Penulis Topik: Kilesa  (Dibaca 755 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9340
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 381
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kilesa
« pada: Januari 15, 2014, 06:24:23 PM »
Ketika aku mulai memejamkan mata, menarik dan mengeluarkan nafas dengan tenang, memasuki alam persemedian, maka kutemukan fakta-fakta, bukan hasil penalaran Logika, bukan pula hasil kalkulasi matematia, tapi fakta yang terbuka karena berkembangnya Konsentrasi dan kesadaran.

Dalam semediku ini, kulihat hal-hal berbahaya yang mengancam umat manusia, sangat penting, sangat mendesak untuk dipikirkan dan disikapi, tapi sulit kukakatan. Sebab, barang siapa belum melihatnya sendiri, tentu sulit memahaminya. Untuk memikirkan sesuatu, tentu orang perlu mengetahui objek sebagai makna dari symbol kata. Oleh karena itu, saya ingin mengajak semua orang untuk melihatnya sendiri, melalui jalan praktik Mistik.

Tapi, aku ingat dengan janjiku, bahwa aku tidak akan mengajarkan ilmu batin, kecuali kepada yang telah mapan dalam Logika menurut standar yang telah saya tetapkan sendiri. Kini aku bertanya ragu, apakah mengucapkan janji yang benar, mengingat berapa lamakah waktu yang diperlukan untuk sampai pada kemapanan logika ? sedangkan hal-hal berbahaya sudah menyerang umat manusia. Bagaimana kiranya bila orang hanya memutar-mutar Pikirannya dengan logika pada fakta-fakta yang hanya mampu ditangkap oleh pancaindranya ?

Pada mulanya, memang tidak ditemukan apapun saat memulai Meditasi, keculai nafas yang berhembus, keluar dan masuk. Lama-alam saya menyadari bahwa ada hambatan-hambatan konsentrasi dan hambatan kesadaran. Salah satu bentuk hambatan ini aadlah ketegangan-ketegangan tubuh. Meditasi akan sulit berkembang, apabila hambatan-hambatan ini belum teratasi.

Dengan terus mengembangkan konsentrasi dan kesadaran, disertai dengan teknik relaksasi, ketegangan tubuh terasi. Munculah hambatan-hambatan lain, diantaranya munculnya bayangan-bayangan dalam Pikiran yang disebut dengan kilesa, diantaranya berupa bayangan-bayangan yang sangat menakutkan dan sekaligus menjadi pertanda kotornya batin. Sebelum bermeditasi, bayangan-bayangan menakutkan tersebut tidak muncul. Tapi mengapa, justru setelah meditasi bayangan-bayangan tersebut malah muncul ? karena terjadi secara berturut-turut, maka orang bisa mengira bahwa meditasi itulah yang menyebabkan munculnya kilesa. Tentu saja ini keliru, dan termask kepada Fallacy Of False Causa.  Karena kilesa bisa muncul pada orang yang tidak bermeditasi, dan kadang tidak muncul pada orang yang bermeditasi. Sebenarnya, apakah orang itu bermeditasi atau tidak, kilesa itu tetap ada di sana. Meditasi hanyalah suatu cara untuk menyadarinya saja.

Kilesa bisa merupakan bayangan yang indah, bisa pula merupakan bayangan yang buruk. Banyak para praktisi mistik yang berhenti pada kilesa, dan menganggap munculnya kilesa ini sebagai bentuk wangsit, ilham atau petunjuk. Ini keliru, kilesa indah maupun buruk, merupakan hambatan bagi meditator.

Munculnya kilesa yang buruk, sebenarnya sudah cukup memberikan pengertian kepada meditator, bahwa ada bahaya besar yang mengancam dirinya, sehingga dia mengubah cara berpikir dan gaya hidupnya. Lalu dia menjadi seperti kesatria yang pergi ke medan laga, untuk berperang melawan kilesa. Sementara mereka yang tidak melihat kilesa ini, merasa tidak ada bahaya apapun, lalu diam tidak melakukan apapun. Bahaya tersebut bukan tidak ada, bukan pula tidak mengancam, bahkan mungkin telah lama merusak jiwa raganya, namun dia tidak menyadarinya. 
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan