Penulis Topik: Inilah Meditasi  (Dibaca 963 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9202
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Inilah Meditasi
« pada: Agustus 31, 2013, 09:07:22 AM »
Daftar Isi
====================
1. Tujuan Meditasi
2. Pencapaian Meditative
3. Cita Rasa Meditasi
4. Inilah Meditasi
====================

4. Inilah Meditasi
Edisi : 18 Oktober 2017, 13:23:21

Sebagian orang menempatkan diri saya terlalu tinggi, terlalu baik atau terlalu suci. Ini membuat diri saya cemas. Karena sebenarnya saya tidak sebaik yang dipikirkan orang itu. Hal yang membuat saya cemas adalah, mereka yang menempatkan saya terlalu tinggi, itu berpotensi akan menjatuhkan saya darti tempat tinggi tersebut kemudian, akibat tidak menerima kekurangan yang ada pada diri saya.  Padahal sejak awal, jangankan mengaku diri sebagai nabi atau wali, disebut ustadz saja rasanya enggan. Semakin tinggi saya ditempatkan, maka akan semakin sakit ketika dijatuhkan. Seandainya tidak diangkat terlalu tinggi, apabila dijatuhkanpun tidak terlalu sakit.

Setiap orang memiliki aib. Sebagian besar aib tertutup rapat sebagai rahasia.  Itu hal bagus. Semestinya aib seseorang memang ditutupi. Karena namanya aib, itu memalukan. Akan tetapi, apabila tertutupnya aib itu membuat orang menempatkan saya terlalu tinggi, maka ini malah menjadi buruk. Jadi, teringat perkataan guru saya sewaktu di pesantren, dia berkata, "hiasilah dirimu dengan kelemahan dan kekurangan !" waktu itu saya tidak mengetahui artinya. Tetapi sekarang, saya berpikir bahwa menampakan kelemahan dan kekurangan diri terkadang diperlukan, agar orang-orang tidak keliru menempatkan diri saya dalam pandangannya. Bila keyakinan akan kesempurnaan menghalangi seseorang dari belajar, hendaknya dia belajar untuk melihat dan menerima kekurangan dari seseorang yang dianggap guru.

Sebagaimana manusia lainnya, saya memiliki rasa ketertarian yang kuat terhadap hal-hal yang bersifat duniawi. Sebagaimana para pria pada umumnya, sayapun senang dan tertarik pada wanita-wanita cantik.  Saya juga menyukai makanan dan minuman yang enak-enak, juga menginginkan uang yang banyak. "Ana basyarum mislukum", saya adalah manusia, sebagaimana Anda. Tidak pernah sekalipun saya mengaku suci. Dalam menghadapi persoalan hidup sehari-hari, saya tidak selalu sabar, terkadang saya marah, jengkel, sedih dan kadang-kadang juga merasa putus asa. Tubuh sayapun tidak terbuat dari baja atau besi. Tulang saya bisa patah, kulit sayapun dapat robek, saya merasakan lapar dan dahaga, juga sewaktu-waktu mengalami sakit demam.

Tetapi di dalam kehidupan ini, saya telah ditakdirkan bertemu dengan para ahli mistik, para guru meditasi, di mana saya belajar pada mereka tentang ilmu batin, tata cara bermeditasi dan melakukan praktik mistik. Sehingga ketika dunia ini terasa terlalu menyakitkan bagi saya, maka seperti kura-kura masuk ke dalam tempurungnya - dia menarik kepala, kaki dan ekornya ke dalam batok - seperti itu pula saya menarik panca indera ke dalam jiwa saya, dengan menutup mata, mentulikan terlinga, serta mematikan rasa raga, kemudian manunggal di dalam pikiran. Disitulah saya mengalami kebebasan dari segala rasa sakit, tanpa kegelisahan, tanpa kesedihan, tanpa rasa takut, tak ada kecemasan, dan semacamnya, ny7aman tenang dan seimbang. Kemudian sukma saya dapt melepaskan diri dari raga nya, menembus bumi, menyelam ke dasar lautan, berjalan melewati gunung atau terbang ke atas awan. Semua itu pengalaman tersebut sangat menakjubkan, menjadi obat dari segala kesusahan.

Usai menjalani praktik mistik seperti itu, maka keadaan menjadi berubah. Dunia terlihat menjadi sangat indah seperti alam surgawi, tetapi tidak ada lagi hal-hal di dunia ini yang diinginkan. Dunia hanya terlihat indah saya tanpa menimbulkan nafsu keinginan. Tak ada lagi wanita-wanita cantik yang mempesona, apalagi membangkitkan birahi. Wanita cantik akan terllihat indah dan menakjubkan saja, sebagai ciptaan Tuhan yang Maha Indah, tapi di sisi lain, melihat manusia pria atau wanita tak beda dengan melihat tulang terbungkus daging saja.

Pandangan berubah seketika setelah melewati penempaan mental di dalam meditasi. Bukan hanya pandangan, cara bicara, cara berjalan dan cara bersikap akan berubah drastis. Tak ada lagi yang ingin dikatakan, tidak lagi rewel, tak suka banyak ngomong, kecuali seperlunya saja. Melangkahkan kaki dengan pelan, berjalan di atas permukaan bumi dengan tenang dan penuh keyakinan, tak lagi bernafsu terhadap makanan. Merasakan perut sebagai tempat terburuk di dunia yang harus diisi sesuatu. Seandainya bukan karena kewajiban untuk menyantuni tubuh, niscaya enggan untuk makan.

Perilaku seseorang dipengaruhi oleh keadaan jiwanya. Ketika batinnya mengalami perubahan yang radikal, maka perilakunya pun akan berubah secara radikal. Tetapi, tidak ada suatu kondisi batin yang kekal. Kwalitas batin manusia mengalami keadaan naik dan turun dengan cepat. Karena itu, seorang sufi yang pagi-paginya begitu penyabar, sore harinya tidak mustahil menjadi pemarah. Malam harinya sebagai orang bijaksana, pagi harinya menjadi pandir. Karena itu seorang sufi berkata pada saya, "Apakah karamah tertinggi dari seorang wali ?"

saya jawab, "tidak tahu".

"Karamah tertinggi adalah istiqamah."

Bagi sebagian orang, mudah untuk mengembangkan batin sampai pada titik yang tinggi, sehingga mengubah pribadinya menjadi seorang penyabar, berbelas kasihan, penyayang, dan bijaksana. Tetapi istiqamah dalam kesabaran, istiqamah dalam kebijaksanaan, ini merupakan hal yang sangat sulit.  Dalam kisah disebutkan, seorang seperti Barsisho yang kabarnya telah mencapai tingkat wali, dapat jatuh ke dalam lembah nista, maka apalagi manusia yang masih jauh dari pada derajat wali-wali. Tidak ada jaminan keselamatan.

Karena itu, jika ada yang melihat  kesabaran, keikhlasan, ketekunan, semangat, kejujuran dan hal-hal lain yang bajik di dalam diri saya, maka itu kebetulan belaka. Esok lusa, tidak ada jaminan saya dapat tetap sabar dalam menghadapi sesuatu. Orang lain melihat saya dalam keadaan marah, jengkel,  putus asa serta keadaan-keadaan buruk lainnya. Apabila saya mengatakan "kita ini harus sabar dan ikhlas", itu berarti saya sedang menasihati "kita", yang berarti termasuk diri saya sendiri.

Berikut saya ceritakan sisi hidup saya sebagai manusia biasa yang penuh dengan kekurangan dan kelemahan. Kisah ini juga menjelaskan, bagaiman bentuk praktik meditasi dalam hidup sehari-hari.
« Edit Terakhir: Oktober 17, 2017, 01:30:12 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9202
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Inilah Meditasi
« Jawab #1 pada: Oktober 17, 2017, 01:30:22 PM »

Suatu hari, saya terkena penyakit batuk disertai dengan sesak. Setelah seminggu, belum juga mereda. Sayapun berobat ke dokter. Kata dokter, batuk dan sesak tersebut karena alergi dingin atau debu. Lalu dokter memberi obat dan menyarankan saya istirahat kerja dua hari.

Setelah dua hari saya minum obat tersebut, batuk dan sesak tidak terasa mereda. Malah sekarang pinggang saya terasa panas, menjalar ke kaki. Kata dokter di UGD Uber, gejala seperti itu adalah gejala batu ginjal. Sayapun curiga, apa mungkin saya punya penyakit batu ginjal, atau panas di pinggan itu akibat dari mengkonsumsi obat dari dokter.

Mulanya pinggang saya tidak terasa panas. Hari pertama minum obat, pinggang saya jadi panas banget. Hari kedua, semakin panas. Hari ketiga saya berhenti minum obat, rasa panas di pinggang berkurang.

Bandung, 30 Agustus 2013, pagi hari saya terbangun dalam kondisi tubuh kurang bugar, akibat pekerjaan yang terlalu over, juga karena penyakit batuk, sesak dan pinggang yang panas. Rencananya hari ini saya hendak mengambil cuti kerja. Tapi atasan saya malah menelepon, meminta saya untuk menghadiri acara workshop. Saya tahu, itu acara yang sangat penting. Sayapun berangkat ke Hotel Yaheskiel, menghadiri undangan.

Sebelum masuk ruangan, para peserta workshop berkumpul di loby hotel. Terlihat satu sama lain saling berbincang. Ada juga yang sibuk dengan sms atau telepon. Ada juga yang duduk sendiri dengan santainya. Ada juga yang tampak sendiri dan kaku, seperti saya.

Tidak seorangpun dari peserta workshop itu yang saya kenal. Mereka adalah kumpulan para pengusaha. Dari busana saja sudah dapat terlihat, bahwa mereka berasal dari kaum elite. Hati saya berkata, “seharusnya saya mulai beriteraksi dengan mereka, berkenalan, menjalin komunikasi, sekedar mengakrabkan diri, menjalin persaudaraan atau bahkan mungkin memulai berbisnis dengan mereka.” Tapi anehnya, seperti ada sesuatu yang menghalangi saya untuk melakukannya, atau sepertinya saya terlalu kaku, atau kurang berani untuk berinteraksi, atau mungkin saya kurang percaya diri. Entahlahlah!

Selama mengikuti workshop, konsentrasi saya agak terganggu dengan rasa sakit pada pinggang. Kadang-kadang rasanya seperti mau pingsan, saking sakitnya. Tapi materi-materi workshop itu sangat penting bagi saya, agar saya lebih mampu meningkatkan profit perusahaan.

Jam sebelas, peserta workshop istirahat karena harus menjalankan ibadah shalat jum`at. Bersama yang lain, saya berjalan menuju sebua mesjid. Tapi di perjalanan, rasa sesak dan pinggang yang panas menyerang kuat. Saya berpikir, jika kondisinya seperti ini terus, tampaknya saya tidak akan kuat mengikuti workshop hingga sore hari atau bahkan mungkin saya pingsan ketika shalat jum`at. Sayapun berbalik arah, berjalan menelusuri jalan Pahlawan. Saya pikir, hari ini saya tidak akan melaksanakan shalat jum`at, dan akan menggantinya dengan shalat dzuhur saja.

Sepanjang perjalanan, saya bertemu dengan perempuan-perempaun cantik mojang priangan yang cantik dan seksi abis. Ketika melihat kecantikan mereka, rasanya sangat menyenangkan, mengagumkan, mempesonakan, membuatku merasa melayang-layang di negeri yang indah. Sejenak, perasaan itu sepertinya mampu melenyapkan rasa sakit pada jasmani. Tapi ketika para gadis cantik itu berlalu, saya kembali terpuruk di dalam kesakitan jasmani, malah semakin berat saja rasanya beban sakit yang saya rasakan. Lalu saya berjalan lagi, berjumpa lagi dengan para bidadari, terhibur, merasa senang, kagum, terpesona, dan lalu jatuh lagi ke dalam kesakitan yang parah.

Saya berjalan mulai terengah-engah. Kepala rasanya berkunang. Tenaga tubuh seakan menguap, dan serasa hendak jatuh pingsan. Saya duduk sejenak, dan lalu berpikir, “Sudah waktunya bagi saya untuk menembus segala kesakitan ini melalui jalan meditasi. Karena saya tidak menemukan jalan lainnya. Saya sudah berobat dan sudah beristirahat, kini hanya tersisa satu jalan.

Saya mulai berdiri lagi dengan tegak, menggunakan tenaga yang tersisa. Meditasi itu saya mulai dengan menempatkan perhatian pada jalannya pernafasan. Seperti biasanya, apabila saya menarik nafas secara alami, saya membaca tasbih. Dan ketika saya menghembuskan nafas, saya membaca hamdalah. Seraya mengingat firman Allah :

dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang. (Q.S 20:130)

Ajaib, segala kesakitan yang tadi dirasakan, seperti menguap. Rasa minder, rasa tak percaya diri dan sedih juga telah lenyap. Disinilah titik awal perbuahan mental yang radikal pada diri saya, sehingga kemudian sikap, perilaku dan pandangan terhadap kehidupan dan objek-objek yang terlihat jadi berubah secara drastis.

Meditasi tidak harus dilakukan dengan cara duduk-duduk saja, tapi bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki sambil melihat-lihat. Karena segala perbuatan yang bajik, itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari meditasi.

Saya teringat, ketika seorang master meditasi ditanya oleh murid-muridnya, “apakah tanda kesuksesan meditasi itu?” sang master manjawab, “ia berjalan ketika ia berjalan, dia duduk ketika dia duduk, dia tidur ketika ia tidur, dia makan ketika dia makan.”

Muridnya berkata, “Kalau begitu, apa bedanya dengan orang lain. Bukankah semua orang juga seperti itu?”

“Tidak semua orang. Mereka yang tidak bermeditasi, berjalan ketika makan. Bekerja ketika tidur, bahkan belari ketika ia duduk.” Demikian jawaban sang master. Maksudnya, orang bermeditasi itu harus sepenuhnya memperhatikan apa yang dia lakukan. Kalau melakukan sesuatu, tapi pikirannya melayang-layang ke persoalan lain, maka itu tidak termasuk meditasi, seperti si bapak berpeci kuning tadi.

Saya mulai melangkahkan kaki kanan saya dengan menyebut nama Tuhan, “Allah”, dan ketika kaki kiri saya melangkah, saya menyebut nama Tuhan, “Allah”. Sekarang saya meditasi dengan cara berjalan kaki. Banyak orang berjalan kaki. Di kiri kanan jalan, sepanajang troroar orang-orang berjalan kaki. Sekarang saya memahami bahwa kwalitas langkah kaki dari pejalan kaki itu berbeda-beda. Saya mencoba mengembangkan kwalitas langkah kaki dengan konsentrasi penuh, perhatian penuh. Kemana kesadaran saya jatuh, kepada langkah kaki, atau gerakan nafas, kepada objek itulah perhatian saya dicurahkan sepenuhnya. Itulah yang membedakan pejalan kaki yang bermeditasi dengan pejalan kaki yang tidak bermeditasi.

Sebagian orang tampak mengenakan peci, baju koko dan menaruh sejadah mereka di pundak. Mereka berjalan hendak menuju mesjid, hendak beribadah. Mereka melangkah menuju kebajikan. Oleh karena itu, langkah kaki mereka merupakan bagian dari meditasi tapi mereka tidak menyebut itu dengan istilah meditasi.

Sebagian remaja mengenakan seragam putih abu, berjalan kaki di sepanjang trotoar jalan Pahlawan. Pertanda mereka pulang dari sekolah, sehabis menuntut ilmu. Mereka sedang berjuang demi kebaikan. Maka langkah kaki mereka juga terhitung sebagai meditasi.

Sebagian lelaki tampak sedang berkumpul sambil bersandar atau duduk-duduk. Tampak baju mereka kotor oleh pasir dan semen. Mereka sedang beristirahat dari lelahnya bekerja. Mereka para pekerja bangunan, sedang mencari nafkah bagi keluarga mereka. Mereka juga berjuang demi kebaikan. Maka mereka sedang dalam proses meditasi.

Diantara mereka semua, baik yang mengenakan peci, yang mengenakan seragam putih abu, ataupuan yang berbaju kotor, ada yang sedang mengalami kegembiraan hatinya, ada pula yang sedang diterjang oleh kesedihan. Tampak seorang bapak yang mengenakan peci, berjalan kaki dengan tatap mata yang kosong. Ia berjalan kaki si sepanjang jalan trotoar, tapi jiwanya berada di tempat lain, di sebuah rumah sakit, di mana ibunya yang sudah tua sakit keras, terpaksa ia tinggalkan karena anaknya menelpon, hendak berangkat sekolah dan harus membawa sejumlah uang untuk dibayarkan. Ia pulang untuk mencari pinjaman pada tetangga. Ia merencanakan, sehabis jumatan nanti, kepada siapa ia harus mencari pinjaman. Tapi bagaimana saya dapat mengetahui kisah sedih si bapak ini, padahal si bapak ini tidak bercerita apapun pada saya ? Dia hanya terlihat berjalan tergesa-gesa dengan wajah bingung. Inilah yang disebut dengan pengetahuan batin. Adalah hal yang biasa, setelah mengalami perubahan mental secara radikal melalui praktik meditasi, seseorang dapat melihat perikehidupan seseorang yang telah terjadi dan akan terjadi pada seseorang yang dilihatnya.

Di depan sebuah SMK, tampak sekelompok pelajar sedang bercanda ria. Anak-anak yang pintar, sehat, cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Tampak mereka begitu gembira, tertawa bersama. Saya turut gembira, melihat anak-anak yang gembira. Tak lama lagi mereka akan tiba di rumah masing-masing, masuk ke dalam kamar dan sendirian. Lalu sepi menemani, tanpa tawa dan canda teman-temannya. Dengan perasaannya dia akan menimbang, ketika ia berkumpul dengan teman-teman, bercanda bersama, itulah suatu kondisi yang sanggup membuatnya gembira. Jika hal itu dianggapnya menyenangkan, tentu sepi sendiri akan dirasakannya sebagai hal yang tidak menyangnkan. Sayang sekali, kenapa kegembiraan itu harus berbanding lurus dengan kesedihan yang harus dialaminya. Lalu, untuk menghindari hal-hal yang menyedihkan, mereka akan bergerak, keluar dari kamar dan rumah, mencari hal-hal yang menyenangkan dari pergaulan dan pertemanan. Tak mereka sadari, hal itu tak ubahnya seperti seorang dahaga yang menguk air laut. Bukan lepas dahaga yang dia dapatkan, tapi semakin haus saja dia rasakan. Ini pemikiran yang muncul, ketika saya melihat mereka.

Seorang mojang priangan, dengan mengenakan baju warna krem, dengan reda kerah baju yang teramat manisnya, rok pendek warna hitam, rambut panjang, dan wajah secantik Dina Lorenza, berjalan terburu-buru dengan mengapit tasnya berwarna merah hati, lipstik merah, mak up sesuai dan selop jangkung. Sungguh cantik dan menyenangkan pria yang memadangnya. Tapi saya, tidak seperti sebelum meditasi tadi, bila melihat wanita secantik dan seseksi itu kemudian muncul rasa bergairah, rasa suka, dan damba untuk memilikinya. Tapi sekarang, setelah bermeditasi, tak ada lagi perasaan-perasaan semacam itu. Malah melihat wanita itu aya merasa kasihan padanya. Saya berpikir, untuk tampil cantik seperti itu tidaklah mudah, butuh biaya dan keterampilan. Wanita cukup repot untuk bisa menampilkan dirinya tampak cantik di muka umum, terutama di luar rumah. Sedangkan kalau di rumah, kadang-kadang wanita tidak peduli tampilannya kusut dan acak-acakan, toh Cuma suaminya saja yang memandangnya. Tampil cantik dan seksi, itu dipersembahkan untuk siapa sebenarnya ? Mengapa muncul pikiran-pikiran begini dalam pikiran saya ? Mengapa saya melihat wanita tampil cantik dan seksi malah melihatnya sebagai orang-orang yang tertindas  yang hampir jatuh air mata saya karena merasa kasihan. Ini tak lain karena pengaruh dari praktik meditasi tadi.

Teringatlah saya pada Teh Mayang, kakaknya sahabatku. Dia itu tidak pernah terlihat tampil di muka umum dengan make up. Bahkan dia tidak mengenakan lipstik. Tapi kecantikannya terpancar dari kesederhanaan, tutur kata dan budi pekertinya. Dia tidak sibuk mempermak wajahnya, tapi sibuk menghiasai dirinya dengan akhlak yang mulia. Wanita seperti ini, tampaknya hanya satu diantara sejuta orang.

Tampaknya sekarang saya mengkritisi setiap orang yang saya lihat, lalu mulai tidak suka dan menyalahkan semua orang. Padahal tidak. Saya memang berpikir kritis, tapi tidak menyalahkan mereka semua. Semua itu hanya renungan saya saja, sehingga dari renungan itu terlahir rasa belas kasih terhadap sesama, sebagaimana saya mengasihani diri saya sendiri yang tengah menderita kesakitan.  Jadi, mereka dan saya sama-sama patut dikasihani karena sakit dan menderita. Bedanya, saya telah sadar dengan kesakitan ini sehingga mencari obatnya, sedangkan mungkin mereka belum menyadarinya, sehingga belum mencari obatnya. Saya telah melihat jalan keluar dari kesakitan ini, sedangkan sebagian orang lain belum meihat jalan keluarnya.

Lagu cinta yang merdu mendayu-dayu dianggap orang-orang sebagai hiburan yang nikmat. Akan lain rasanya, setelah melewati pengembangan mental melalui proses meditasi, anda akan mendengar lagu-lagu cinta itu tak ubahnya seperti tangisan pilu seorang anak kecil yang ditinggal mati ibunya. Dan karenanya terlihat begitu memprihatinkan, dan jadi merasa kasihan.

Dengan mengucapkan bismillah, saya melangkahkahkan kaki, hendak bermeditasi dengan cara berjalan-jalan, menjadikan setiap langkah kaki, tarikan dan hembusan nafas saya sebagai dzikrullah wa dizkrul maut. Langkah kaki yang saya lakukan, tidak hanya berarti mengingat, melangkah menuju Tuhan, tapi juga melangkah menuju kematian. Bila jatah umurku adalah 70 tahun, dan sekarang umur saya 35 tahun, berarti umur yang tersisa adalah 35 tahun lagi. Dan apabila satu langkah kaki saya adalah 0,5 detik, maka bila saya melangkah sejauh 120 langkah, umur saya telah berkurang sebanyak 1 menit dari jatah umur 35 tahun. Kita hidup di dunia ini, bagaikan seekor sapi kurban dikelu, ditarik, diarak menuju tempat penyembelihan. Begitulah saya memaknai langkah kaki saya. Pkiran dan kesadaran ini tidak muncul, kecuali setelah saya mengembangkan diri melalui praktik meditasi tadi.

Semakin jauh saya melangkah, semakin khusyuk hati saya di dalam dzikir. Saya tidak lagi tertarik untuk memandang perempuan-perempuan cantik dan seksi yang berjalan di trotoar. Ada yang lebih cantik dan indah dari kecantikan para perempuan ini, yaitu cantik dan indahnya kedamaian hati. Sesungguhnya, kesenangan saya terhadap kecantikan para perempuan ini mengguncang kedamaian. Saya akan berani memandang kembali wanita-wanita cantik itu, setelah seluruh nafsu duniawi tersingkirkan dan hanya melihat wanita-wanita itu hanya sebagai manusia saja, bukan sebagai barang kesenangan yang sedap dipandang mata. Sangatlah bodoh bila saya mau menukarkan kedamaian yang indah ini, dengan kesenangan yang semu. Setelah mata batin saya menjadi tajam, saya tidak bisa lagi melihat para wanita cantik itu sebagai sesuatu yang menarik. Mereka itu sama saja seperti saya, kita semua, hanya mayat berjalan, kumpulan tulang dibalut daging, tidak ada yang menarik, tidak ada yang berharga.

Hati yang begitu damai, membuat seluruh tubuh begitu nyaman. Getaran kebahagiaan karena terlepaskanya ilusi kehidupan, membuat tubuh saya menjadi begitu ringan. Dan rasa sakit berat yang tadi dirasakan, sekarang lenyap entah pergi kemana. Sehat hati, sehat pula jasmani, tiada sedikitpun dirasakan suatu kesakitan, tidak perlu obat, tidak perlu dipijat, hanya perlu dengan bersungguh-sungguh meluruskan Qalbu. Inilah meditasi.

Lalu saya kembali ke hotel. Seorang peserta workshop mengajak saya makan siang dengan ramahnya, “ayo pak! Kita makan siang dulu!”

Kami makan siang pada satu meja. Lalu dia mulai mengajak saya bicara dengan gaya yang tampaknya akrab sekali, mulai dari tanya asal usul hingga ke persoalan bisnis. Tak lama, peserta lainnya bergabung di meja kami hingga penuh. Ajaib, tadi pagi saya datang seperti orang asing, tak kenal siapapun, tak akrab dengan siapapun. Seperti kambing conge yang bengong melihatin sekumpulan kerbau. Sekarang, setelah saya melewaji perjalanan jauh dalam meditasi, karakteristik saya jadi berubah, menarik perhatian orang, sehingga saya dikermuni orang-orang. Dan orang-orang ini adalah para pengusaha. Mereka tertarik dengan prospek usaha, meminta saya mempresentasikannya di sela-sela istirahat workshop. Lalu sebagian diantara mereka tertarik dan berencana untuk menanamkan sahamnya pada perusahaan yang saya kelola. Dalam waktu beberapa menit, saya mendapatkan peluang pengembangan usaha yang besar. Apakah ini kebetulan? Anggaplah kebetulan ! Kebetulan saya berhasil mengembangkan daya mental melalui praktik meditasi, sehingga mengubah karakteristik menjadi lebih baik. Akan tetapi,  Syed Hamid mengatakan, "tidak ada yang kebetulan."

Sebagaimana telah disebutkan, bahwa tidak ada yang kekal. Seseorang hari ini dapat berhasil mengembangkan mental menjadi lebih baik, sehingga memiliki daya mental yang kuat, perangai dan karakteristik yang baik, tapi tidak ada jaminan esok akan tetap baik seperti itu. Walaupun demikian, yang harus kita lakukan adalah berusaha untuk selalu menjadi lebih baik, hari ini lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini. Bila usaha kita gagal dan terjatuh, kita harus bangkit berdiri untuk berjuang kembali. Demikianlah perjuangan yang harus kita lakukan sepanjang hayat dikandung badan.

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
32 Jawaban
9094 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 28, 2017, 01:42:02 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
2337 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 16, 2015, 01:39:48 PM
oleh soleh96
0 Jawaban
713 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2013, 08:52:15 AM
oleh Awal Dj
3 Jawaban
1408 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 20, 2015, 12:20:19 AM
oleh Ziels
0 Jawaban
1675 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 14, 2013, 05:49:25 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1301 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 14, 2013, 06:30:36 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1057 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 14, 2013, 06:38:04 PM
oleh Abu Zahra
2 Jawaban
3822 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 24, 2013, 02:41:59 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
676 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 15, 2015, 03:44:57 PM
oleh kang radi
0 Jawaban
126 Dilihat
Tulisan terakhir November 01, 2016, 05:49:14 PM
oleh seorang

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan