Penulis Topik: Kepedulian Terhadap Lingkungan  (Dibaca 130 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kepedulian Terhadap Lingkungan
« pada: April 30, 2018, 04:01:38 AM »
Kepedulian Terhadap Lingkungan
Edisi : 30 April 2018, 03:39:31

-------------------------------
Tulisan sebelumnya : Penyimpangan Ajaran Ketenangan
-------------------------------

Rumusan Masalah :
Kepedulian terhadap lingkungan merupakan hal yang positif dan terpuji. Dapat dikatakan pula ia sebagai sikap yang benar. Kebajikan seseorang dapat dilihat dari kepedulian dia terhadap sesama dan lingkungan sekitarnya. Karena itu, sikap yang kontardiksi dengan hal tersebut, yaitu ketidakpedualian terhadap lingkungan, berarti merupakan hal yang negatif dan tercela. Dapat dikatakan ia sebagai sikap yang buruk. Kepedulian atau ketidakpedulian seseorang terhadap lingkungan, adalah output dari sebuah sistem yang dianutnya. Baik buruknya sebuah sistem dapat dilhat dari outputnya, jika inputnya telah benar. Jika outputnya buruk, sedangkan inputnya sudah baik, maka berarti sistemnya buruk. Input benar, ouputnya salah, berarti sistemnya salah.

Dalam suatu kasus, salah satu yang dituduh sebagai sistem salah, yang menghasilkan sikap ketidakpedulian terhadap lingkungan sistem meditasi. Berawal dari tuduhan  salah seorang murid saya bernama Muwahid, bahwa sistem meditasi yang saya ajarkan telah membuatnya menjadi "kurang peduli terhadap lingkungan".  Apakah tuduhan tersebut benar ?

Tuduhan tersebut telah saya bantah, tetapi sayapun memaklumi mengapa dia berpikir demikian. Hal itu karena terjadinya penyimpangan praktik akibat kesalahfahaman, di mana sebelumnya hal itu terjadi pada diri saya sendiri. Dengan demikian maksudnya, jika saya dan beberapa orang murid saya telah salahfaham dan salah praktik mempraktikan ajaran meditasi, tidak berarti sistem meditasi itu salah. Salah mengerti atau salah praktik adalah hal yang lumrah yang terjadi pada orang-orang yang sedang dalam proses belajar, dan tidak dapat lantas semua itu disimpulkan sebagai kesalahan sistem.

Tujuan :
1) membedakan antara kesalahan personal dengan kesalahan sistem.
2) memandang meditasi sebagai sistem yang outputnya adalah perkembangan bentuk-bentuk mental tertentu
3) memahami latar belakang dari tuduhan "meditasi sebagai sistem yang menghasilkan sikap tak peduli lingkungan" serta menguji kebenaran tuduhan tersebut.
4) Memahami ciri kepedulian terhadap lingkungan
=====================

Meditasi adalah sebuah sistem. Dengan demikian, apakah sistem meditasi itu benar atau salah, bisa dilhat dari outputnya. Tetapi, ketika seorang mediatator melakukan suatu kesalahan, seperti bersikap kurang perduli terhadap lingkungan, itu tidak berarti "sistem meditasi" yang salah, karena sistem yang digunakan oleh seorang meditator tidak hanya sistem meditasi itu sendiri. Selain adanya kemungkinan bahwa kesalahan tersebut lahir dari sistem-sistem lainnya yang dianut, juga ada kemungkinan kesalahan bermula dari input yang salah.

Dalam praktik meditasi, saya belajar untuk fokus ke dalam diri sendiri, sibuk dengan urusan-urusan yang bersifat batin, pengembangan kekuatan-kekuatan mental tertentu seperti konsentrasi, kekuatan kesadaran, kekuatan daya sugesti dan sebagainya. Lalu karena terlalu sibuk dengan urusan-batin tadi serta terbuai dalam kenyamanan-kenyamanan spiritual, kemudian lupa untuk peduli pada urusan-urusan yang dhahir. Tentu ini bukan dari sistem meditasi itu sendiri, melainkan kesalahan yang pernah dilakukan oleh saya sendiri sebagai personal. Tidak ada sistem meditasi yang dibuat dengan tujuan agar para praktisinya menjadi tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Sebenarnya menjadi "tak peduli" merupakan satu tahapan yang harus dilewati oleh seorang mediator di dalam praktik meditasinya. Dalam praktik meditasi, seorang meditator fokus pada objek meditasi dengan mengabaikan segala sesuatu selain dari objek meditasi tersebut.  Untuk dapat fokus, dia harus menjadi "tak peduli" terhadap lingkungannya. Gambaran ekstremnya, seorang mediator ketika dia memutuskan untuk bermeditasi, maka walaupun terjadi peristiwa pembunuhan di depan matanya, dia tidak akan bereaksi.  Ini seperti yang digambarkan oleh Socrates tentang filsuf. Socrates menggambarkan bahwa di dunia ini ada tiga jenis orang. Seperti tiga orang yang pergi ke pesta, orang pertama pergi untuk menikmati pesta tersebut, orang kedua pergi ke pesta untuk mencari popularitas, sedangkan orang ketiga pergi ke pesta hanya untuk melihat-lihat saja. Dan seorang filsuf adalah jenis orang ketiga tersebut. Hanya melihat, tidak berupaya untuk mengubah sesuatu, tidak menolak atau mendapatkan sesuatu. Itu juga merupakan gambaran dari seorang meditator. Dalam praktik meditasi Samatha bahkan seseorang tidak ingin melihat apapun, kecuali satu objek meditasi saja. Sedangkan dalam praktik meditasi Vipassana, seseorang bertindak seperti perilaku filsuf tadi, hanya melihat-lihat saja. Bedanya, seorang filsuf melihat-lihat dengan nalarnya, sedangkan meditator melihat-lihat dengan kesadarannya.

Hanya melihat, sadar dan tahu tentang sesuatu yang terjadi, namun tidak bereaksi,  tidak melakukan tindakan apapun. Ini yang terjadi dalam praktik meditasi yang di sisi lain tampak seperti bentuk ketidakpedulian terhadap lingkungan, sehingga sistem seperti ini dianggap salah. Padahal, bersikap "hanya fokus pada satu objek", "mengabaikan semua objek selain objek meditasi" atau "sekedar melihat-lihat", semestinya merupakan yang maknanya bukan "sikap tak peduli pada lingkungan", melainkan harus bermakna "istirahat sejenak". Seperti orang hendak pergi tidur, dia perlu relaksasi serta melupakan segala sesuatu untuk sejenak, mengabaikan suara-suara dan gangguan-gangguan lainnya, agar dia dapat tertidur lelap. Orang yang sedang tidur, tentu pasif terhadap lingkungannya. Tapi itu tentu tidak bermakna "tak peduli pada lingkungan", melainkan sebagai cara  mempersiapkan kekuatan untuk dapat menghadapi kehidupan kembali pada esok hari. Seperti itu pula meditasi, dalam praktiknya memang seorang meditator mengabaikan objek-objek selain dari pada objek meditasi itu, dan semestinya itu bermakna suatu cara untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan, bukan sebagai praktik menghindari atau lari dari kehidupan, apalagi dimaknai sebagai sikap tak peduli pada lingkungan.

Kita semua menyadari dan pasti setuju bahwa kita harus memiliki sikap peduli terhadap lingkungan. Namun apakah tanda dari seseorang telah peduli terhadap lingkungannya ? Yaitu, ketika melihat hal-hal yang salah terjadi pada lingkungannya, kita tergerak bertindak untuk memperbaikinya, tidak hanya tahu dan melhiatnya saja. Teorinya sederhana saja seperti ini. Namun dalam praktiknya, tentu hal ini tidaklah mudah. Untuk menjadi seorang yang peduli pada lingkungan, diperlukan latihan yang terus menerus. Walaupun tidak mudah, seorang meditator sangat penting untuk terus melatih diri menjadi peduli pada lingkungannya untuk keseimbangan, dan terhindar dari sisi praktik meditasi yang salah dan ekstrem yang mengakibatkan seorang meditator bersikap pasif terhadap lingkungannya.

Dari uraian di atas, intisari yang ingin saya sampaikan adalah bahwa praktik meditasi pengembangan konsentrasi dan kesadaran, berdampak pada kecenderungan terciptanya pribadi yang kurang peduli terhadap lingkungan. Hal ini saya sampaikan berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri, bahwa saya pernah terjebak dalam kondisi yang salah seperti itu. Karena tak ingin bahwa murid-murid saya, dan para praktisi meditasi lain terjebak dalam kesalahan seperti yang pernah terjadi pada saya, maka saya anjurkan bahwa para praktisi meditator juga harus memiliki usaha untuk berlatih kepedulian terhadap lingkungan. Bahkan saya sendiri sampai saat ini, masih sangat perlu untuk berlatih dan berlatih. Karena walaupun boleh dikata sudah cukup terampil dalam seni meditasi, tapi masih jauh untuk dikatakan "cukup peduli" terhadap lingkungan sekitar.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 203
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 27
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Kepedulian Terhadap Lingkungan
« Jawab #1 pada: April 30, 2018, 10:05:23 PM »
Seharusnya pernyataan tersebut dilengkapi menjadi seperti ini :

"Praktik meditasi pengembangan konsentrasi dan kesadaran yang dilakukan secara keliru, berdampak pada kecenderungan terciptanya pribadi yang kurang peduli terhadap lingkungan."

Praktik meditasi pengembangan konsentrasi dan kesadaran yang dilakukan dengan benar, tidak mungkin berdampak pada kecenderungan terciptanya pribadi yang kurang peduli terhadap lingkungan.
Justru malah sebaliknya; berdampak pada kecenderungan terciptanya pribadi yang amat peduli dengan lingkungan.
Hal ini juga tidak hanya berlaku untuk meditasi saja. Tetapi juga berlaku untuk ibadah - ibadah lainnya seperti shalat, puja, doa, dan sebagainya.
Ibadah apa pun yang dilakukan secara salah, akan berdampak pada kecenderungan terciptanya pribadi yang kurang peduli terhadap lingkungan.
Hal ini juga saya sampaikan berdasarkan pengalaman saya sendiri dan juga pengalaman dari banyak meditator lain yang dapat saya baca di dunia maya. Terutama dari kalangan Hindu - Buddha.

Pengembangan konsentrasi yang dilakukan dengan benar dalam meditasi, akan menimbulkan ketenangan, kedamaian, dan keseimbangan batin serta mengendapkan berbagai kotoran batin.
Meditator yang telah melakukan meditasinya dengan benar, akan "memancarkan" kedamaian batinnya ke luar diri (lingkungan mereka) mereka.
Sehingga mereka akan selalu mengusahakan dan mengembangkan perdamaian untuk lingkungan mereka. Bukannya malah mengembangkan kebencian, dendam, dan amarah yang justru akan merusak lingkungan.
Sudah berapa banyak pembunuhan yang didorong oleh kebencian, dendam, dan amarah ?
Sudah berapa banyak peperangan yang didorong oleh kebencian, amarah, dan dendam ?

Coba kita lihat teladannya para bikkhu.
Disamping pengembangan meditasinya, para bikkhu juga diharuskan untuk peduli dan menjaga lingkungan.
Menurut vinaya, bikkhu dilarang untuk merusak tumbuh - tumbuhan dan juga diwajibkan untuk menghindari pembunuhan terhadap makhluk hidup apa pun.
Ini adalah salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang selalu ingin saya terapkan dimana pun saya berada.

Lihat juga Sang Buddha.
Apakah Sang Buddha adalah tipe orang yang tidak peduli terhadap lingkungan karena kesibukan meditasinya ?
Jika sang Buddha adalah tipe orang yang tidak peduli terhadap lingkungan, maka dia tidak akan mengajarkan Dhamma pada para makhluk dan membiarkan para makhluk untuk terus - menerus berada dalam penderitaan.
Tetapi karena sang Buddha adalah tipe orang yang peduli terhadap lingkungan, maka dia mengajarkan Dhamma pada para makhluk supaya mereka dapat terbebas dari penderitaan.
Ini merupakan suatu jasa yang besar terhadap lingkungan.

Oleh karena itu, untuk semua praktisi meditasi mau pun anda yang sedang belajar meditasi, tetaplah tekun dan teruslah bermeditasi.
Hindarilah praktik yang salah serta lakukan dan tekuni praktik yang benar.
Menghindar dari praktik yang salah bukan berarti tidak bermeditasi secara sama sekali.
Tetapi bermeditasi dengan dilandasi oleh praktik yang benar.

Meditasi bukanlah suatu hal yang terpisah dari kepedulian terhadap lingkungan. Justru meditasi adalah salah satu praktik yang mengantarkan kita pada kepedulian terhadap lingkungan.
Meditasi dapat mengendapkan atau bahkan menyingkirkan secara sama sekali kotoran batin yang ada dalam diri. Terutama keinginan - keinginan jahat, nafsu keserakahan, amarah, dendam, dan kebencian.
Dengan mengendapkan atau melenyapkan kotoran - kotoran batin ini, kita telah mencegahnya untuk mewujud dalam tindakan - tindakan yang akan merugikan lingkungan kita.

Seorang pembunuh, pencuri, perampok, koruptor, dan sebagainya adalah tipe orang yang tidak peduli terhadap lingkungan.
Mereka berdampak buruk terhadap lingkungan dan merugikannya.
Tetapi bila anda adalah seorang meditator sejati yang hidup dalam landasan Samadhi, mustahil anda menjadi seorang pembunuh, perampok, pencuri, koruptor, dan sebagainya.
Karena kotoran - kotoran batin yang menggerakkan anda untuk bertindak salah telah mengendap atau bahkan lenyap.
Dengan demikian, kita telah peduli terhadap lingkungan dengan mencegah diri untuk menjadi orang yang berdampak buruk terhadap lingkungan.
Hal ini dapat diawali dengan ketekunan dalam praktik meditasi.
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1840 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 25, 2012, 08:42:52 PM
oleh Kang Asep
7 Jawaban
2255 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 21, 2013, 04:40:05 PM
oleh kang radi
8 Jawaban
2091 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 13, 2015, 05:34:48 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1171 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 19, 2013, 06:28:10 AM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
2358 Dilihat
Tulisan terakhir November 18, 2015, 09:48:24 PM
oleh Monox D. I-Fly
2 Jawaban
1273 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 27, 2013, 11:07:30 AM
oleh kang radi
0 Jawaban
1102 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 23, 2014, 08:18:30 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
794 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 30, 2014, 02:12:38 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1327 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 18, 2014, 05:01:27 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
138 Dilihat
Tulisan terakhir November 11, 2017, 10:08:13 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan