Penulis Topik: Cara Ciri, Ciri Cara  (Dibaca 1219 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Cara Ciri, Ciri Cara
« pada: September 26, 2013, 08:43:52 PM »
Suatu hari, saya pergi ke Puskesmas lebih awal dari yang lain. pukul 7.00 saya sudah berada di Puskesmas untuk meminta surat Rujukan nenek saya ke Rumah Sakit paru Routin Sulu di Ciumbu Leuit.

Setibanya di Puskesmas, tak terlihat seorang pasienpun sedang mengantri. Maka saya langsung ke loket pendaftaran serta mengemukakan maksud hendak meminta surat rujukan. Dengan nada yang terdengar kurang suka, petugas Puskesmas itu berkata, “ambil nomor antrian dulu Pak! Jangan main nyelonong gitu aja. Kalau sudah ngambil nomor antrian, silahkan duduk dulu, nanti dipanggil!”

“Baik!” jawab saya, segera mengambil nomor, lalu duduk. Saya lihat nomor antriannya 14. padahal saya yakin, belum ada pasien lain yang mendahului saya, dan tidak ada pasien lain yang sedang antri. Saya benar-benar sendiri di kursi tunggu.

Baru duduk sekitar 30 detik, langsung petugas memanggil, “Nomor 14, silahkan ke loket pendaftaran!”

Saya merasa geli bercampur heran. Saya pikir, nomor antrian diperlukan apabila pasien mengantri, sehingga nomor antrian tersebut berfungsi, dan para pasien mengantri dengan tertib. Kalau pasien hanya satu orang, apa fungsinya nomor antrian. Kalau nomor antrian menggunakan sistem komputerisasi, mungkin berfungsi, terhubung ke database. Sedangkan ini, nomor antrian manual dan tidak terlihat pencatatan nomor antrian. Setelah saya serahkan ke petugas, nomor antrian itu disisihkan begitu saja tanpa dicatat. Lagi pula, bila memang nomor antrian tersebut diperluakn sebagai data, maka petugas puskemas itu bisa melayani langsung dengan mencabut nomor antrian yang memang di taruh tepat di depan petugas Puskesmas. Prosedur yang harus saya lakukan waktu itu benar-benar menggelikan. Ambil nomor antrian dari loket pendaftaran, duduk, 30 detik kemudian dipanggil lagi ke loket pendaftaran. Serasa saya seperti sedang melawak.

Mungkin petugas Puskesmas hanya menjalankan prosedur yang sudah biasa dilakukan sehari-hari. Setiap pasien yang datang harus ambil nomor antrian, lalu duduk di kursi tunggu, dipanggil, baru menghampiri loket pendaftaran. Sebenarnya bila pasien hanya satu orang, bisa ada prosedur yang dilewat, yaitu pasien datang, langsung mendaftar ke loket pendaftaran. Atau, pasien datang, ambil nomor antrian, dan mendaftar tanpa harus duduk dulu. Bahkan saya sempat berpikir, bagaimana kalau seandainya saya tidak duduk, melainkan menunggu panggilan sambil berdiri saja, mungkin akan dianggap menyalahi prosedur juga.

Kejadian di Puskesmas itu mengingatkan saya kepada umat yang mempraktikan ibadah-ibadah ritual. Kebanyak dari mereka dalam menjalankan ibadah sama seperti keharusan prosedur yang saya jalankan di Puskesmas. Prosedur yang dirunut dari A, B, C hingga D, semua harus dijalani, tak peduli bagaimana situasi dan kondisinya. Walaupun beberapa prosedur sebenarnya bisa dibuang, tapi tradisi mengikatnya, lalu seolah-olah berdosa apabila prosedur itu tidak dilakukan. Mereka tidak tahu tujuan dari ibadah itu, selain dari menjalankan prosedur yang diinstruksikan. Dengan cara itu, mereka meyakini telah sampai pada tujuan ibadah, tanpa benar-benar melihat apa mereka sampai pada tujuan itu atau tidak. Lalu, apabila ada prosedur yang terlewatkan, maka ibadah itu dianggap tidak sah, dan diyakini tidak sampai pada tujuan, tanpa benar-benar melihat kepada objek yang menjadi tujuan itu sendiri. Mereka inilah yang saya sebut orang-orang yang terikat ciri dan tidak menggunakan cara, menjalankan cara ciri, dan bukan ciri cara.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline gumalta

Re:Cara Ciri, Ciri Cara
« Jawab #1 pada: Juli 04, 2015, 12:46:35 AM »

Prosedur yang dirunut dari A, B, C hingga D, semua harus dijalani, tak peduli bagaimana situasi dan kondisinya. Walaupun beberapa prosedur sebenarnya bisa dibuang, tapi tradisi mengikatnya, lalu seolah-olah berdosa apabila prosedur itu tidak dilakukan. Mereka tidak tahu tujuan dari ibadah itu, selain dari menjalankan prosedur yang diinstruksikan. Dengan cara itu, mereka meyakini telah sampai pada tujuan ibadah, tanpa benar-benar melihat apa mereka sampai pada tujuan itu atau tidak. Lalu, apabila ada prosedur yang terlewatkan, maka ibadah itu dianggap tidak sah, dan diyakini tidak sampai pada tujuan, tanpa benar-benar melihat kepada objek yang menjadi tujuan itu sendiri.


Bukannya hal tersebut (mengikuti tradisi), jika sudah tertanam menjadi keyakinan, merupakan/termasuk bid'ah dan bisa merusak aqidah?
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
773 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 04, 2012, 04:52:29 PM
oleh Kang Asep
20 Jawaban
4199 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 14, 2015, 01:42:20 AM
oleh alfianpase
Cara mikir

Dimulai oleh arya « 1 2 ... 9 10 » Diskusi Umum

140 Jawaban
37601 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 28, 2013, 09:20:11 AM
oleh dw4ryf
4 Jawaban
53065 Dilihat
Tulisan terakhir September 22, 2013, 06:14:22 AM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
14063 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 23, 2013, 02:05:10 PM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
1308 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 25, 2013, 10:04:38 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
4859 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 14, 2013, 12:32:39 PM
oleh kang radi
0 Jawaban
625 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2013, 01:26:33 PM
oleh xhann
0 Jawaban
1689 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 29, 2013, 01:04:24 PM
oleh Awal Dj
12 Jawaban
4471 Dilihat
Tulisan terakhir April 29, 2013, 06:31:21 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan