Penulis Topik: Praktik Mistik yang Pertama  (Dibaca 383 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 385
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Praktik Mistik yang Pertama
« pada: Oktober 06, 2016, 11:55:49 AM »
Jika saya ingin membuka mata batin, maka yang perlu saya lakukan adalah menghentikan proses berpikir. kenapa ? karena pikiran ini cenderung memikirkan objek-objek yang ditangkap langsung oleh panca indera, seperti apa yang ditangkap oleh mata dan telinga. hal ini, membuat kita tidak menyadari objek-objek yang sebenarnya tertangkap oleh mata batin. seperti seorang anak yang sedang asyik menonton TV, saat dia dipanggil ibunya, anak tsb tidak menyahut, karena tidak mendengar akibat teralu asyik menonton TV.

sepanjang waktu, makhluk-makhluk gaib berbicara pada kita. tapi kita tidak mendengar dan menyadarinya. kenapa ? karena kita sibuk dengan "drama alam dunia". karena itu, dengan menon-aktifkan fungsi panca indera, serta menghentikan proses berpikir, maka objek-objek lain yang tidak tertangkap oleh panca indera kemudian jadi dapat tertangkap oleh kesadaran.

Untuk menghentikan proses berpikir, itu bukanlah persoalan mudah. coba anda duduk diam, selama satu menit. dan amati pikiran anda sendiri. dapatkan Anda berhenti berpikir dalam satu menit saja ? jika Anda tidak bisa, maka fahamilah bahwa pikiran anda yang selalu ingin berpikir, berpikir dan terus berpikir, itulah yang merupakan hijab bagi mata batin Anda.

Sebagian orang ada yang menganggap dirinya sanggup memghentikan proses berpikir dalam waktu lebih dari 1 menit. tapi sebenarnya dia tidak benar-benar mampu. dia merasa proses berpikirnya berhenti hanya karena tidak mampu mengamati gerakan pikirannya dengan benar. karena itu, amati keadaan pikiran anda dengan seksama, untuk memastikan, apakah anda dapat benar-benar menghentikan proses berpikir atau tidak.

Selama ini, mungkin Anda tidak pernah tahu bagaimana sulitnya menghentikan proses berpikir, karena anda tidak pernah berusaha untuk menghentikan proses berpikir. dan anda tidak berupaya, karena Anda tidak tahu apa pentingnya menghentikan proses berpikir. Tetapi, setelah seseorang yakin bahwa mata batin dapat dibuka dengan berhentinya proses pemikiran, maka dia akan berupaya untuk menghentikan proses berpikir, dan tahulah seberapa sulitnya dalam menghentikan proses berpikir ini.

Mereka yang sudah terlatih, pikirannya mudah menyatu dan mencapai keheningan. mudah baginya mengendalikan, menundukan dan menghentikan proses berpikir. sehingga mereka selalu mudah untuk melihat ke alam-alam lain yang tidak dapat dilihat oleh panca indera. tetapi, mereka yang belum cukup terlatih, butuh cara untuk mempermudah konsentrasi, mempermudah berhentinya proses berpikir.  cara yang mempermudah itu setidaknya ada empat cara, yaitu pertama,  memikirkan hal-hal bermanfaat sampai pikiran menjadi lelah. kedua, dengan berdoa, ketiga dengan memperbanyak hafalan, keempat dengan praktik moralitas yang luhur. keempat faktor ini dapat menjadi pijakan yang kuat bagi konsentrasi, sehingga dengan landasan ini nantinya pikiran akan mudah menyatu, mudah dikendalikan dan mudah dihentikan proses pemikirannya.


Bagaimana cara melelahkan pikiran ? yaitu dengan mengendalikan dan mengarahkan pikiran pada hal-hal yang bermanfaat untuk dipikirkan. dan dalam proses berpikir, tunduk pada kaidah-kaidah berpikir benar, yaitu Logika. Praktik ini membuahkan dua manfaat. manfaat yang pertama adalah berkembangnya ilmu dan pengetahuan. dan ini akan terus berlangsung hingga kondisi di mana pikiran menjadi lelah. kondisi lelahnya pikiran ini adalah suatu kondisi yang tepat untuk pengembangan batin. karena itu, ketika saya belajar, memikirkan ilmu pengetahuan, merenungkan sesuatu, itu saya anggap anggap sebagai "Praktik Mistik yang pertama". dengan berpikir itu sebenarnya saya sedang "buang beban", sedang mengangkat hijab yang menutupi mata batin. tidak lah terlau penting ilmu pengetahuan yang dipelajari itu, tetapi terangkatnya hijab yang menyelimuti batin, itulah yang lebih penting.

kebanyakan orang tidak menyukai kondisi lelahnya pikiran. tapi bagi saya, itu adalah kondisi yang seolah ditunggu-tunggu. sebab, saat pikiran lelah untuk berpikir adalah kesempatan berharga untuk mengembangkan konsentrasi. tapi "sialnya", pikiran saya ini jarang lelah memikirkan sesuatu, seakan tanpa lelah dan tanpa bosan. Ini berarti gairah yang besar untuk belajar, haus akan ilmu pengetahuan. kondisi ini berbanding terbalik dengan orang yang sering malas dalam belajar.

saya ingat dengan komentar kang Adiemus, di mana menyatakan seolah melihat saya tanpa "lelah berpikir". inilah problem saya. saya sulit sampai pada keadaan lelah pikiran, jauh dari rasa bosan dan kejenuhan. menurut Dale Carnagie, sebenarnya memang pikiran itu tidak ada lelahnya. yang dapat mengalami lelah itu adalah tubuh/fisik kita. dan tubuh dapat menjadi cepat lelah karena ketegangan mental. ketegangan mental melelahkan tubuh. dan kemudian kelelahan ini diidentifikasi sebagai "kelelahan pikiran". tandanya orang yang lelah berpikir adalah "malas berpikir" atau "malas belajar". dan menurut Dale Carnagie lagi, cara yang tepat untuk mengatasi kelelahan pikiran adalah dengan cara rileks, kalo perlu sering beristirahat sejenak. seseorang dapat mengangkat lebih banyak beban, jika diberi kesempatan sering istriahat sejenak. di banding dengan mereka yang harus mengangkat beban terus menerus tanpa henti. seperti mengangkat sbuah gelas kosong, dan mengucungkannya ke langit, tentu ini pekerjaan yang mdah. tetapi, bila kita menahan tangan kita pada posisi mengangkat gelas tersebut selama satu jam, tentu akan sangat berat dirasakan. bahkan tidak mustahil kita akan membutuhkan pertolongn dokter UGD karenanya. tapi kalo kita bekerja memindah-mindahkan barang dari keranjang ke atas rak di sebuah supermarket, maka kita dapat melakukannya sepajang hari tanpa mengakibatkan rasa sakit yang fatal. seperti itu  pula kita dalam berpikir. jika kita jarang-jarang memberi jeda, maka pikiran akan sangat cepat sekali menjadi lelah.

beri jeda sejenak dan santai, berpikir dengan rileks, kendurkan segala otot dan syaraf ketika berpikir, inlah yang dapat menghindarkan diri kita dari kelelahan berpikir, sehingga kita dapat memikirlah lebih banyak persoalan yang memang perlu untuk kita pikirkan.

Pertanyaannya, jika kondisi lelahnya pikiran merupakan kesempatan yang berhaga untuk mengembangkan batin, lalu kenapa kita harus menghindari kondisi kelelahan berpikir ? mana yang benar, kondisi lelahnya pikiran itu harus kita cari atau kita hindari ?


kita jangan membuat diri kita menjadi lelah. tetapi, saat kita menjadi lelah, maka kita harus bersyukur dan dapat memanfaatkan kondisi lelah tersebut. untuk hal ini, ingin saya gambarkan dengan kasus-kasus berikut :

ada pemuda yang selalu mengeluh , dia merasa berdosa dan menyesal karena memiliki gairah seksual yang tinggi. nafsu birahinya sangat kuat. karena itu, dia berusaha untuk meredamkannya. bahkan secara ekstrem, kalo bisa dia ingin mencabut nafsu seks itu dari dirinya untuk selama-lamanya. karena itu, dia bertanya pada saya tentang bagaimana cara melakukannya.

sementara itu, ada pemuda lain yang sudah menikah, dia mengeluh karena lemahnya gairah seks yang dia miliki. rumah tngganya terancam hancur karena persoalan itu. dia mau mengeluarkan biaya berapapun besarnya, yang penting dapat menormakan kembali kekuatan libidonya.karena itu, dia bertanya pada saya tentang bagaimana caranya.

saya jadi ingin tersenyum geli. orang yang dianugerahi daya seks kuat, tidak terima dengan keadaannya dan ingin keadaan yang lainnya, dan ingin mengenyahkannya. orang yang dicabut gairah seksualnya juga gak terima dengan kedaannya, dan berharap keadaan lainnya. itulah sifat manusia, yang tidk pernah puas dengan keadaan dirinya.

dulu, setiap saya bangun pagi, saya menyesal karena telah tertidur dengan pulas. waktu itu, seolah-olah tidur nyenyak adalah dosa bagi saya. karena itu, bila mala tiba saya melumuri tubuh saya dengan getah kolang-kaling, yang rasanya panas dan gatal. sehingga saya tidak bisa tidur hingga berminggu-minggu lamanya. waktu itu,saya memandang bahwa tidur lebih dari dua jam dalam semalam adalah perbuatan tercela.

sementara ada seseorang yang begitu menderita karena penyakit insomnia. dia tidak bisa tidur selama berminggu-minggu. stress dan depresi. untk dapat tidur, harus berobat dan membeli obat-obtan yang cukup mahal. dia sangat berharap dirinya bisa tidur nyenyak. dia berkata, "betapa beruntungnya orang yang dapat tidur dengan nyenyak."

itu juga menggelikan. sementara saya yang dianugerahi rasa kantuk, berusaha untuk hidup tanpa tidur. sedangkan orang lain yang dicabut rasa kantuknya, berupaya untuk mengantuk. hati saya bertanya-tanya, "mengapa manusia tidak pernah puas dengan keadaannya saat ini  dan selalu menginginkan hal berbeda ?"

Jika orang merasa ngantuk pada saat khutbah jum'at, adalah hal baik bila dia berusaha untuk mengusir rasa kantuk itu dengan berbagai cara. tapi, pertama mengusir rasa kantuk tidak berarti harus menyesali adanya rasa kantuk. tidak perlu pula menganggapnya sebagai hal salah. dan kedua, ada yang lebih baik dari pada mengusir rasa kantuk itu, yaitu dengan mensyukuri dan memanfaatkannya, tanpa perlu menganggapnya sebagai sebuah kesalahan. mereka yang berupaya kerasa melawan rasa kantuk , itu pertanda belum mengetahui cara memanfaatkannya. sebab, mereka yang tahu cara memanfaatkannya, rasa kantuk itu tidak dilawan, tapi disalurkan.

Demikian pula dengan kondisi "lelahnya pikiran". saya tidak berusaha untuk membuat pikiran lelah. tapi, proses berpikir akan sampai pada kondisi "lelah pikiran". saya belajar tidak dengan niat melelahkan pikiran. tetapi, itu memang dapat melekahkan pikiran. seperti bila saya menulis tidak dengn niat melelahkan jari jemari saya, tetapi memang itu dapat melelahkan jari jemari saya. namun, ketika kelelahkan pikiran itu muncul, sya tidak menyesalinya, tidak mengaggapnya salah dan buruk, tapi melihatnya seperti "sebuah kesempatan berharga", atau seperti "kondisi yang menguntungkan". Pikiran yang lelah atau tubuh yang sakit, bagi saya itu seperti pintu menuju alam-alam gaib. karena itu sekali lagi saya sampaikan bahwa "melelahkan pikiran", dalam arti berpikir benar dan berfilsafat merupakan praktik mistik yang pertama.



« Edit Terakhir: Oktober 06, 2016, 12:02:17 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ari saka

Re: Praktik Mistik yang Pertama
« Jawab #1 pada: Oktober 06, 2016, 02:16:19 PM »
Kalian orang2 yang Hebat, Saya kagum
 

Offline Ari saka

Re: Praktik Mistik yang Pertama
« Jawab #2 pada: Oktober 06, 2016, 02:20:27 PM »
Saya baru register mhon bimbingannya, salam kenal dan hormat saya
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
2187 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 11, 2013, 11:16:32 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
3927 Dilihat
Tulisan terakhir April 16, 2013, 09:29:37 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1863 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 03, 2013, 06:39:33 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
559 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 14, 2013, 06:57:30 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
842 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 02, 2014, 05:12:00 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1452 Dilihat
Tulisan terakhir September 21, 2015, 07:59:39 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
568 Dilihat
Tulisan terakhir November 14, 2014, 01:21:07 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1408 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 30, 2014, 09:49:16 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
466 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 04, 2016, 07:24:18 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
298 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 03, 2016, 01:54:28 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan