Penulis Topik: Mengembangkan Kesaktian dengan Logika  (Dibaca 7739 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9274
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 354
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Mengembangkan Kesaktian dengan Logika
« pada: April 08, 2013, 05:48:18 AM »
Sebelum membaca artikel ini, ada baiknya terlebih dahulu membaca artikel berjudul “Prestasi Krachtology”,  “Keajaiban Krachtology” dan “Energi Shakti” di medialogika.org. Dalam artikel tersebut, dijelaskan tentang bagaimana logika menjawab kegelisahan murid yang merasa dirinya kurang berkembang dalam kemampuan-kemampuan krachtology. Dan itu merupakan gambaran, bagaimana logika memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan supranatural. Walaupun kemampuan-kemampuan supranatural berkembang, setelah pikiran meninggalkan proses pemikiran dan logika itu sendiri, tetapi akibat kekeliruan berpikir atau kesalah fahaman, pikiran itu tidak mau berhenti bertingkah, menjadi penghambat dan bahkan menghancurkan kemampuan-kemampuan batin. Pikiran seperti ini harus dibenahi terlebih dahulu oleh logika. Setelah pikiran bersih dari penyimpangan-penyimpangannya, maka pikiran dapat diam dalam damai. Dari sinilah kesaktian yang murni akan berkembang. Dan oleh karena logika itu membantu menghilangkan hambatan batin, maka dapat dikatakan bahwa logika membantu pengembangan kemampuan-kemampuan supranatural, yaitu kesaktian itu.

Jika Anda mampu berjalan di atas air atau melayang di udara tanpa bantuan alat apapun, maka Anda akan dikatakan sakti. Dalam waktu singkat, akan akan memperoleh kemasyhuran. Fenomena kemasyhuran ini dapat kita lihat contohnya pada Master Limbad yang mampu menunjukan kekuatan-kekuatan Adi Kodrati.  Inilah sisi menarik dari dunia supranatural, seseorang bisa lekas populer dengan menunjukan kemampun-kemampuan supranatural. Tapi faktanya, sangat jarang orang berani menunjukan kemampuan-kemampuan supranatural. Pada umumnya ahli-ahli batin menyembunyikan kemampuan-kemampuan mereka atas banyak pertimbangan. Terlepas apakah kemampuan-kemampuan supranatural itu boleh dipertontonkan atau tidak, yang jelas bagi sebagian orang, kemampuan-kemampuan Adi Kodrati itu itu sangat menarik, menakjubkan bahkan mengobsesi.

Sayangnya, ketika kita mempelajari ilmu-ilmu kesaktian, kita menemukan jalan yang rumit dan terjal, tak seindah yang mungkin kita bayangkan. Tadinya kita ingin menguasai beberapa ilmu kesaktian untuk menyelesaikan beberapa problem dalam kehidupan. Tapi setelah mulai mempelajarinya, kita dihadapkan kepada problem baru, sehingga problem dalam kehidupan kita bertambah dengan satu jenis masalah, yaitu masalah pengembangan kemampuan supranatural. Bagaimana caranya menjadi kebal terhadap senjata tajam? Bagaimana bisa berjalan di atas air? Bagaimana caranya melayang di udara tanpa bantuan alat apapun? Ini adalah problem-problem baru yang harus dijawab oleh mereka yang terobsesi oleh kemampuan-kemampuan Adi Kodrati tersebut.


Apakah Anda tertarik untuk mempelajari ilmu tenaga dalam, yang dengan ilmu tersebut Anda akan mampu memadamkan api lilin dari jarak 10 meter hanya dengan cara menatapnya saja? Jika Anda tertarik dengan ilmu telekinesis tadi, maka Anda akan mulai bertanya, “Bagaimana caranya?” Sebenarnya teorinya mudah, yaitu “Tatap saja api lilin  dari jarak 10 meter, bayangkan dan rasakan bahwa dari mata Anda keluar energi menuju lilin tersebut, mampu menggerakan nyala lilin ke kiri, ke kanan, depan belakang, berputar, dan kemudian Anda bayangkan energi itu menerpa nyala lilin dengan kuat hingga api menjadi padam.” Dalam beberapa detik saja, Anda akan faham teori sederhana ini. Sejak kecil hingga dewasa, saya terus berlatih ilmu tenaga dalam. Tapi bila sekarang saya menyalakan lilin, dan mencoba memadamkannya dengan energi Tenaga Dalam dari jarak 10 m, maka saya tidak dapat memadamkannya. Bila saya menaruh secarik kertas di hadapan saya, maka saya tak dapat menerbangkan secarik kertas tersebut dengan energi tenaga dalam, bahkan tidak dapat menggeserkannya barang 1 inchi pun. Apakah ini artinya ilmu tenaga dalam saya sia-sia? Atau apakah ilmu tenaga dalam itu merupakan kebohongan? Nanti pertanyaan ini akan saya jawab.

Sekarang, bila ada orang yang ingin berguru ilmu tenaga dalam kepada saya dan berpikir dengan ilmu tenaga dalam tersebut ia mampu menjatuhkan manusia dari jarak jauh, maka seharusnya dia berpikir ulang. Karena, kalau saya sebagai calon gurunya saja tidak mampu menerbangkan secarik kertas yang beratnya tidak lebih dari seratus gram, maka bagaimana saya akan bisa mengajarkan seseorang untuk menjatuhkan tubuh manusia yang bertanya puluhan kilo gram dari jarak jauh? Walaupun begitu, faktanya kini saya terus belajar dan  mengajar ilmu tenaga dalam. Saya bisa berkata, “Kalau Anda ingin belajar ilmu tenaga dalam kepada saya, maka Anda menemukan orang yang tepat, tapi kalau Anda ingin memiliki kemampuan menerbangkan secarik kertas dengan energi tenaga dalam, maka Anda salah orang. Anda harus mencari guru yang lain. Dan jika Anda bermaksud belajar memukul fisik orang hingga orang itu terjatuh dari jarak jauh, tentu itu lebih mustahil lagi.”

Ilmu tenaga dalam yang saya ajarkan bukanlah untuk menjatuhkan orang lain, tapi untuk menjatuhkanh diri sendiri dikenal dengan konsep Tri Rasa. Lha kok menjatuhkan diri sendiri? itu sama seperti Anda ingin mencubit orang lain, coba cubit dulu diri sendiri! apa sakit? Kalau Anda merasakan sakitnya cubitan, apa Anda masih mau mencubit orang lain? Demikian pula, kalau Anda merasakan sakitnya jatuh, bagaimana Anda mau menjatuhkan orang lain?

Apa itu Tri Rasa? Yaitu Rasa Jatuh, Rasa Terjatuh dan Rasa Dijatuhkan. Ketika merasakan energi tenaga dalam, dan Anda mengalah dengan energi tenaga dalam itu, mengikuti kemana arah dorongan energi tersebut sampai Anda jatuh, nah inilah yang disebut “Rasa Jatuh”. Ketika energi tersebut menjadi kuat dan semakin kuat, bahkan energi ini menjatuhkan Anda sebelum Anda sadar dengan apa yang terjadi, maka inilah “Rasa Terjatuh”. Kemudian, Anda akan dipukul oleh pelatih dari jarak jauh dengan menggunakan energi tenaga dalam sampai Anda terjatuh. Inilah “Rasa Dijatuhkan”. Setelah memperoleh Tri Rasa ini, kini Anda bagaimana kondisi yang bisa membuat orang jatuh, terjatuh dan bisa dijatuhkan. Dan Anda mengerti, tidak bisa begitu saja orang lain dijatuhkan tanpa suatu kondisi yang menjadi syarat terjadinya hal tersebut. Prinsipnya, tidak ada yang bisa menjatuhkan seseorang, kecuali dirinya sendiri. jadi, bagaimana cara membuat orang lain jatuh, adalah bagaimana membuat orang itu menjatuhkan dirinya sendiri dengan energi Tenaga Dalam kita. Tetapi secarik kertas, tidak dapat menerbangkan dirinya sendiri. Itulah mengapa energi Tenaga Dalam Anda tidak bisa membuat dirinya sendiri terbang. Harus difahami bahwa energi Tenaga Dalam memukul bagian mental, bukan fisik.

Karena tidak mapan dalam logika, banyak orang salah faham dengan Tenaga Dalam. Tenaga Dalam dianggap mampu memukul bagian fisik seseorang. Salah satu contoh kesalah fahaman ini adalah apa yang dilakukan oleh seseorang yang dianggap master Tenaga Dalam yang sparing dengan petarung dengan ahli beladiri dari perguruan non Tenaga Dalam. Akibatnya si mater tersebut babak belur .  Tampaknya si mater mengira Tenaga Dalam nya mampu memukul fisik lawannya.

Logika kita dihadapkan pada pertentangan proposisi :

“Tenaga Dalam dapat mempengaruhi materi”
“Tenaga Dalam tidak dapat mempengaruhi materi”

“Tenaga Dalam dapat memukul fisik orang lain”
“Tenaga Dalam tidak dapat memukul fisik orang lain”

“Tenaga Dalam dapat digunakan untuk menerbangkan secarik kertas”
“Tenaga Dalam tidak dapat digunakan untuk menerbangkan secarik kertas”.

Tampaknya itu merupakan pertentangan kontrari yang mustahil benar keduanya. Tapi faktanya kalimat-kalimat adalah benar. Inilah salah satu contoh bagaimana para penempuh ilmu-ilmu mistik dibingungkan oleh berbagai fakta yang tampaknya kontradiksi dan membingungkan ketika dipikirkan. Tapi logika mampu mengurai semua itu dengan jernih, sehingga segala sesuatunya dapat difahami sebagaimana adanya. Bila para ahli supranatural enggan untuk membekali diri dengan logika, maka pintu untuk penyimpangan dan kesesatan menjadi terbuka lebar baginya.

Semua kalimat tersebut pada contoh di atas adalah benar, karena itu bukan pertentangan kontrari, melainkan subkontrari di mana sifat subkontrari adalah “mustahil sama-sama salah, tapi bisa sama-sama benar”. Bila kalimat-kalimat itu termasuk subkontrarir berarti kalimat itu berbunyi :

“Sebagian Tenaga Dalam dapat digunakan untuk menerbangkan secarik kertas.”
“sebagian Tenaga Dalam tidak dapat digunakan untuk menerbangkan secarik kertas”.

Tenaga Dalam tak ubahnya seperti angin. Faktanya Tenaga Dalam lebih halus dari angin. Kalau angin yang dihembuskan melalui mulut kita mampu untuk memadamkan api lilin, maka hembus Tenaga Dalam yang dikeluarkan oleh tangan kita tidak akan cukup untuk membuat api lilin ini padam. Dalam tingkat konsentrasi ke enam atau ke tujuh, barulah kita bisa memadamkan api lilin tersebut. dan orang yang mampu mencapai tingkat konsentrasi ke tujuh tersebut tergolong kepada para master, ahli batin yang memiliki kekuatan energi Tenaga Dalam yang jarang tandingannya. Perhatikan perbandingan energi yang dibutuhkan untuk memadamkan api lilin dengan hembusan angin dan energi Tenaga Dalam! Betapa jauh lebih besarnya energi Tenaga Dalam dibanding dengan energi angin yang kita tiupkan untuk memadamkan nyala lilin.

Dan kekuatan angin yang lebih besar dari itu, seperti angin puting beliung, angin tornado adalah kekuatan raksasa yang sangat dahdyat. Bukan sekedar api lilin, tapi seekor sapipun akan terbang ke udara seakan secarik kertas. Demikian pula, Tenaga Dalam memang mempunyai potensi untuk bisa menerbangkan benda-benda semacam secarik kertas, seekor sapi atau bahkan sebongkah batu yang sangat besar. Tapi perhatikan perbandingannya dengan energi angin tornado! Kekuatan angin raksasa ini berapa kali lipat dari dari hembusan angin yang kita tiupkan dari mulut kita? Sepertinya itu jutaan kali lipat. Nah, sekarang bandingkan energi Tenaga Dalam yang diperlukan yang bisa digunakan untuk bisa menghancurkan sebongkah batu? Apakah mungkin kita memiliki energi sebesar itu? bukan mustahil, tapi hampir mustahil. Sebagaimana dikatakan oleh Sang Guru, bahwa energi Tenaga Dalam yang dibutuhkan untuk memadamkan sebuah nyala lilin itu sangatlah besar.

Ketika seorang murid saya menyesali dirinya sambil berkata, “mengapakah setelah satu tahun saya belajar Tenaga Dalam dari Anda, saya belum bisa mamadamkan sebuah nyala lilin dari jarak satu meter sekalipun. Sedangkan kawan saya yang belajar Tenaga Dalam dari perguruan Tenaga Dalam dari perguruan lain, dia sudah mampu melakukannya, padahal dia baru saja belajar Tenaga Dalam selama tiga bulan.”

Indikasi kebohongan. Tapi saya tidak boleh hanya menduga sebelum membuktikannya. Maka saya berkata padanya, “Bawa dia kemari, atau bawa saya kepada kawan kamu itu. biarkan dia menunjukan kekuatannya di hadapan saya, jika perkataan kamu itu benar!”. Faktanya, murid saya itu enggan membawa saya kepada kawannya, dan tidak pula mau membawa kawannya itu kepada saya. Tapi saya tidak akan mengatakan dia berbohong, hanya tidak bisa mengatakan bahwa berita yang disampaikannya itu benar.

Lalu, untuk apa kita membangun energi yang hasilnya tidak mampu untuk sekedar menyalakan api lilin dari jarak satu meter?

Masih ada seribu satu pertanyaan. Terjawab satu, muncul seribu. Karena seorang pemikir tidak akan pernah puas berpikir. Seorang penanya tidak akan puas bertanya. Seorang pencari ilmu tidak akan puas dengan ilmu yang didapatkannya. Sayangnya, sumber ilmu dan jawaban belum tentu selalu tersedia bagi dirinya. Oleh karena itu, sebaiknya para pelajar yang sedang tekun mempelajari ilmu-imu supranatural hendaknya membekali diri dengan logika. Karena, seringkali semua jawaban yang ditanyakan itu sudah ada dengan jelas pada dirinya sendiri. logika akan membantu menguraikan benang kusut pikiran dan membuat kita mampu membaca pengetahuan dengan jernih.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Mengembangkan Kesaktian dengan Logika
« Jawab #1 pada: April 08, 2013, 09:36:18 AM »
Quote (selected)
Logika kita dihadapkan pada pertentangan proposisi :

“Tenaga Dalam dapat mempengaruhi materi”
“Tenaga Dalam tidak dapat mempengaruhi materi”

“Tenaga Dalam dapat memukul fisik orang lain”
“Tenaga Dalam tidak dapat memukul fisik orang lain”

“Tenaga Dalam dapat digunakan untuk menerbangkan secarik kertas”
“Tenaga Dalam tidak dapat digunakan untuk menerbangkan secarik kertas”.


ketika berbicara tentang tenaga dalam, bagi sebagian orang yang belum mengerti tentangnya akan rentan menemui kebuntuan dalam proses berfikir. objek yang dibicarakan belum bisa dimengerti sepenuhnya, maka pengaruh objek tsb terhadap hal lain pun akan sulit terbayangkan, kecuali bagi yang sudah bisa memilah memposisikan antara logika dan empiris dengan benar.

jika masih belum bisa memilah dan memposisikan antara logika dan empiris, maka keabstrakan objek empiris akan mengganggu proses berpikir secara logika.
jika sudah bisa memilah dan memposisikan antara logika dan empiris, maka tidak peduli seabstrak apapun sebuah objek empiris, tidak akan mengganggu kejelian dalam proses berpikir secara logika.

nah, untuk sedikit mengurangi kemungkinan buntunya pemikiran, kita bisa mensiasatinya dengan mengurangi tingkat keabstrakan objek tsb. salah satu caranya dengan menganalogikannya dengan sesuatu yang lain namun masih berada dalam ruang lingkup yang sama.
misalnya, dengan cara mengubah kata "tenaga dalam" dengan "tenaga pukulan tinju". keduanya berbeda namun masih berada dalam satu ruang lingkup yaitu "tenaga".

maka tinggal diganti saja:
“tenaga pukulan tinju dapat mejatuhkan orang lain”
“tenaga pukulan tinju tidak dapat menjatuhkan orang lain”

dapat dengan mudah difahami bahwa pertentangan tsb bukanlah pertentangan kontrari.
tenaga pukulan tinju, dapat atau tidaknya menjatuhkan orang lain, bergantung kepada seberapa besar tenaga pukulan tinju? seberapa kuat pertahanan orang yang akan dijatuhkan tsb?

sama2 tenaga pukulan tinju, tapi dapat menjatuhkan orang lain, dapat pula tidak.

begitu juga dengan tenaga dalam!
itu yang bisa saya simpulkan dari apa yang disampaikan Kang Asep...
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9274
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 354
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Mengembangkan Kesaktian dengan Logika
« Jawab #2 pada: April 08, 2013, 09:51:59 AM »
oleh karena itu, kang Sandy, sebenarnya sebuah karya tulis itu harus jelas sasaran pembacanya. untuk siapa tulisan tersebut. kalau tidak tepat sasaran, maka bisa menimbulkan kebingungan.

sebenarnya sasaran pembaca dari tulisan saya tersebut adalah "para pelajar krachtology" yang sudah mencapai tingkat "Sabuk Biru". saya memahami fakta-fakta empiris apa saja yang sudah mereka temukan, dan bagaimana problematika pemikiran mereka. ini pula sebabnya, mengapa selama ini kami tidak membukukan krachtology, karena sebenarnya bab-bab ilmu pada tingkat lanjut merupakan "rahasia" bagi para pelajar pemula. jika mereka membacanya, itu bisa menimbulkan kebingungan luar biasa.

satu saja syaratnya, agar para pelajar krachtology tidak menjadi bingung dalam mempelajari krachtology pada bab-bab tingkat lanjut, walaupun kemampuan mereka dibidang krachtology masih pada tingkat dasar, yaitu dengan menguasai logika. dengan logika, mereka tidak akan merasa buntu atau bingung. mereka akan mampu mengurai struktur realitas melalui bentuk-bentuk kalimat. dengan mengacu pada bentuk-bentuk umum dari kalimat, mereka mampu melakukan hipotesa. melalui hipotesa ini, mereka akan menyelidiki realitas.

adapun saya posting artikel tersebut di sini, karena ini adalah forum logika. biar materi-materi mistisisme ini menjadi tantangan bagi kemapanan logika kita semua. sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, bahwa "mistitsisme adalah tantangan logika".
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1277 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 11, 2012, 10:01:10 AM
oleh Kang Asep
11 Jawaban
2304 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 15, 2015, 03:31:11 AM
oleh alfianpase
7 Jawaban
2098 Dilihat
Tulisan terakhir November 13, 2015, 10:49:34 PM
oleh Ziels
2 Jawaban
5826 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 31, 2013, 02:39:36 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
791 Dilihat
Tulisan terakhir November 16, 2014, 08:43:29 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
591 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 15, 2015, 10:14:24 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1544 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 11, 2015, 04:45:39 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
880 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 18, 2015, 01:03:53 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1104 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 25, 2015, 03:16:00 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
221 Dilihat
Tulisan terakhir April 10, 2017, 09:37:00 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan