Penulis Topik: Kegembiraan  (Dibaca 105 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kegembiraan
« pada: Januari 30, 2018, 03:55:58 PM »
Kegembiraan
Edisi : 30 Januari 2018, 15:40:07

"Hidup ini perlu kegembiraan". Ini merupakan kalimat yang sering saya katakan. Karena itu, "bergembiralah dalam hidup ! Dan gembirakan orang-orang yang ada di sekitar kita ! Berilah kabar gembira, kepada mereka yang berbuat kebaikan." Tapi pada satu kesempatan, sayapun pernah mengatakan "Rasa gembira adalah musuh kesadaran." Ini terkesan kontradiksi. Tapi benarkah itu kontradiksi ?

Bangunlah di pagi hari dengan perasaan penuh syukur dan gembira. Sambut hari dengan senyuman. Jangan membuat pertengkaran di pagi hari, agar hidup bergembira sepanjang hari. Hidup yang ceria diawali dari pagi yang gembira.

Apabila Anda seorang kepala keluarga, luangkan waktu di akhir pekan, untuk mengajak keluarga anda bergembira. Ajak anak-anak berwisata ke tempat-tempat yang tidak saja memberikan rasa gembira, tetapi juga memberikan edukasi. Biarkan mereka belajar dari alam dengan gembira.

Lalu, bagaimana saya mengatakan "rasa gembira merupakan musuh kesadaran" ?

A ) setiap rasa gembira adalah musuh kesadaran
O ) sebagian rasa gembira bukan musuh kesadaran

mana yang benar ?

Yang benar adalah O, sebagian rasa gembira bukan musuh kesadaran.

A) setiap rasa gembira itu dibutuhkan
O) sebagian rasa gembira tidak dibutuhkan

mana yang benar ?

Yang benar adalah O, sebagian rasa gembira tidak dibutuhkan.

Salah satu tujuan meditasi adalah mengembangkan kesadaran. Dalam suatu pengalaman, perkembangan kekuatan kesadaran hingga tahap-tahap tertentu ditandai dengan munculnya kekuatan-kekuatan supranatural. Salah satunya adalah levitasi, di mana tubuh terangkat dari bumi seolah-olah gaya gravitasi tidak bekerja lagi. Ketika seorang meditator mengalami ini, kemudian dia melihat dirinya melayang di udara, lalu dia merasa gembira. Dan karena merasa gembira, kesadaran melemah dan lalu kekuatan supranatural itu lenyap. Diapun terjatuh. Karena itu, dalam kondisi ini "kegembiraan merupakan musuh kesadaran".

Dalam hidup sehari-hari, kita dapat bercanda ria dan tertawa bersama keluarga. Ini hal yang berguna untuk membangun harmoni keluarga. Tetapi saat Anda memasuki persemedian, berdzikir dan bermunajat pada Tuhan yang Maha Kuasa, di situ Anda harus berhenti bercanda, berhenti tertawa. Karena tawa Anda akan menghambat berkembangnya konsentrasi dan kesadaran. Sama halnya Anda yang masih duduk di bangku sekolahan. Sebelum masuk kelas, bolehlah Anda bercanda ria bersama teman-teman. Tetapi, apabila Anda sudah memasuki ruang kelas, di situ Anda perlu berkonsentrasi, khusyuk, dengan serius menyimak pengajaran yang diberikan guru. Canda ria di waktu yang tidak tepat, dapat merupakan gangguan. Demikian pula, rasa gembira, apabila muncul pada saat yang tidak tepat, itu dapat menjadi musuh kesadaran.

Salah seorang tetangga saya, dia seorang pendekar dan bertubuh kekar. Tapi suatu hari tiba-tiba dia pingsan, karena terlalu gembira mendapatkan hadiah sebesar 40 juta rupiah. Ini menunjukan, rasa gembira dapat membuat seorang pendekar sekalipun jatuh pingsan. Maka seperti itu pula, rasa gembira dapat melemahkan kekuatan batin, melenyapkan kekuatan-kekuatan supranatural, sehingga disebut "musuh kesadaran".  Tapi di akhir pekan, saat Anda berlibur bersama keluarga, rasa gembira adalah sahabat keluarga. Dengan demikian, situasi dan kondisi yang menjadikan rasa gembira sebagai musuh ataukah sahabat.

Saat Anda mendapat pujian, janganlah gembira. Karena itu musuh kesadaran. Saat anda mendapatkan kabar bahwa Anda akan memperoleh keuntungan yang besar dari usaha Anda, janganlah bergembira. Itu juga musuh kesadaran. Saat Anda mendapatkan hadiah yang banyak, hati-hati dengan rasa gembira. Karna itu dapat melemahkan kekuatan kesadaran Anda.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
725 Dilihat
Tulisan terakhir November 13, 2013, 11:08:44 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1367 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 05, 2014, 10:19:12 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
798 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 06, 2015, 08:41:15 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan