Penulis Topik: Jalan Untuk Melampaui Kecerdasan  (Dibaca 1899 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Jalan Untuk Melampaui Kecerdasan
« pada: November 06, 2012, 04:46:50 PM »
Jalan Untuk Melampaui Kecerdasan

Mencari Akar Kekacauan Dunia
Peradaban manusia, budaya, ekonomi, ilmu pengetahuaan dan teknologi berkembang oleh karena kekuatan pikiran manusia. Tapi seiring berkembangnya peradaban manusia dengan sistem teknologi nya yang semakin canggih, maka kerusakan yang diakibatkannyapun semakin parah, sementara moralitas manusia semakin merosot, dunia semakin kotor dan penuh kedzaliman. Semua itu tidak lepas dari peran pikiran sebagai pendahulu. Sehingga untuk memahami akar dari kekacauan dunia ini, seharusnya dilihat pada akarnya yang paling dasar, yaitu pikiran.

Awal Mula Terjadinya Pikiran Yang Destruktif
Tertarik oleh hal-hal yang menyenangkan, terdorong oleh kebencian, tertindas oleh kegelisahan, berlandas kepada ketidak tahuan, inilah awal mula terjadinya pemikiran yang destruktif. Pikiran yang dipengaruhi oleh keserakahan dan kebencian ini mempunyai semangat yang luar biasa untuk bekerja, sehingga melahirkan manusia-manusia yang cerdas, bahkan jenius dalam bidang ilmu pengetahuan. Apalagi keserakahan manusia tidak pernah terpuaskan. Manusia selalu menguras pikirannya, bagaimana cara untuk memuaskan keserakahannya yang sebenarnya tidak akan kunjung puas.

Kecerdasan Destruktif
Di sini dapat dilihat bahwa kecerdasan dipengaruhi oleh sifat-sifat yang tidak suci, yaitu hawa nafsu. Walaupun tampaknya kecerdasan ini membangun, tapi sejatinya kecerdasan jenis ini  tidak hanya merusak alam sekitar, melainkan juga akan merusak dan menyakiti diri manusia itu sendiri, sehingga timbulah kesakitan pada tubuh dan mental. Perhatikan para mafia narkoba misalnya, para penjahat kelas dunia, dan para koruptor. Sebenarnya mereka semua orang yang cerdas karena mampu melakukan hal-hal yang luas biasa dalam kejahatannya, yang tentunya tidak mungkin tanpa ilmu dan keahlian. Tapi sayang kecerdasan mereka bersifat destruktif, mengakibatkan kerusakan pada dirinya sendiri dan alam sekitarnya.

Walaupun kecerdasan yang destruktif itu menimbulkan rusaknya kehdiupan, tetapi kerusakan ini belum tentu dapat dilihat dan disadari. Seperti koruptor yang tidak sadar bahwa tindakan korupsinya menyengsarakan rakyat banyak, karena yang ia lihat adalah “membahagiakan” keluarga yang ia cintai. Tidak pula ia menyadari bahwa tindakannya itu menimbulkan kesakitan pada tubuh dan batinnya sendiri.  Akhirnya, secara cepat atau lambat, kecerdasan yang dimilikinya akan terkuras oleh kesakitan dirinya.

Pengaruh Kondisi Tubuh Terhadap Kecerdasan
Pemikiran-pemikiran yang berlandas kepada keserakan dan kebencian pada mulanya dapat melahirkan kecerdasan. Ketika penjahat sedang giat mempelajari ilmu kejahatannya, ia tidak menyadari bahwa proses itu telah menimbulkan kerusakan di dalam sistem tubuhnya, sehingga ia menguasai ilmu tertentu yang akan digunakannya untuk kejahatan. Ketika ia menggunakan ilmu yang dikuasainya untuk kejahatan, ini juga menimbulkan kerusakan lebih lanjut pada dirinya. Sampai akhirnya kerusakan yang timbul tidak bisa diabaikan lagi, bersifat mengganggu bahkan menyiksa. Dalam kondisi ini, kecerdasan mulai terkuras.

Saya teringat kepada seorang preman yang “jago” berkelahi, tubuhnya dipenuhi dengan tato. Dilehernya menggantung tengkorak manusia. Orangnya sangat kasar, mudah main pukul , main bacok. Banyak sudah orang yang teraniaya oleh dia. Tapi saat dia jatuh sakit, lenyapnya seluruh kekasarannya, ketangguhannya tidak terlihat lagi. Siang malam dia menangis, mengeluh dan menjerit, masih kalah tangguh dengan anak-anak yang sedang bermain gembira di halaman rumah. Dalam kondisi ini, bukan saja tubuhnya yang lemah, tapi pikirannya pun lemah.

Tubuh yang sakit akan mengurangi kadar kecerdasan manusia. kecerdasan di pengaruhi oleh kesehatan tubuh.  Apabila tubuh sakit, kecerdasan menurun, karena pikiran lebih sulit mengingat dan berpikir. Semakin keras sakit yang dirasakan, maka pikiran semakin sulit untuk berpikir dan mengingat. Pada kondisi sakit yang eksterm, pikiran akan sulit mengingat apapun dan sulit memikirkan apapun. Inilah kondisi di mana seluruh kecerdasan destruktif yang bersifat duniawi tercabut.

Apa yang harus dilakukan saat seluruh kecerdasan duniawi tercabut?
Semua manusia mau tidak mau akan sampai pada kondisi sakit yang esktrem, yaitu pada saat sakaratul maut. Saat dimana seluruh kecerdasan duniawi tercabut akibat kerasnya rasa sakit yang dirasakan. Apabila ilmu pengetahuan dan semua kecerdasan yang dimiliki seseorang sudah tidak berfungsi lagi, maka apakah yang harus dilakukan? Seandainya manusia mengetahui betapa segala teori ilmu yang dipelajarinya di dunia tidak berfungsi saat menghadapi rasa sakit yang luar biasa, maka tentu mereka tidak akan menghabiskan umur untuk mempelajari sesuatu yang kiranya kelak tidak akan berfungsi. Seandainya manusia mengetahui betapa dahsyatnya kondisi yang harus dihadapi pada saat sakaratul maut, tentu mereka akan lupa dengan dunia ini, serta mengarahkan segala perjuangannya untuk mempersiapkan masa akhir hayat mereka.

Tapi kekuatan apa yang harus dimiliki untuk menghadapi dahsyatnya sakratul maut? Jika manusia hanya berpegang kepada kekuatan pemikirannya, maka kekuatan tersebut akan lenyap saat ajal sakaratul maut, kecerdasan duniawi akan musnah. Dan pada saat itu, ia akan melihat seberapa besar kerusakan yang telah diakibatkan oleh pikirannya sendiri. Oleh karena itu, seharusnya manusia mempersiapkan diri menghadapi sakit yang dahsyat pada saat sakaratul maut tersebut, bukan dengan kekuatan pemikiran atau kecerdasan duniawi, tapi dengan kesucian jiwa, keheningan pikiran, serta melatih moralitas dalam kehidupan sehari-hari.  Manusia juga dapat berlatih menghadapi dahsyatnya sakaratul maut ketika menghadapi penyakit dan rasa sakit yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Tanpa latihan dan persiapan, semua manusia tetap harus menghadapi “sakit yang dahsyat”.  Bedanya mereka yang siap, mampu menjaga kesentosaan pikirannya saat “sakit yang dahsyat” itu muncul. Sedangkan mereka yang tidak siap akan mengalami kekacauan pikiran. Kedamaian pikiran akan membawa seseorang pada alam-alam surgawi. Sedangkan kekacauan pikiran akan membawa seseorang untuk memasuki alam-alam neraka. Seorang yang pikirannya terlatih, ia dapat menjaga kesentosaan pikirannya pada saat sakit yang dahsyat itu menerjang dirinya. Tetapi, orang yang tidak terlatih, ia pikirannya akan menjadi kacau, ketika rasa sakit yang kecil menyerang dia.  Dengan demikian, berjuang bersungguh-sungguh mempertahankan kedamaian batin adalah makna dari jihad.

Memahai Sebab-Akibat
Kondisi tubuh yang sakit jelas-jelas mempengaruhi kondisi pikiran. Oleh karena itu dapat dikatakan “kondisi tubuh” menjadi sebab  “kondisi pikiran”.  Tapi ada teori yang berkebalikan, yaitu “kondisi pikiran” yang menajdi sebab “kondisi tubuh”.  Karena gas lambung yang berlebihan, pikiran seseorang lebih sulit terkendali, sering membayangkan hal yang buruk-buruk. Atau sebaliknya, karena sering membayangkan hal yang buruk-buruk, maka gas lambung jadi berlebih. Mana yang benar? Ini seperti mencari tahu, mana yang lebih dulu, telor atau ayam.

Olahraga dapat menimbulkan perasaan gembira pada batin seseorang. Oleh karena itu “gerakan tubuh” disebut menjadi sebab bagi kondisi batin. Tetapi semua gerakan tubuh itu juga berasal dari dorongan batin, dari kehendak. Dengan demikian, kondisi batin mengkondisikan tubuh. Hal ini seperti sebuah lingkaran yang tidak berujung. Tapi sebenarnya, perlu ada perbedaan antara “kondisi batin yang awal” dengan “kondisi batin yang akhir”. Suatu kehendak menimbulkan gerakan tubuh. “kehendak” tersebut merupakan kondisi batin awal. Dan “rasa gembira” yang ditimbulkan oleh sistem gerakan tertentu merupakan kondisi batin akhir. “Gerakan Tubuh terentu” merupakan kondisi awal. Sedangkan “sehatnya tubuh” merupakan kondisi tubuh yang akhir. Batin yang awal mengdondisikan tubuh yang awal. Tubuh yang awal mengkondisikan batin yang akhir. Batin yang akhir mengkondisikan tubuh yang akhir. Demikian seterusnya, menjadi deret rantai sebab akibat yang sangat panjang. Para ahli batin melukiskan kondisi tersebut : berawal dari Tuhan, berakhir pada Tuhan, berasal dari Tuhan kembali kepada Tuhan. Tuhan itu sebab yang paling awal, dan akibat yang paling akhir.
« Edit Terakhir: November 06, 2012, 04:51:51 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Jalan Untuk Melampaui Kecerdasa
« Jawab #1 pada: November 06, 2012, 04:50:11 PM »
Menuju Pada Meredanya Pemikiran
Salah satu penyebab buruknya kondisi tubuh adalah proses berpikir yang berlandas kepada keserakahan dan kebencian. Aktifitas berpikir yang terus menerus, terdorong oleh semangat tertentu dapat menyebabkan kelelahan dan kesakitan pada tubuh dan mental. Walaupun hal-hal yang dipikirkan adalah sepertinya hal-hal baik, bersifat positif dan keilmuan, tapi tetap saja bisa menimbulkan hal-hal buruk, bersifat negatif. Setiap waktu manusia selalu berpikir. Tenaga manusia lebih banyak dihabiskan dengan aktifitas berpikir dari pada aktifitas fisik, sampai pada suatu kondisi di mana seharusnya orang berhenti berpikir untuk melepaskan ketegangan pada tubuh dan mental, tapi ia tidak dapat berhenti. Pikiran liar dan sulit dikendalikan. Ini kemudian yang menimbulkan terjadinya  “gerakan pikiran yang menyakitkan tubuh dan mental”.  Selama berlandas kepada keserakahan, kebencian dan ketidak tahuan, maka pikiran apapun yang muncul itu menuju kepada hal-hal yang membingungkan dan menyakitkan.  Hal itu karena sistem berpikir menuju pada berkembangnya pemikiran, bukan menuju pada meredanya pemikiran. Seharusnya, sistem berpikir yang baik menuju pada meredanya pemikiran.

Apabila keserakahan berkurang, kebencian dihilangkan, maka pemikiranpun mereda. Pikiran tidak lagi tertarik dengan hal-hal yang menyenangkan, tidak pula menolak hal-hal membencikan, ia tentram dalam keadaan tanpa pemikiran, hening tanpa sebarang pengetahuan yang menggoda untuk diketahui. Inilah jalan menuju keheningan pemikiran, tanpa keserakahan, tanpa kebencian dan tanpa kehendak untuk mengetahui hal-hal yang berlandas pada ketidak tahuan.

Setelah sampai pada kondisi tanpa pemikiran, keadaan tanpa pengetahuan, orang tidak lagi mengetahui kemana ia akan pergi, dari mana ia berangkat. Tapi dia tidak pernah merisaukan hal itu seperti risau dan takutnya orang yang tersesat jalan di hutan belantara. Ia tenang, aman dan nyaman dalam keadaan tanpa pemikiran, tanpa sesuatupun yang diketahui. Disinilah letak indahnya keheningan.

Saat pikiran turun dari keheningan, tampak dengan sangat jelas baginya manusia-manusia merealisasikan nafsu keserakahannya tidak saja melalui perbuatan jasmaninya, melainkan melalui pikirannya yang berpikir. Berpikir begini, berpikir begitu, yang padahal kesemuanya hanya penjelamaan dan keserakahan dirinya, kehendak untuk mencapai kepuasan intelektual. Oleh karena itu, siapa yang telah memahami hakikat keheningan, ia tidak akan takut salah berpendapat, tidak takut dipersalahkan, karena baginya semua pemikiran adalah salah apabila ia tidak menuju kepada suatu alam “tanpa pengetahuan”, tanpa pemikiran. Sebaliknya, semua pemikiran itu benar, apabila ia menuju pada keheningan, meredanya pemikiran.

Jalan Untuk Melampaui Kecerdasan
Di alam dunia ini, manusia selalu menguras pikirannya untuk mencari tahu mana benar, mana salah, mana adil dan mana ketidak adilan. Tetapi di alam sana, tidak ada sesuatu yang disebut benar, tidak pula ada yang salah, tidak ada keadilan maupun ketidak adilan. Makhluk-makhluk sucipun harus turun ke permukaan bumi untuk menyelami apa itu benar, apa itu salah, bagaimana bentuk keadilan dan bagaimana bentuk ketidak adilan.

Kebenaran selalu berperang melawan kebatilan. Pikiran-pikiran yang salah kalah dengan pikiran-pikiran yang benar. Pikiran-pikiran yang benar kalah dengan pikiran yang hening. Kepada keheningan itulah seharusnya seluruh pikiran menuju. Oleh karena itu, selain melihat apakah suatu pikiran itu benar dan salah, hendak pula dilihat, apakah suatu pikiran itu menuju keheningan ataukah bukan pada keheningan.

Setelah sampainya pikiran pada keheningan, ketika kemudian ia bergetar, maka getarannya itu menyentuh pengetahuan tanpa berpikir. Ia tahu tanpa kehendak mengetahui. Ia mengerti tanpa diajari. Dari sisi inilah “wahyu” berasal. Gerakannya tidak di dorong oleh keserakahan, tidak pula bertolak dari kebencian, melainkan bergerak dari kasih sayang ilahiah yang tulus murni. Perasaan kasih inilah yang menjadi landasan pikiran orang-orang suci dalam bertindak dengan pikiran, perkataan dan tubuhnya. Pikiran apapun yang muncul tidaklah menyakitkan, melainkan menyembuhkan.  Sebelumnya pikiran harus tunduk peda ilmu pengetahuan. Setela ia sampai pada keheningan yang suci, maka pengetahuan tunduk pada pikiran.

Ada sebuah kisah yang bisa melukiskan, bagaimana “ilmu” tunduk kepada “pikiran”. Dahulu kala, salah seorang wali, yaitu Sunan Gunung Djati pergi berkelana ke negeri  Cina. Di sana beliau menyebarkan ajaran Islam. Hal tersebut kemudian di dengar oleh seorang raja. Ia ingin menguji ilmu Suna. Maka ia datang dengan membawa putrinya yang cantik, dan memasukan sebuah kuningan ke dalam perut putrinya sehingga putrinya terlihat seperti sedang hamil. Di hadapan sunan, raja itu berkata, “Putriku ini sedang hamil, cobalah terangkan kepada saya, apakah bayi yang dikandungnya itu laki-laki atau perempuan.”

Sang Sunan menjawab bahwa bayinya itu adalah laki-laki. Mendengar jawaban sunan, raja tertawa dan mengejek sunan, serta merendahkan keilmuannya. “putriku tidak hamil. Aku mengikatkan kuningan ke perutnya.” Raja pun kembali ke kerajaannya. Tetapi sesampainya di istana sang raja bingung, karena kuningan yang tadi diikatkan ke perut putrinya itu lenyap. Dan kini putrinya benar-benar dalam keadaan hamil. Akhirnya sang raja kembali kepada Sunan, serta mengakui keluhuran sunan.

Terlepas apakah cerita tersebut benar atau tidak, tapi itu adalah gambaran, bagaimana sebuah kenyataan berubah, tunduk pada kehendak pikiran orang suci. Ini yang dimaksud “ilmu” tunduk kepada pikiran.

Dalam kisah lain, Abu Lahab seorang  yang sangat membenci nabi Muhammad saw, mencoba membuat lubang jebakan untuk Nabi. Tapi pada saat nabi datang, Abu Lahab lupa dengan jebakannya, hingga ia terjatuh ke dalam lubang yang dibuatnya sendiri. Lubang itu hanya sedalam dua meter. Teman-teman Abu Lahab berusaha menolongnya dengan melemparkan tali ke dalam lubang agar Abu Lahab dapat keluar dari luang. Tapi ajaibnya, tali tersebut tidak kunjung sampai kepada Abu Lahab, sehingga Abu Lahab tidak dapat meraihnya. Padahal teman-temannya menurunkankan tali yang sangat panjang ke dalam lubang itu. Terlepas dari benar salahnya cerita ini, juga merupakan gambaran, bagaimana “fakta berubah” tunduk pada kesucian. Masih banyak kisah lainnya, seperti Ibrahim a.s yang tidak terbakar api, Isa a.s yang berjalan di atas lautan, Musa yang membelah lautan, dan berbagai hal yang tampaknya bertentantangan dengan “hukum alam”.

Bandingkan pula dengan kebiasaan perkataan orang tua yang mengkhawatirkan anak-anaknya. Misalnya, “jangan hujan-hujanan, nanti sakit! jangan makan pereman, nanti giginya rusak! Jangan nangis, nanti digigit musang!” dan lain sebagainya. kata-kata yang biasanya dihindari oleh para ahli batin, sebab menurut apa yang dikatakan itu bisa benar-benar terjadi. jika seseorang memiliki kekuatan batin yang tinggi, ia harus pandai-pandai menjaga pikirannya. sebab, apa yang dipikirkannya bisa segera terjadi. Misalnya, ketika ia melihat seorang anak sedang memanjat pohon, lalu muncul kekhawatiran bahwa anak itu akan jatuh. maka seketika itu juga si anak terjatuh sesuai dengan apa yang dibayangkan oleh pikirannya.

Memanglah kita sebagai makhluk yang berpikir, harus sejalan kepada ilmu, harus rasional, ilmiah dan logis. Ketika pergi ke dokter, kita memperoleh penjelasan harus makan ini, gak boleh makan itu, harus melakukan ini dan tidak boleh melakukan itu. Semua saran dokter itu tentu berdasarkan ilmu. Dan apabila kita mengharapkan kesembuhan, tentu kita harus mengikuti apa petunjuk dari dokter. Akan tetapi, suatu saat dalam kondisi tertentu, semua jalan ilmu pengetahuan dan logika akan menemukan jalan buntu. Segala obat seakan hilang khasiatnya. Bahkan obat yang seharusnya menyembuhkan jadi menyakitkan. Nah, pada saat inilah kita harus memahami bahwa setelah semua jalan ilmu dan logika ditempuh, tidak juga memberikan jalan keluar yang diharapkan, maka kembalikan semua kepada Sang Pemilik Ilmu, yaitu Tuhan. Sebab bila Tuhan menghendaki, api bisa menjadi dingin, racunpun bisa menjadi obat yang menyembuhkan. Inilah intisari dari keheningan, yang berarti jalan yang ditempuh untuk melampaui kecerdasan murni, yang tidak berlandas kepada hawa nafsu.
« Edit Terakhir: November 06, 2012, 05:09:02 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Jalan Untuk Melampaui Kecerdasan
« Jawab #2 pada: November 07, 2012, 05:00:31 PM »
"Hening" dengan "Fana", apakah keduanya memiliki makna yang sama kang?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Jalan Untuk Melampaui Kecerdasan
« Jawab #3 pada: November 07, 2012, 05:09:18 PM »
sama

fana <= istilah sufi
hening < = istilah meditasi
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1623 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 29, 2012, 02:02:26 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
15997 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 03, 2013, 03:51:11 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
795 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 26, 2014, 08:16:50 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
615 Dilihat
Tulisan terakhir November 29, 2014, 05:08:54 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
435 Dilihat
Tulisan terakhir April 04, 2015, 11:22:05 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
494 Dilihat
Tulisan terakhir April 01, 2016, 02:51:24 PM
oleh kang radi
0 Jawaban
653 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 21, 2016, 07:37:22 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
262 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 28, 2016, 09:15:26 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
227 Dilihat
Tulisan terakhir November 06, 2016, 02:32:37 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
303 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 10, 2017, 09:54:50 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan