Penulis Topik: Bebas dari Rasa Sakit  (Dibaca 24 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Bebas dari Rasa Sakit
« pada: November 08, 2017, 03:47:59 PM »
SK : Untuk Kesehatan Jasmani dan Ruhani
====================
1. Bantuan Yang Besar Bagi Orang Sakit
2. Batin Dan Jasmani Yang Sehat
3. Service Tubuh Batin
4. Bebas Dari Rasa Sakit
====================

4. Bebas Dari Rasa Sakit
Edisi : 25 Juli 2017, 05:05:56

Sakit kepala merupakan penyakit yang sering dialami oleh kebanyakan orang. Boleh dikata, ini merupakan penyakit yang lumah dan tidak dianggap sebagai penyakit berat seperti halnya penyakit jantung, ginjal, paru-paru, dll. Walaupun sebenarnya sebagian rasa sakit kepala tidak selalu berarti "penyakit ringan". Beberapa penyakit berat berdampak pada rasa sakit kepala.

Salah seorang tetangga saya, sebut saja namanya Jerry. sering mengalami sakit kepala. Tapi dia tidak terlalu memusingkan hal itu. Sekarang ini, ada banyak obat sakit kepala yang "ces pleng" alias manjur. Cukup dengan uang seribu perak, bisa beli obat sakit kepala dan biasanya tak lama sembuh. Tapi rasa sakit kepala yang dialami Jerry makin hari makin menjadi. Obat warung tak mempan lagi. Dia pun dibawa berobat ke dokter.  Ternyata sakit kepala yang dirasakannya itu berasal dari tumor yang ada di kepalanya. Ini gambaran yang menunjukan bahwa rasa sakit kepala bisa jadi berasal tadi penyakit yang berbahaya. Semoga kita sehat, dijauhkan dari penyakit-penyakit berbahaya seperti itu.

Saya bersyukur bahwa hampir 15 tahun lamanya saya tidak lagi mengalami yang namanya rasa sakit kepala. Boleh dikata, sudah lupa dengan namanya sakit kepala, dan tentu tidak perlu lagi obat sakit kepala. Saya mempertahankan keadaan ini dengan berbagai faktor, diantaranya menjaga pola makan, pola tidur, pola kerja dan salah satu faktor penunjang terbesar adalah kegemaran praktik meditasi. Bagaimana meditasi membantu saya membebaskan diri dari sakit kepala ? Ini yang ingin saya jelaskan pada kesempatan ini. Saya prihatin dengan orang-orang yang sering menelan pil anti sakit kepala dan berharap mereka sehat, bebas dari rasa sakit kepala tanpa harus minum obat. Semoga uraian ini menjadi motivasi bagi orang lain untuk bagaimana menjadi sehat tanpa obat.

Mengapa meditasi dapat membebaskan kita dari rasa sakit kepala ? Pertama, karena dalam meditasi kita belajar teknik relaksasi. Teknik relaksasi ini adalah teknik untuk mengendurkan otot dan syaraf.  Jika dilatih dalam jangka waktu lama, kita dapat lebih terampil mengendurkan otot dan syaraf tubuh. Sakit kepala kebanyakan disebabkan oleh ketegangan oto dan syaraf ini.

Kedua, dalam seni meditasi juga kita belajar tentang "Melihat sesuatu sebagaimana adanya." Teknik ini akan mengantarkan kita pada kesadaran bahwa "rasa sakit" itu adalah ilusi. Gambaran ilusi rasa sakit ini akan saya ilustrasikan dengan cerita berikut :

Seorang perempuan, sebut saja namanya Lely, dia seringkali mengeluh sakit kepala. Suatu pagi, dia berjumpa dengan saya. Matanya terlihat berkaca-kaca. Dan seperti biasanya, dia mengelukan sakit kepala. Tampaknya kali ini rasa sakit kepala nya sangat berat. Saya berkata padanya, "Sebenarnya kamu gak sakit kepala."

"Justru kepala saya sakit banget." jawab Lely.

"Itu hanya ilusi." kata saya.

"Ilusi bagaimana .. Saya gak ngerti." kata Lely.

"Untuk mengerti, cobalah mari saya ajarkan meditasi. Duduklah dengan tenang, pejamkan mata, dan konsentrasi pada rasa sakit di kepala mu. .. " saya menginstruksikan.

Setelah Lely mempraktikan apa yang saya instruksikan, saya bertanya, "Apakah sekarang kamu merasa sakit di kepala mu ?"

"Ya." jawab Lely.

"Apakah kamu dapat menunjuk dengan ujung jari mu, sebelah mana rasa sakit itu kamu rasakan ?" tanya saya lagi.

Lely menunjuk kepada satu bagian di kepalanya.

"Perhatikan dengan seksama ke arah yang kamu tunjuk itu. Benarkah rasa sakit itu ada di situ ? Perhatikan pula, apakah rasa sakitnya tetap, melemah atau menguat, apakah terus mnerus sakit ataukah muncul dan lenyap ?" kata saya.

"rasa sakitnya berdenyut, muncul dan lenyap. Eh... Kok pindah sakitnya .." ujar Lely.

"ke mana pindahnya, ayo tunjuk lagi !"

Lely pun menunjuk ke bagian lain di kepalanya. Tapi tak lama, rasa sakitnya pindah lagi,dan Lely menunjuk ke bagian lain lagi sebagaimana saya instruksikan. Setelah beberapa kali menunjuk, Lely membuka matanya dan dia menatapku. Saya bertanya, "kenapa kok berhenti menunjuk rasa sakit itu ?"

"enggak tahu... Kok tiba-tiba rasa sakitnya hilang ..." jawab Lely.

"Jadi, sekarang kamu tidak merasa sakit kepala ?" tanya saya.

Lely menggeleng kepala. Dia tampak bingung dan heran, juga terlihat mencoba mencari kembali rasa sakit yang tadi dia rasakan. Tapi tak berhasil menemukan. Berkali-kali dia bergumam, "Lha.. Kok menghilang .. Tadi kepalaku sakit kok...".

Itulah gambaran ilusi sakit kepala. Cerita tersebut diambil dari pengalaman nyata. Ilusi tersebut disingkirkan melalui teknik konsentrasi. Anda pun dapat melakukan trik yang sama dengan yang dilakukan Lely untuk mengatasi rasa sakit kepala dan lalu tak perlu lagi minum obat.

Mudah dan sederhana, hanya dengan cara ditunjuk, rasa sakit itu lenyap. Tapi bagi sebagian orang, ini akan terlihat aneh dan mustahil.  Dan sebagian lagi, tidak berhasil mengenyahkan rasa sakit kepala dengan trik ini, sehingga dapat menganggap bahwa trik ini hanya bualan semata. Persoalannya, lenyapnya rasa sakit tersebut bukan soal soal ditunjuk oleh ujung jari, melainkan bagaimana kekuatan konsentrasi seseorang ketika menunjuk rasa sakit tersebut. Tapi dari pada berspekulasi, lebih baik coba praktikan saja. Tidak ada resiko yang berbahaya kok. Jika Anda tidak berhasil mengenyahkan rasa sakit dengan trik ini, maka lakukan pengobatan seperti biasanya Anda melakukannya selama ini. Tapi bila Anda mengalami keajaiban, maka berikan testimoni Anda pada saya.

Konsentrasi butuh keterampilan. Karena itu seringkali saya menyebutkan "keterampilan konsentrasi".  Tetapi orang yang tidak sering berlatih konsentrasi pun, bisa saja tanpa sengaja masuk ke dalam arus konsentrasi yang mendalam, sehingga ilusi perasaan itu bisa dienyahkan. Seperti yang terjadi pada Lely, dia masuk pada konsentrasi yang mendalam, dengan bantuan bimbingan saya. Karena itu, ilusi menyingkir. Sebagian orang tidak dapat menyadari bahwa rasa sakit itu hanyalah ilusi, karena daya konsentrasinya tidak memadai untuk membuatnya sadar. Tetapi apailla Anda rajin berlatih meditasi, membiasakan diri meditasi setiap hari, maka Anda akan selalu merasa mudah untuk mengenyahkan ilusi rasa sakit itu.

Lenyapnya rasa sakit, belum tentu berarti lenyapnya penyakit. Karena ada perbedaan antara pernyakit dan rasa sakit. Rasa sakit itu adalah "alarm tubuh", yang memberi tahu bahwa di dalam tubuh sedang terjadi masalah. Karena itu, kita perlu bertindak untuk mengatasi masalah tersebut. Contohnya, orang merasa sakit kepala, itu bisa berasal dari lambung atau perut kembung. Perut kembung, bisa disebabkan oleh makanan pedas, kopi atau makanan yang dikonsumsi kurang sehat. Sehingga solusinya, agar tidak sakit kepala mesti mengatur pola makan yang baik. Kalau perlu berpuasa sunnah bagi yang muslim. Dengan begitu, kita menggunakan "rasa sakit kepala" sebagai petunjuk tentang "apa yang harus kita perbuat" atau "bagaimana pola hidup yang seharusnya". Tapi kalau selalu menggunakan obat-obatan kimia untuk mengatasi rasa sakit kepala, itu seperti anestesi pada gusi yang biasa diberikan dokter sebelum mencabut gigi pasein. Bagaimana kiranya memberikan anestesi, tapi giginya tak pernah dicabut ? Tentu itu konyol dan bodoh. Seperti itu pula, apabila setiap kali merasa sakit kepala, kita dpat membius diri dengan obat sakit kepala. Tapi bila penyakitnya tak pernah dicabut, berarti ini sebuah kekonyolan.

Daya konsentrasi yang mengenyahkan rasa sakit, itu tak ubahnya obat bius. Dengan konsentrasi tersebut, rasa sakit ditekan, sehingga menjadi tidak terasa. Sinyal rasa sakit itu tidak sampai kepada otak. Perumpamaan lainnya seperti alarm. Jika kita menganggap alam itu sendiri sebagai bahaya dan lalu mematikannya setiap kali berbunyi, maka ini sebuah kesalahan. Alarm adalah tanda bahaya, bukan bahaya itu sendiri. Segera cari tahu apa yang terjadi, bila alarm berbunyi. Itulah sikap yang benar.

Banyak orang tidak dapat membedakan antara sakit dengan rasa sakit. Sebenarnya orang yang sakit belum tentu merasa sakit. Kenyataannya, orang yang merasa sakit juga belum tentu sakit. Ini adalah problem. Ada penyakit yang menjadi sangat berbahaya, karena orangnya tak merasakan sakit. Karena tak merasa sakit, maka tidak mencari obat. Seperti kanker yang diidap seseorang, terus berkembang di dalam dirinya tak tidak dirasakan. Baru terasa setelah stadium 4 dan sulit untuk diiobati. Andainya saja terasa sakit sejak stadium 1, niscaya lebih mudah pengobatannya.

Dengan menguraikan manfaat rasa sakit, saya berharap pembaca menghargai rasa sakit itu dan tidak selalu mempergunakan anti rasa sakit, apakah itu obat-obatan kimia maupun meditasi. Dengan kekuatan yang dikembangkan dengan seni meditasi, seseorang dapat "melupakan rasa sakit" hingga tingkat yang ektrem.  Inilah yang justru saya khawatirkan. Karena itu saya berpesan, apabila kelak Anda mahir mengatasi rasa sakit, maka ingatlah pesan saya untuk tidak membuang semua rasa sakit. Rasa sakit yang perlu dibuang adalah : Pertama rasa sakit yang berlebihan, sehingga rasa sakit tersebut mengganggu kenyamanan, merenggut kebahagiaan dalam hidup sehari-hari. Kedua, rasa sakit yang hanya merupakan ilusi atau tidak memberi petunjuk kepada bahaya apapun di dalam tubuh.

Akibat pola kerja yang terlalu banyak duduk, dan konsumsi kopi berlebihan, saya pernah mengalami sakit batu ginjal. Rasa sakitnya bukan main, membuat saya tidak dapat tidur siang malam. Setelah berobat, dokter memberi saya obat anti rasa sakit. Tapi saya tidak mau menggunakan obat-obatan seperti itu. Bukan obat pereda rasa sakit yang saya ingin, melainkan obat untuk menghancurkan batu ginjal itu. Jika saya ingin mengenyahkan rasa sakit akibat batu ginjal itu, maka cukuplah bermeditasi 5 atau 10 menit, maka rasa sakit itu lenyap. Tapi saya tak mau melenyapkannya. Sebab apabila rasa sakitnya lenyap, maka saya tak akan berkeinginan untuk mencari obat.

Cerita lainnya, pada tahun 2002 saya mengalami sakit gigi yang keras. Rasa sakit itu menyiksa sekali. Saya menelan obat sakit gigi dari dokter, tetapi setelah dua malam, sakitnya tak kunjung reda. Akhirnya di malam ketiga, pukul 2.00 dini hari, saya memutuskan membuang rasa sakit itu dengan cara meditasi. Tak menyangka, tidak perlu waktu lama untuk meredakan rasa sakit itu, hanya dalam waktu 3 menit saya rasa sakit itu lenyap tanpa bekas.

Saya bukanlah anti obat-obatan kimia. Dulu, saya suka juga menggunakan obat anti pereda sakit, karena menolak obat pereda sakit dan hanya mengatasinya trik meditasi membuat saya merasa seperti sombong. Jadi, saya minum obat pereda sakit untuk "tak merasa sombong". Seperti rasa lapar, yang memang bisa ditahan sampai mati sekalipun. Tetapi, kalau menolak makanan karena merasa kuat menahan lapar, itu salah satu bentuk kedzaliman. Saya tidak mau dikategorikan kepada dzalim maupun sombong, oleh karenanya saya tidak anti terhadap obat-obatan baik untuk sakit itu sendiri maupun untuk rasa sakitnya. Keterampilan meditasi bukan untuk menjadi anti obat-obatan, melainkan untuk menjadi bijak dalam menggunakan obat-obatan.

Sewaktu kecil saya sering mengalami sakit gigi. Hingga usia 6 tahun, saya diajak berobat ke pengobatan tradisional yang menggunakan trik pengasapan mulut. Dengan trik pengasapan itu, dari mulut keluar ulat-ulat kecil yang katanya merupakan sumber sakit gigi. Banyak orang bilang bahwa trik pengobatan seperti itu adalah kebohongan. Teman-teman saya yang profesinya dokter mengatakan bahwa tidak ada ulat di dalam mulut. Tapi sungguh, sejak pengobatan dengan trik pengasapan itu, saya bersama teman-teman saya tidak pernah lagi mengalami sakit gigi, hingga usia saya mencapai 23 tahun, barulah mengalami kembali sakit gigi. Dalam kurun waktu 16 tahun, hidup tanpa keluhan sakit gigi. Sementara dalam masa itu, saya mendapati banyak orang sebaya sering mengalami sakit gigi. Demikian sekarang dengan trik meditasi, sejak tahun 2003 hingga sekarang saya hidup tanpa keluhan sakit kepala.

Kendatipun bebas dari rasa sakit kepala dan rasa sakit-sakit yang lainnya, tapi bukan berarti saya selalu sehat. Sesekali saya mengalami demam. Tubuh saya panas dingin, meriang dan saya harus cuti dari bekerja untuk beristirahat, dan lalu memperbanyak makan sayur dan buah selama 1 atau 2 hari. Proses meditasi sangat membantu dalam proses pemulihan kesehatan, terutama dalam mengatasi rasa sakit. Saat demam, seseorang bisa merasakan kesakitan yang sangat pada tubuhnya, sehingga mengganggu kenyamanan jiwanya. Inilah rasa sakit yang harus dibuang. Sedangkan demam itu tidak bisa disingkirkan. Karena itu merupakan mekanisme tubuh dalam mengatasi penyakit yang menyerang dalam tubuh.  Jadi, saya ingin "menghormati tubuh" dengan membiarkan tubuh berproses dalam mengatasi penyakit.

Yang diharapkan dari praktik meditasi itu bukan saja meredanya rasa sakit, melainkan juga terangkatnya penyakit. Apabila tubuh sakit, tubuh memerlukan asupan nutrisi yang baik, dan kadang diperlukan boat-obatan.  Tidak semua rasa sakit dan penyakit dapat diatasi dengan teknik meditasi. Maka gunakanlah obat-obatan apbila memang diperlukan. Seperti halnya keseleo atau patah tulang, urat yang salah tempat tidak akan dengan serta merta kembali ke tempatnya karena trik meditasi. Tulang yang patah tidak bisa tiba-tiba menyambung kembali hanya dengan meditasi. Seseorang perlu datang ke bengkel tulang, untuk menyambungkan dan membenahi tulang yang patah itu. Tetapi ada penyakit yang ditimbulkan akibat pikiran-pikiran jahat yang tak disadari. Kejahatan pikiran ini pada dasarnya merupakan sumber penyakit yang terbesar. Pikiran jahat bukan saja dapat membuat tubuh seseorang merasa sakit dan berpenyakit, bahkan pikiran yang jahat itu dapat membuat seseorang terbunuh. Meditasi itu merupakan cara untuk membersihkan pikiran-pikiran jahat ini, yang berarti mengatasi penyakit dari akarnya.

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
7 Jawaban
1884 Dilihat
Tulisan terakhir April 23, 2013, 11:07:30 PM
oleh Kang Asep
71 Jawaban
29331 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 14, 2015, 09:59:07 PM
oleh Agate
0 Jawaban
1654 Dilihat
Tulisan terakhir November 27, 2013, 07:00:16 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
671 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 06, 2015, 09:03:05 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
968 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 18, 2015, 02:43:55 PM
oleh berecar
0 Jawaban
489 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 11, 2016, 11:28:10 AM
oleh Sandy_dkk
1 Jawaban
458 Dilihat
Tulisan terakhir September 12, 2016, 01:29:44 AM
oleh Cecep Nahrowi
0 Jawaban
152 Dilihat
Tulisan terakhir September 02, 2016, 02:33:24 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
144 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 02, 2016, 02:31:35 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
141 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 20, 2016, 09:50:46 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan