Penulis Topik: Hikmah dan Kesucian  (Dibaca 642 kali)

herwin dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 385
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Hikmah dan Kesucian
« pada: September 28, 2016, 10:15:16 AM »
Dalam surah Ali Imran ayat 164 disebutkan tiga faktor penting, yaitu Al Kitab, Hikmah dan Kesucian. Apakah korelasi dari ketiga hal tersebut ? Allah dan RasulNya yang lebih tahu makna ayat al Quran.

Adapun saya berpendapat bahwa Al Kitab menuntun kita pada Hikmah. dan hikmah itu menuntun kita pada Kesucian. Jadi, untuk meraih kecusian, terlebih dahulu kita harus meraih hikmah. mustahil kesucian itu dicapai tanpa hikmah. dan bagaimana caranya meraih hikmah, itu semua diajarkan di dalam al Kitab (al Qur'an).

Hikmah adalah pengetahuan yang hadir bersama dengan Kebahagiaan. karena itu, hikmah ini identik dengan ketenangan dan kedamaian hati. Sehingga para wali Allah, yang dianugerahi hikmah ini, mereka hidup tanpa kegelisahan dan kesedihan.

Allah SWT berfirman:

قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًا  ۚ  فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِـعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ


"Kami berfirman, "Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada rasa takut pada diri mereka dan mereka tidak bersedih hati.""
(QS. Al-Baqarah: Ayat 38)

hidup tanpa rasa takut dan kesedihan, itulah hidup yang bahagia. dan kebahagiaan seperti ini muncul bukan karena seseorang memahami atau hafal ayat-ayat suci al Quran, tetapi mengamalkannya dengan benar. dan bila seseorang mengamalkan al Quran, tapi masih ditimpa oleh kegelisahan dan kesedihan, berarti ada yang salah dalam amalannya, atau pengamalannya belum benar. Sebab, janji Allah pasti benar, "barang siapa yang mengikuti petunjuk Ku, niscaya tidak ada rasa takut pada diri mereka dan mereka tidak bersedih hati." Kehidupan sorgawi diperuntukan bagi mereka yang mengamalkan petunjuk Allah.

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan” [QS. Az-Zukhruf : 72].

Kehidupan yang bahagia di dunia maupun diakhirat adalah hadiah dari Allah bagi mereka yang beriman dan beramal shaleh.

Jika kebahagiaan diperoleh dengan amal shaleh, lalu di mana peran al hikmah ? disitulah hikmah akan hadir. jika seseorang memperoleh kebahagiaan karena amal shalehnya, maka bersama kebahagiaan itulah ada hikmah. Ketika Anda memperoleh hikmah, maka Anda tidak hanya merasakan kebahagiaan, tetapi juga memperoleh suatu pengetahuan yang tidak dapat diketahui kecuali dengan hadirnya kebahagiaan itu sendiri. atau dengan kata lain, dengan hikmah itu, Anda memahami makna batin yang mendalam dari ayat-ayat suci al Quran.

Lalu apa hubungannya kebahagiaan dengan kesucian ? jika jiwa seseorang penuh dosa, jauh dari kesucian, mustahil dia memperoleh hidup yang bahagia.

dari uraian di atas, apakah Anda sekarang dapat melihat korelasi antara al Kitab, Hikmah, Kebahagiaan dan kesucian ?
« Edit Terakhir: September 28, 2016, 10:30:29 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline jusmelon

Re:Hikmah dan Kesucian
« Jawab #1 pada: Januari 01, 2017, 11:40:33 PM »
Kalo kebahagiaan berbanding lurus dgn tingkat kesucian maka manusia yg paling bahagia itu adalah para nabi, apa benar begitu kang Asep?  Kalo benar begitu tapi koq dari kisah2 riwayat yg kita tahu para nabi justru yg paling besar kesulitan dan penderitaannya, apa ini bukan kontradiksi kang?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 385
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Hikmah dan Kesucian
« Jawab #2 pada: Januari 02, 2017, 09:09:45 AM »
ada dua jenis penderitaan, yaitu dzahir dan batin. para nabi mengalami pnderitaan dzahir, tapi tidak mengalami penderitaan bathin.

nabi mengalami sedih dan menangis. tetapi kesedihan para nabi tidak sama dengan kesedihan manusia biasa. kesedihannya itu tidak menghapuskan kebahagiaan. tetapi seringkali umat awam sulit untuk membedakannya.

seperti tangisannya muslim bin aqil saat dikeroyok oleh musuh. musuh mengejeknya cengeng dan pengecut dalam menghadapi kematian. padahal aqil sama sekali tidak takut dengan kematian. dia menangis karena belum sempat menyampaikan informasi yang sebenarnya tentang keadaan di Iran.

tidak mudah mengidentifikasi dan menjelaskan perbedaan kesedihan para nabi dengan penderitaan yang merusak kebahagiaan. nanti apabila ada waktu senggang, saya akan coba uraikan lagi.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 385
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Hikmah dan Kesucian
« Jawab #3 pada: Januari 02, 2017, 09:28:35 AM »
Para nabi mengalami luka dan sedih, tetapi dia tidak tersentuh penderitaan karena memiliki kesadaran tinggi.

perumpamaannya seperti baju. ada seseorang yang merobek baju kita. lalu kita marah-marah. kita tidak terima dengan perbuatan orang tersebut. dengan demikian, bukan hanya baju yang sobek, tetapi hati kita juga ikut sobjek bersama baju tersebut. seolah-oleh diri kita itulah yang sobek. tetapi yang berkesdaran tinggi, tidak sobek hati karena sobeknya baju. dia tahu bahwa yang sobjek itu sekedar baju, bukan dirinya.

bila berperang, tidak mustahil para nabi terluka atau terbunuh. tetapi ketika terluka, maka luka itu hanya sebatas pada tubuhnya, tidak mengenai batinnya. jika anggota keluarga nabi meninggal, maka seorang nabi juga dapat bersedih. tetapi, kesedihannya bagaikan air di daun talas, muncul, bergulir dan lenyap terjatuh. kesedihan seperti itu alami dan tidak menyebabkan penderitaan jiwa. seperti manusia lainnya, para nabi juga bersedih. tetapi manusia yang diliputi dosa, mempertahankan kesedihan itu di dalam batinnya. sehingga dia menderita karenanya.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline jusmelon

Re:Hikmah dan Kesucian
« Jawab #4 pada: Januari 04, 2017, 11:09:22 PM »
Terimakasih penjelasanya kang Asep, satelah memikirkan penjelasan yg kang Asep tulis, bahwa penderitaan Zahir tidaklaah mempengaruhi batin para nabi, saya percaya dan yakin itu benar.. analogi yg kang Asep tulis ttg baju yg dirobek mengingatkan sy pd bukti2 lain seperti saat nabi dilempari batu atau saat diludahi namun tetap mengasihi pelakunya adalah bukti yg kuat,
Bagaimana dgn kesedihan2 batin sendiri kang, apa kesedihan batin tidak menyebabkan batin menderita? Contoh nya kesedihan nabi ya'kub as saat kehilangan nabi Yusuf as, nabi ya'kub as sangat sedih hingga matanya memutih karena menangis, apakah meski sangat sedih nabi ya'kub as tidaklah menderita saat itu,? kalo ada waktu tolong di jelasin ya kang
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 385
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Hikmah dan Kesucian
« Jawab #5 pada: Januari 04, 2017, 11:50:13 PM »
ketika hati seorang wanita tersakiti, Allah menyembuhkannya segera denga air mata. ketika air matanya mengalir, sembuhlah luka itu. problemnya, seringkali obat itu terlambatnya datangnya. perempuan menahan rasa sakit dalam jangka waktu lama, barulah menangis. tetapi sebagian orang, menangis secara otomatis, begitu sejenak sebelum batinnya terluka. luka itu tidak terjadi, langsung terhapuskan oleh air mata.

Rasululullah saw bersabda pada Abu Dzar, "Wahai Abu Dzar, menangislah ! sesungguhnya tangisan itu rahmat dari Allah."

Batin orang-orang suci terlindungi. air mata mereka akan mengalir, sebelum jiwanya terluka. sebenarnya, kesedihan, kemarahan, dan rasa takut tidaklah melukai, jika mereka dibiarkan bekerja mengikuti jalannya. seperti air yang mengalir di sungai, itu menjdi keberkahan bagi alam. tapi, bila sungai tersumbat karna ulah manusia, maka bencana akan datang. demikian pula perasaan-perasaan batin kita, Allah tidaklah menciptakan semua itu dengan sia-sia, tetapi ada gunanya. semua itu menyakiti jiwa, jika dan hanya jika kita salah menempatkannya dan tidak memberi jalan penyalurannya dengan benar.

seperti kita seringkali khawatir dengan tangisan bayi dan mempersepsi bahwa setiap tangisan itu keluar dari penderitaan. padahal tidak semuanya demikian. sebgian tangisan bayi adalah "cara bayi berolah-raga" dan "cara mengeluarkan penyakit sebelum penyakit itu menyerangnya".
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
6 Jawaban
2625 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 11, 2015, 11:42:09 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
871 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 21, 2013, 11:54:34 AM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
977 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 08, 2013, 04:12:24 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
714 Dilihat
Tulisan terakhir November 22, 2013, 10:48:27 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1012 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 04, 2014, 11:43:23 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1119 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2014, 07:44:16 PM
oleh Abu Zahra
Hikmah

Dimulai oleh Kang Asep Filsafat

0 Jawaban
754 Dilihat
Tulisan terakhir April 24, 2015, 10:10:06 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
461 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2016, 03:29:41 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
244 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 06, 2016, 11:09:42 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
230 Dilihat
Tulisan terakhir April 10, 2017, 09:37:00 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan