Penulis Topik: Bukan Untuk Menjadi Kaya atau Miskin  (Dibaca 49 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 355
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Bukan Untuk Menjadi Kaya atau Miskin
« pada: November 18, 2017, 03:31:03 AM »
Di salah satu forum ahteis, saya pernah diskusi soal manfaat meditasi untuk ketenangan. Salah seorang member di sana berkata, "Ketenangan yang diperoleh dalam meditasi itu semisal sulap batin."Dia bermaksud mengatakan bahwa ketenagan tersebut bersifat menipu. Bahwa menurutnya hidup ini tidak butuh bentuk ketenangan-ketenangan seperti itu. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Indri, salah seorang teman saya, ketika kami makan malam di sebuah restoran bersama suaminya. Usai makan-makan, kami berbincang-bincang. Gunawan, suami Indri senang sekali berdiskusi tentang teori-teori meditasi. Di tengah diskusi itu, Indri berkomentar, "Saya itu heran dengan perkataan-perkataan kang Asep, membicarakan persoalan ketenangan, kegelisahan, semangat, sebegitu ribetnya. Kalau hidup saya itu gak ribet begitu. Sewaktu sekolah saya belajar dengan baik, selalu dapat rangking satu. Lulus kuliah dengan nilai  yang cukup tinggi. Lalu bekerja, menghasilkan uang, beli tanah, beli rumah, hidup happy."

saya tersenyum dan berkata, "saya turut bergembira, bila hidupmu happy. Saya hanya ingin bertanya, kamu happy karena kamu sehat dan punya cukup uang. Benar ?"

"Benar." Jawab Indri.

"Dan saya adalah orang yang happy hanya karena dapat bernafas". Kata saya.

"Maksudnya ... ?" Indri mengerutkan dahi.

"Kamu butuh uang untuk membuat hidupmu happy. Dan saya hanya butuh bernafas." kata saya.

"Memangnya kalau kamu gak punya uang, kamu bisa tetap happy ?" tanya Indri.

Saya jawab, "tentu bisa, itulah hasil dari praktik meditasi."

Indri berkata lagi,"Untuk apa happy, kalau gak punya uang. Kayak orang gila, tertawa-tawa sendiri, walaupun dia gak punya uang. Orang punya uang, lalu dia happy, itu logis. Gak punya uang, tapi happy, kan kayak orang gila. Hidup itu tidak cukup hanya sekedar tenang."

"Betul... Sebagaimana hidup juga tidak cukup sekedar bergumul dengan kesedihan dan kegelisahan." balas saya.

"karena itu, supaya tidak sedih, kamu harus punya uang." kata Indri.

"Tapi saya tidak ingin kebahagiaan saya lenyap ketika saya punya uang atau ketika tak punya uang, ketika hidup maupun setelah mati, ketika sehat maupun sakit." demikian saya katakan.

Indri berkata lagi, "saya sungguh tidak mengerti jalan pikirannya kang Asep, untuk happy, kita itu harus kerja dan punya cukup uang. Lihat kami, bukan ahli meditasi seperti kang Asep, tapi kami lebih sukses dari kang Asep. Saya khawatir, jangan-jangan ketenangan-ketenangan meditasi yang kang Asep rasakan itu membuai hidup kang Asep, sehingga perekonomiannya tidak berkembang."

"Jika demikian, mengapa banyak teman dan saudara saya -dia tidk pernah terbuai dalam ketenangan-ketenangan meditasi, mereka bukan ahli meditasi seperti kamu-, tapi mereka tidak kaya seperti mu ?" tanya saya.

"Entahlah." indri mengangkat kedua bahinya sambil mencolek es krim dengan sendok.

"Itu merupakan bukti bahwa tidaklah benar Anda menjadi kaya karena tidak pernah melakukan praktik meditasi dan tidak benar saya miskin karena saya tukang meditasi." kata saya.

Setelah menyantap beberapa sendok es krim, Indri berkata,"saya hanya tidak mengerti, mengapa kita ini perlu meditasi gitu lho. Hidup kami aman, nyaman, sukses tanpa harus meditasi."

"Karena meditasi bukan suatu cara untuk menjadi aman, nyaman dan bahagia karena harta benda, bukan cara untuk menjadi gembira karena memperoleh sesuatu, tapi merupakan cara bergembira karena melepaskan sesuatu." demikian saya katakan.

"kata-kata yang menarik, tapi saya tidak dapat membayangkan bagaimana artinya. Menurut saya, apa yang sudah kami jalani selama ini sudah benar. Dan harusnya kang Asep mengikuti jejak kami. Tidak kah kang Asep ingin sukses seperti kami, kasihan sama anak dan istri, masa sampai sekarang hidup kalian masih begitu-begitu aja. Mungkin kang Asep terlalu banyak mendalami meditasi, sehingga tidak fokus untuk memikirkan hal-hal lain seperti bisnis." kata Indri.

"Jika demikian, lalu mengapa banyak ahli meditasi yang kaya raya ? Mengapa mereka tidak miskin seperti saya ?" tanya saya.

"Entahlah," jawab Indri pendek.

"itu menunjukan bahwa praktik meditasi, bukan sebab seseorang jatuh miskin." demikian kata saya.

"Lalu, mengapa kang Asep keadaannya masih begini-begini juga, setelah 10 tahun kita tidak berjumpa, padahal kami telah mengalami banyak perubhan ?" tanya Indri.

"Sebenarnya sayapun telah mengalami banyak perubahan. Tak seorangpun yang tidak mengalami perubahan. Saya merasa cukup dengan apa yang telah saya daptkan. Miskin dan kaya itu soal konsep manusia, soal sudut pandang. Saya sudah merasa kaya, lihat ini sepuluh jari saya, satu jari pun tidak akan saya jual dengan harga 1 triliun. Itu brarti, jari jemari saya lebih berharga dari harta triliunan rupiah," sejenak saya menarik nafas panjang dan menghembuskannya ke udara, "dan perhatikan, bagaimana saya bernafas dengan bebas. Semua ini sungguh menyenangkan. Udara di bumi ini adalah kekayaan yang tiada taranya. Mari kita renungi mereka yang terbaring di ruang ICU, di mana oksigen di udara ini tidak lagi memenuhi kebutuhannya, harus dibantu dengan oksigen tabung. Satu tarikan nafas, harus dibayar mahal di rumah sakit. Maka, dengan anugerah yang telah tuhan berikan kepada saya, bagaimana saya tidak merasa gembira ?"

Indri berkata, "Kalau kang Asep bisa sih seperti itu, bisa nyaman, bisa happy, hanya dengan cara berpikir seperti itu. Nah.. Trus.. Bagaimana dengan anak istrinya ? Ini mislanya aja ni, kalau kang Asep lapar, kang Asep bisa tetap bersabar dan bersyukur, tapi apa anak istrinya bisa menahan lapar ?"

segera saya menjawab, "lalu, bagaimana saya akan dapat menasihati anak dan istri saya untuk bersabar dan bersyukur, apabila diri saya sendiri tidak memiliki cukup kesabaran dan rasa syukur ? Bagaiman saya akan dapat mengajarkan anak istri saya untuk dapat menikmati nafas yang masuk dan berhembus, bila saya sendiri tidak dapat menikmatinya ? Saya hendak berjalan di jalan yang lurus dan dapat mengajak anak dan istri saya untuk mengikuti langkah kaki saya. Tetapi, bila mereka sendiri memutuskan untuk berbelok dari jalan yang saya tempuh, maka saya tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan tubuh dan jiwa orang lain. Setiap orang adalah pewaris dari perbuatannya sendiri, setiap orang bertanggung-jawab atas perilakunya, dan setiap orang akan memetik hasil dari perbuatanya."

Indri tersenyum berujar, "saya membayangkan, kalau saya jadi istrinya kang Asep, saya akan merasa kesal karena kang Asep hdupnya terlalu tenang. Gak punya apa-apa juga tenang. Kalau saya, gak bisa begitu kang. Coba aja tanya sama mas Gun, saya itu orangnya sangat rewel. Gak bisa lihat suami tenang-tenang di rumah, karena hidup itu harus kejar target. Waktu kami belum punya tanah, target saya tuh bisa beli tanah. Itu suami saya, gak mikir-mikir. Saya yang sering bawel, pikir dong... Gimana caranya biar kebeli tanah. Jangan santai-santai saja. Udah kebeli tanah, kami target beli rumah, mengembangkan bisnis dan terus begitu. Itu yang namanya hidup."

Saya tersenyum, "saya kenal kamu sejak kecil, sebagai seorang wanita yang cerdas. Kamu juga menyelesaikan kuliahmu dengan cepat. Jarang wanita cerdas seprti mu. Dan saya tidak secerdas kamu. Tidak semua orang dapat mengikuti jejakmu, seperti halnya tidak semua orang dapat mengikuti jejak saya. Kita telah menempuh jalan yang berbeda dalam hidup ini. Semoga kamu bahagia dengan jalan yang kamu tempuh, dan bila jalan yang saya tempuh adalah jalan yang salah, semoga saya mendapat kekuatan untuk melihat kesalahan itu dan memperbaikinya."

Meditasi bukanlah cara untuk menjadi kaya, bukan pula jalan untuk menjadi miskin. Meditasi memang merupakan salah satu cara untuk menangkan diri, tetapi bukan hanya mengejar ketenangan. Ketenangan hanyalah alat untuk mencapai kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan adalah hal yang penting untuk selalu dimiliki, dalam hidup sehat atau sakit, miskin ataupun kaya.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 180
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Bukan Untuk Menjadi Kaya atau Miskin
« Jawab #1 pada: November 18, 2017, 08:25:11 AM »
Begitulah Kang Asep apabila kita berbicara tentang hal - hal yang bersifat tinggi bagi kalangan umum pada orang - orang yang tingkat keilmuannya tidak selevel dengan kita. Apalagi di dalam kehidupan sehari - hari.
Orang - orang yang kita ajak bicara akan cenderung sok mengerti, sok paham, sok pragmatis, terlebih lagi apabila mereka membantah perkataan - perkataan mereka dengan pernyataan - pernyataan sok pragmatis seperti pada obrolan antara Kang Asep dengan Indri.
Terkadang tindakan kita ini menimbulkan rasa bersalah dan penyesalan yang sering muncul dikemudian;
"Harusnya tadi itu aku tidak membicarakan persoalan ini ke dia. Soalnya dia bukan orang yang cocok untuk membicarakan persoalan ini",
" Lebih baik mengalah saja lah... daripada nantinya obrolan ini malah mengganggu hubungan baik kita berdua. Ternyata dia bukan orang tepat buat masalah ini",
"Biar aku simpan sendiri saja pengetahuan berharga ini. Percuma bila dibicarakan pada orang - orang ini; tidak ada yang bisa mengerti".

Kebanyakan orang itu hanya memfokuskan pikiran, dan hidup mereka secara lebih meluas lagi, pada hal - hal yang bersifat pragmatis semacam uang, pekerjaan, pasangan, dan persoalan - persoalan kehidupan sehari - hari lainnya.
Dengan begitu secara sendirinya mereka telah mengkondisikan diri untuk cenderung berpikir pragmatis dan berpandangan pragmatis pula terhadap sesuatu; menjadikannya sebagai bagian dari diri mereka; karakter mereka.
Kebiasaan untuk cenderung berpikir dan berpandangan pragmatis tersebut sedemikian menyatu dengan diri mereka hingga mereka sulit untuk memahami berbagai hal idealis - filosofis yang kita sampaikan padanya.


Hal - hal yang bersifat filosofis - idealis adalah sesuatu yang "tak biasa" bagi kaum pragmatis.
Berbicara mengenai persoalan - persoalan filosofis - idealis pada mereka lebih banyak berakhir dengan cara - cara yang buruk; ketidaknyambungan, pertengkaran, perdebatan, penyesalan, rasa bersalah, dan lain sebagainya.
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 180
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Bukan Untuk Menjadi Kaya atau Miskin
« Jawab #2 pada: November 18, 2017, 08:26:59 AM »
Saya membicarakan hal ini juga atas dasar pengalaman pribadi mengenai persoalan ini.
Di dalam kehidupan sehari - hari, saya lebih memilih untuk menutup mulut rapat - rapat dari membicarakan hal - hal yang bersifat tinggi bagi kebanyakan orang di sekitar lingkungan saya. Demi menjaga hubungan baik.
Beberapa orang teman ada yang mengetahui aktifitas - aktifitas saya di grup ini, di forum medialogika.org, dan tentang Kang Asep.
Ketika ada pertanyaan - pertanyaan dari mereka mengenai hal tersebut, biasanya saya hanya menjawab "rahasia" atau "suka - suka". Begitu pula ketika ada pertanyaan - pertanyaan yang serupa dari nenek saya.
Tetapi di antara semua teman - teman saya ada salah satu teman yang mengerti dan paham dengan baik mengenai aktifitas - aktifitas saya di grup dan di forum.
Dan ketika ia mengkonfirmasi pada saya mengenai siapa Kang Asep itu maka barulah saya berterus terang padanya bahwa Kang Asep adalah guru saya walaupun hanya sedikit.

Ada juga orang - orang tertentu yang merasa mengerti dan menguasai suatu persoalan filosofis - idealis namun memberikan penjelasan - penjelasan yang keliru.
Terhadap mereka saya hanya mengambil sikap diam, menganalisis penjelasan - penjelasan mereka, kemudian tersenyum simpul.
Salah satu orang yang saya maksud adalah paman saya sendiri.
Ketika paman sedang berkunjung ke Pracimantoro dalam rangka mudik untuk lebaran tahun 2016 lalu, pada suatu kali ia pernah berbicara pada saya selepas saya berkata padanya bahwa saya memiliki minat terhadap filsafat dan hobi berfilsafat :

"Filsafat itu bisa bikin gila, Karena sifatnya tinggi dan ilmunya dalem" ujarnya.

Kemudian saya pun membatin :

"Sebelum paman menjelaskannya saya sudah tahu kalau filsafat itu bersifat tinggi dan materi - materinya terlalu dalam bagi kebanyakan orang.
Namun saya tidak setuju kalau filsafat itu bisa membuat orang menjadi gila.
Tetapi saya tidak mau jadi berdebat sama paman jika saya mengatakan bantahannya".

Lalu saya pun tersenyum simpul, kemudian pergi dari hadapannya.
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
1757 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 12, 2016, 09:14:09 AM
oleh Sandy_dkk
17 Jawaban
3575 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 22, 2013, 07:01:26 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
4015 Dilihat
Tulisan terakhir April 16, 2013, 02:14:12 PM
oleh Awal Dj
5 Jawaban
1454 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 30, 2013, 01:18:45 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
578 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 09, 2014, 01:13:40 PM
oleh Abimanyu
0 Jawaban
1038 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 15, 2014, 11:24:01 PM
oleh aten
Aja Kaya Kuwe

Dimulai oleh ratna Puisi

3 Jawaban
592 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 24, 2015, 01:33:04 PM
oleh Ziels
3 Jawaban
758 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 19, 2016, 05:59:43 PM
oleh Kang hendri
0 Jawaban
103 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 11, 2017, 02:13:30 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
18 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 12, 2017, 01:52:23 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan