Penulis Topik: Antara Ajaran Ki Amar dan Mazhab-Mazhab  (Dibaca 1106 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Antara Ajaran Ki Amar dan Mazhab-Mazhab
« pada: Pebruari 06, 2014, 12:18:23 AM »
“Kebenaran telah tercerai berai.” Demikian yang dikatakan oleh Abu Zahra. Maksudnya, kebenaran tersebar di mana-mana. Tidak ada seseorang yang jenius dalam segala bidang, mengerti seluruh kebenaran. Tapi satu orang menemukan sepenggal kebenaran, dan orang lainnya sepenggal kebenaran lagi. Kalau digabungkan akan saling melengkapi. Habib Abu Bakar mengatakan, “Hanya para Imam Maksum yang jenius dalam segala bidang ilmu.”

Apa yang saya kemukakan di atas, mengingkatkan saya akan perbandingan ajaran agama dan mazhab-mazhab, yang di satu sisi tampak saling bertentangan, tapi di sisi lain sebenarnya saling melengkapi. Saat menanggapi soal protes kaum wahabi terhadap acara asyura, Abu Zahra mengatakan bahwa wahabi bermanfaat bagi syiah, supaya terjadi keseimbangan. Artinya dengan protes-protes itu, dengan kritikan-kritikan pihak luar terhadap syiah, maka semua itu bisa lebih mendewatakan umat syiah. Satu sama lain sebenarnya bisa saling mendewasakan. Jadi, kedua belah pihak bisa saling memanfaatkan kritikan.

Selain membandingkan antara mazhab sunni-syiah, saya juga membandingkan antara ajaran agama-agama, baik dari sunni maupun syiah yang saya kategorikan kepada kelompok syariat dan sebagiannya kepada kelompok tarekat, dengan Ajaran Ki Amar yang saya kategorikan kepada ajaran kelompok hakikat. Seperti Socrates, dalam mengajar kebenaran Ki Amar tidak mengajakan praktik-praktik ibadah ritual atau praktik mistik tertentu. Ia hanya menjelaskan hakikat manusia, hakikat segala sesuatu, mana benar dan mana salah dengan gayanya yang khas, dialektika. Seperti itu pula Ki Amar, dia tidak mengajarkan praktik-praktik ritual untuk mencapai suatu kondisi jiwa atau pengetahuan tertentu. Ia hanya mengajarkan filsafat kepada orang-orang.

Saat Ki Amar wafat[1], terjadi konflik ideologi. Di sini saya bisa melihat, bahwa keluhuran Ajaran Ki Amar tidak sanggup membuatnya wasiatnya bisa dilaksanakan oleh keluarga dan warga masyarakat, berhubung tidak banyak yang mengerti akan kebenaran ajarannya itu. Sekilas tanpa ini seperti kelemahan dari Ki Amar sendiri. Berarti selama puluhan tahun dakwahnya di masyarakat, tidak mampu membuat warga masyarakat setiap terhadap wasiatnya. Kadang muncul dalam pikiran saya, bahwa seandainya Ki Amar seorang ulama kharismatik, mungkin orang-orang akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan wasiatnya.

Tapi jika apa yang terjadi pada Ki Amar dianggap sebagai kelemahan dari Ki Amar dan ajarannya yang tidak begitu berpengaruh kepada loyalitas masyarakat terahdap wasiat Ki Amar, maka bagaimana dengan Rasulullah yang juga wasiatnya tidak dipatuhi oleh sebagian besar kaum muslimin[2]? Bahkan kabarnya, setelah Rasulullah wafat, hanya 72 orang saja yang setia pada wasiat Rasulullah. Maka, apa yang harus diherankan, apabila wasiat Ki Amar tidak direalisasikan oleh warga masyarakat? Apalagi mayoritas masyarakat yang ikut serta mengurus jenazah Ki Amar, bukanlah murid Ki Amar sendiri. seperti Nabi Nuh yang selama ratusan tahun berusaha mengajak masyarakat kepada kebenaran, hanya beberapa gelintir orang yang mau mengikutinya. Demikian pula dengan Ki Amar, selama puluhan tahun Ki Amar menjelaskan filsafatnya, hanya sedikit orang yang dapat menyelami ajarannya. Dari kalangan kerabat atau keluarga yang cukup banyak, hanya saya dan paman saya yang menyelami ajarannya filsafatnya. Sedangkan  paman saya pun belum mampu menembus alam-alam gaib sebagaimana Ki Amar. Sedangkan dari warga masyarakat, saya tidak mengetahui siapa yang telah menyelami ajaran Ki Amar sehingga memahami kebenarannya.

Walaupun Ki Amar tak bosan-bosan mengajarkan filsafatnya, tapi mayoritas orang tidak dapat kunjung mengerti. Sebagaimana Ki Amar mengajarkan banyak hal kepada ibuku, tapi selama puluhan tahun ibuku tetap tidak mengerti maksud dari ajarannya itu, dan baru bisa mengerti setelah saya menjelaskannya melalui metoda gaya bahasa sastra dan Logika. Salah satu tujuan saya dalam mendalami ilmu bahasa sastra dan logika adalah agar saya mampu mentranslate ajaran Ki Amar ke dalam bahasa yang di mengerti oleh masyarakat luas. Walaupun ajaran Ki Amar itu sangat luhur, tetapi Ki Amar kurang pandai di dalam ilmu komunikasi. Sebagai contoh, ketika datang para tamu asing dari jauh, Ki Amar langsung saja menjelaskan filsafatnya tanpa menimbang bahwa tentu para tamu ini tidak akan mengertia apa yang dibicarakannya, mengingat mereka belum memiliki dasar-dasar pengetahuannya. Ini seperti seorang Mahasiswa yang belajar ilmu statistik di perguruan tinggi. Dan pada saat mengajar anak kelas 1 SD, ia langsung membacakan apa yang dibacanya di dalam buku statistik Mahasiswa, sudah barang tentu tidak relevan, sudah pasti kebanyakan orang tidak akan mengerti.

Suatu hari, Ki Amar pernah menumpahkan harapan-harapannya kepada saya yang intinya ia berharap bahwa saya meneruskan perjuangannya, mengajarkan filsafatnya kepada masyarakat luas. Jika ini sebuah amanat, tentu ini merupakan amanat yang berat, dan bahkan mengerikan. Yang tampak mengerikan bagi saya adalah, ketika orang-orang bubar dari majelis Ki Amar, tak satupun yang merasa bahwa dirinya cukup mengerti dengan penjelasan Ki Amar. Tapi sekarang, jika saya harus meneruskan perjuangan Ki Amar, tidak lagi mengerikan, karena saya telah membelaki diri dengan pengetahuan di bidang logika dan gaya bahasa. Semua itu sangat membantu saya dalam mentranslate ajaran filsafat Ki Amar ke dalam bahasa yang dimengerti masayarakat luas.

Karena selain menghadapi masyarakat biasa, sayapun harus menghadapi para penganut agama atau mazhab tertentu, yang diantaranya saya kategorikan sebagai kaum syaraiat dan kaum tarekat. Saya harus mempelajari ilmu tarekat, agar saya bisa menjelaskan ajaran ki Amar dengan bahasa tarekat. Dan saya perlu mempelajari ilmu syaraiat, agar saya bisa menjelaskan ajarn Ki Amar dengan bahasa syariat.

Tidak seperti ajaran syariat agama-agama yang kayak akan nash-nash dari kitab suci, bahkan suatu ajaran dianggap tidak sah apabila tidak ada nash, sebaliknya, ajaran Ki Amar itu dapat dikatakan ajaran “Tanpa Nash” atau boleh disebut “Miskin Nash”. Kadang-kadang Ki Amar di protes oleh para ustadz atau kyai, seringkali ajarannya dianggap tidak sah atau bertentangan dengan Nash. Tetapi, itu semua hanya kesalah fahaman. Sejatinya, tidak satupun Nash yang menyangkal ajaran Ki Amar, bahkan ternyata nash-nash mendukungnya. Ketika mengajarkan suatu fislafat, Ki Amar tidak dapat menjelaskan, beginilah dalilnya menurut al Quran, dan beginilah dalilnya menurut al Hadits. Tapi saya sebagai muridnya, belajar al Quran dan Al Hadits, sehingga saya bisa menyebutkannya.

Kesucian adalah hal pokok dan utama di dalam Ajaran Ki Amar. Beliau selalu mengingatkan umat manusia untuk selalu mengawasi hatinya. Seperti kata AA Gym, “jagalah hati!”. Beliau selalu berkata, “Jangan berbuat licik! Jangan berkata bohong! Jangan berbuat jahil! Jangan iri hati pada orang lain! jangan menganiaya makhluk! Ruh manusia adalah suci, ia harus tetap suci. Akan Aki uraikan jiwa ragamu, sehingga engkau mengerti kesejatian manusia itu.” perhatikan dan simak baik-baik kata-kata beliau! Tidak satupun ayat atau hadits yang dia kutip, tapi apakah ada dari perkataannya itu yang salah menurut hukum agama ?  coba carikan satu ayat di dalam al Quran, atau injil, atau taurat, atau Tripitaka, atau di dalam kitab weda yang akan menyangkal kebenaran perkataan Ki Amar! Saya tidak menemukannya. Dan tentu saja, ini hanya gambaran sederhana. Kenyataannya, ajaran Ki Amar tidak sesederhana itu, sangat pelik dan kompleks, kalau kita mempelajarinya tak ubahnya seperti ketika belajar matematika dengan rumus-rumus yang rumit. Seperti ilmu matematika itu sendiri, tidak butuh nash untuk membuktikan kebenaranya, melaikan hanya butuh akal yang waras saja.

Dipandang dari ajaran mazhab syiah imamiyah misalnya, sebagus-bagus ajaran Ki Amar, tetap saja akan dianggap sebagai ajaran yang sia-sia, tidak berguna, dan tidak akan menyelamatkan manusia dari jurang api neraka. Sebab menurut mereka, siapa yang mati tanpa mengenal imam zaman, niscaya ia mati seperti matinya jahiliyah. Dan Ki Amar adalah orang yang tidak mengenal “imam zaman”. Dikatakan pula dalam syiah imamiyah, “ciri-ciri orang masuk sorga itu hafal nama 12 imam”. Dan Ki Amar bukan orang yang hafal 12 imam. Bahkan habib Abu Bakar mengatakan “Beda agama berarti kafir. Beda mazhab berarti beda agama.” Berarti bila ditinjau dari pernyataan Habib Abu Bakar, maka Ki Amar itu seorang yang kafir, karena berbeda mazhab dengan dia. Walaupun Ki Amar banyak berbuat amal kebajikan, dan ajarannya tentang “jangan bohong! Jangan menganiyaya makhluk”, dan sebagainya, semua itu merupakan Amalan Yang Terhapus berdasarkan nash ayat-ayat al Quran. Sebaliknya, dipandang dari ajaran Ki Amar, para ulama syariat yang mengajarkan dalil nash-nash, tak lain hanyalah Padaparamana, yaitu orang-orang yang hanya mengerti ayat-ayat suci dalam makna yang dhahir, tapi tidak mengerti makna yang batin. Ilmu mereka adalah “ilmu katanya”. Katanya ada sorga, katanya ada neraka, katanya ada malaikat, dan lain sebagainya. Kata siapa ? kata Nabi saw, kata al quran dan kata al Hadits. Dan kita wajib percaya kepadanya. Dalam ajaran Ki Amar, pengetahuan seperti itu dianggap kurang berharga. Beliau sendiri mengisahkans soal sorga dan neraka, malaikat dan bidadari, tapi beliau jauh dari konsp ajaran “katanya”, hampir mirp dengan ajaran agama Buddha, di mana segala sesuatu berprinsi pada ehpasiko, yaitu “lihat dan buktikan sendiri!”. 

walaupun begitu, diantara sejuta orang, 9.99.999 orang lebih berminat mempelajari “ilmu katanya” dan hanya 1 orang yang bermiant mempelajari ilmu yang harus dibuktikan sendiri kebenarannya. Mungkin karena mayoritas orang mencari sisi praktisnya saja. Seperti “Bahtera Nabi Nuh”. Untuk bisa selamat dari banjir, mungkin orang bisa membuat perahu sendiri. Tapi kenyataannya tidak semua orang bisa membuat perahu sendiri, oleh karena itu orang-orang yang mencari keselamatan naik ke dalam perahu buatan Nabi Nuh as untuk selamat. Demikian pula konsep dalam ajaran Islam, Anda saat ini tidak harus bisa melihat sorga, neraka, malaikat atau Tuhan. Kalau Anda percaya kepada ajaran Rasulullah saw, dan melaksanakan syariatnya, maka Anda seperti orang-orang yang naik ke dalam Bahtera Nabi Nuh a.s.

Di lihat dari satu sisi, tampaknya ajaran Ki Amar dengan ajaran Islam itu saling bertentangan atau saling menyalahkan. Tapi dengan keterampilan berpikir logic yang saya latih selama bertahun-tahun, saya sanggup menemukan sinkretisme dari ajaran-ajaran yang tampak saling menyalahkan itu. Sebenarnya kita bisa memandangnya sebagai dua ajaran yang saling melengkapi. Sebagaimana yang pernah dikatakan Abu Zahra, “kebenaran telah tercerai berai”. Tidak harus saling menyalahkan. Tujuan utamanya adalah bagaimana agar kita hidup selamat di dunia dan akhirat. Kita bisa mencari selamat dengan menaiki bahtera nabi Nuh, tetapi tidak mustahil bila Allah menyelamatkan seseorang dengan cara membukakan rahasia-rahasia ilahiah seperti yang telah Allah bukakan kepada Ki Amar. Peribahasanya, “Bukan salah bunda mengandung, bila Ki Amar dapat melihat wujud para malaikat.” Dan lagi tidak perlu disalahkan, bahkan itu menjadi fakta yang menguatkan kebenaran berita dari Rasulullah bahwa keberadaan para malaikat itu adalah benar adanya.

Dalam ajaran mazhab syiah Imamiyah terdapat konsep ideal di mana umat dipimpin oleh seseorang yang memiliki kesucian dan pengetahuan yang sempurna, jenius dalam segala jenis ilmu pengetahuan, dan bahkan di bumi dan dilangit, tiada seorangpun yang menandingi keutamaannya. Bukan sekedar umat Islam yang harus mengakui kepemimpinannya, bahkan seluruh makhluk harus mengakui dia sebagai pemimpinNya. Dia adalah hujjah Allah atas makhlukNya. Walaupun Ki Amar memiliki suatu keutamaan, tentu tidak dapat dibandingkan dengan keutamaan para Imam Maksum. Bisa dikatakan Ki Amar itu tidak ada apa-apanya dengan keutamaan para Imam Maksum. Oleh karena itu, sangatlah tepat apabila orang-orang mengikuti ajaran para Imam Maksum ini. Para Imam maksum ini adala ulil amri, yang dia sanggup menjawab apapun yang ditanyakan oleh umat manusia kepadanya. Tetapi ulil Amri itu bagi saya, seperti mutiara indah yang ada jauh di dasar samudra sana, begitu sulit saya untuk meraihnya, apalagi menjadikannya sebagai hiasan di dalam rumah saya. Sedangkan Ki Amar, walaupun ia bukanlah mutiara yang indah, atau hanya sekedar cincin perak, tapi ia selalu melingkar di jari manis saya. Ketika saya menyampaikan hal serupa ini kepada Habib Alwi,  beliau melalui juru bicaranya berpsan agar saya meninggalkan ajaran tersebut, sehingga beliau akan mengajarkan ajaran yang lebih baik. Tetapi saya tidak bisa begitu saja melepaskannya. Karena saya tidak mengerti, bagaimana beliau bisa mengatakan “A lebih baik dari B” sebelum beliau menyelami terlebih dahulu, apa isi dari B ? dan bahkan saya berkata kepada juru bicaranya, “Ajarkanlah saya sesuatu yang lebih baik, niscaya saya dengan sendirinya meninggalkan ajaran tersebut!”

Orang sakit tidak peduli, siapa dokternya dan apa obatnya, yang penting dia bisa sembuh. Demikian pula dengan agama, ia adalah obat dari pernyakit hati. saya tidak peduli, dari mana agama ini datangnya, jika ia dapat mengangkat penyakit yang ada di dalam hati saya, maka pastilah ia berasal dari Tuhan. Ajaran Ki Amar telah banyak mengangkat penyakit dari dalam batin saya, berarti ajarannya pasti selaras dengan ajaran Tuhan, tidak peduli apakah dalam mengajar ia menyebutkan nomor surat dan ayat dari kitab suci atau tidak. Dan kemudian saya belajar kepada para ahli kitab, untuk mengetahui bagaimana caranya menjelaskan Ajaran Ki Amar dengan teks-teks yang terdapat di dalam kitab-kitab tersebut.

Kepada orang sunni maupun syiah, saya telah banyak belajar suatu pengetahuan yang luhur dan bermanfaat. mereka tampak selalu senang bisa membagikan pengetahuannya yang berharga kepada saya. Demikian pula saya senang menerima ilmu pengetahuan yang bermanfaat dari mereka. Di sisi lain, selama belasan tahun, saya berusaha berbicara pada orang-orang untuk menyampaikan pesan dari ajaran-ajaran Ki Amar, baik itu kepada orang sunni maupun syiah. Saya melihat, apakah di dalam komunitas sunni maupun syiah, orang-orang sangat tekun menjalankan ibadah-ibadah ritual, rajin berdoa, mengaji, bersedekah, dan berlatih menggnakan argumentasi-argumenasi agamis yang luar biasa. Sementara mereka sibuk dengan semua itu, mereka tidak sadar, jiwanya menjadi rusak. Dan saya melihatnya dengan jelas. Sungguh ironi, mengapa semua praktik ibadah ritualnya tidak membawanya kepada kesucian jiwa. Lalu saya berusaha berbicara kepada mereka untuk mendorong mereka memperhatikan apa yang ada di dalam dirinya. Tapi ini seperti yang dialami oleh para logicer, ketika mencoba berbicara dengan bahasa logika kepada orang-orang, sangat sedikit yang tertarik untuk menyimak. Mereka lebih tertarik dengan bahasa retorika, yang menyentuh perasaan mereka, sehingga mereka merasa mengerti kebenaran. Padahal sebenarnya mereka belum cukup mengerti.

Bahasa yang sederhana dan menyenangkan, memang itulah yang disukai oleh mayoritas orang. Tapi, ketika saya bemaksud menjelaskan filsafat Ki Amar, tidak bisa tidak, saya harus mengajak orang kepada suatu pemikiran yang pelik, kompleks, butuh kekuatan berpikir yang mendalam. Jika tidak, maka akan terlalu lama untuk dapat dimengerti. Seringkali orang-orang terjangkit penyakit fanatik, sehingga ketika saya memberi tahu sesuatu yang sebenarnya mereka butuhkan, mereka menolak dengan berpikir, “Tidak, kamu bukan guruku, maka perkataan kamu tidak sesuai dengan guruku, berarti kamu salah.” Sedangkan apa-apa yang dianggap datang dari gurunya, semua ditelah mentah-mentah, daya timbangnya sangat lemah. saya senang dan giat belajar dari mereka. Tapi mereka tidak ada minat untuk mempelajari apa yang ada pada diri saya. Mereka berpikir, “Semua sudah ada pada guruku”. Bagi saya ini bukan suatu masalah, tapi kadang saya harus memberi tahu mereka karena darurat untuk menolong mereka, bukan karena saya ingin dijadikan guru oleh mereka.
 1. Baca dalam:Selamat Jalan Ki Amar
 2. terutama ini menurut pandangan mazhab syiah imamiyah
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Antara Ajaran Ki Amar dan Mazhab-Mazhab
« Jawab #1 pada: Pebruari 06, 2014, 12:18:51 AM »

Sebagai contoh, ada sesorang yang jatuh sakit dan tak kunjung sembuh, walaupun dia diobati ke mana-mana. Saya mengetahui sebab sakitnya, berdasarkan ilmu yang saya ketahui, bahwa orang ini telah melakukan kedzaliman terhadap dirinya sendiri. dia telah menyerap cairan tubuhnya sendiri, sehingga ia selalu kekurangan cairan dan terus menerus sakit. Nutrisinya selalu hilang, bukan dibuang, tapi menghilang seperti materi-materi yang mengilang ketika memasuki black hole. Kesimpulannya, tidak akan ada yang bisa mengobati dia, kecuali dia harus menghentikan perbuatannya yang merusak diri sendiri itu. saya sangat iba padanya, dan sangat ingin memberi tahunya. Tapi bagaimana caranya ? apakah saya akan berkata kepadanya, “Hai Fulan! Janganlah kamu dzalim terhadap dirimu sendiri, jangan menyerap cairan di dalam tubuhmu! Biarkan tubuhmu bekerja secara alami!”

Kira-kira, bagaimana jawab si Fulan ? paling-paling dia berkata, “ngomong apa sih kamu?”. Oleh karena itu, sebenarnya saya lebih memilih diam. Tetapi, diam itupun bisa termasuk kepada bentk kedzaliman. Ketika saya melihat orang menganiaya dirinya sendiri, sedangkan saya diam saja, maka sama saja saya dengan menganiaya diri saya sendiri. bukankah dalam hal ini, hukm-hukum agamapun melarang orang dzalim terhadap diri sendiri ? maka saya mencoba berbicara kepada si Fulan. “Hai Fulan! Kalau kau ingin sembuh dari sakitmu, maka amalkanlah hal ini!” saya memberinya PR untuk dia kerjakan. Tapi dia tidak mengerjakan. Diapun tidak sembuh, hingga dia meninggal dunia.

Saya tidak bisa langsung menjelaskan tentang apa yang si Fulan lakukan, karena si Fulanpun tidak menyadari apa dia lakukan. Amalan yang saya berikan, sebenarnya merupakan cara agar dia bisa menyadari sendiri, apa yang dia lakukan terhadap dirinya sendiri. kalau dia sudah sadar, maka tentu dia berhenti menyakiti dirinya sendiri. mungkin ada orang yang bilang, “kalau orang berbuat jahat pada dirinya sendiri, tapa dia sadari maka dia tidak berdosa. Karena itu namanya ketidak sengajaan.” Dosa atau tidak, yang jelas dia telah menjadi rusak akibat perbuatannya sendiri. bukankah di dalam kitab Allah disebutkan, “mereka itulah yang berbuat kerusakan, tapi mereka tidak menyadarinya”[1]? Lagi pula, mereka tidak menyadarinya karena adanya ar rijs, yang menghalangi kesadaran mereka. Dan timbulnya rijis ini akibat tadinya mereka tidak mau menggunakan akal[2].

Penyakit si Fulan, faktor-faktor penyebab dan jalan keluarnya adalah seesuatu yang luput dari penglihatan orang-orang yang saya sebut, “ulama syariat”. Saya meyakini bahwa para Imam Maksum, tentu memiliki pandangan batin yang ketajamannya tiada bandingannya. Ia waspada, dan mampu melihat lebih banyak dari apa yang tidak saya lihat. Tapi para ulama syariat ini bukanlah para Imam Maksum, maka dapat dimaklumi bila mereka tidak bisa melihat hal-hal yang batin pada si Fulan. Sehingga mereka tidak mengajarkan pengetahuan untuk menyelesaikan problematika si Fulan yang sebenarnya berhubungan dengan persoalan keagamaan itu sndiri.

Ketika saya sendiri sakit, kawan-kawan dari “kelompok syariat” ini berdatangan menengok. Masing-masing membawa secarik kertas yang berisi catatan doa-doa untuk kesembuhan berdasarkan apa yang diajarkan oleh para ustadz dari mazhab mereka masing-masing. Sementara merekapun berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan saya. Saya mengucap terima kasih dan  menerima seluruh lembaran kertas doa itu, dan berusaha untuk mengamalkannya. Saya sangat berharap, Tuhan menolong saya melalui perantaraan doa-doa tersebut. Inilah contoh perilaku kelompok orang yang saya sebut “kaum syariat”. Saya tidak menyalahkan mereka, dan bahkan saya katakan “mereka telah menyayangi dan membantu saya dengan cara yang mereka ketahui.”

Sedangkan, adik saya tidak pernah datang dengan membawakan kertas doa-doa. Tapi dialah yang sangat membantu kesembuhan saya. Dia benar-benar mengamati, menyelidiki dan menyimpulkan sebab-sebab dari sakit saya, sehingga penyakit saya seolah-olah menjadi objek penelitian baginya. Dari proses itu lahirlah pengetahuan yang banyak dan bermanfaat. apa yang dilakukan adik saya, merupakan contoh perilaku yang saya sebut dengan “kaum ilmiah”.

Ibuku memberitahu Ki Amar tentang beratnya penyakit yang di derita. Mungkin ibuku khawatir umurku tidak panjang. Ia berharap Ki Amar dapat menolongku. Setidaknya, Ki Amar bertemu denganku sebelum aku meninggal, seandainya umurku pendek. Saat berjumpa denganku, Ki Amar berkata, “Kalau kamu sakit, maka sembuhlah. Lihat penyakit itu datangnya dari mana, dan mengajak ke mana !”

“Tentu saja, Aki!” lalu saya menjelaskan lebih banyak hal, seolah-olah menafsirkan apa yang dikatakan Ki Amar. Saya bemaksud untuk menunjukan kepadanya, bahwa saya telah mengerti sepenuhnya apa yang dia katakan tentang sebab, tujuan dan hakikat penyakit yang saya derita. Beliau gembira, ketika mengetahui saya telah memahami apa yang dia ajarkan. Ki Amar berkata, “Syukurlah! Aki juga yakin, kalau kamu memang sudah mengerit. Aki hanya khawatir, barangkali kamu lupa.”

Apa yang kami bicarakan pada waktu itu sangat rahasia, tertutup dari pemahaman kaum syariat, maupun kaum ilmiah. Bukan kami merasahasiakanya. Hanya saja, seandainya mereka semua mendengar pembicaraan kami, niscaya mereka tidak akan mengerti. Di hadapan kaum syariat, saya tidak dapat berkata apa-apa, kecuali menerima doa-doa yang mereka ajarkan dan mengamalkannya. Di hadapan kaum ilmiah, sayapun tidk bisa berkata apa-apa, mulut saya terkunci, dan saya mengikuti arahan mereka bahwa saya harus berobat ke dokter anu, ke ahli anu, ke rumah sakit anu, dll. Jika saya tidak mengikuti arahan mereka, atau saya sendiri tidak menampakan diri bahwa saya lemah, atau menahan diri untuk tidak pergi berobat ke dokter, atau tidak mencari bantuan orang saudara atau orang lain, niscya ini akan menjadi fitnah, bahwa saya telah berlaku dzalim terhadap diri saya sendiri, yakni tak mau mencari obat bagi penyakit saya sendiri. dan seandainya saya berusaha menjelaskan hakikat kepada mereka, niscaya itu akan lebih menjadi fitnah lagi. Kita pergi ke dokter dengan harapan kita dapat sembuh. Tapi hakikatnya, apakah dokter itu yang menyembuhkan kita ?

Saya teringat pula pada waktu adik saya sakit keras. Waktu itu saya sedang pesantren. Ibuku menangis dan meminta agar saya pulang menemui adik saya. Ia khawatir umur adikku tidak akan lama lagi. Ketika saya menemuinya, saya menyiramkan energi ke dalam tubuhnya yang menebar secara otomatis dari tubuh saya. Dan saya berkata, “Jangan sakit! Kamu mau sembuh?”

Adikku menjawab, “Ya, mau!”

“Kalau begitu, jangan sakit ya! sembuh ya?!” kata saya.

Adikku terdiam, mungkin dia bingung, kenapa saya berkata begitu. Dia ragu untuk menjawab. Ibuku berkomentar, “Pasti maunya sembuh. Tapi bagaimana, Ade sakit kan bukan kemauannya.”

Tapi saya tahu, bahwa adikku sakit adalah karena kemauannya sendiri di alam bawah sadar. Saya tidak berbicara kepada alam sadar adikku, tapi berbicara kepada alam bawah sadar adikku. Oleh karena itu saya mengulangi perkataan saya, “jawab `ya`, bila kamu mau sembuh! Jangan sakit! Kamu sembuh ya?!” saya sambil menggenggam tangannya. Dan saya ingin mendengar jawaban yang tegas, bukan jawaban yang ragu-ragu.

Adikku menjawab, “Ya.”

“Kalau begitu, kamu akan sembuh!” kata saya, sambil pergi meninggalkannya dengan hati gembira.

Secara perlahan-pelahan, di kemudian hari, saya mengajari adik saya untuk belajar melihat seperti yang saya lihat. Dan alhamdilllah, sekarang adikku sudah mulai bisa melihat bagaimana suatu proses sakit terjadi akibat kemauan diri sendiri. Walaupun demikian, masih terlalu banyak yang belum saya sampaikan kepada adikku.

Cerita-cerita di atas, cerita si Fulan yang menyedot cairannya sendiri, riwayat sakit saya, dan kisah sakitnya adik saya merupakan gambaran tentang persoalan-persoalan yang luput dari pengataman orang-orang yang dianggap sebagai “ahli agama”., tapi terlihat jelas oleh saya, apa hubungnanya dengan persoalan agama dan gambaran bagaimana rumitnya dalam menjelaskan filsafat Ki Amar.

Dalam suatu komunitas, saya aktif mengikuti majelis taklim. Kebetuan Ustadz yang mengajar di majelis tersebut merupakan sarjana ahli filsafat. Beliau mengajar dengan metoda logika dan dialektika. Setelah bubar dari pengjaian, orang-orang tampak stress dan mengeluh, bahwa pelajaran filsafat tersebut sungguh membingungkan. Bahkan ada yang berkomentar, “Tak satupun dari perkataannya yang bisa saya mengerti.” Dan seorang lainnya berkata, “Sungguh mengherankan, ketika kami semua merasa tidak sanggup mengerti dengan ajaran filsafat itu, kang Asep terlihat gembira dan mengerti dengan pelajaran-pelajarn dari ustadz.”  Dan saya menjelaskan bahwa semua itu berkat pengajaran ilmu logika yang saya pelajari selama dipesantren. Tapi setelah dijelaskan demikian, bukannya mencoba mempelajari logika sebagai alat berpikir untuk memudahkan mencerna ajaran filsafat, malah lebih memilih untuk membubarkan majelis taklim.

Sang Ustadz datang ke rumah saya dan menceritakan keheranannya, padahal dia merasa telah menjelaskan sejelas-jelasnya, tapi mengapa orang tidak mengerti. Bahkan dia, yang seorang sarjanapun heran terhadap orang-orang tidak sanggup mengerti pelajaran darinya, maka apalagi Ki Amar yang dia tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah, kecuali sebatas pendidikan SR (Sekolah Rakyat) belaka. Dan saya katakan kepada ustadz bahwa semua itu akibat ustadz terlalu banyak menggunakan bahasa logika, serta miskin dari retorika maupun sastra. Pelajaran Ki Amar sulit difahami karena Ki Amar tidak dapat menjelaskannya melalui metodologi Logika atau dialektika. Bahasa Ki Amar lebih ke bahasa sastra, retorika, dongeng-dongeng, cerpen, curhat, symbol-symbol, cerita pengalaman, nasihat, seperti kalau Anda membaca kitab Bhagavad Gita, Ramayana atau Mahabharata. Tapi orang-orang hanya bisa menikmati pada bagian kisah perang atau percintaannya saja, tanpa mengerti filsafat di dalamnya. Dengan melihat kasus ki Amar ini, saya terdorong untuk membekali diri dengan logika. Sebaliknya, ustadz tadi lebih banyak menggunakan logika, miskin rasa, seperti menjelaskan rumus-rumus kalkulus kepada kakek-kakek dan nenek-nenek yang kerjaannya menanam padi di sawah. Dengan melihat kasus ini, saya terdorong untuk membekali diri dengan ilmu sastra.

Masih cerita tentang Ustadz yang sarjana ahli filsafat tadi, di mana saya sekitar 2 tahun lamanya berguru kepada beliau. Tapi selama itu, saya tidak pernah membicarakan soal Filsafat Ki Amar. Saya hanya giat belajar darinya, tanpa sedikitpun berpikir ingin mengajarkan kepada dia sesuatu. Tetapi, pada waktu itu, saya terpaksa menjelaskan filsafat Ki Amar kepdanya karena kondisi darurat, yakni karena salah saorang anggota keluarganya telah murtad, pindah ke agama kristen. Ustadz berkata, “Sungguh saya heran, mengapa adikku ini bisa terjerat agama Kristen. Saya tantang dia untuk berdebat, bahkan saya tantang para pendeta itu untuk berdebat. Tidak satupun dalil saya yang bisa terkalahkan oleh dia dan pendeta yang mendoktrinnya. Tapi kenapa, dia bersikukuh pindah ke agama kristen. Sungguh pukulan berat bagi kami. Karena kami ini adalah keluarga mubaligh, sehingga hampir saja kami membunuh adik kami.” Dan dia minta saya merahasiakan persoalan itu dari umat. Ketika itulah, saya melihat bahwa ustadz ini telah mengkhawatirkan hal yang tidak perlu dikhawatirkan, secara ruhaniah dia telah menempuh jalan yang salah. Dan sebagai rasa terima kasih saya kepadanya, karena telah mendidik saya selama kurang lebih 2 tahun lamanya, maka saya bemaksud membalas budi dengan menjelaskan dasar-dasar dari ajaran Ki Amar yang akan berguna untuk mensikapi soal pemurtadan itu. mendengar uraian saya, ustadz terkagum-kagum dan berujar, “Subhanallah! Ini adalah kajian materi kaum irfan!” Beliau menganggap apa yang saya uraikan itu merupakan ajaran filsafat level tinggi, sementara di dalam filsafat Ki Amar, itu merpakan pengajaran dasar. Tidak bermaksud merendahkan ustadz tersebut, bahkan saya tetap menghormati dan mengagumi kecerdasan dan keluhuran ilmu beliau sebagai guru saya, tetapi mencoba menggambarkan seperti apa ajaran filsafat Ki Amar itu sebenarnya.

Apabila ada orang-orang yang dengan kebencian menuduh saya seorang syiah, maka setelah membaca uraian panjang saya yang ini dan dalam artikel berjudul Aqidah Saya, kemungkin dia akan meragukan atau bahkan menarik kembali tuduhan bahwa saya seorang syiah. Atau bahkan, mungkin kawan-kawan saya dari kalangan syiah akan meragukan “iman saya”. Karena saya ini lebih mirip dengan penganut faham pluralisme dari pada penanut mazhab tertentu, di mana saya bersedia mengambil ilmu dari mana saja, mengalamkan ajaran mana saja, yang penting ilmu tersebut bisa menjadi obat yang mujarab bagi sesuatu yang perlu diobati. Selain itu, diharapakn uraian panjang di atas dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang perbandingan antara ajaran Ki Amar dan Mazhab-mazhab.
 1. Lihat dalam surah al Baqarah!
 2. Lihat : surah Yunus : 100
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ziels

Re:Antara Ajaran Ki Amar dan Mazhab-Mazhab
« Jawab #2 pada: Mei 06, 2015, 09:52:13 AM »
saya jadi tahu sedikit asal-usul Kang Asep... Lanjutkan kang perjuangannya... Saya cuma melihat-lihat.

kebanyakan umat islam dewasa ini termasuk saya adalah salah start dlm beragama (ini tdk mutlak, sebab jln bermcm2).
Jika ingin meniru Rasul Saw dan meraih kesuksesan spt beliau, bukankah seharusnya yg menjadi awal perjalanan kita adalah meniru akhlak/sifatnya yg sudah menjadi bawaan beliau sejak lahir lalu beranjak ke syariat. Ini cuma analogi, jd benar atau jadi salah itu kehendakNya
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
2121 Dilihat
Tulisan terakhir September 23, 2012, 09:40:32 PM
oleh Kang Asep
35 Jawaban
13313 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 04, 2013, 02:52:46 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1883 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 05, 2013, 08:25:32 PM
oleh Kang Asep
10 Jawaban
3133 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 07, 2013, 02:56:53 AM
oleh Abu Zahra
1 Jawaban
1410 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 07, 2013, 02:49:03 AM
oleh Abu Zahra
8 Jawaban
1601 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 25, 2015, 02:10:48 AM
oleh Ziels
1 Jawaban
1409 Dilihat
Tulisan terakhir November 15, 2015, 09:46:14 PM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
801 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 02, 2014, 03:26:01 PM
oleh ratna
8 Jawaban
3306 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 16, 2015, 10:46:30 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
690 Dilihat
Tulisan terakhir September 23, 2014, 10:39:47 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan