Penulis Topik: Untuk Mengatasi Kesedihan  (Dibaca 21 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Untuk Mengatasi Kesedihan
« pada: November 18, 2017, 05:31:43 AM »
Seorang pria, kira-kira berumu 50 tahunan, dia berkata, "Kang Asep, dapatkah kang Asep melihat dengan mata batin, apa dosa dan kesalahan saya kiranya, sehingga hidup saya selalu dalam kesulitan dan banyak mendapat musibah ?"

"Saya tidak dapat melihatnya," jawab saya."Tetapi kesulitan merupakan tanda dari seorang pejuang. Setiap orang yang berjuang, maka dia menghadapi kesulitan. Jika Anda berhenti memperjuangkan sesuatu, maka Anda tidak menghadapi kesulitan apapun. Saya, sama seperti halnya Anda juga menghadapi banyak kesuiltan dan tidak jarang mendapat musibah. Jika itu hukuman atas dosa-dosa saya di masa lalu, maka saya menerimanya. Karena tidak ada gunanya untuk sekedar menangis dan menyesalinya. Yang harus dilakukan sekarang adalah melakukan apa yang terbaik dari apa yang dapat kita lakukan."

Dia berkata, "Bagaimana saya akan dapat menerima keadaan ini ? Kenyataannya saya selalu sedih dengan kondisi yang saya alami ini ?"

"Setiap waktu yang kita lalui, harus selalu diisi dengan kebajikan, dengan bersemangat terus melakukan kebajikan demi kebajikan, jangan lalai ! Sibukanlah diri Anda dengan melakukan kebaikan, sehingga tertutup kesempatan untuk berbuat maksiat.  Karena maksiat itulah yang menyebabkan kesedihan di dalam hati kita. Karena dosa dan kesalahan kita sendiri, maka kesadaran kita menyentuh hal-hal yang menyakitkan. Lalu kita diingatkan kepada bayangan-bayangan yang menyedihkan dalam hidup. Tetapi, apabila kita melakukan banyak perbuatan yang bajik, maka kesadaran kita akan disentuh oleh hal-hal yang menyenangkan, sehingga hidup kita bergembira. Maa muiibatkum fabimaa kasabat aidiikum. Musibah yang menimpa adalah karena perbuatan kita sendiri. Kita adalah pewaris dari perbuatan kita, menanggung apa yang sudah kita lakukan, dan kita harus menuai apa yang kita tabur. Tidak ada hal yang dapat dilakukan untuk apa yang sudah kita lakukan di masa lalu, karena waktu tidak mungkin diputar kembali. Tapi ada yang dapat kita lakukan saat ini, yaitu untuk tidak menambah dosa dan kesalahan, memulai kembali pertobatan dan melanjutkan usaha untuk berbuat baik. Itu saja."

"Dengan apa yang disampaikan tersebut, saya cukup termotivasi, "kata dia, "Tapi terus terang, saya masih belum bisa mengatasi perasaan sedih saya. Bagaimana caranya agar saya dapat mengatasi rasa sedih ini dan menjadi gembira dalam hidup ?"

saya menjawab, "tidak seorangpun dapat menuangkan air kebahagiaan ke dalam diri anda. Rasa kebahagiaan juga tidak bisa ditransfer seperti uang di ATM. Kesedihan Anda berkurang, karena Anda gembira memahami kebenaran yang baru, pencerahan baru dari suatu diskusi. Tetapi, bila itu tidak cukup menggembirakan Anda, maka Anda harus mulai bangkit dari duduk dan mulai mengerjakan sesuatu yang berguna."

Pria itu terdiam sejenak, lalu berkata, "Itulah masalahnya, saya seorang pria pengangguran. Di usia saya seperti ini, saya memiliki banyak tanggungan. Dan sekarang saya tidak tahu apa yang harus saya kerjakan. Sudah saya coba untuk mencari pekerjaan, tapi untuk pria seusia saya, itu tidak mudah."

"Sesuatu yang berguna, tidak selalu berarti pekerjaan dengan nilai rupiah. Anda shalat, dzikir atau sekdar membantu-bantu istri mengerjakan sesuatu di rumah, itu juga merupakan kebaikan yang berguna." demikian saya menjelaskan.

Pria itu termenung dan berkata, "Saya dapat melakukan kebaikan-kebaikan seperti itu, seperti misalnya menyapu jalan, membersihkannya dari sampah. Itu juga kebaikan. Tapi apa gunanya melakukan kebaikan-kebaikan seperti itu, apbila tidak menghasilkan rupiah ?"

saya jawab,"Bila hal itu dapat membantu Anda bebas dari kesedihan, maka itu berguna. Ketenangan itu memang tidak berguna, bila tidak menghasilkan apapun. Tapi bila ketenangan itu dapat mencegah anda dari melakukan perbuatan jahat dan memberi Anda suatu kekuatan untuk bekerja, maka itu berguna."

"Mana yang harus saya lakukan, menenangkan diri dulu lalu mencari bekerja. Atau mencari kerja dulu lalu menenangkan diri ?" tanya dia lagi.

Saya katakan, "Mencari kerja dulu ! Jika Anda dapat mencari kerja dulu, maka carilah kerja dulu. Ketenangan dapat diperoleh karena Anda berbuat sesuatu. Tapi jika kekuatan semangat untuk mencari kerja itu menjadi lemah, sehingga Anda terhambat untuk melakukannya, maka tenangkan dulu diri Anda. Setelah memilki kekuatan untuk berbuat kebajikan, maka berbuatlah !"

"Bagaimana caranya menenangkan diri agar saya dapat berbuat kebajikan ?" tampaknya pria sangat mengharapkan pencerahan.

Saya masih sabar menjawab pertanyaan-pertanyaannya, "tariklah nafas pelan-pelan ! Tahan nafas beberapa detik, lalu hembuskan pelan-pelan ! Lalu silahkan rasakan perubahan yang terjadi pada perasaan Anda, apakah menjadi lebih buruk ataukah menjadi lebih baik !"

"Baik saya coba praktekan dulu.." hening beberapa detik. Saya memberi kesempatan padanya untuk praktik.

"Luar biasa ... perasaan saya merasa lebih baik. "pria itu tersenyum, "Kok bisa ya, hanya dengan cara seperti itu, membuat perasaan saya menjadi lebih baik ?"

saya jelaskan, "tidak terjadi pada semua orang. Anda lebih cepat memperoleh ketenangan dari yang lain dengan cara memusatkan perhatianhanya pada satu tarikan dan hembusan nafas, itu bukan hanya karena tarikan dan hembusan nafasnya saja, tapi karena kebaikan yang telah Anda lakukan sebelumnya."

"Sebenarnya, apa kebaikan saya itu ?" tanya pria itu penasaran.

"Saya tidak mengetahuinya. Tapi pasti Anda memiliki kebaikan, sehingga kekuatan kebaikan itu mendorong Anda mencari pencerahan. Lalu Anda berjumpa dengan saya dan bertanya. Seandainya Anda tidak memiliki cukup kebaikan, maka walaupun puluhan tahun anda bergaul dengan saya, Anda tidak akan pernah tertarik untuk bertanya, dan tiada jalan bagi saya untuk membantu Anda. Ilmu adalah hak nya orang yang bertanya. Walaupun saya ingin menuangkan air pencerahan kepada karib kerabat saya sendiri, tapi bila mereka tidak bertanya, tidak menginginkannya, maka saya seperti menuangkan air ke gelas yang terbalik. Air nya hanya akan tumpah sia-sia." Demikianlah akhir pembicaraan kami.
« Edit Terakhir: November 18, 2017, 05:43:56 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
907 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 24, 2013, 02:49:54 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1612 Dilihat
Tulisan terakhir November 13, 2013, 06:31:21 AM
oleh ratna
0 Jawaban
1153 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 05, 2014, 10:19:12 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
349 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 01, 2015, 12:58:32 PM
oleh joharkantor05
0 Jawaban
286 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 08, 2015, 11:09:05 AM
oleh joharkantor05
0 Jawaban
316 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 01, 2015, 03:07:28 PM
oleh joharkantor05
1 Jawaban
405 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 03, 2015, 10:30:41 AM
oleh joharkantor05
3 Jawaban
753 Dilihat
Tulisan terakhir September 05, 2015, 08:08:39 AM
oleh joharkantor05
1 Jawaban
327 Dilihat
Tulisan terakhir September 17, 2015, 08:56:27 AM
oleh joharkantor05
0 Jawaban
115 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 05, 2016, 10:34:40 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan