Penulis Topik: Antara Meditasi dan Kemiskinan  (Dibaca 1239 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Antara Meditasi dan Kemiskinan
« pada: Maret 14, 2014, 12:18:00 AM »

Seseorang mungkin pernah mengalami masa-masa sulit, apakah itu karena tertimpa oleh penyakit, terlilit utang atau mungkin karena kemiskinan. Dalam kondisi ini, masa depan yang tak pasti dapat menghantui. Misalnya bagi orang miskin, walaupun dapat makan cukup hari ini, tapi ketidak pastian haris esok menghantui, entah dari mana esok ia dan keluarganya akan dapat makan.

Bila Anda orang kaya, memiliki cukup banyak uang, mungkin Anda tidak benar-benar cukup mengerti bagaimana susahnya perasaan orang miskin akan ketidak pastian hari esok. Tapi seharusnya Anda tidak terlelap dalam kekayaan Anda, apalagi bila Anda seorang calon pemimpin bangsa, saya jamin bahwa Anda tidak akan dapat menjadi seorang pemimpin yang baik bila Anda tidak mengerti perasaannya orang miskin. Oleh karena itu, saya mencoba mendeskripsikannya lebih rinci malalui cerpen-cerpen, sehingga diharapkan Anda bukan hanya tahu, tapi juga mengerti dan merasakan. Walaupun sebenarnya, untuk mengerti dan merasakan, tidaklah cukup dengan membaca cerpen atau berita dari televisi tentang orang miskin, tapi jadilah orang miskin dulu sampai Anda mengerti bagaimana rasanya kemiskinan itu.

Awal kisah ....

Permana, lahir dan tumbuh besar di lingkungan kumuh. Lalu ia menikah dengan Aminah, gadis sekufu, sama-sama anak orang miskin seperti dirinya. Kini ia sudah dikaruniai tiga orang anak, dua perempuan dan yang satu laki-laki.

Seperti warga lainnya, ia mendirikan gubuk liar di lahan kosong yang masih tersedia di tengah pemukiman kumuh. Gubuk yang dibangun dari  susunan kardus dan seng, diatapi dengan karung-karung, jauh dari layak. Tapi yang penting bagi mereka adalah teduh dari panas dan hujan. Sedikit-sedikit Permana mengumpulkan kayu dan batu, untuk membangun rumah impiannya.

Malam ini, langit tampak mendung. Permana dan Aminah gelisah hatinya, kalau turun hujan, tetes-tetes air hujan akan masuk ke dalam gubuk mereka, menganggu kenyamanan tidur buah hati mereka. Sejenak Aminah memandangi Iqbal, buah hatinya yang sedang tekun membaca buku di bawah lentera minyak. Lalu Aminah menarik nafas panjang, sejanak ia meratapi nasibnya anaknya itu, “mengapa anak semanis ini mesti terlahir di tengah gubuk ini?” Betapa ingin ia membahagiakan buah hatinya itu, membayangkan ia tinggal di dalam rumah yang layak.

Malam ini, anak-anak sudah cukup makan. Adapun Aminah, ia makan dengan jatah sepiring dibagi dua, untuk dirinya dan Permana. Tidak cukup mengenyangkan untuk ukuran orang kaya. Tapi bagi Permana dan Aminah, itu sudah biasa. Walaupun malam ini mereka semua sudah cukup makan, tapi Amina dan Permana hatinya dirundung gelisah. Esok pagi anak-anak akan terbangun dan bersiap ke sekolah. Tentu Aminah harus menyiapkan sarapan mereka. Tapi Aminah tidak tahu, apakah yang harus dimasak besok. Tidak ada beras, tidak ada makanan apapun dan tidak ada uang. Aminah bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, oleh karena itu ia hanya dapat meneteskan air mata.

Sementara Permana, segera membaringkan dirinya agar tidak larut dalam kesedihan. Tak lama kemudian, Permana pun tertidur lelap. Aminah memperhatikan wajah suaminya, tampak begitu nyenyak dalam tidurnya, tampak sebarang pemikiran yang ruwet. Tetapi, esok pagi ketika ia bangun, ia akan dihadapkan kepada banyak masalah di dalam kehidupan. Aminah bertanya dalam hatinya, “kemanakah kiranya esok suamiku akan mencari nafkah? Pukul berapa ia akan pulang untuk membawa segenggam beras, sementara anak-anak tidak dapat menunggu selama itu ? akankah kubiarkan anak-anakku merasa lapar seharian ?”

Orang bilang, kemiskinan itu bukan nasib, tapi karena kemalasan sendiri. Kalau orang tidak malas, pastinya ia akan bekerja keras dan mendapatkan banyak uang. Ini Cuma teori cuap-cuap. Kemiskinan itu terjadi, bukan hanya karena faktor kemalasan. Aminah memandang Permana dalam tidur lelapnya. Ia tahu, suaminya itu adalah seorang pekerja keras. Setiap hari ini menjadi kuli buruh angkut di pasar. Tapi kadang pelanggan sepi. Lalu ia memulung sampah atau kadang ikut temannya bekerja sebagai kuli bangungan. Kerja serabutan yang penting dapat makan. Dan kadang pulang tanpa membawa uang serupiahpun. Terpaksa ia harus pinjam sana pinjam sini. Besok kalau dapat upah kerja lagi, abis uangnya untuk bayar utang. Gali lobang tutup lobang, kebanyakan menggalinya dari pada menutupnya, sehingga lobang terlalu dalam dan lebar, sangat sulit menutupnya.

Usai shalat dhuhur, Permana termenung di teras mesjid. Hari ini dia gak dapat kerjaan. Pikirannya bingung, kemana ia harus cari pinjaman. Tadi pagi anak-anak Cuma sarapan air hangat, dibujuk “ntar pulagn sekolah kamu bisa makan kenyang”. Tapi sampai dhuhur tiba, Permana masih belum memperoleh segenggam beras. Lalu terpikir olehnya untuk pergi menemui Haji Mahmud untuk pinjam uang. Sebenarnya dia malu, utang-utangnya yang lalu juga belum dia bayar. Tapi, tampaknya dia harus memotong urat malunya, demi agar anak-anaknya dapat makan.

Ternyata Haji Mahmud tidak memberi pinjaman, “Wah .. gak bisa Na, .. utang kamu yang lalu aja belum dibayar .. enak aja mau pinjam lagi .. memangnya saya ini bank ?” sudah malu, ditimpa rasa sakit hati pula. Permanapun keluar dari rumah Haji Mahmud.

“Saya bingung Ustadz!” kata Permana di hadapan Ustadz Sholeh.

“Kenapa bingung ente ? gak usah bingung-bingung ... serahin aja semua sama Allah!” kata ustadz Sholeh.

“Begini ustadz ... saya butuh pinjaman uang. Anak-anak saya dari pagi belum makan ...”

Ustadz Sholeh segera menimpali, “Ente gak usah khawatir, nih Ane kasih doa pembuka rezeki.. amalkan saja ini seribu kali sehari, insya Allah .. Allah ngasih rezeki, ente harus yakin aja sama Allah!”

Permana keluar dari rumah ustadz Sholeh dengan membawa secarik kertas berisi tulisan Arab. Yang dia harapkan selembar uang, tapi yang dia dapatkan secarik kertas. Bukannya dia tidak berterima kasih ajarakan doa. Tapi anaknya yang lapar di rumah tidak bisa menunggu dirinya untuk berdoa hingga 1000 kali dengan tanpa suatu kepastian, kapan akan dikabulkan. Permana bergumam, “saya mengerti, saya itu harus berdoa. Pasti Allah mengambulkan. Kalau Allah tidak mengabulkan, pastilah saya salah berdoanya. Kalau doanya sudah benar, tapi belum dikabulkan, pastilah karena saya banyak dosa. Saya tidak cukup mengerti, seberapa banyak persyaratan untuk terkabulnya doa. Tapi ustadz yang sudah mengerti syarat-syarat terkabulnya doa, mengapa dia tidak berkenan untuk mendoakan saya agar hari ini saya bisa membeli barang sekantung beras. Jika ustadz sudah mendoakan saya, seharusnya saat ini saya sudah memperoleh sekantung beras. Jika ustadz sudah mendoakan saya, tapi saya pun belum mendapat sekentung beras, berarti doa ustadz tidak mustajab, berarti dia sendiri belum tahu syarat terpenuhinya doa, maka apalagi saya yang orang awam.”

Saat berjalan pulang, Permana melihat Tedi sedang tergeletak di bak sampah. Rupanya Tedi mabuk berat. Kerjaan Tedi setiap hari memang Cuma mabuk-mabukan. Uang yang digunakan untuk beli minuman keras itu adalah uang istrinya dari hasil menjual diri.

Sebenarnya dulu, Tedi adalah kawan seperjuangan dengan Permana. Tedi menikah lebih cepat sebulan dari Permana. Tapi ketika lahir anak Tedi yang kedua, prahara rumah tangga mulai terjadi, dipicu oleh kesulitan ekonomi yang menghimpit mereka. Ditambah dengan kecantikan istrinya yang menimbulkan banyak godaan dari kiri dan kanan, dan menjadi bahan pertengkaran.

“Sesuatu itu masalah kalau lu pikirin.” Kata Tedi kepada Permana waktu itu. “Jadi, mending gak usah lu pikirin, mending lu minum aja sama gw!” itulah jalan pintas yang diambil oleh Tedi, membebaskan diri dari masalah hidup dengan tenggelam di alam khayalnya sendiri, bercinta dengan minuman keras. Sementara Anita, istri Tedi mengambil jalan pintas dengan melacurkan diri, “Dari pada anak gw gak makan!” sanggah Anita ketika Permana berusaha menasihatinya.

Ya.. kadang-kadang Permana pun merasa ingin lari dari kehidupan, akibat merasakan himpitan berat kemiskinan. Tapi sejauh ini ia masih bertahan. Hanya ia tidak yakin, sampai kapan ia akan bertahan. Setiap hari ia selalu berharap, menemukan secercah harapan.

......... akhir kisah .

Walaupun tidak sama persis, saya pernah mengalami seperti yang dialami oleh Permana. Setelah saya memutuskan untuk kuliah, kondisi ekonomi kami menjadi sulit. Karena saya fokus kuliah dengan jadwal yang sangat padat, maka yang membiayai rumah tangga itu hanya istri. Saya memang tetap bekerja sebagai guru honorer, tapi dengan jadwal kuliah dari pukul 7.00 hingga pukul 17.00 hampir setiap harinya, banyak pekerjaan yang harus saya tinggalkan. Akibatnya, pendapatan menurun drastis. Pernah merasakan bagaimana rasanya perut lapar bukan karena puasa, tapi karena memang tidak ada makanan yang harus dimakan. Sepotong roti dibagi tiga, untuk makan anak tiga kali dalam sehari. Dalam kondisi ini, bila saya menemukan selembar uang sebesar seribu rupiah di jalanan, itu terasa seperti sebuah mukjizat besar.

Orang tua dan karib kerabat bukannya tidak mau membantu. Tapi rata-rata dari mereka juga hidup di dalam garis kemiskinan. Lagi pula, mereka memang sudah banyak dan sering membantu, tapi tentu kami malu untuk terus menerus meminta bantuan saudara. Kesusahan kami, lebih banyak kami rahasiakan agar tidak menjadi beban bagi orang lain. Kami mencoba berdiri di atas kaki kami sendiri sebisa mungkin. Mungkin ini juga dialami oleh orang lain, sahabat, tetanga atau kerabat yang juga tidak mau berterus terang dengan kesulitan mereka. seperti suatu hari, salah seorang kerabat berkata, “Kamu tidak pernah tahu, kalau kami pernah tidak menanak nasi selama tiga hari lamanya.” Seperti dia juga tidak tahu, bahwa kadang kami juga makan pagi, sore tidak, makan sore pagi tidak. Akan tetapi, saya bersyukur bahwa Allah telah menguji saya dengan kemiskinan itu, sebab dengan kemiskinan yang menimpa saya dan keluarga, saya telah didik hingga matang, saya telah belajar, dan meraup hikmah yang banyak dari ujian berat yang pernah dihadapi itu.

Sebagai seorang muslim, saya wajib meyakini akan kebesaran Allah, yakin bahwa Dia Maha Pemberi Rezeki. Saya bangung di malam-malam sepi dan mengadukan segala permasalahan pada Nya, dan berdoa mengikuti tuntunan para Ustadz.  Segala ilmu dan kemampuan saya coba kerahkan untuk keluar dari sulitnya kehidupan. Dan dalam situasi ini, sayapun mengasah ilmu dan kemampuan saya di dalam mengembangkan kemampuan batin melalui meditasi.

Saya percaya, meditasi dapat mengembangkan kekuatan-kekuatan mistik yang secara ekstrim mampu membuat harta karun yang tenggelam di dasar lautan secara tiba-tiba pindah ke hadapan saya. Tetapi itu baru ada di dalam kepercayaan atau keyakinan yang diyakini bisa terjadi apabila suatu syarat atau kondisi terpenuhi. Tetapi, tentu saja untuk memenuhi syarat itu tidak mudah. Ini sama saja seperti kwalitas doa seseorang. Seorang suci yang selevel waliyullah, doanya mustajab, sehingga istana Ratul Balqispun dapat dipindahkan dalam waktu sekejap. Kita percaya kepada Allah yang maha Kuasa dan doa sebagai perantaranya. Tapi kita sadar diri, bahwa kita bukanlah seorang suci yang doanya mustajab seperti para wali dan para nabi. Pada intinya, meditasi itu adalah berdoa, atau boleh dikatakan “Persiapan sebelum berdoa”. Meditasi berfungsi untuk menanngkan hati, menjernihkan pikiran dan konsentrasi. Sehingga ketika berdoa nanti, kita bisa dalam kondisi tenang, nyaman dan hati yang khusyuk.

Dengan bermeditasi tidak membuat saya serta merta mendapaktan uang yang jatuh dari langit. Tapi meditasi dapat membuat hati saya menjadi tenang. Ketenangan ini setidaknya dapat mencegah saya dari berbuat jahat akibat desakan kebutuhan ekonomi. Sebenarnya selama saya masih bisa berpikir jernih dan bekerja dengan benar atau melakuan perbuatan-perbuatan baik lainnya, niscaya saya tidak membutuhkan meditasi itu. Tapi situasi selalu berubah, godaan duniawi selalu datang menghampiri. Ketika saya merasa butuh kekuatan untuk mengabaikan godaan-godaan itu atau untuk meningkatkan kwalitas perbuatan saya, maka saya melakukannya dengan meditasi.

Sikap tubuh yang utama dalam meditasi itu adalah diam seperti patung. Banyak orang yang menganggap ini dalah praktik sia-sia. Tuduhan ini tidak salah, jika memang ada banyak hal baik yang dapat kita lakukan, tapi kita malah duduk diam seperti patung, menarik dan menghembuskan nafas saja, maka tentu saja hal ini merupakan perbuatan yang konyol. Kita harus pergi untuk belajar dan bekerja. Tapi duduk diam seperti patung itu jauh lebih baik dari pada melakukan perbuatan yang tercela seperti Tedi dan Anita dalam kisah di atas. Sehingga meditasi itu bermakna, “diamlah kamu, sampai ada hal baik yang bisa kamu lakukan!” sebenarnya meditasi itu juga sebuah cara membangun kekuatan batin agar kita memiliki kemampuan untuk berpikir dan bekerja dengan benar.

Jika sekarang ini Anda dan keluarga Anda miskin dan lapar, maka jangan khawatir karena apa yang Anda butuhkan ada di muka bumi ini. Anda hanya butuh ketenangan dan semangat untuk mendapatkannya. Temukan keheningan di dalam meditasi, maka Anda punya keberanian untuk menghadapi kehidupan. Keheningan itu mengajarkan Anda tengang rahasia kematian. Jika Anda mengetahui rahasia kematian, maka Anda tahu rahasia kehidupan. Jika Anda tidak berani mati, maka Anda tidak berani hidup. Karena lapar dan dahaga, mungkin Anda takut pada kematian dan takut kehilangan orang-orang yang Anda cintai. Meditasi tidak dapat mengubah perut lapar Anda menjadi kenyang, tetapi membuat Anda mampu melihat hal yang lebih menakutkan dari pada lapar dan kematian, sehingga Anda akan melihat rasa lapar dan kematian itu sebagai sesuatu yang kecil belaka.

Mungkin seorang pejabat telah tersiksa oleh rasa takut akan hantu masa depan, sehingga ia melakukan tindak korupsi. Karena belas kasihan pada anak dan istrinya, berharap keturuannnya mendapat jaminan hidup bahagia di masa yang akan datang, ia pun nekat mencuri uang negara. Dia bukan tidak diberi tahu oleh para ustadz, bahwa korupsi itu haram. Bahkan mungkin dia sendiri hafal akan segenap dalilnya. Ia hanya tidak melihat secara langsung bagaimana neraka menganga disediakan bagi para koruptor. Meditasi akan membuat Anda seolah melihat sendiri nereka itu, dan ketika Anda mencoba berbuat jahat, nereka itu seakan hendak menelan Anda. Maka Anda akan bangkit untuk berjuang, lebih penting di atas segalanya adalah berjuang untuk meraih ridho Tuhan. Oleh karena itu, Anda mengasihi anak dan istri Anda, tapi rasa kasih sayang Anda tidak akan mendorong Anda untuk berbuat jahat. Anda tidak ingin anak dan istri Anda kelaparan, tapi Anda lebih tidak ingin anak dan istri Anda terkapar di dasar neraka. Maka bermeditasilah, agar Anda melihat langsung bahaya yang lebih besar dari lapar dan kematian!
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
37 Jawaban
11926 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 01, 2013, 06:06:25 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1864 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 13, 2013, 11:45:44 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
2083 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 27, 2013, 01:50:41 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2276 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 21, 2013, 11:34:08 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2068 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 30, 2014, 08:48:15 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1661 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 29, 2014, 05:25:26 AM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
1902 Dilihat
Tulisan terakhir November 19, 2015, 08:30:16 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
676 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2015, 01:46:53 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
2573 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 22, 2017, 10:35:00 AM
oleh Kojer Al Ghozali
5 Jawaban
1366 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 10, 2015, 06:26:41 PM
oleh Monox D. I-Fly

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan