Penulis Topik: Ilmu Gaib  (Dibaca 4510 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Ilmu Gaib
« pada: Januari 07, 2013, 06:30:57 AM »
Quote (selected)
(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu.(Q.S 72:26)

Katakanlah: `Tidak ada satupun di langit dan di bumi yang mengetahui ilmu gaib kecuali hanya Allah` ” (An-Naml ayat ke 65).



وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ {59}

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”” (QS. Al An’am:59).



Perhatikan ayat tersebut! Di situ Allah menegaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui ilmu gaib.

Orang bisa berpikir bahwa jika hanya Allah, berarti selain Allah tidak ada yang mengetahui ilmu gaib. Para malaikat dan nabi pun tidak mengetahuinya, karena hanya Allah yang tahu. Sebut saja ini adalah Tafsiran Pertama.

Refleksi dari Tafsiran Pertama tersebut salah satunya adalah menyalahkan siapa saja yang mengaku memiliki ilmu gaib atau dipercaya memiliki ilmu gaib. “dusta itu, karena tidak ada yang mengetahui ilmu gaib kecuali Allah.” Oleh karena itu para normal atau kyai sekalipun yang dianggap memiliki kemampuan supranatural dan dapat berkomunikasi dengan makhluk-makhluk halus, mereka akan diangap sebagai pendusta.

Tafsiran Pertama ini, secara bahasa (semantik) bisa dibenarkan. Tetapi menafsirkan alQuran secara semantik saja bisa menyebakan kesalahan. Kita harus memahami ayat-ayat alQuran itu bukan hanya secara semantik, melainkan juga secara mantiq. Dengan mantiq, dapat diketahui bahwa Tafsiran Pertama adalah salah. Kenapa? Karena di dalam ayat alQuran yang lain ditegaskan bahwa nabi pun mengetahui hal yang gaib dengan izin Allah atau Allah memperlihatkan hal gaib itu kepada nabi.


Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar. (Q.S 3:179)

di situ jelas, bahwa Allah memperlihatkan hal-hal gaib kepada rasul yang dikehendaki Allah.

Tafsiran Pertama terbukti salah. Dan orang kemudian bergerak untuk berpegang kepada Tafsiran Kedua, yaitu hanya Allah dan Rasul Nya saja yang dapat melihat hal-hal gaib. Sedangkan selain Allah dan Rasulnya, tidak ada yang mengetahui persoalan gaib

Refeksi dari Tafsiran Kedua ini tidak jauh berbeda dengan refleksi Tafsiran Pertama, yaitu sikap orang-orang yang “mendustakan” siapa saja yang dianggap memiliki ilmu gaib.

Tafsiran Kedua tersebut keliru. Kenapa? Karena ditegaskan oleh Allah dalam alQuran bahwa manusia selain nabi sekalipun bisa melihat hal-hal gaib atau memililki ilmu gaib.

Perhatikan ayat berikut :

Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri".(Q.S 27:38)

Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya".(Q.S 27:39)

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".(Q.S 27:40)

Nabi Sulaiman membuat sayembara bagi para pengikutnya yang sakti diantara manusia dan jin, tentang siapa yang sanggup untuk memindahkan secepat mungiin Istana Ratu Balqis. Dan ternyata, ada manusia yang memiliki kesanggupan melebihi kemampuan jin yang sakti. Dan manusia tersebut, bukanlah nabi maupun rasul.

Dengan demikian telah terbukti bahwa ada orang selain nabi / rasul yang dapat memiliki ilmu gaib. Oleh karena itu, maka kita tahu bahwa Tafsiran Kedua tersebut merupakan keyakinan yang salah.

Tetapi, mereka yang tidak menyukai sesuatu yang berbau mistik, mereka berkilah dengan sesuatu yang tidak relevan, “ah, itu kan dulu, sekarang lain.” Atau, “ilmu yang dimiliki oleh seorang manusia di zaman nabi Sulaiman kan bukan ilmu gaib, bukan pula ilmu kesaktian, tapi ilmu dari kitab.” Padahal kita tahu, kalau seseorang bisa memindahkan sebuah istana ratu dalam sekejap mata ya itu yang dimaksud dengan sakti, dan orangnya disebut yang memiliki ilmu kesaktian, dan ilmu kesaktian tersebut berhubungan dengan persoalan-persoalan gaib.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Ilmu Gaib
« Jawab #1 pada: Januari 07, 2013, 09:25:03 AM »
"Tidak ada satupun di langit dan di bumi yang mengetahui ilmu gaib kecuali hanya Allah"

dari terjemahan ayat di atas, dapat diambil kesimpulan seperti ini:

"Jika ada yang mengetahui ilmu gaib, maka pasti dia adalah Allah"

gimana tuh??
« Edit Terakhir: Januari 07, 2013, 09:29:23 AM oleh Biru Biru »
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Ilmu Gaib
« Jawab #2 pada: Januari 07, 2013, 12:43:32 PM »
"Tidak ada satupun di langit dan di bumi yang mengetahui ilmu gaib kecuali hanya Allah"

dari terjemahan ayat di atas, dapat diambil kesimpulan seperti ini:

"Jika ada yang mengetahui ilmu gaib, maka pasti dia adalah Allah"

gimana tuh??

"Rosululloh mengetahui ilmu ghaib, maka pasti ia adalah Alloh"
bener gak?
 

Offline Sandy_dkk

Re:Ilmu Gaib
« Jawab #3 pada: Januari 07, 2013, 01:05:52 PM »
Kutip dari: Biru Biru
"Tidak ada satupun di langit dan di bumi yang mengetahui ilmu gaib kecuali hanya Allah"

dari terjemahan ayat di atas, dapat diambil kesimpulan seperti ini:

"Jika ada yang mengetahui ilmu gaib, maka pasti dia adalah Allah"

gimana tuh??

"Rosululloh mengetahui ilmu ghaib, maka pasti ia adalah Alloh"
bener gak?

jika Rasulullah mengetahui ilmu gaib, maka pasti ia adalah Allah
sama sekali tidak menyelisihi
Tidak ada satupun di langit dan di bumi yang mengetahui ilmu gaib kecuali hanya Allah
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Ilmu Gaib
« Jawab #4 pada: Januari 07, 2013, 06:23:54 PM »
jika Rasulullah mengetahui ilmu gaib, berarti ada yang mengetahui ilmu gaib selain Allah. bener enggak?

jika ada yang mengetahi ilmu gaib selain Allah, berarti bertentangan dengan ayat : "Tidak ada satupun di langit dan di bumi yang mengetahui ilmu gaib kecuali hanya Allah". benar atau salah?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Ilmu Gaib
« Jawab #5 pada: Januari 07, 2013, 07:04:16 PM »
jika Rasulullah mengetahui ilmu gaib, berarti ada yang mengetahui ilmu gaib selain Allah. bener enggak?

jika ada yang mengetahi ilmu gaib selain Allah, berarti bertentangan dengan ayat : "Tidak ada satupun di langit dan di bumi yang mengetahui ilmu gaib kecuali hanya Allah". benar atau salah?
benar
jika Rasulullah mengetahui ilmu gaib, dan Rasulullah bukanlah Allah, maka benar bahwa ada yg mengetahui ilmu ghaib selain Allah.
dan benar pula ini bertentangan dgn ayat tsb.

bagaimana ini?

Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Ilmu Gaib
« Jawab #6 pada: Januari 07, 2013, 07:56:27 PM »
"Tidak ada satupun di langit dan di bumi yang mengetahui ilmu gaib kecuali hanya Allah"

dari terjemahan ayat di atas, dapat diambil kesimpulan seperti ini:

"Jika ada yang mengetahui ilmu gaib, maka pasti dia adalah Allah"

gimana tuh??

Contoh Hypothetical Syllogisme[1]

jika memang benar bahwa tidak ada yang mengetahui hal gaib kecuali Allah
dan ternyata nabi Muhammad mengetahui hal gaib,

maka benar lah bahwa nabi Muhammad itu Allah.

mengkaji hal teresbut secara Logika kita, berarti kita masuk ke dalam Bab Hypothetical syllogisme.

Jika P, maka Q
Ternyata P,
Jadi, Q

ternyat tidak P,
berarti bukan Q.

Jika nabi Muhammad mengetahui hal gaib, maka nabi Muhammad adalah Allah.
ternyata, nabi Muhammad tidak mengetahui hal gaib
jadi, nabi Muhammad bukan Allah.

ternyata Muhammad bukan Allah
berarti, Nabi Muhammad tidak mengetahui hal gaib.

ternyata nabi Muhamad mengetahui hal gaib, tapi nabi muhammad bukan Allah

berarti nabi Muhammad adalah Allah, tetapi tidak mengetahui hal gaib. :D

 1. A. Rochman, LOGIKA,  No.13294
« Edit Terakhir: Januari 07, 2013, 08:04:22 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Ilmu Gaib
« Jawab #7 pada: Januari 08, 2013, 02:08:18 AM »
Kutip dari: Kang Asep yang saya edit untuk keperluan pemahaman
Jika nabi Muhammad mengetahui hal gaib, maka nabi Muhammad adalah Allah. <= jika P maka Q
ternyata, nabi Muhammad tidak mengetahui hal gaib <= ternyata tidak P
jadi, nabi Muhammad bukan Allah. <= jadi bukan Q

ternyata Muhammad bukan Allah <= ternyata bukan Q
berarti, Nabi Muhammad tidak mengetahui hal gaib. <= berarti tidak P

ternyata nabi Muhamad mengetahui hal gaib, tapi nabi muhammad bukan Allah <= ternyata P tapi bukan Q

berarti nabi Muhammad adalah Allah, tetapi tidak mengetahui hal gaib. :D <= berarti Q tapi bukan P :D

jika P maka Q
ternyata P tapi bukan Q

kok jadi mirip ini ya Kang??

Jika pendapat Abu Bakar mengenai tanah fadak benar, maka pendapat Fathimah salah. <= jika P maka Q
ternyata, pendapat Abu Bakar tidak benar <= ternyata tidak P
jadi, pendapat Fathimah tidak salah. <= jadi bukan Q

ternyata pendapat Fathimah tidak salah <= ternyata bukan Q
berarti, pendapat Abu Bakar tidak benar. <= berarti tidak P

ternyata pendapat Abu Bakar mengenai tanah fadak benar, tapi pendapat Fathimah tidak salah <= ternyata P tapi bukan Q

berarti pendapat Fathimah salah, tetapi pendapat Abu Bakar mengenai tanah fadak tidak benar. :D <= berarti Q tapi bukan P :D


dari sini, maka dapat dilihat bahwa temuan fakta ternyata pendapat Abu Bakar mengenai tanah fadak benar, tapi pendapat Fathimah tidak salah <= ternyata P tapi bukan Q merupakan temuan fakta yang mustahil (tak mungkin terjadi keduanya secara bersamaan).
walaupun kedua fakta tersebut didukung oleh dalil, tapi secara logika tak bisa diterima kebenaran keduanya.
maka salah satu dari dua potongan kalimat yang dipisahkan oleh kata "tapi" pastilah salah satunya bernilai salah.
yang salah bukanlah dalil tentunya, tapi pemahaman terhadap dalil yang tidak tepat.
sampai disini, saya kira Kang Asep sependapat.

selanjutnya, saya juga melihat bahwa temuan fakta ternyata nabi Muhamad mengetahui hal gaib, tapi nabi muhammad bukan Allah <= ternyata P tapi bukan Q merupakan temuan fakta yang mustahil (tak mungkin terjadi keduanya secara bersamaan).
walaupun kedua fakta tersebut didukung oleh dalil, tapi secara logika tak bisa diterima kebenaran keduanya.
maka salah satu dari dua potongan kalimat yang dipisahkan oleh kata "tapi" pastilah salah satunya bernilai salah.
yang salah bukanlah dalil tentunya, tapi pemahaman terhadap dalil yang tidak tepat.
sampai disini, harusnya menurut saya Kang Asep juga sependapat, karena kaidah logis yang saya gunakan sama dengan yang saya gunakan pada kasus tanah fadak diatas.

bagaimana??  :)
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Ilmu Gaib
« Jawab #8 pada: Januari 08, 2013, 05:59:04 AM »
^ Tanggapan yang bagus kang Biru

tapi perlu saya luruskan, bahwa tidak semua kalimat yang dipisah dengan kata "tapi" pada premis minor itu berarti suatu kemustahilan. kemustahilan itu hanya terjadi pada Kausalitas yang bersifat timbal balik. Tetapi pada kauslitas yang bersifat sepihak, hal itu tidak berlaku. Selain itu “mustahil” atau “tidak mustahil”, perlu dilihat secara lebih spesifik, “mustahil” sebelah mana atau “tidak mustahil” sebelah mana? Dalam Hukum Kemestian Sepihak, memnang benar, hal itu sebagai hal mustahil apabila dilhat dari keseluruhan susun pikiran, karena kata “tapi”, akan mempertentangkan dengan bentuk prentengan kontrari antara pengantar (P) dan penolak (T) pada premis minor. Dalam hal ini benar, bahwa jika yang satunya benar, maka lainnya salah. Tetapi perlu difahami pula, bahwa kemustahilan tersebut akibat salah menggunakan rumus, yaitu penggunaan rumus syllogisme timbal balik terhadap kemestian sepihak. Seharusnya, pada kasus kemestian sepihak, digunakan rumus syllogisme kemestian sepihak juga. Dengan penggunaan syllogisme, maka “kemustahilan” tersebut tidak berlaku sama sekali.

Contoh : dengan Rumus Syllogisme Timbal Balik

Premis Mayor : Jika Amin rajin belajar, maka Amin naik kelas

Premis Minor : Ternyata Amin rajin belajar, tapi Amin tidak naik kelas.

Kesimpulan : jadi, Amin naik kelas, tapi tidak rajin belajar



==================================================

Cara pengambilan kesimpulan pada contoh di atas adalah salah, karena menggunakan rumus syllogisme yang tidak tepat. Tetapi, yang saya soroti di sini mengenai contoh penggunaan kata “tapi” untuk menunjukan bahwa kalimat yang mengandung tapi di dalam premis minor tidak selalu berarti mustahil. Seperti mustahilnya pda kalimat :  “pendapat Abu Bakar Benar, tapi Fatimah tidak salah”. Kalimat ini sudah mengandung pertentangan dengan dirinya sendiri. Sebab, bila Fatimah berpendapat “A adalah B”, maka Abu Bakar berpendapat “A bukan B”. Inilah yang dimaksud dengan pertentangan kontrari. Tetapi, pada kalimat “Amin rajin belajar, tapi tidak naik kelas”, tidaklah mengandung pertentangan di dalam dirinya sendiri. Hanya terjadi pertentangan setelah kemudian muncul kesimpulan. Jika ini yang dimaksud kata “tapi” yang “memustahilkan”, maka hal ini benar. 

Perhatikan penyataan pada premis Minor dalam contoh syllogisme di atas! Apakah mustahil Amin tidak naik kelas walaupun ia rajin belajar? Mungkin saja kan? Kalau gurunya terlalu sayang sama di Amin, dan ingin agar si Amin tetap berada di kelasnya, bisa saja ia memutuskan si Amin tidak naik kelas agar tetap bersama dia di dalam kelasnya. :D

Perhatikan pula pada kesimpulan! Apakah mustahil si Amin naik kelas, walaupun tidak rajin belajar? Banyak kok contohnya. Dulu, kawan saya waktu di SMU orangnya malas belajar, bahkan sampai kelas 2 SMU dia masih belum bisa membaca. Kemampuan bacanya lebih parah dari anak kelas 2 SD, tapi anehnya dia naik kelas terus. :D

jadi :
Kata "tapi" tidak selalu berarti kalimat pada premis minor maupun kesimpulan merupakan kalimat yang mustahil. tapi memang benar difahami sebagai hal mustahil setelah dipertentangan antara penolak di dalam premis minor, dengan pengiring pada kesimpulan.

Jika P, maka Q

Ternyata tidak P, tapi Q < == bukan hal mustahil

Kesimpulan : berarti P, tapi tidak Q < === bukan hal mustahil

Jika dilhat dari satu persatunya kalimat, tidak berisi kemustahilan. Hanya apabila dilihat dari keseluruhan susun pikiran, hal itu memang mustahil. Karena tidak mungkin P dan juga Q. Tidak mungkin si Amin itu naik kelas dan juga tidak naik kelas. Sekali lagi, ini akibat penggunaan rumus yang salah. Tapi kalau menggunakan rumus Syllogisme Sepihak untuk kasus Kausalitas Sepihak, kemustahilan itu tidak terjadi .

Contoh : Dengan Rumus Syllogisme Sepiak

Premis Mayor : Jika Amin rajin belajar, maka Amin naik kelas

Premis Minor : Ternyata Amin rajin belajar, tapi Amin tidak naik kelas.

Kesimpulan : Belum tentu, Amin naik kelas, tapi tidak rajin belajar

Untuk memahami hukum hipothetical syllogisme, kita perlu memahami terlebih dahulu, Hukum Kuaslitas yang berlaku pada kalimatnya. Untuk mempelajari hukum kausalitas, silahkan pelajari di sini :

http://medialogika.org/proposisi/hukum-kausalitas
http://medialogika.org/fallacy/analogi-dan-kesalahan-memahami-kausalitas
http://medialogika.org/proposisi/kalimat-kalimat-sebab
 
« Edit Terakhir: Januari 08, 2013, 06:57:54 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Ilmu Gaib
« Jawab #9 pada: Januari 08, 2013, 10:46:15 AM »
Contoh : Dengan Rumus Syllogisme Sepiak

Premis Mayor : Jika Amin rajin belajar, maka Amin naik kelas

Premis Minor : Ternyata Amin rajin belajar, tapi Amin tidak naik kelas.

Kesimpulan : Belum tentu, Amin naik kelas, tapi tidak rajin belajar

ternyata, dengan rumus silogisme sepihak, kesimpulan yang muncul dari kemestian sepihak adalah bantahan terhadap premis mayornya ya??

saya sebut bantahan, karena kesimpulan akhirnya menyebutkan bahwa kemestian yang ada pada premis mayor adalah kemestian yang tidak mesti.

apakah benar begitu?
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Ilmu Gaib
« Jawab #10 pada: Januari 08, 2013, 12:21:04 PM »
dengan menggunakan sylogisme timbal balik, dengan penolakan antcedent (P), berarti kesimpulan membantah consequent (Q). Demikian pula sebaliknya. tetapi dengan menggunakan kemestian sepihak, hasil kesimpulannya tidak membantah antcedent(P) maupun consequent (Q). tapi apabila kasus kemestian sepihak menggunakan sylogisme timbal balik, maka kesimpulannya akan membantah P atau Q. jika premis minornya menggunakan "tapi" seperti pada contoh, berarti premis minornya sudah membantah premis mayornya. demikian pula, kekacauan akan terjadi pada kesimpualnnya.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Ilmu Gaib
« Jawab #11 pada: Januari 08, 2013, 11:05:00 PM »
lanjut lagi ah...

sebelumnya saya mohon maaf dulu kalau saya agak lamban dalam memahami sesuatu ya...  :D


Kutip dari: Kang Asep
Tetapi perlu difahami pula, bahwa kemustahilan tersebut akibat salah menggunakan rumus, yaitu penggunaan rumus syllogisme timbal balik terhadap kemestian sepihak. Seharusnya, pada kasus kemestian sepihak, digunakan rumus syllogisme kemestian sepihak juga.

jadi apakah saya telah menggunakan rumus syllogisme yang salah?
jika iya, pada komentar yang mana saya mulai melakukan kesalahan tsb??
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Ilmu Gaib
« Jawab #12 pada: Januari 09, 2013, 07:13:46 AM »
lanjut lagi ah...

sebelumnya saya mohon maaf dulu kalau saya agak lamban dalam memahami sesuatu ya...  :D


jadi apakah saya telah menggunakan rumus syllogisme yang salah?
jika iya, pada komentar yang mana saya mulai melakukan kesalahan tsb??

tidak ada yang salah kang! saya hanya meluruskan jalan pikiran dari kemungkinan salah atau melengkapi apa yang sudah anda fahami, menjawab pertanyaan ini :

Kutip dari: biru biru
walaupun kedua fakta tersebut didukung oleh dalil, tapi secara logika tak bisa diterima kebenaran keduanya.
maka salah satu dari dua potongan kalimat yang dipisahkan oleh kata "tapi" pastilah salah satunya bernilai salah.
yang salah bukanlah dalil tentunya, tapi pemahaman terhadap dalil yang tidak tepat.
sampai disini, harusnya menurut saya Kang Asep juga sependapat, karena kaidah logis yang saya gunakan sama dengan yang saya gunakan pada kasus tanah fadak diatas.

bagaimana??

jadi, kesimpulan kang biru tersebut saya katakan bisa benar, bisa pula salah tergantung bagaimana memaknainya. kemudian saya memberikan contoh makna yang benar dan yang salah yang dimaksud itu seperti apa.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
32 Jawaban
9639 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 28, 2017, 01:42:02 AM
oleh Kang Asep
27 Jawaban
9632 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 23, 2013, 11:39:17 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
1345 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 12, 2014, 09:43:15 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
972 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 10, 2015, 12:49:57 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1091 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 03, 2015, 12:05:33 AM
oleh gumalta
0 Jawaban
689 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2016, 08:01:55 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
404 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2016, 08:06:43 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
372 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2016, 08:11:03 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
397 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2016, 10:45:27 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
582 Dilihat
Tulisan terakhir September 17, 2016, 02:28:49 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan