Penulis Topik: Mengatasi Kekhawatiran  (Dibaca 59 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9458
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Mengatasi Kekhawatiran
« pada: November 05, 2017, 06:00:53 PM »
SK : Manfaat Meditasi
====================
1. Segudang Manfaat Meditasi
2. Hasil Meditasi
3. Mengapa Bermanfaat
4. Mengatasi Kekhawatiran
====================

4. Mengatasi Kekhawatiran
Edisi : 05 Nopember 2017, 17:56:04

Salah satu manfaat meditasi adalah "mengatasi kekhawatiran".

Jika Anda seorang yang penuh kekhawatiran, meditasi dapat menenangkan Anda dan membantu Anda menemukan kedamaian pikiran. [1]

Manusia hidup dihadapkan kepada berbagai hal yang dapat membuatnya khawatir, persoalan kesehatan, keuangan, pernikahan, pergaulan, bisnis dan lain sebagainya. Meditasi dapat digunakan untuk mengatasi segala bentuk kekhawatiran tersebut. Akan tetapi, tidaklah bijaksana bila semua bentuk kekhawatiran "dibunuh". Karena tidak semua perasaan khawatir itu buruk.

Apabila kita khawatir akan kesehatan kita, itu berguna agar kita giat menjaga kesehatan tubuh, tidak terlalu banyak bergadang, tidak makan minum berlebihan, tidak mengkosumsi sesuatu yang dapat merusak tubuh-mental, serta memeprhatikan asupan nutrisi. Apabila kita khawatir dengan masalah keuangan, tentu kita harus berpikir dan berusaha untuk memperoleh penghasilan yang layak. Rasa khawatir harus dijadikan sebagai energi untuk kita dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.

Akan tetapi, sebagian perasaan khawatir benar-benar tidak berguna, yaitu kekhawatiran yang tidak berdasar dan kekhawatiran yang sudah tidak dapat mendorong kita pada perbuatan apapun yang bajik. Maka kekhawatiran yang demikian, haruslah disingkirkan. Seringkali ada orang yang merasakan kekhawatiran, tapi dia tidak mengetahui apa yang membuatnya khawatir. Ini contoh kekkhawatiran yang tidak berdasar. Contoh lainnya, ada seorang pria yang apabila dia berwudhu dia menghabiskan air hingga satu bak mandi. Ketika ditanya mengapa, dia menjawab bahwa dia khawatir wudhunya tidak sempurna, jadi dia mengulanginya hingga berkali-kali.

Kekhawatiran lain, memiliki dasar yang jelas. Namun dengan kekhawatiran itu dia tidak dapat melakukan apapun lagi. Seperti kisah wanita yang sering saya ceritakan, di mana dia memiliki utang yang banyak dan sudah jatuh tempo dan mendapat ancaman-ancaman keras dari pengutang untuk segera membayar utang. Tapi apa daya, dia menemukan satu jalan pun untuk dapat membayar utang. Dia sangat malu dan bingung, lalu dia datang ke rumah saya di suatu pagi dan berkeluh tentang keadaannya itu. Dia bermaksud untuk minta pertolongan dengan meminjam uang kepada saya. Tapi ada daya, sayapun tidak dapat menolongnya. Karena saya tidak memiliki uang sebanyak yang dia perlukan. Bahkan pendaptan saya sendiri, hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.  Saya berkata padanya, "Seandainya saya punya uang untuk memberimu pinjaman, itu tidak akan menyelesaikan masalahmu. Kamu pikir, jika aku memberimu uang banyak, masalahmu akan selesai. Tapi kamu keliru. Sepanjang kamu tidak menyelesaikan masalah yang ada di jiwamu, masalah hidupmu akan terus mengikuti. Karena masalahmu yang sebenarnya bukan pada soal utang piutang, tapi ada di dalam jiwamu sendiri.  Masalah yang kau hadapi dalam hidup mu merupakan paradigma dari masalah yang ada dalam jiwamu. Selesaikan masalah yang ada di dalam jiwamu, maka masalah hidupmu akan selesai."


wanita itu berkata, "Saya tidak mengerti, masalah jiwa apa. Jiwamu bermasalah karena saya tidak punya uang. Jika saya punya uang banyak, masalah jiwa saya selesai. Tapi kalau begini caranya, saya ingin bunuh diri saja."

"Jika demikian kemauanmu, saya tidak akan melarangmu untuk bunuh diri, tapi dengan cara apa kau ingin bunuh diri ? Melompat ke dalam sumur, menggantung diri, menggunakan senjata tajam atau meracuni dirimu sendiri ?" tanya saya.

"Entahlah.... Saya bingung.." jawab dia.

"Jika kamu bingung, aku beritahu cara bunuh diri yang lebih baik. Kamu mau ?" tanya saya.

"Bagaimana itu caranya ?" tanya wanita itu.

"dengan melalui cara semedi. Belajr bersemedi itu berarti belajar mati. Jika kamu semedi mu kuat, kamu akan mati dalam semedi mu. Sekarang mari ikut saya ke tempat persemedian." pinta saya.

Di tempat biasa saya bermeditasi, saya memberikan petunjuk tentang cara-cara bermeditasi yang harus dia lakukan. Setelah saya yakin dia mengerti caranya, lalu saya meninggalkannya setelah memberi pesan, "jangan kamu berhenti melakukan itu sampai kau mati !"

Wanita itu setuju. Lalu dia memulai semedinya. Sementara saya menuju meja kerja dan mengerjakan beberapa pekerjaan. Baru tiga menit saya meninggalkannya, wanita itu menjerit histeris. Saya segera menghampirinya dan bertanya, "kenapa berteriak ?"

"Tangan saya ... Tangan saya seperti terbakar " katanya sambil meringis.

"Lha... Katanya kamu mau mati. Kamu kira mati itu tidak sakit. Rasa terbakar yang kamu rasakan itu tidak seberapa sakit, dibanding dengan sakitnya kematian. Bertahanlah ! " kata saya. Lalu saya meninggalkannya kembali.

Baru dua menit berlalu, wanita itu menjerit lagi. Saya menghampirinya lagi, "kenapa lagi ?" tanya saya.

Keringat dingin tampak bercucuran. Wanita itu memegang kepalanya, "ini.. Kepala saya, rasanya seperti ditusuk besi panas. Saya gak kuat,.. Saya gak sanggup."

"Kamu tahu, mati itu lebih sakit dari pada itu. Dan apa yang akan kamu hadapi usai kematian adalah lebih besar lagi. Bencana terbesar di dalam hidup ini adalah bencana kematian. Seberat apapun masalah hidupmu, itu tidak akan pernah sebesar beratnya kematian. Dan selepas kematian itu, kamu akan menghadapi bencana yang lebih besar lagi. Jadi, apakah kamu yakin kamu ingin mati sekarang ?" tanya saya.

Wanita itu tertunduk lesu dan berkata, "saya gak sanggup."

"Maka janganlah sekali-kali kamu berpikir hendak bunuh diri ! Berserahlah kepada Allah ! Selalu lakukan apa yang dapat kamu lakukan dari kebajikan dan jangan memaksa dirimu melakukan apa yang tidak sanggup kamu perbuat. Bayarlah utangmu, jika kamu memiliki uang untuk membayarnya. Tapi bila tidak, maka bersabarlah, tetap berbuat kebaikan, dan jangan berputus asa terhadap rahmat Allah. Sekarang ambilah nafas yang dalam, lalu keluarkan pelan-pelan. Lupakan segala masalah dalam hidpmu, setidaknya untuk beberapa detik saja. Setelah itu pergilah dan tekunlah dalam berbuat kebajikan !" demikian saya katakan.

Dua minggu kemudian, saya berjumpa lagi dengan wanita itu. Dia tersenyum dan berkata, "sungguh saya heran dengan perasaan saya ini."

"emang kenapa ?" tanya saya.

"Sekarang ini saya sangat tenang, tidak merasa khawatir, tidak pula gentar dengan sesuatu. Para penagih utang datang setiap hari dan mencaci maki saya. Tapi keadaan batin saya tidak berubah. Sampai mereka sangat heran melihat ketnangan saya dan menuduh saya tidak berperasaan. Ya, ... Saya sendiri heran dengan perasaan saya ini. Kenapa bisa begini." kata wanita itu.

Itu karena impuls kekhawatirannya telah "terputus", sehingga dia tidak lagi merasakan kekhawatiran apapun. Itu lebih baik baginya, dari pada dia selalu berpikir untuk bunuh diri. Tetapi kemudian dia mengeluhkan, bahwa ketenangannya memberikan suatu dampak buruk. Dia kini tidak khawatir di rumahnya tak ada makanan, tidak khawatir rumahnya acak-acakan, tidak khawatir pekerjaan rumahnya tidak beres, bahkan dia tidak memasak saat suaminya hampir pulang kerja. Dia tidak mengkhawatirkan keadaan suamianya, tidak terlalu mengurusi anaknya. Hidupnya benar-benar menjadi santai.

Saya tertawa dan berkata, "Setelah kamu belajar tenang, sekarang kamu harus belajar khawatir lagi. He..he..."

Tentu saja, hidup yang diperbudak oleh kekhawatiran adalah buruk. Demikian pula hidup yang tanpa kekhawatiran sama sekali, itu juga buruk. Tuhan menganugrahi manusia dngan perasaan khawatir tentu tidak dengan sia-sia, pasti ada manfaatnya. Hanya saja, kekhawatiran itu jangan sampai berlebihan. "innallaha laa yuhibbul musrifiin", sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.  Ini yang disebut jalan tengah dan tidak jatuh ada sisi yang ekstrim, menjadi orang yang tidak terlalu khawatir, juga tidak terlalu tenang, tetapi dapat mensyukuri anugrah rasa khawatir dengan cara memanfaatkannya untuk hal-hal positif dan dapat mengendalikan rasa khawatir dengan belajar membuang perasaan khawatir yang berlebihan. Tujuan meditasi bukanlah untuk menghapus rasa khawatir, tapi untuk mampu mengendalikan perasaan dan memanfaatkan khawatir tersebut.
__________
1) Sri Dhamananda, "Meditasi Untuk Siapa Saja" hal 32

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
921 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 21, 2013, 05:46:05 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
655 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2013, 01:41:54 PM
oleh xhann
0 Jawaban
507 Dilihat
Tulisan terakhir April 28, 2013, 10:52:56 AM
oleh handayani
0 Jawaban
936 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 24, 2013, 02:49:54 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
1198 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 12, 2014, 05:29:48 PM
oleh kang radi
0 Jawaban
259 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 16, 2015, 03:56:20 PM
oleh joharkantor05
0 Jawaban
272 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 29, 2015, 10:34:05 AM
oleh joharkantor05
0 Jawaban
164 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 05, 2016, 10:34:40 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
102 Dilihat
Tulisan terakhir November 18, 2017, 05:31:43 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
48 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 15, 2017, 04:41:19 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan