Penulis Topik: Bukan Pria Sempurna  (Dibaca 24 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9038
  • Thanked: 53 times
  • Total likes: 291
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Bukan Pria Sempurna
« pada: Juli 15, 2017, 09:51:21 PM »
Daftar Isi
====================
1. Tak Merasa Diri Suci
2. Fatya
====================

1. Tak Merasa Diri Suci
Edisi : 15 Juli 2017, 21:45:24

sama sekali tidak merasa diri suci. Sebaliknya, saya merasa diri ini berlumpur dosa. Karena itu, sangatlah malunya saya ketika pak Doni berkata, "Aku kagum dengan kang Asep, bukan saja karena tahu kebaikan-kebaikan, tapi mampu melaksanakan kebaikan itu. Sesungguhnya, apa yang sering dinasihatkan oleh kang Asep, itu saya juga tahu. Tapi kekuatan untuk menjalankannya, itu yang sulit."

Saya berkata, "Sesungguhnya, saya menasihati orang-orang kepada kebaikan, mengajak orang-orang kepada kebenaran, karena berharap saya sendiri dapat segera berlari kepada kebaikan dan kebenaran itu, menuju ampunan Allah. Apapun kebaikan yang dapat saya lakukan, tak dapat membuat saya merasa lebih baik dari orang lain. Karena kebaikan sekecil apapun yang dilakukan orang lain, barangkali itu adalah tambahan pahala dari pahala yang sudah dia kumpulkan sejak lama. Sedangkan sebesar-besar kebaikan yang saya lakukan, rasanya belum dapat menebus dosa-dosa yang pernah saya lakukan di masa lalu. Bagaimana mungkin saya dapat merasa sombong dan berbangga dengan kebaikan kecil yang saya lakukan ?"

Apa yang saya katakan bukanlah kepura-puraan. Tapi sungguh, saya merasa diri penuh salah dan dosa. Jauhlah untuk dikatakan suci. Apabila beberapa orang menempatkan diri saya terlalu tinggi, itu karena Allah menutupi aib-aib saya, sehingga mereka tidak mengetahuinya. Jika mereka mengetahuinya, niscaya membenci.

Walaupun merasa diri berlumpur dosa, saya berusaha untuk berkata baik, berbuat baik, dan mengajak orang-orang pada kebaikan. Karena apabila saya melakukan sebaliknya, berkata buruk, berbuat buruk dan mengajak orang-orang pada keburukan, maka bagaimana saya akan mendapat ampunan dari Tuhan. Bukan karena merasa diri suci lantas saya bicara kebaikan dan kebenaran, tapi hanya karena berharap ampunan Tuhan.

Kadang saya berkata kepada murid-murid saya, "tolonglah tolong ! Jangan kalian menempatkan diri saya terlalu tinggi, karena saya tidak sebaik yang anda kira. Saya tak lebih dari seorang manusia yang hina saja. Karena itu, jangan kalian mencium tangan saya. Sungguh saya merasa risih, apabila kalian mencium tangan saya, memberi rasa hormat seperti itu. Sepertinya saya tak pantas. Apabila bersalaman, hendaklah bersalaman seperti dua orang sahabat saja, yang melepas rindu setelah lama tidak berjumpa. Bahkan, saya tak berani mengatakan kepada kalian mari berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah karena tidak mustahil di hadapan Tuhan, kalian lebih baik dari pada saya. Karena itu, apabila ada hal-hal baik yang sekiranya dapat kalian ambil dari saya, tak ada upah apapun yang ingin kuminta dari kalian, kecuali mintakanlah ampunan bagiku kepada Tuhan, dan agar Tuhan selalu memberiku kekuatan untuk senantiasa berbuat kebaikan !"

2. Fatya
Edisi : 15 Juli 2017, 21:47:44

Pesan Moral :
Pesan moral yang ingin saya sampaikan dari kisah pengalaman hidup yang saya tuangkan dalam tulisan berjudul "Fatya", adalah bagaimana kita menghadapi kebencian dengan cinta kasih.

Cinta adalah anugerah. Tetapi malapetaka dapat terjadi, apabila seorang pria tidak memegang teguh norma-norma agama, ketika dia merasa jatuh cinta pada seorang wanita milik pria lain. Boleh saja kita mencintai seseorang, tetapi jangan pernah lupakan norma-norma dan jangan melanggar batas-batas.

Rumusan Masalah :
Saya bukan pria sempurna, sebaliknya penuh salah dan dosa. Tetapi, diantara lumpur dosa itu, saya mencoba untuk bangkit, belajar untuk berpijak pada jalan kebenaran. Kemudian, walaupun saya telah meyakini bahwa apa yang saya lakukan sudah baik dan benar, tak pernah luput dari tuduhan dan penilaian, bahwa saya telah bersalah. Saya hanya dapat berdoa, "jika benar tuduhan-tuduhan itu, maka semoga Allah mengampuni saya dan Allah tunjukan saya pada jelan kebenaran. Tapi bila tuduhan mereka keliru, maka semoga Allah mengampuni mereka dan memberi mereka petunjuk, sehingga mengerti kebenaran yang telah saya perbuat." karena itu, tuduhan dan penilaian apapun dari orang lain, akan saya terima dengan suka cita, dengan harapan jika saya memang bersalah, maka segala kritikan dapat mengubah haluan langkah kaki saya, sehingga berpijak kembali pada kebenaran.

Rumusan masalah yang ingin ditegaskan dalam kisah ini adalah , "Apakah mencintai wanita yang sudah bersuami merupakan sebuah dosa ?" saya memiliki jawaban yang saya yakini benar. Tetapi kebenaran yang saya yakini, tidak mustahil mengandung kesalahan. Jika keyakinan saya salah dan apa yang telah saya lakukan juga memang salah, maka sebagaimana saya katakan, bahwa saya bukanlah pria sempurna, melainkan sering melakukan kesalahan dalam hdup ini. Tetapi saya adalah orang yang mau belajar, demi hari esok yang lebih baik.

Fatya adalah wanita yang cantik. Munafik apabila saya katakan tidak menyukainya. Saya hanya mengizinkan rasa suka saya pada Fatya sebatas mendorong saya pada berbuat baik padanya. Jika rasa suka itu mendorong saya lebih dari itu, maka saya tidak mengizinkannya, dan akan saya buang jauh-jauh perasaannya. Saya merasa cukup kuat untuk mengendalikan perasaan, bahkan membuang hingga ke akar-akarnya. Tetapi, saya mengizinkan rasa suka itu terpelihara dalam hati. Karena menyukai lebih baik dari pada membenci. Saya berpikir, jika perasaan ini membuat saya mau berbuat baik pada orang lain, maka perasaanini berguna. Jika mendorong saya berbuat buruk, maka perasaan ini tak berguna. Jadi, mencintai wanita bersuami bukanlah dosa, selama kita tidak berbuat hal-hal yang melanggar norma.  Inilah jawaban yang saya yakini benar.

Ya... Saya menyukai Fatya. Seandainya dia gadis, niscaya saya ingin memacarinya. Tetapi, dia sudah bersuami. Karena itu, saya menjaga jarak, tidak menyentuhnya, serta tidak melakuan hal-hal yang melanggar norma agama. Saya hanya mencoba mendengarkan keluhan-keluhannya, itupun di tempat terbuka, dan tidak hanya berdua saja, ada temant-teman yang lain. Atau saya menemaninya berbincang saat berjalan menuju stasiun KRL, tak lebih dari itu. Haruskah saya merasa malu karena menyukai wanita lain, sementara saya tidak melakukan apapun kecuali apa-apa yang halal menurut agama ? Apakah rasa suka itu sesuatu yang haram atau melanggar undang-undang ? Karena tidak haram, dan tidak pula melanggar undang-undang, maka tak ada alasan bagi saya untuk merasa malu, karena mengagumi seorang wanita, kendatipun dia sudah bersuami. Sebagaimana sayapun tidak dapat mencegah orang lain untuk mengagumi istri saya sendiri, selama dia mengerti batas-batas dan tidak melanggar norma-norma adat dan agama.

Saya menyukai Fatya, tetapi dia membenci saya. Karena saya menyukainya, maka yang terlihat dari semua tindak tanduknya hanyalah keindahan dan kebaikan saja. Saya tidak marah dengan kemarahannya. Ketika dia marah, yang terlihat hanya kecantikannya saja. Ketika cemberut, tidak tampak mengesalkan, tapi tetap terlihat cantik saja. Bayangkan apabila dia membenci saya, dan saya membenci dia, maka saya tidak akan dapat menjalani suasana kerja yang menyenangkan. Setiap hari pertengkaran dan pertengkaran, dan tak dapat menghadapi caci maki dengan senyuman. Tapi karena saya menyukai Fatya, bahkan saya menyukai semua orang yang ada di lingkungan rumah dan di yang saya jumpai di tempat kerja, maka setiap hari saya seperti pergi dari cinta kepada cinta, selalu mengalami hari-hari yang indah.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9038
  • Thanked: 53 times
  • Total likes: 291
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Bukan Pria Sempurna
« Jawab #1 pada: Juli 15, 2017, 09:51:30 PM »
*****
awal kisah ...

Saat bekerja, tiba-tiba saya merasa pusing. Entahlah kenapa, mungkin karena maag saya kambuh. Tapi bersamaan dengan itu, saya merasakan gerakan-gerakan mistik menghampiriku. Untuk menghilangkan rasa pusingku dan juga menyelidiki gerakan mistik yang terjadi, saya memejamkan mata, memusatkan perhatian, mengheningkan cipta. Tak lama munculah perasaan nyaman, tubuh menjadi rileks. Mungkin saya tertidur, mungkin juga tidak. Saya tidak mengetahuinya, yang jelas saya merasa sadar dalam kondisi tenang.

Tidak disangka, tersebar melalui BBM, foto saya yang terlihat sedang tidur di kursi. Sampailah foto itu ke General Manajer (GM), hingga GM marah dan memerintahkan pemecatan saya. Pak Eko, Manajer F&B yang memberi tahu semua itu kepada saya.  Menurut informasi dari pak Eko, yang memotret saya ketika tidur adalah Fatya, sekretaris Pak Doni.

“Ngaco nih si Fatya, gue marahin ntar. Gue mau bilang, lepas tuh kerudung lu, ngapain pake kerudung kelakuan lu aja kayak gitu. Mestinya kalau teman tidur, ya tinggal bangunin aja, ingetin kerja, bukan malah difoto dan disebarin ke mana-mana semestinya dia lapor dulu sama Pak Doni, dia kan admin Pak Doni.” Kata Pak Eko. Tidak sampai di situ, caci makinya berkepanjangan.

Setelah pak Eko berhenti marah-marahnya, saya berkata, “Maaf Pak, ... Kalau boleh saya memohon, saya mohon bapak tidak memarahi Fatya. Biarlah tidak mengapa saya diberhentikan bekerja, saya terima dan saya akui kesalahan saya. Tapi bapak jangan marahi Fatya! Kasihan, dia itu sedang mengalami masalah berat. Tiap hari dia ribut melulu dengan suaminya. Rumah tangganya diambang perceraian. Belum lagi, tampaknya dia sering repot masalah pekerjaan, keteteran terus.”

Pak Eko tetap berang, “Tapi gak begitu juga caranya. Apa yang dia lakukan itu salah.”

“Saya yakin, bahwa niat Fatya itu baik. Mungkin dia itu bermaksud menunjukan dedikasi dan loyalitasnya terhadap perusahaan. Dan yang dia harapkan adalah kemajuan bagi perusahaan. Lagi pula, jika memang yang dilakukannya salah, bapak bisa memberitahukan kesalahannya itu dengan tenang, tanpa marah, agar tidak menambah beban masalahnya lagi.” Demikian saya membujuk Pak Eko.

"Gila lu ya ... Elu yang dia jahatin, tapi lu masih bela dia..." pak Eko tampak kesal.

Sayangnya, Pak Eko bersikukuh hendak ngomelin Fatya. Dan saya masih berkeinginan untuk membelanya, “Jika yang dilakukan Fatya itu salah, mungkin dia hanya mengikuti tradisi yang ada. Bapak sendiri mengetahui, bagaimana manajemen di perusahaan ini, yang menurut pak Doni, ini adalah manajemen konflik. Orang dibuat konflik, saling bermusuhan. Entah benar sistem manajemennya seperti itu atau tidak, tapi yang jelas sepertinya kita sepakat bahwa sistem manajemen seperti ini tidak baik. Dan bila kita ingin mengubahnya, berarti perlu dimulai dari kita sndiri, dengan cara mengakhiri konflik. Seandainya dalam jual beli, saya mencoba mencari laba. Kalau orang lain  berbuat baik kepada saya, maka saya merasa punya utang kepadanya. Jadi, saya harus membayar utang itu dengan berbuat kebaikan yang setimpal. Dengan begitu lunas, saya tidak punya utang, tapi juga tidak punya laba. Tapi bila orang lain berbuat buruk pada saya, dan saya berbuat baik padanya, berarti, tidak sekedar orang lain punya utang, melainkan saya menperoleh laba. Demikian pula, bila Fatya dianggap berbuat salah pada saya, maka saya memaafkannya, dan malah saya ingin menambah perbuatan baik padanya, agar saya memperoleh laba. Ini kesempatan saya memperoleh untung. Dengan cara yang sama saya berharap bapak juga memaafkan Fatya. Coba bapak renungkan, apakah yang saya katakan barusan merupakan hal baik atau buruk, benar atau salah ?”

Sejenak Pak Eko terdiam, lalu berkata, “Kalau menurut saya itu baik sih.”

Saya gembira, “Syukurlah kalau begitu, mari kita lakukan apa yang baik menurut kita!”

Sayapun kembali ke ruangan kerja, melanjutkan pekerjaan dengan semangat. Walaupun saya tahu, bahwa hari ini akan keluar surat PHK untuk saya. Saya masuk ke ruang HRD dengan mengucapkan salam, dan melempar senyuman kepada Fatya sebagaimana biasanya.

Tidak lama kemudian, Fatya pun dipanggil Pak Eko. “mudah-mudahan saja, dia tidak dimarahi.” Gumam hati saya. Lalu saya pergi ke mushola untuk melaksanakan shalat ashar.

Kembali ke ruangan, salam saya tidak dijawab. Dengan matanya yang tampak marah, dan wajah yang cemberut, Fatya berujar, “Tau ah..” sepertinya Pak Eko telah memarahi Fatya.

Saya duduk dihadapannya, “Ada apa mbak ? Kok Mbak tampak marah ? Salam saya tidak dibalas ?”

Fatya diam saja.

“Apa saya membuat kesalahan ? Mohon maaf bila saya berbuat salah pada Mbak.” Kata saya.

Dia menjawab, “Bukan pak Asep, ini nih Mbak Wiwi...”.

“Kirain Mbak marah sama saya.” Kata saya sembali ngeloyor ke kursi kerja saya.

“Pengen pulang!” teriak Fatya.

“Lha... Kok pulang Mbak ? Ini kan masih siang?”

“Iya, tapi hari ini ada yang luar biasa banget, ... Jadi saya pengen pulang.” Tampak marah dan malu bercampur di dalam gerak-geriknya. Terburu-buru dia membereskan tasnya, dan bergegas pergi. Tak salah lagi, dia habis dimarahi oleh Pak Eko.
 *****
Keesokan harinya ...
Surat PHK telah keluar. Dengan berat hati, Pak Doni berkata, “Maaf, maaf sekali ya kang Asep. Sebenarnya saya gak tega ngomongnya. Kang Asep jauh-jauh dari Bandung datang untuk bekerja di sini, baru 11 hari harus sudah diberhentikan lagi.”

“Jangan khawatir, Pak! Saya memang sedih dan kecewa, kenapa saya harus berhenti secepat ini. Tapi, berhubung kesedihan dan kecewaan ini tidak ada gunanya lagi, maka saya buang. Saya tidak perlu sedih, tidak perlu kecewa, saya akan tetap semangat dan bergembira.” Demikian saya katakan.

“Saya harap, hubungan kita tetap baik, walaupun hubungan kerja terputus.” Kata Pak Doni.

“Ya. Kita tetap baik Pak. Saya tidak ada masalah apapun dengan bapak dan semua orang di sini.” Saya.
*****

Tak lama datang Fatya. Ia langsung duduk di kursi kerjanya dan berujar, “saya pengen pulang lagi.” Sambil agak menyembunyikan mukanya. Sepertinya dia malu terhadap sesuatu.

“Lha.. Kok baru datang sudah mau pulang lagi ?” tanya pak Abdul, salah satu pegawai yang lain.

Saya menimpali dengan candaan, “Mungkin takut disundul sama pak Abdul, soalnya pak Abdul botak. He..he...” kebetulan pak Abdul ini kepalanya botak.

“O ya...Pak Abdul, Mbak Fatya, Pak doni, Pak Eko, mohon maaf. Hari ini saya resign. Tentu banyak kesalahan yang pernah saya buat di sini, maka mohon saya untuk dimaafkan.!” Demikian saya sampaikan. Lalu saya menyalami satu persatu orang.

“Maafkan juga saya, kang Asep. Maafkan saya bila ada kesalahan kepada kang Asep!” ujar Fatya sambil menerima jabat tangan saya.

Saya menjawab, “Owh tidak. Jangan khawatir, Mbak tidak ada kesalahan apapun terhadap saya. Sayalah yang harus dimaafkan oleh Mbak!”

****

Saya datang kembali ke Hotel Aramoy di hari pencairan gaji. Proses pencairannya lama. Saya menunggu dengan sabar sambil bermeditasi di depan kanto security. Tiba-tiba Fatya keluar. Saya terkejut melihatnya. Wajahnya tampak murung, pucat dan matanya bengkak. Rupanya Fatya banyak menangis. Rupanya, Pak Eko dan Pak Doni telah mengomelinya abis-abisan. Segera saya memanggil Fatya, ‘Mbak... Tunggu Mbak ... Saya ingin bicara, boleh ?”

“Boleh ... Tapi nanti .. Saya mau foto copy dulu ya ...!” jawabnya.

“Ok!”

Lama ku tunggu, Fatya gak muncul-muncul. Setalah dua jam kemudian, Fatya muncul kembali. “Bagaimana Mbak, .. Mbak udah makan belum ? Bagaimana kalau kita ngobrol sambil makan siang ? Mbak minta izin dulu sama Pak Doni, bilang aja mau makan siang sama saya!”

“Makan siang? Iya.. Nanti saya mengantar dulu berkas ya ?” kata Fatya.

‘Ok Mbak.. Saya tunggu.” Saya gembira.

Tapi lama ditunggu, Fatya gak muncul-muncul. Saya mengiriminya sms, “Bagaimana Mbak, .. Apa Mbak belum diizinkan Pak Doni untuk istirahat kerja ?”

Tidak ada balasan.

Dari tengah hari saya menunggu, sekarang sudah pukul 16.00, belum juga Fatya keluar. Dia juga tidak membalas sms saya. Mungkin dia tidak menyukainya. Tapi saya ingin menolongnya, benar-benar kasihan padanya, dan sangat berharap kebahagiaan baginya.

Karena perutku krucuk-krucuk minta diisi, saya tidak bisa menunggu Fatya lagi. Sayapun pergi ke rumah makan padang. Sambil menunggu makanan dihidangkan, saya sms lagi ke Fatya, “Saya berharap, Mbak dapat meneruskan bekerja dengan tenang dan gembira. Saya sangat ingin berbicara dengan Mbak, karena saya khawatir, kepergian saya dari Hotel ini menyisakan masalah bagi Mbak. Mungkin ada pihak yang mempersalahkan Mbak dengan apa yang terjadi pada diri saya. Tapi ketahuilah Mbak, saya tidak menyalahkan siapapun dengan apa yang terjadi pada saya. Saya yakin, apa yang telah dilakukan Mbak adalah berlandaskan niat yang baik. Oleh karena itu, saya ingin bertemu untuk melihat, barangkali ada hal-hal yang bisa saya lakukan untuk membantu Mbak.”

Lagi-lagi, sms saya tidak mendapat balasan. “Ya, sudahlah! Saya sudah berusaha membantunya. Tapi rupanya dia wanita yang kuat dan tidak membutuhkan bantuan saya. Semoga saja dia bisa menghadapi permasalahan-permasalahan itu.”

*****

Hari minggu dini hari, mata saya terbuka, bangun dari tidur. Entah kenapa, langsung terbayang di pelupuk mata wajah Fatya. Saya harus jujur, setidaknya pada diri saya sendiri, bahwa saya mencintai Fatya. Cinta itu tidak memuat saya merasa berkhianat pada istri saya. Karena saya tetap mencintainya dan tak berminat menyakitinya. Cinta saya pada Fatya sekedar alat untuk menghapus segala kebencian atas permusuhan sehingga saya tak tersentuh oleh rasa kesakitan itu, jauhlah saya pikiran-pikiran buruk. Dipagi itu, saya lalu memanjatkan doa, “semoga Fatya dicerahkan pikirannya, semoga dia memperoleh kebahagiaan dan kegembiraan. Semoga dia dapat bekerja dengan tenang, aman dan nyaman. Semoga dia diringankan di dalam segala permasalahannya. Semoga dia dapat rukun kembali dengan suaminya. Semoga hati mereka berdua damai sejahtera. Semoga anaknya sehat, kuat dan bahagia. Semoga Fatya dapat membina rumah tangga yang mawaddah, warahmah dan sakinah dengan suaminya.” setiap kali ingat Fatya, itulah doa-doa yang kupanjatkan, tak lebih. Mengharap kebahagiaan bagi orang lain, itu seperti memberi kebahagiaan bagi diri saya sendiri. Karena terbukti, setiap kali selesai mendoakan kebaikan bagi orang-orang, hati sayapun merasa gembira.

Lalu saya segera pergi mengambil wudhu dan melaksanakan shalat tahajud. Usai shalat tahajud, saya berdoa kembali, mendoakan semua orang, untuk orang tuaku, mertuaku, nenek moyangku, anak istriku, adik-adikku, karib kerabatku, sahabat dan teman-temanku, tidak lupa mendoakan Pak Doni, Pak Eko dan Fatya untuk kebahagiaan mereka.

Hari minggu pagi, sayapun pulang ke Bandung. Kepada istri, Saya menceritakan apa yang terjadi. Sebelumnya Pak Eko memberi saran, agar saya tidak menceritakan soal pemecatan saya kepada istri, agar tidak menyakiti perasaannya. Tapi saya menolak sarannya. Karena istri saya itu orang yang kuat dan saya menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Lagi pula, bila tak jujur, berarti saya harus berbohong, karena istri saya pasti bertanya, mengapa tidak pergi bekerja. Lebih baik terbuka segalanya kepada istri. Dan ternyata benar, istri saya menerima semuanya dengan lapang dada. Alhamdulillah.

*******

Empat hari di Bandung, saya sibuk dengan pekerjaan freelane. Di hari keempat, saya mendapat telepon dari Hotel Aramoy bahwa saya telah dipanggil kembali. Saya telah dipecat dan kini diminta bekerja kembali.   Saya kembali ke Jakarta.

“Selamat bergabung, Kang!” ujar Pak Doni, menyodorkan jabat tangannya. Di susul dengan Fatya yang juga menjabat tangan saya, mengucapkan selamat. Sayapun gembira bisa bergabung dengan mereka.

Sejak kembali bekerja, rasanya saya menjadi semakin akrab dengan Fatya. Saya gembira, bahwa setelah apa yang terjadi, kami tetap berteman baik. Kami jajan bareng dan pulang bareng naik KRL.  Hampir setiap hari Fatya curhat tentang problem rumah tangganya. Saya senang mendengarkan dan menanggapinya. Saya mendengarkan dengan penuh rasa empati dan kadang belas kasihan. Sesekali memberikan saran dan masukan. Sedikit banyak, tampaknya saran dan masukan saya dapat diterima oleh Fatya. Saya bersyukur, tidak ada hal lain yang saya harapkan, kecuali agar dia dapat hidup harmoni kembali dengan suaminya, serta membesarkan anaknya dengan cinta ayah bundanya.

**** Selesai *****
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
1993 Dilihat
Tulisan terakhir November 19, 2012, 11:48:43 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
2147 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 20, 2013, 10:36:03 AM
oleh Kang Asep
11 Jawaban
2025 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 18, 2013, 11:33:36 PM
oleh ratna
6 Jawaban
1192 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 04, 2016, 11:12:48 AM
oleh Monox D. I-Fly
4 Jawaban
1048 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 07, 2015, 12:16:19 AM
oleh Monox D. I-Fly
2 Jawaban
711 Dilihat
Tulisan terakhir April 20, 2017, 11:13:52 AM
oleh Sultan
0 Jawaban
760 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 02, 2015, 04:30:36 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
165 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 30, 2016, 07:19:57 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
113 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 12, 2017, 09:42:01 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
23 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 06, 2017, 07:32:33 AM
oleh Kang Asep