Penulis Topik: Kekuatan Untuk Berbuat Baik  (Dibaca 132 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 388
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kekuatan Untuk Berbuat Baik
« pada: Juni 12, 2017, 05:14:50 AM »
Kekuatan Untuk Berbuat Baik
Edisi : 15 Januari 2018, 20:30:19

Apa yang sedang Anda lakukan saat ini ? Inilah hal yang harus selalu ditanyakan setiap waktu, sehingga Anda selalu sadar, apakah Anda sedang melakukan kebaikan ataukah keburukan, apakah Anda sedang melaksanakan tugas dan tanggung jawab Anda ataukah Anda sedang melalaikan tugas yang harus Anda kerjakan. Ketika Anda sadar bahwa Anda sedang berbuat kebaikan, maka lanjutkan perbuatan baik tersebut dan kembangkan. Tetapi, ketika Anda kehilangan kekuatan untuk berbuat kebaikan, terhalang dari bebuat kebaikan, terhambat untuk meningkatkan kualitas kebaikan, maka disitulah Anda memerlukan suatu metoda untuk membangun kembali kekuatan untuk berbuat kebaikan. Dan ada dari salah satu metoda tersebut ada yang disebut dengan Seni Meditasi.

Kekuatan-kekuatan yang menghambat manusia dari jalan kebaikan dan menjadi sumber kesalahan manusia adalah hub Ad Dunya Wa Karahatul Maut, yaitu cinta dunia dan  dan benci pada kematian. Cinta dunia dan benci kematian ini, diwujudkan dalam faktor-faktor mental negatif terutama nafsu akan kesenangan, kebencian terhadap sesama manusia, kegelisahan dan kemalasan. Jika saat ini bersemayam di dalam diri Anda kebencian, kegelisahan atau kemalasan, itu pertanda Anda menghadapi hambatan besar untuk berbuat kebajikan. Karena faktor-faktor mental negatif tersebut, setiap waktu akan mendorong dan berupaya menjermusukan Anda ke dalam dosa-dosa. Dengan kekuatan mana Anda hendak melawan kekuatan-kekuatan negatif tersebut ? Kekuatan manapun yang Anda pergunakan, apaila Anda mampu melawan hawa nafsu, mampu mengendalikan diri, dapat tetap berpegang teguh pada pedoman hidup yang benar, maka anda adalah orang yang beruntung dan Anda tidak memerlukan apa yang disebut dengan "Praktik Meditasi".

Namun, apabila Anda merasa begitu lemah dalam menghadapi kekuatan-kekuatan negatif yang dari waktu ke waktu senantiasa menindas Anda, dan Anda mencari jalan alternatif untuk keluar dari ketertindasan batin tersebut, maka cobalah satu jalan alternatif ini, yaitu yang disebut dengan "Seni Meditasi". Karena meditasi dapat juga disebut sebagai "Cara Berbeda Membangun Kekuatan untuk Berbuat Kebaikan".

Seorang siswa meditasi mengeluhkan masalah-masalah yang dialaminya di dalam meditasi, dia mengalami hal-hal yang tak menyenangkan di dalam meditasinya. Lalu dia bertanya, "mengapa teman-teman saya, mereka tidak pernah mengenal seni meditasi, tapi terlihat hidup mereka lebih bahagia dari pada saya ?"

Pertanyaannya membuat saya tersenyum,  "he..he.. Karena kau ini menjadikan meditasi sebagai masalah baru dalam hidupmu." kata saya kepadanya, " Janganlah menjadikan meditasi sebagai masalah, tapi jadikanlah sebagai solusi. Kau harus mengerti, apa masalahmu sehingga kau harus bermeditasi. Dengan kata lain, apa yang hendak kau selesaikan dengan praktik meditasi mu itu. Kebahagiaan diwujudkan oleh kebaikan dan kebenaran. Untuk hidup bahagia, kamu harus berbuat kebaikan dan menjaga diri agar tetap berada pada rel kebenaran. Hari-hari yang bahagia adalah hari-hari di mana kamu dapat berbuat benar dalam pikiran, perkataan dan gerak tubuhmu. Hari-hari menyedihkan adalah di mana kau terpeleset dari jalan kebenaran.  Karena itu, yang penting itu berbuat kebaikan. Untuk apa meditasi ? Tak penting. Fastabiqul khairat, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Dengan begitu, kau akan mengalami kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Tapi pertanyaannya, apakah kamu selalu mudah untuk berbuat kebaikan ? Apakah selalu kuat untuk tetap berpikir, berkata dan dan bertindak benar ? Tidak adakah hal-hal yang menghalangimu dari berbuat kebaikan ? Atau adakah kekuatan-kekuatan yang menyeretmu ke dalam keburukan ? Jika kamu merasa sulit untuk menghalau kekuatan-kekuatan yang menyeretmu pada keburukan, serta tidak dapat menghalau kekuatan-kekuatan yang menghambatmu berbuat kebajikan, maka carilah jalan untuk menemukan kekuatan itu. Dan bila kamu tidak dapat menemukannya, maka cobalah temukan di dalam Seni Meditasi."

Bagaimana Seni Meditasi dapat membantu seseorang membangun kekuatan untuk berbuat kebaikan ? Saya akan jelaskan dengan menceritakan suatu pengalaman.

Ketika sedang asyik membaca buku, tiba-tiba masuk seorang preman dan langsung menyembunyikan tubuhnya dibalik pintu. Nafasnya terngah-engah. Dia melihat ke arah saya dan menempelkan jari telunjuknya ke mulutnya, lalu dia berkata, "Diamlah … saya dikejar oleh seseorang yang hendak membunuh saya. Biarkan saya bersembunyi di sini !"

"Baiklah ! Kamu aman di sini. Insya Allah !" kata saya.

Preman itu adalah Koswara. Dia masih ada hubungan kerabat dengan saya. Namun sejak usia 15 tahun, dia memlih jalan hidup yang gelap, bersentuhan dengan minuman keras, narkoba dan prostitusi. Badannya pun dipenuhi dengan tato. Orang mengenalnya sebagai "Perusak anak gadis", "Pemabuk" dan "pencuri". Berkelahi merupakan tradisi sehari-harinya. Kini dia menemukan tempat berisirahat dari dunia hitam yang melelahkan, dari kejaran orang yang hendak membunuhnya, yaitu kamar tidur saya.

Berhari-hari, kerjaan Koswara hanyalah bermalas-malasan di tempat tidur.  Dia bergumul dengan kegelisahan atas ancaman musuh yang hendak membunuhnya. Melihat saya sembahyang mengaji, pagi, siang dan malam hari, tidak terlihat sedikitpun dia merasa tertarik untuk ikut serta. Akhirnya saya menasihatinya, "jangan kamu terus menerus bergumul dengan malas dan gelisah, shalatlah ! "

"Ah.. Males …" jawab Koswara sambil membalikan badanya di atas kasur.

Saya menejalaskan padanya tentang mengapa kita harus shalat, apa manfaat shalat di dunia dan di akhirat. Namun, pikirannya terlalu gelisah untuk mendengar. Dia malah berkata, "sekarang ini hanya satu yang kuinginkan, bagaimana caranya membunuh si Doni sebelum dia membunuhku." Dia tidak peduli soal shalat.

"Tak mengapa bila kau tak mau shalat. Tapi bisakah kau melakukan hal kecil saja yang kuminta ?" tanya saya.

"apa itu ?" tanya koswara.

"Perhatikan nafasmu ketika dia masuk dan keluar !" pinta saya.

"Buat apa ?" tanya Koswara.

"Lakukan saja !"

Koswara memejamkan matanya, serta memusatkan perhatiannya pada nafas, keluar masuk beberapa detik saja. "Sudah!" katanya.

"Cobalah baca tasbih ketika nafasmu masuk, dan bacalah hamdalah ketika nafas berhembus keluar !" kata saya.

Koswara mengikuti instruksi saya dan melakukannya beberapa detik. Ketika matanya terbuka, saya segera memberi instruksi, "bangun ! Duduklah !"

Dengan serta merta Koswara . Dan saya katakan, "Pejamkan matamu ! Terus perhatikan nafasmu, baca tasbih dan hamdalah." saya biarkan dia menikmati proses itu, sampai ketika matanya terbuka dan tampaknya hendak mengatakan sesuatu pada saya, saya memberinya instruksi, "berdirilah, pergilah ke air dan berwudhu, lalu shalat lah."

Koswara tertawa terkekeh. Wajahnya menunjukan rasa heran.  Dia masih enggan untuk shalat, tapi dia tidak dapat menentang perintah saya. Dia merasakan sesuatu seperti "kekuatan mistik" yang memaksa tubuhnya untuk bergerak seperti yang saya perintahkan.  Dia tertawa, karena menganggap keadaan itu aneh, mengherankan sekaligus menggelikan.

Usai melaksanakan shalat, Koswara menghampiriku. Wajahnya bersinar dan dia mengungkapkan perasaan herannya. Saya tidaklah heran, karena itu adalah hal yang biasa saya lakukan pada diri saya sendiri, sehingga kata "malas" sudah lama lenyap dari kamus hidup saya. Apa yang saya pikir harus saya kerjakan, maka akan saya kerjakan, tak ada hambatan dari rasa malas. Dan apabila saya memutuskan untuk tidak mengerjakan sesuatu, itu karena atas suatu alasan lain, bukan karena rasa malas. Ini adalah gambaran, bagaimana teknik meditasi membantu saya membangun kekuatan untuk menghancurkan rasa malas sebagai hambatan berbuat baik, sehingga belajar dan bekerja, bebas dari rasa malas dan menjalani hari-hari dengan penuh semangat. Ini adalah nikmat dari Tuhan.  Demikian pula teknik meditasi dapat menghancurkan faktor-faktor mental penghambat lainnya seperti kebencian dan kegelisahan.

Anda mengetahui sesuatu harus Anda perbuat, tapi tidak Anda perbuat. Atau Anda mengetahui sesuatu tidak boleh Anda perbuat, tapi Anda perbuat. Apabila Anda sering berada dalam kondisi ini, maka wapadakah, itu dapat merupakan pertanda bahwa Anda telah dihambat untuk berbuat baik oleh faktor-faktor mental negatif. Jadi, periksalah, apa benar terdapat hambatan mental di situ ? Dan perhatikan, bagaimana biasanya Anda melawan hambatan mental tersebut ?
« Edit Terakhir: Januari 15, 2018, 08:32:12 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kangsol

Re:Kekuatan Untuk Berbuat Baik
« Jawab #1 pada: Januari 02, 2018, 11:25:54 AM »
Mantap. Sedari awal hingga akhir saya senang membacanya. Terima kasih.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
950 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2013, 02:34:02 PM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
1262 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 16, 2014, 09:29:00 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
115 Dilihat
Tulisan terakhir September 26, 2016, 04:52:27 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
243 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 31, 2017, 06:44:59 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
161 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2017, 01:48:03 AM
oleh Sultan
1 Jawaban
122 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2017, 12:46:22 AM
oleh Sultan
1 Jawaban
87 Dilihat
Tulisan terakhir September 18, 2017, 07:23:56 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
33 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 31, 2017, 07:35:34 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
144 Dilihat
Tulisan terakhir November 12, 2017, 07:23:35 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
19 Dilihat
Tulisan terakhir November 17, 2017, 11:14:24 AM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan