saya tambah kesel, saya digosipkan pacaran sama Hamidah. Tentu saja saya gak mau digosipkan seperti itu. Saya gak ada hati sama Hamidah. Hanya mau berteman. Saya naksir nya sama Nona Darsih, masih kawan sekelas juga. Gosip saya pacaran sama Hamidah, membuat saya jadi susah pdkt sama Darsih. Sekalinya saya curi-curi waktu buat ngobrol sama Darsih, Hamidah ngintil aja. pdkt saya jadi gagal.

Hamidah gak mau menyerah, dia terus nempel kayak perangko. Akhirnya saya yang menyerah, memutuskan untuk melanjutkan persahabatan dengan Hamidah.

 Sepulang sekolah, kadang saya mampir ke rumahnya. Dan kadang pergi jalan-jalan menyusuri sungai dan sawah. Miriplah sama orang pacaran. Tapi sama sekali saya gak merasa pacaran.

Tampaknya memang Hamidah memiliki kelainan jiwa. Hal itu diketahui ketika kami mengikuti kegiatan Latihan Kepemimpinan Dasar ( LKD ) di desa Cikoneng. Kami menginap di rumah salah satu warga.

Pagi itu saya sebagai ketua LKD, membagi tugas teman-teman. Saya menugaskan Hamidah untuk mengepel lantai rumah. Setelah itu, saya keliling kampung untuk survei bersama beberapa teman. Sekembalinya dari survei lewat tengah hari, saya dikejutkan oleh laporan Lisna, bendahara kelompok. Lisna mengatakan bahwa Hamidah melakukan tindakan yang aneh. Dari pagi hingga tengah hari, dia gak berhenti mengepel lantai. Teman-teman membujuknya agar berhenti, tapi Hamidah gak mau berhenti. Dia bilang,"saya disuruh Asep ngepel lantai. Saya takut Asep marah kalo berhenti."

"Aduh... !" Saya tepok jidat sendiri. Dengan tergesa-gesa saya temui Hamidah dan langsung membentaknya,"Midah ..kenapa kamu terus-terusan ngepel lantai ? Udah berhenti !"

Tanpa menjawab sepatah katapun, Hamidah langsung berhenti ngepel lantai, dan membuang air bekas cucian di kamar mandi. Teman-teman heran, Hamidah dibujuk habis sama mereka tapi gak mau berhenti ngepel lantai, tapi langsung berhenti sewaktu saya suruh berhenti.

Kegilaan semakin menjadi. Ada saja hal-hal aneh yang dilakukan nya. Di kamar tempat kelompok putri menginap, Hamidah membuat kamar acak-acakan. Dia menaruh pakaiannya secara sembarangan, termasuk pakaian dalam bekas pakai dia. Tentu yang lain merasa jijik. Dan sekarang, jika teman-teman menegur, Hamidah balik marah. Bila dia marah, terlihat sangat menakutkan. Seperti harimau yang siap menerkam lawannya. Sayapun jadi stress. Walaupun Hamidah patuh pada saya, tapi saya kerepotan jika harus terus menerus ngurusin Hamidah. Lagian patuhnya kelewatan. Seperti waktu disuruh ngepel, dia ngepel gak berhenti-berhenti. Dia gak mau mandi. Disuruh mandi sama saya, dia patuh,  mandi. Tapi dia gak berhenti mandi, Karena saya lupa nyuruhnya berhenti. Hingga saya menemukan dia hampir mati kedinginan. Karena mandi seharian. Akhirnya saya menghubungi guru pembimbing dan melaporkan keadaan Hamidah.

Berkali-kali laporan, tapi belum juga ada tanggapan. Saya merasa sangat kesal, sudah gak tahan dengan tingkahnya Hamidah. Setelah tiga hari, guru pembimbing baru datang. Tapi dia tidak segera datang ke tempat kami, melainkan kabarnya malah datang ke kelompok lain yang berada di kampung sebelah. Mendengar kabar seperti itu, kemarahan saya memuncak. Dalam kegelapan malam di kampung yang tanpa penerangan listrik, saya bertekad nyusul guru pembimbing yang ada di kampung sebelah dengan berbekal sebuah lampu senter.

Sepanjang perjalanan , hati saya semakin terbakar karena mengingat Nona Darsih, perempuan yang saya cintai itu tidak ikut bersama kelompok saya, melainkan ikut pada kelompok Daniel, di kampung sebelah. Si Daniel cowok paling pintar di kelas tapi playboy. Pastinya sebagai ketua, dia punya banyak kesempatan merayu-rayu  Nona Darsih. Di kelas aja, si Daniel berani meraba-raba Darsih, apalagi di kampung yang sepi.

Saya tidak tahu, di mana tepatnya kelompok Daniel menginap. Kebetulan, ada dua orang bapak berpapasan dengan saya. Sayapun bertanya padanya,"Pak, di mana di kampung ini ada anak-anak SMA menginap ? Bapak tau ?" Tanya saya tanpa basa basi dan dengan nada yang kasar, karena hati saya diliputi amarah.

Dua bapak tersebut memberi tahu saya. Lalu sayapun bergegas menuju tempat yang dituju, tanpa mengucap terima kasih pada yang ngasih informasi.

Sesampainya di tempat kelompok Daniel, dari luar saya sudah mendengar  suara tawa canda Daniel dan teman-teman nya. Saya juga mendengar suara Darsih. Hati saya semakin terbakar. Tanpa basa basi, saya langsung mendobrak pintu.Semua orang terkejut dan langsung terdiam. Mereka terpana dengan kedatangan saya yang tiba-tiba mendobrak pintu. Guru pembimbing duduk di tengah-tengah mereka. Langsung saya melemparnya dengan senter. Tapi guru tersebut menghindar. Lampu senter kena dinding dan pecah berkeping-keping.

"Bapak enak-enakan bercanda ria di sini, kami di sana sedang resah dan gelisah. Sudah lapor berkali-kali mengenai kondisi kami, tapi kalian tak peduli." Saya sangat marah dan ingin menangis rasanya.

Tidak menunggu jawaban, sayapun berbalik arah dan hendak pulang. Tapi tiba-tiba ada dua orang pria kekar yang menangkap saya dan hampir memukuli saya, jika guru kami tidak menghentikan.

"O... Jangan dipukul, itu murid saya !". Kata guru kami.

Ternyata dua orang pria kekar itu adalah orang yang yang saya tanya tadi di jalan. Mereka curiga pada saya, karena saya bertanya dengan nada kasar.  Akhirnya mereka mengikuti saya.

Guru kami menenangkan saya dengan lemah lembut. "Bapak minta maaf ya, bila tidak segera datang ke tempatmu. Bapak pikir, bapak menginap dulu di sini, besok bapak ke sana."

"Iya.. bapak enak-enakan nginep di sini, kami di sana Setiap malam gak bisa tidur." Kata saya.

"Lha kenapa begitu ?" Tanya guru kami.

"Saya udah bilang ke kepala sekolah, itu si Hamidah berkelakuan aneh. Malam dia gak mau tidur, nyuci, masak, ngepel gak berhenti sampe pagi, baju yang bersih udah bersih dicuci lagi berulang-ulang, hingga dia sendiri kondisinya menggigil. Dia juga keluyuran keluar hanya mengenakan pakaian dalam." Air mata saya menetess.

guru kami itu terkejut mendengar penjelasan saya. Kepala sekolah tidak memberi tahu dia, bahwa kondisi Hamidah separah itu. Tapi tetep aja pak guru ini bilang,"ya sudah, sekarang tanggung udah malam, takut di jalannya. Kamu nginep aja di sini. Besok kita ke sana bareng-bareng."

Dalam hati,"gak Sudi saya nginep di situ, untuk melihat si Daniel merayu-rayu Nona Darsih."  Dan yang saya ucapkan,"tidak pak. Saya pulang saja sekarang."

Nona Darsih ikut membujuk,"iya Sep, nginep aja di sini. "

Haduh... Sejuk rasanya. Si Nona bilang begitu, hati yang tengah terbakar, seperti disiram air hujan. Tapi tanggung sudah menolak, saya tetap menolak dan pulang menembus kegelapan.

Akhirnya, guru pembimbing memutuskan untuk membawa Hamidah dan mengembalikannya pada orang tuanya. Keluarga nya kemudian mengirim Hamidah ke Banten, untuk pengobatan.

Sebulan kemudian, Hamidah masuk sekolah kembali. Guru menasihati kami, agar kami memperlakukannya dengan baik, tidak membully, tidak mengasingkannya, agar membantu Hamidah menjadi anak yang normal.

Alhamdulillah, sejak saat itu teman-teman lebih Care pada Hamidah. Sayapun tetap menjalin persahabatan dengannya.

Lulus SMU, Hamidah meneruskan pendidikan di perguruan tinggi jurusan pendidikan. Karena dia bercita-cita untuk menjadi seorang guru.

Saat perpisahan, Hamidah memegang dua tangan saya sambil menitikkan air mata,"saya akan kuliah di Banten, mungkin kita tidak bertemu dalam jangka waktu lama. Aku ingin menjadi jadi seorang guru. Doakan aku ! Bila aku telah sukses, aku akan temui kamu."

Waktu itu, tidak ada HP, tidak musim WhatsApp,  Facebook atau Twitter. Tidak seperti sekarang, walaupun kawan pergi keluar negeri besar bisa tetap say hello Setiap hari. Zaman saya dulu, bila kawan pergi jauh, hanya dapat komunikasi lewat surat. Itupun kalo di kampung, harus berjalan 16 KM untuk mencapai kantor pos.

Waktu terus berlalu. Hari berganti hari, bulan tahun terus bertambah. 5 tahun berlalu. Tidak terasa hingga suatu hari ada seseorang mengetuk pintu. Ketika saya buka pintu, "Hamidah.... Kamu... Ayo masuk !" Sangat gembira hati saya, sahabat lama jumpa lagi.

"Aku cari ke rumah orang tua mu, ternyata kamu sudah pindah ke sini. Kamu sudah menikah ya ?" Tanya Hamidah setalah dia berada duduk di dalam rumah kontrakan saya.

"Benar Idah, saya sudah menikah dan sudah punya satu anak. Bagaimana dengan kamu, apa kamu sudah menikah ?" Saya balik tanya.

Hamidah terdiam. Wajahnya menunduk. Raut kesedihan terlihat. Saya tahu, dia belum menikah. Saya mengerti, sebenarnya dia mengharapkan saya. Dari dulu selalu begitu. Bahkan keluarga nya pun menginginkan saya berjodoh dengan Hamidah. Dia bilang datang jauh-jauh dari Banten ke Bandung untuk melihat, apakah harapan nya masih mungkin. Tapi mau bagaimana lagi, saya tak ada rasa cinta sedikitpun padanya, kecuali sebagai sahabat belaka. Apalagi sekarang, saya sudah menikah dengan perempuan lain.

"Kemana istrimu ?" Tanya Hamidah.

"Dia sedang pergi bekerja !" Jawab saya.

Lalu Hamidah menceritakan bahwa dia kini sudah lulus kuliah dan menjadi sarjana pendidikan ( S.Pd).  Dia sudah bekerja sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Banten. Hamidah berkata,"jauh dari Banten saya datang mencarimu, untuk memamerkan kesuksesan ku. Tapi sekarang saya merasa gagal."

Mungkin dia pikir, kalo dia sudah sukses, sudah jadi sarjana dan bekerja, saya dapat jatuh cinta padanya. Kadang saya merasa iba, dan ingin seandainya saya jatuh cinta padanya. Tapi saya tidak bisa.

Sebenarnya saya mengerti, apa yang dia maksud dengan gagal. Tapi saya gak mau mengerti,"Lha .. kok gagal. Kamu enggak gagal, kamu sudah sukses. Bersyukur lah. Bandingkan dengan saya yang gak mampu kuliah karena gak punya biaya. Saya senang kamu sekarang sudah menjadi sarjana dan bekerja sebagai guru."

Tidak kuasa menahan perasaan nya, air mata Hamidah berjatuhan. Saya merasa kasihan, tapi apa yang harus saya perbuat. Saya berkata,"Midah, saya mengerti perasaanmu. Tapi kamu juga tahu perasaanku sejak dulu. Kita sama-sama menangis. Kamu tahu, bahwa aku mencintai Nona Darsih, tapi dia tidak bisa memilihku. Dia sudah menikah dengan Seorang lelaki dari Korea. Hidup harus berlanjut. Saya tak dapat larut dalam kesedihan. Biarkan dia bahagia dengan orang yang mencintainya. Saya harus terima keadaan. Demikian pula kamu, aku akan berdoa untuk kebahagiaan mu. Dan semoga kamu segera menemukan pria yang tepat untukmu."

Hamidah menyeka air matanya dan berpamitan hendak pulang. Itu adalah perjumpaan terakhir saya dengan Hamidah. Kalender  di dinding menunjukkan bulan Maret 2003.

Sejak saat itu saya tidak pernah lagi mendengar kabar berita tentang Hamidah. Hingga hari Minggu kemarin, saya berjumpa dengan Bu Lastri, Uwa nya Hamidah, di pasar Minggu. Saya menanyakan kabar Hamidah padanya. Bu Lastri memberi tahu, bahwa Hamidah masih mengajar di salah satu SMA di Banten. Tapi Hamidah masih belum menikah. Katanya, beberapa pemuda sudah melamar nya, tetapi seperti nya Hamidah sudah tidak memiliki hasrat untuk menikah.

Mendengar kabar tentang Hamidah dari Bu Lastri, saya termenung. Ada rasa sedih, prihatin dan rasa bersalah. Hati saya bertanya-tanya,"sayakah yang membuat Hamidah seperti itu ?" Sekarang umur saya 38 tahun, tentu Hamidah sudah 39 tahun. Karena dia satu tahun lebih tua dari saya. Sudah lebih dari cukup usianya untuk menikah.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1595 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 02, 2013, 10:27:20 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
5529 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 13, 2013, 07:32:22 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2286 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 03, 2013, 04:50:40 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1141 Dilihat
Tulisan terakhir September 01, 2013, 08:59:20 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1101 Dilihat
Tulisan terakhir September 01, 2013, 09:00:20 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
908 Dilihat
Tulisan terakhir September 01, 2013, 09:04:30 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
742 Dilihat
Tulisan terakhir September 01, 2013, 09:06:44 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1028 Dilihat
Tulisan terakhir September 01, 2013, 09:14:28 AM
oleh Abu Zahra
2 Jawaban
702 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 08, 2015, 07:55:10 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
537 Dilihat
Tulisan terakhir April 07, 2015, 11:39:31 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan