Komunitas Para Pemikir

Mistik => Mistisisme => Topik dimulai oleh: Kang Asep pada Januari 16, 2014, 09:29:00 PM

Judul: Kekuatan Untuk Memahami
Ditulis oleh: Kang Asep pada Januari 16, 2014, 09:29:00 PM
Apakah di dalam tubuh maupun batin, seringkali orang mengalami kesakitan. Meditasi (http://medialogika.org/index.php?topic=2540.0) adalah cara untuk mengatasi kesakitan tersebut.

Sebenarnya, kesakitan  tubuh maupun batin ada di dalam Pikiran (http://medialogika.org/index.php?topic=2542.0). Ketika pikiran ini terkendali, maka kesakitan itu teratasi. Sebagai contoh, suatu kesakitan pada tubuh bisa disebabkan oleh ketegangan syaraf-syaraf, yang diawali oleh ketegangan mental. Dengan kata lain, pikirannya sendiri yang membuat tubuh tersebut tegang. Hal ini seringkali tidak disadari, sehingga penyembuhannya berarti upaya menyadari ketegangan-ketegangan ini dan melepaskannya.

Selama hayat dikandung badan, kita akan mengalmi hal-hal menyakitkan. Rasa Sakit (http://medialogika.org/index.php?topic=2539.0) adalah anugrah. Tubuh sangat membutuhkan adanya rasa sakit ini. Tanpa rasa sakit, tubuh akan kehilangan kekuatan untuk mempertahankan diri, sehingga ia akan cepat rusak. Meditasi bukan cara untuk menghilangkan rasa sakit yang sejatinya berguna ini, tapi bagaimana agar pikiran dapat dengan mudah menanggung beban sakit ini.

Ketika pikiran tidak terbebani oleh kesakitan di dalam tubuh maupun batin, ia akan memiliki kekuatan untuk memahami. Oleh karena itu, “kekuatan untuk memahami” ini menjadi suatu ciri, apakah pikiran seseorang cukup menanggung banyak beban atau tidak. Jika dia tidak terkendala oleh beban-beban menyakitkan, maka kecerdasan seseorang akan termanifestasikan melalui kemampuannya dalam memahami segala sesuatu.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “cara terbaik untuk mengatasi penderitaan adalah dengan mengabaikannya. Jika tidak, engkau tidak akan pernah bahagia.”

Sebenarnya penderitaan itu harus difahami, mengapa ia ada di sana dan untuk apa. Dan ketika pikiran memiliki kekuatan untuk memahami penderitaan itu, berarti ia mempunyai kekuatan untuk mengabaikan penderitaan sebagai beban, sehingga ia tidak lagi melihat penderitaan sebagai beban, melainkan sebagai petunjuk menuju Bangkitnya Pengetahuan Yang Membebaskan (http://medialogika.org/index.php?topic=2743.0).