Penulis Topik: Erlita  (Dibaca 1678 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Erlita
« pada: Maret 04, 2014, 02:50:42 PM »

Ilustrasi[1]

Sang Guru pernah menganjurkan agar para muridnya tidak pacaran dengan sesama anggota perguruan. Sebab, dari banyak kasus, seringkali perguruan menjadi kacau karena problem orang-orang yang pacaran. Mulanya anak-anak latihan solid dan bersemangat, lalu antara para murid laki-laki dan perempuan saling jatuh cinta. Para murid semakin semangat dan kompak. Tapi tidak lama kemudian, problem mulai bermunculan. Mulai dari soal kecemburuan, saling tuntut menuntut hal yang aneh-aneh, dan lain sebagaimanya seperti umumnya anak-anak muda pacaran. Akibatnya, ketegangan mulai terjadi di dalam perguruan. Satu sama lain terlihat mulai saling mendiamkan. Muncul pula upaya-upaya saling menjelekan. Terjadilah gep-gepan.  Anggota perguruan yang solid terpecah menjadi beberapa kelompok. Belajar di satu tempat, tapi tidak satu hati. Pertengkaranpun tidak bisa dihindari.

Satu persatu para murid mengadu kepada kami, dewa guru. Kami jadi ikut pusing mikirin problem anak-anak muda, seperti orang tua yang pusing mikirin anak-anaknya yang pada bertengkar. Lalu kami mencoba mendamaikan. Kadang berhasil, mereka berdamai walaupun tidak pacaran lagi. Atau bahkan pacaran kembali hingga sampai ke pelaminan. Kami turut gembira. Tapi sebagian lagi, tidak bisa didamaikan. Permusuhan sengit terus terjadi. Lalu salah satunya pergi meninggalkan perguruan. Atau bahkan kedua-duanya, meninggalkan jejak sejarah yang tidak menyenangkan. Dan kadang-kadang perguruan kami yang dikambing hitamkan. Tapi ada juga yang bisa memisahkan antara persoalan pribadi, dan tidak membawa-bawa soal perguruan.

Anjuran dan harapan sang Guru agar para muridnya tidak pacaran dengan sesama murid sulit untuk terwujud. Kalau dua insan sudah saling jatuh cinta, bagaimana mungkin kami tega untuk menghalangi. Kami para guru hanya berharap, agar bila memang cinta memaksanya untuk menjalin hubungan asmara dengan sesama anggota perguruan, maka tolong jagalah keutuhan perguruan. Jangan sampai persoalan pribadi nanti membuat rusak perguruan!

Seperti yang terjadi pada Erlita, salah satu murid saya. Dia pacaran sama Atep, salah satu adik seperguruannya. Entah berapa lama dia pacaran, mungkin sekitar 2 tahunan, sampai tiba-tiba mereka bertengkar hebat dan berpisah. Erlita pun pergi meninggalkan perguruan kami dengan luka hati yang dalam.

Setelah setahun, saya merasa kangen pada Erlita dan ingin mengetahui bagaimana kabarnya. Melalui sms saya menyapanya kembali, “Assalamualaikum! Apa kabar Erlita ?”

“Waalaikum salam! Maaf ... ini siapa ya?” jawaban sms itu.

Tentulah Erlita telah menghapus nomor kontak saya. Bahkan saya pikir, Erlita telah menghapus semua nomor teman seperguruannya. Karena dengan semua yang dialaminya, tentu dia ingin melupakan kami. Tapi saya mencoba menyambung kembali tali silaturahim.

“Saya Asep dari Cipadung.” Jawab saya.

Erlita membas, “Asep mana ya ? maaf, saya tidak kenal.”

“Ya sudah, kalau tidak kenal. Salam kenal saja. mungkin lebih baik kamu melupakan saya, bila saya di masa lalu ada di dalam kenangan yang tidak menyenangkan. Sekarang saya perkenalkan diri saya sebagai kenalan baru.” Jawab saya melalui sms.

“Ok!” jawabnya pendek. Tidak lama kemudian dia sms lagi, “Ini kang Asep PSKM?”

‘Iya betul.” Jawab saya.

“Astagfirullah! Akang, maaf. Lita benar-benar lupa. Semua nomor kontak PSKM sudah dihapus.” Kata Erlita dalam sms.

“Ya. Saya sudah menduganya. Pastilah kamu sudah menghapus nomor orang-orang PSKM, termasuk nomor saya. Dan saya mengerti alasannya. Tapi saya tidak ingin menghapus nomor kamu. Dan dengan menyapa melalui sms, saya ingin menyambung tali silaturahim.” Kata saya.

Lita menjawab, “Alhamdilllah. Lita juga kembain melihat foto akang di FB & ingin ingin sekali berkomunikasi dengan Akang yang sudah Lita anggap sebagai orang tua Lita sendiri. Pas sekali, hari ini akang menghubungi. :) Maaf Akang, Lita menjauh dari semuanya untuk penyembuhan. Baik buruk di PSKM, maupun luka yang mereka torehkan biar menjadi nasib Lita. Lita akan tetap sayang pada Ayah, Atep, Kang Budi dan Kang Yayang. Walau apapun yang mereka lakukan ke saya. Semoga Lita bisa tetap sayang pada kalian semua, apapun yang sudah terjadi. Akang, .. ada pertanyaan terlintas dalam benak Lita, bolehkah Lita bertanya?”

“Silahkan!”

“Apa benar, selama hubungan dengan saya Atep berada di bawah pengaruh saya? Setahu saya, saya tidak pernah mempengaruhi Atep. Tapi Atep bilang, ayah dan kang Yayang yang melepasnya.”

Mungkin Lita ingin mengetahui apakah saya berpendapat bahwa Lita telah mempengaruhi Atep secara mistik sehingga Atep tunduk dan cinta pada Erlita. Dan saya menjawab, “soal pengaruh mempengaruhi, saya pikir, kita semua memang saling mempengaruhi. Seperti saya juga sering mempengaruhi Lita, karena saya sering memberi saran dan nasihat pada Lita. Tapi bila ada hal-hal salah pada Atep, saya pikir tidak seharusnya ada orang yang menyalahkan Lita. Atep sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan dan memutuskan sendiri hidupnya. Dia sendiri yang bertanggung jawab atas apa-apa yang dia lakukan.”

Tak lama, datang sms balasan, “Lita yang lebih bingung, Akang. Tapi luka Lita itu di saat Lita terpuruk dan jatuh, Lita dibuang oleh PSKM. Tapi HI justru merangkul Lita.”

Inilah yang saya maksud, persoalan pribadi yang akhirnya membawa citra buruk perguruan. Lalu saya menjawab, “Saya tidak mengetahui, kalau PSKM membuang Lita dan dengan cara apa mereka membuangmu ? apa dengan mengabaikanmu, memusuhimu atau mencoretmu dari keanggotaan ? bila saya bertanya kepada semua murid-murid saya di PSKM, saya yakin, tidak akan seorangpun yang mengaku telah membuangmu, Erlita. Dan kamu tahu, saya menyayangi kamu, sama seperti menyayangi murid-murid yang lain. Bahkan saya telah menyediakan waktu lebih banyak kepada kamu dari pada kepada murid-murid lain. Walaupun dalam kesibukan pekerjaan saya, atau di tengah-tengah acara penting keluarga, ketika kamu menelepon, menangis dan mengadu, saya siap mendengarkanmu, serta membantumu dengan apa yang bisa saya lakukan. Tapi bila semua itu kurang, harap maklum. Karena keterbatasan waktu, mengingat banyak kewajiban lain yang harus saya lakukan.

Dan bila, saat ini Erlita sudah berada dalam rangkulan HI, saya sungguh turut gembira. Ini adalah kabar gembira. Seperti orang tua yang telah lama kehilangan anaknya, tidak tahu kemana anaknya itu pergi, apakah hidup dengan selamat ataukah terlunta-lunta. Tiba-tiba sekarang mendengar kabarnya hidup bahagia bersama keluarga lain. Setidaknya orang tua itu tahu, anaknya selamat, bahagia dan tidak terlunta-lunta. Ini sudah cukup, kalau saja anaknya itu tidak bisa diminta untuk kembali pulang ke rumah. Demikian pula dengan saya, turut bahagia, bila kamu merasa aman dan nyaman dalam lindungan perguruan HI.”

Erlita membalas, “Saya tidak masuk HI. Saya hanya bertanya-tanya, mengapa di saat saya terpuruk, PSKM malah membuang saya. Sedangkan HI justru merangkul saya. Panjang ceritanya tentang bagaimana PSKM membuang saya. Nanti akan saya ceritakan, bila saya bertemu Akang. Persaudaraan di PSKM tidak seindah yang Lita kira. Lita Lita akan berusaha untuk menerima bahwa semua itu sekedar nasib Lita.”

“Bila Erlita merasa terluka, seakan saya ikut merasakan rasa sakitnya. Seperti orang tua yang hatinya pedih, ketika melihat anaknya bersedih. Saya ataupun Ayah, sebagai guru kita semua, dan sebagai orang tua di PSKM tentu ingin anak-anak didik, atau adik-adik seperguruan hidup dalam kebahagiaan dan kegembiraan. Oleh karena itu, mari kita lupakan dulu hal-hal menyakitkan di masa lalu, agar kita bisa tersenyum bahagia hari ini!” demikian saya katakan.

Erlita membalas, “Baik Akang, terima kasih!”
 1. http://3.bp.blogspot.com/-udxt96L978U/Tqkn3ooeAAI/AAAAAAAAAOk/VkzEZZM8xm8/s1600/f.jpg
« Edit Terakhir: Desember 24, 2015, 08:21:41 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Erlita
« Jawab #1 pada: Maret 04, 2014, 05:10:51 PM »
Sungguh banyak yang terjadi  murid2 krachtology di kampus ,
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Erlita
« Jawab #2 pada: Maret 04, 2014, 05:12:43 PM »
benar kang Radi, ada 1001 kisah. saya ingin ceritakan satu persatu, agar genarasi yang akan datang mau belajar dari sejarah perguruannya di masa lalu, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Erlita
« Jawab #3 pada: Maret 04, 2014, 05:20:18 PM »
Mudah2an ada kisah adie ada yang berkesan di pak asep hahahaha ngarep ditulis
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Erlita
« Jawab #4 pada: Maret 04, 2014, 05:23:52 PM »
ada... waktu saya mencoba menerawang saku jaket kang Radi, saya bilang di situ ada uang seribu perak. karena di situ gak ada uangnya, lalu kang Radi masukin uang di saku jaket dan mengeluarkannya kembali, "Nah Bapak benar, ada uang seribu." he..he... masih inget enggak ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Erlita
« Jawab #5 pada: Maret 04, 2014, 05:49:58 PM »
ada... waktu saya mencoba menerawang saku jaket kang Radi, saya bilang di situ ada uang seribu perak. karena di situ gak ada uangnya, lalu kang Radi masukin uang di saku jaket dan mengeluarkannya kembali, "Nah Bapak benar, ada uang seribu." he..he... masih inget enggak ?

yang mana, malahan adie lupa
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Erlita
« Jawab #6 pada: Maret 04, 2014, 08:42:43 PM »
he..he.. tak disangka, kalau Radi lupa dengan kejadian itu.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Erlita
« Jawab #7 pada: Maret 05, 2014, 07:58:21 AM »
yang adie paling ingat mah ketika bertemu pertama kali dengan pak asep
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Erlita
« Jawab #8 pada: Maret 05, 2014, 11:40:57 AM »
^ saya juga ingat. kang Radi nanyain saya ke yang punya warung di depan itu ya ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Erlita
« Jawab #9 pada: Maret 05, 2014, 01:30:24 PM »
iya kan palang krachtologinya ada di palang itu,
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Erlita
« Jawab #10 pada: Desember 24, 2015, 12:38:38 AM »
Lalu apakah Kang Asep sudah mengetahui bagaimana Erlita dibuang dari PSKM?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Erlita
« Jawab #11 pada: Desember 24, 2015, 07:15:49 AM »
gak ada yang buang. itu hanya persepsi dan perasaan Erlita saja.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Erlita
« Jawab #12 pada: Desember 24, 2015, 08:13:17 AM »
Apakah Kang Asep sudah mengetahui kenapa dia berpikir seperti itu?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Erlita
« Jawab #13 pada: Desember 24, 2015, 08:18:58 AM »
tahu. karena dia merasa tidak diterima oleh komunitas. beberapa orang tidak menyukai Erlita. dia pikir semua orang tidak suka dia. seseorang menyakiti dia. dia pikir, semua orang benci dia. beberapa sikap temannya tidak menyenangkan dia. tapi dia tidak berpikir bahwa sikap tidak menyenangkan tersebut merupakan respon atas perilaku dia sendiri yang dirasa tidak menyenangkan kawan-kawannya.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan