Penulis Topik: Alasan Menyusun Jurnal LDII  (Dibaca 431 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Alasan Menyusun Jurnal LDII
« pada: Agustus 06, 2016, 01:07:35 AM »
Mengapa saya ingin membuat jurnal LDII ?

Karena saya ingin agar para pembaca dan sahabat-sahabat saya memahami, bahwa saya telah keluar dari LDII dengan alasan yang benar. Karena, jika memang saya benar, dan ternyata mereka salah, maka saya tidak ingin membiarkan mereka tidak tahu kesalahan mereka. tapi, jika ternyata saya salah, biarlah saya kembali bersama mereka.

saya juga berupaya untuk menilai segala sesuatunya secara objektif. hal yang baik, harus saya akui sebagai hal baik. yang buruk, tidak bisa saya nyatakan baik. hal benar perlu diakui kebenarannya. hal salah perlu diyakini sebagai hal salah. Karena itu, saya ingin membuat jurnal LDII, sehingga struktur pemikira saya menjadi jelas. dan pembaca dapat melihat, apakah penilaian saya bersifat objektif ataukah subjektif. dan bila ada penyangkalan atau klarifikasi dari pihak LDII, itu saya tunggu-tunggu dan saya harapkan.

Sementara ini, sahabat-sahabat saya menganggap saya keluar dari LDII karena saya "kurang iman" atau "kurang faham ajaran". Tetapi mereka semua menghindari dialog dengan saya. mereka tidak mau mendengar, apa alasan saya keluar dari LDII. Mereka hanya memvonis berdasarkan keyakinan mereka saja, tetapi tidak mencari alasan mengapa saya keluar. Saya pikir, mereka perlu tahu, perlu membuka dialog. Karena kebenaran itu harus jelas. Seperti antara saya dengan Anda, jika saya benar, maka Anda harus mengikuti keyakinan saya. dan jika Anda benar, maka saya harus mengikuti keyakinan Anda. Karena itu merupakan keniscayaan akal. Jika Anda benar, tapi saya tidak mengikuti Anda, berarti saya "tidak menggunakan akal", dan itulah yang menurut ajaran LDII sendiri disebut sebagai "dzalim". sudah tahu benar, tapi diingkari. sudah tahu salah, tapi tetap dikerjakan. Jadi, kalo saya tahu bahwa ajaran LDII salah, maka bagaimana saya tetap melaksanakan ajarannya ?

saya merasa bahwa saya masuk ke LDII karena suatu dalil. dan keluarpun karena suatu dalil. Tetapi, hati kecil saya tidak ingin meninggalkan LDII. karena saya senang dalam pergaulan di dalamnya, senang dengan kegiatan-kegiatan pengajiannya serta menyukai banyak kegiatan lainnya di dalam LDII.  bisa saja, saya tetap bertahan di LDII, tapi apalah gunanya bila saya tidak dapat meyakini kebenaran pokok-pokok ajarannya ?

Ada yang salah dalam ajaran pokok LDII.  ini penilaian yang menjadi alasan saya meninggalkan LDII. Tetapi, tidak mustahil penilaian saya tersebut keliru. karena itu, saya berharap sahabat-sahabat saya di LDII dapat membantah penilaian saya tersebut. Tetapi, setelah ditunggu sekian lama, tidak satupun yang bisa membantah. dan saya butuh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya. tetapi yang didapat adalah nasihat agar saya mengokohkan keimanan terhadap ajaran mereka.  dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan saya,  salah satu sahabat saya hanya berkata, "terserah kamu. agama itu untuk dipraktikan, bukan untuk dperdebatkan."

saya bukan ingn mengajak berdebat. tetapi sebelum praktik, kita butuh pengetahuan yang benar. karena, tidak mungkin saya mempraktikan apa yang menurut keyakinan saya "salah". setiap orang harus menjalankan apa yang menrut keyakinannya benar. Akhirnya, karena tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya yang bersifat prinsip, maka saya memutuskan meninggalkan LDII.

Ajaran LDII yang mana yang salah ?

Pertama-tama, Merasakan Kesalahanselama bertahun-tahun saya hanya merasakan adanya kesalahan dalam ajaran tersebut, tanpa dapat menunjukan "buktinya" berdasarkan nash maupun logika. karena itu, walaupun merasa ada yang salah, saya tetap bertahan di LDII. karena saya tidak dapat melakukan sesuatu hanya berdasarkan perasaan. tetapi, tidak berarti perasaan saya pasti salah. saya kemudian hanya perlu untuk menerjemahkan apa yang saya rasakan. Seperti seorang gitaris yang terbiasa dengan nada harmoni. ketika ada satu senar gitar yang fals, tentu segera tahu ada setelah yang salah. Tetapi, untuk mengidentifikasi apa yang salah ini tidak bisa dengan teori-teori. karena nada sumbang dapat dirasakan oleh hati. walau begitu, jika apa yang saya fahami adalah kebenaran, maka semestinya kawan-kawan saya di LDII dapat memahaminya sebagai hal benar pula.

Kedua, Mengharapkan Perkembangan Spiritual. Gus Dur mengatakan bahwa Syiah adalah NU plus imamah. Kalo saya mengatakan LDII itu wahabi plus imamah. walaupun al Quran dan Hadits ditafsirkan oleh imamnya, tetapi tafsiranya textbook seperti wahabi. Sebagai penganut aliran kebatinan, saya menganggap bahwa pemahaman orang LDII terhadap al Quran tidak menyentuh makna-makna batin, hanya difahami secara dhahiriah saja. Untuk memahami gambaran "makna batin" ini adalah sebagaimana yang difahami oleh para ahli tashawuf atau dipraktikan oleh kaum tarekat. Ibadah dilakukan seperti upacara ritual. Jika mubaligh mengajari saya shalat, maka dia akan mengukur apakah saya telah shalat dengan benar atau tidak, dilihat dari sudut pandang dhahiriah saja, tetapi tidak diperiksa dari sudut pandang spritiual, sejauh mana batin seseorang berkembang melalui shalatnya itu. Dalam kelompok pengajian seperti ini, maka bagaimanakah saya akan dapat mengharapkan suatu kemajuan spiritual ?

Ketiga, Menemukan KontradiksiHanya saja, walaupun saya memahami hal tadi sebagai suatu kesalahan, tetapi saya tidak dapat menyangkal mereka dengan dalil-dalil filsafat atau kebatinan. Sebab untuk urusan agama, mereka hanya akan menganggap sesuatu itu benar bila dalilnya tertulis di dalam kitab dan ditafsirkan oleh imam mereka. karena itu, daill-dalil yang bersifat akliah tentu akan mereka tolak. dan seandainya saya berdalil menggunanakn nash sekalipun, bila tidak sesuai dengan tafsiran imamnya tentu tertolak pula. Dalil mereka hanya akan dapat diptahkan oleh kontradiksi-kontradiksi di dalam ajaran mereka.

Contoh Kontradiksi 1:

Mubaligh LDII berkata, "Dzalim adalah tahu bahwa sesuatu itu benar, tapi tidak mengikutinya. tahu bahwa sesuatu itu salah, tapi tidak meninggalkannya."

saya tahu bahwa ajaran-ajaran pokok LDII itu salah, tapi saya dinasihati agar tetap mengikutinya.

Contoh Kontradiksi 2 :

Mubaligh berkata,"tidak henti-hentinya ini keamiran dipegang oleh Quraisy". dan menjelaskan artinya, bahwa keamiran itu harus dipegang oleh orang Quraisy.

saya bertanya, "apakah Amir kita orang Quraisy ?"

Mubaligh, "bukan".

"kenapa ?" tnya saya.

"kan ada dalil lain, thaatlah kalian, walaupun pada hamba Habasyi!

Contoh Kontradiksi 3 :

Mubaigh memanqulkan kitab Tirmidzi jilid 5. dia membacakan, "Hadzaa Ali, imamukum wawaliyum mim bakdi". yang artinya Inilah Ali imam kalian dan wali kalian setelahku.

kemudian mubaligh berkata,"hadis ini dhaif, karena salah satu perawinya adalah Jakfar Shadiq. siapa itu Jakfar Shadiq ? dia itu orang syiah. dan orang syiah itu pendusta."

perkataan seseorang dianggap dusta, karena kelompoknya dianggap sesat. sementara mubalidh ini di lain waktu mengajarkan, "perhatikan apa yang dikatan orang, jangan melihat siapa yang mengatakannya."

dan masih banyak lagi kontradiksi-kontradiksinya.

Kelima, Meghindari Kedzaliman.Kemudian, hari ini kerinduan saya pada sahabat-sahabat di LDII membuat saya merenungkan kembali ajaran-ajaran LDII. di samping adanya ajaran yang anggap sebagai hal salah, LDII memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki kelompok lainnya. Keunggulan ini yang membuat saya mencintai LDII. tetapi, apakah cinta saya pada LDII harus mengalahkan logika ?[1] ? Apakah saya harus mengikuti perasaan cinta saya atau mengikuti akal saya ? sementara menurut orang LDII sendiri, "orang yang tahu sesuatu salah, tapi masih mengerjakan, maka orang itu dzalim". Jadi, berdasarkan ajaran LDII sendiri, maka saya harus keluar dari LDII, karena saya mengetahui bahwa pokok-pokok ajaran LDII itu salah. Jika saya tahu bahwa ajaran-ajaran pokok LDII itu salah, dan saya tetap bertahan di dalamnya, berarti saya melakukan kedzaliman.


KeenamTerlalu Lama Menunggu Jawaban Bisa jadi, apa yang saya anggap kontradiksi, sebenarnya bukanlah kontradiksi, bisa jadi pula memang kontradiksi. karena itu butuh klarifikasi. tetapi, saya sulit menemukan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. dan ketika pertanyaan-pertanyaan saya ajukan, seringkali jawabanya adalah nasihat agar tidak meragukan ajaran, dibacakan ayat agar tidak meniru kaum nabi Musa yang banyak bertanya, atau mereka suruh saya menunggu jawabannya. "ngaji dulu saja, nanti juga akan ditemukan jawabannya."  dan hingga lima tahun berlalu, saya belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya yang pokok.

Jawaban serupa terjadi ketika saya belajar Al Kitab pada orang-orang Kristen. Ketika pertanyaan-pertanyaan saya tidak terjawab, maka mereka berkata, "pelajari aja trus al Kitab, nanti juga ketemu jawaban yang Anda cari itu. Alkitab itu berisi ajaran yang sangat luas. tidak bisa dijelaskan dalam sekali duduk."

Sewaktu seorang kawan saya, seorang muslim aswaja melihat saya membaca kitab Tipitaka, yaitu kitab sucinya agama Buddha, kawan saya berkata, "Kalo saya tidak tertark baca kitab suci umat agama lain. belajar hadis aja belum khatam. begitu luasnya ilmu Islam, mengapa kita harus pelajari agama lain ?"

Ketika saya mempelajari agama-agama dan mazhab-mazhab, maka saya berpedoman pada prinsip orang Jawa, "ngambil siji, ngambil sakabehe", artinya "mengambil satu, mengambil semuanya". kalo saya harus mempelajari semua ajaran  suatu mazhab, maka tentu hingga seribu tahun, tidak akan selesai saya pelajari. Di dalam Islam contohnya, saya ditawari CD yang berisi 60 ribu hadis. dan itu bukanlah seluruh hadits. Berapa tahunkan saya bisa selesai mepelajari semua itu ? di dalam mazhab syiah contohnya, saat saya berkunjung ke rumah salah seorng ulama syiah, banyak sekali kitab berbahasa Arab. saya tanya beliau, berapa jumlah kitab tersebut. belia menjawab, "kurang lebih 1000 kitab." Nah, saya tanya pada kawan-kawan muslim di sini, jangankan seribu kitab, berapa banyak diantara Anda yang mampu menyelesaikan membaca Kitab Sihah Sittah (kitab shaheh yang enam) ? muslim, walaupun sudah 20 tahun tinggal dipersantren, kadang kitab yang enam ini aja gak khatam, maka apalagi seribu kitab. Karena itu, saya tidak menunggu khatam mempelajari semuanya dari satu mazhab untuk mempelajari mazhab lainnya. tapi cukup dengan mempelajari "ushul mazhab". dengan memahami ushul mazhabnya, berarti kita "mengambil semuanya". Pertanyaan saya adalah tentang "ushul jamaah", tapi jawabannya adalah disuruh ngaji "Kitab As Sholah", yaitu dalil-dali tentang tata cara shalat, maka 20 thun mengajipun, saya tidak akan menemukan jawabannya.

Ketujuh, Mengingkari Larangan Yang tidak Bijaksana. Warga LDII dilarang untuk membaca buku-buku Syiah, Ahmadiyah dan buku-buku anti LDII seperti buku yang ditulis oleh mantan pengikut LDII bernama Bambang Irawan. Menurut saya, larangan tersebut tidaklah bijaksaa. Sebab, setiap orang berhak atas informasi. Jika ajaran LDII itu benar, mengapa harus takut terpengaruh dengan isme-isme lain ?

Seorang tokoh LDII menceritakan bahwa seorang ulama LDII mengikuti debat terbuka di UGM. ulama ini menantang para lawan debatnya, "Tunjukan pada saya dalil usholi dalam al Quran dna Hadis. jika Anda dapat menunjukannya, maka silahkan ambil mobil dan motor saya sebagai hadiah untuk Anda."

saya pikir, ulama LDII hebat, berani dan memiliki keyakinan yang kuat. tapi mengapa ada harus ada larangan, "jangan baca buku-buku syiah, jangan berdialog dengan orang syiah." ? saya heran tidak habis pikir.  saya didoktrin untuk patuh apapun perintah imam. tapi sayapun merasa saya berhak untuk tahu, apa pendapat pihak lain tentang sesuatu. Jika saya menutup diri dari pengetahuan yang datang dari pihak lain, saya merasa dzalim terhadap diri sendiri, merasa ada di jalan yang salah.

Semboyan orang LDII adalah "barongan-barongan mundur, anget-anget kebo maju." berlandas pada sebuah dongeng, dahulu ada seorang raja dengan kemaluan yang besar dan panjang. saking panjangnya, rajapun tidak sulit berjalan sendiri dan melihat ujung kemaluannya, maka para pengawal memikulnya. tiba-tiba ujung kemaluan itu menyentuh sesuatu. Raja bertanya, "apaan nih, kok rasanya sakit ?"

"barongan" jawab pemikul.

"mundur!" titah raja.

Lalu mereka mundur dan putar arah. tidak lama kemudian, kemaluan itu menyentuh sesuatu lagi. Raja bertanya lagi, "apaan ini, rasanya anget-anget ?"

"kebo." pemikul serempak.

"kalo begitu, majuuu!" perintah raja.

dongeng itu untuk menjelaskan, "kalo lawan debat susah dipengaruhi mundur dan jangan layani. kalo lawan debat mudah dipengaruhi, lanjutkan."

itu juga yang melandasi larangan berdialog dengan orang-orang syiah. salah satu imam kelompoknya berkata, "Bapak Imam sudah mewanti-wanti, agar kita tidak berdialog dengan orang syiah. nanti kita bisa terpengaruh. keimanan kita jadi rusak. karena orang syiah itu pinter-pinter."

Walaupun saya mencintai sahabat-sahabat saya di LDII, walaupun saya menyukai kegiatan-kegiatan di LDII, walaupun saya mengagumi keunggulan-keunggulan LDII, tapi dengan ketujuh alasan yang saya kemukakan, pembaca dapat menilai, apakah saya memiliki alasan yang benar untuk meninggalkan LDII atau tidak ? Silahkan Anda nilai sendiri.

Dan alasan saya, masih banyak lagi. tidak bisa saya tulis dalam sekali duduk. keinginan untuk mengemukakan mengungkapkan alasan saya secara lebih lengkap, merupakan dasar bagi saya untuk menyusun Jurnal LDII.
 1. Logika Yang Dikalahkan Cinta
« Edit Terakhir: Agustus 06, 2016, 02:57:23 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ciptojunaedykeyen

 

Offline ciptojunaedykeyen

Re: Alasan Menyusun Jurnal LDII
« Jawab #2 pada: Juni 01, 2017, 11:03:30 AM »
Baca juga ke situs pribadi warta ldii, disini http://ldii-qhj.blogspot.com/ official warta ldii
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
2719 Dilihat
Tulisan terakhir November 11, 2013, 01:30:04 AM
oleh Kang Asep
LDII

Dimulai oleh Kang Asep My Journal

2 Jawaban
1184 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 15, 2014, 10:52:21 AM
oleh Asep
0 Jawaban
818 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 07, 2015, 08:46:29 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
2174 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 22, 2017, 10:35:00 AM
oleh Kojer Al Ghozali
1 Jawaban
798 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 01, 2017, 11:08:33 AM
oleh ciptojunaedykeyen
0 Jawaban
151 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 21, 2016, 08:46:28 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
342 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 28, 2016, 02:32:49 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
279 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 28, 2016, 11:50:58 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
160 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 24, 2017, 07:34:59 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
13 Dilihat
Tulisan terakhir November 08, 2017, 03:52:46 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan