Penulis Topik: Perbedaan Nilai Baik-Buruk, Benar-Salah menurut Ayah dan Anak  (Dibaca 2044 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 388
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Perbedaan Nilai Baik-Buruk, Benar-Salah menurut Ayah dan Anak
« pada: Januari 30, 2013, 11:22:11 PM »
Ini adalah dialog antara saya dan anak saya ketika ia berusia 7 tahun. Mungkin saja ada yang tidak percaya bahwa dialog berikut adalah dialog antara saya dengan anak saya yang berumur 7 tahun. Sebab, jika saya pun tidak mengalaminya sendiri, tentu sayapun tidak mempercayainya. Kenapa? Karena selama 12 tahun saya menajdi guru di sekolah, dan pernah juga mengajar anak-anak TK, dan kelas 1, 2 dan 3 SD, saya belum menemukan seorangpun anak yang cara bicaranya seperti anak saya ini. Di lain waktu, anak saya selayaknya anak-anak lain, menggunakan bahasa umumnya anak-anak. Tapi di lain kesempatan, seringkali dia berbicara seperti layaknya orang dewasa. Ini adalah hal yang aneh bagi saya. Tapi menurut psikologi, mungkin saja ada teori yang bisa menjelaskan hal ini. Dan, apakah ini suatu kelebihan atau kekurangan dia, saya tidak mengetahuinya. Yang jelas, kalau saya berdiskusi dengan anak saya itu, terkadang saya dibuatnya bingung dan stress untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Kali ini saya coba melukiskan bagaimana dialog saya dengan anak saya sebagaimana adanya. Saya mencoba menirukan kata-kata anak saya sama persis dengan yang dia katakan, walaupun mungkin tidak bisa sepenuhnya persis, namanya juga menceritakan kembali, dengan sengaja atau tidak, penambahan atau pengurangan itu bisa saja terjadi.

Pada waktu itu, kawan saya bernama Pak Abdul menawari anak saya buah Apel. “Kamu suka ini nak? Ini buat kamu, silahkan ambil!”

Anak saya menjawab, “Saya tidak suka.”

“Ayo, ambil saja tidak usah malu-malu!” kata Pak Abdul, mendesak anak saya untuk mengambil apel tersebut. tapi anak saya tetap menolak.

Saya berkata, “Ambil saja nak, ambil!”

Sejurus anak saya memandang saya, “Tapi saya tidak suka, ayah!”

“Gak apa-apa kalau kamu tidak suka, ambilah saja buah apel itu!”. kata saya. Akhirnya, tampak dengan terpaksa anak saya mengambil buah apel tersebut.

Setelah pak Abdul berlalu pergi, anak saya bertanya, “Ayah, mengapa saya harus menerima buah apel ini, padahal saya tidak menyukainya?”

“Kalau kamu tidak suka, nanti kan bisa diberikan kepada ibumu.” Jawab saya.

“Tapi kan, pak Abdul memberi untuk saya, bukan untuk ibu?”

“Iya, nak. Itu untuk kamu. Dan tidak salah, kalau kamu memberikannya lagi kepada ibumu. Kalau apel itu diberikan kepada kamu, berarti itu sudah menjadi milik kamu. Jadi, boleh saja kamu berikan kepada siapa saja.” Saya menjelaskan.

“Kalau saya membuangnya atau memberikannya kembali kepada Pak Abdul, boleh enggak yah?” tanya anak saya lagi.

“Tidak boleh!” jawab saya.

“Kenapa? Kan tadi ayah bilang boleh diberikan kepada siapa saja?” tanya anak saya lagi.

“Kecuali kepada yang memberi buah apel itu.” jawab saya.

“kenapa?”

“Karena itu namanya tidak sopan. Pak Abdul memberikan buah itu, ia ingin kamu menerimanya. Kalau kamu menerimanya, lalu dikembalikan lagi, itu tidak menyenangkan dan dianggap tidak suka dengan pemberian Pak Abdul.”

“Tapi, memang saya tidak suka apel kan yah?”

Waduh, pusing juga menjawab pertanyaan anakku ini. “Iya nak, kamu tidak suka apel. Tapi, kamu suka kan kalau ada orang yang menyayangi kamu?”

“Iya.” Jawab anak saya.

“Nah, yang kamu sukai itu adalah kasih sayang Pak Abdul. Dia memberikan apel itu atas dasar kasih sayang. Jadi, dengan menerima apel itu sebenarnya kamu menerima kasih sayangnya, bukan semata buah apelnya.” Saya menjelaskan kepada anak saya. Mudah-mudahan kali ini dia mengerti.

“Tapi saya tidak boleh bohong kan yah?”

“Benar. Bohong itu tidak baik.”

“Kan tadi Pak Abdul bilang, apakah saya suka apel ini, saya jawab tidak. Kan saya jujur ayah, saya memang tidak suka buah apel.”

“Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban, dan tidak semua hal yang kamu rasa harus kamu katakan. Sekarang pikirkan, bagaimana kalau ada tetangga kita yang datang jauh-jauh membawa makanan untuk kita, tapi setibanya di rumah kita, kita menolak makanan itu, mengatakan bahwa kita tidak menyukai makanan itu, dan menyuruh tetanggan kita membawanya kembali. Pastilah tetangga kita itu menjadi sedih hatinya.” Saya mencoba menjelaskan kembali dengan contoh lain.

“Jadi, kita harus mengatakan kalau kita menyukai makanan itu?” tanya anak saya.

“Tidak, tapi kita bisa mengatakan, `terima kasih atas kirimannya`, dan nanti kita bisa memberikan makanan itu kepada yang lebih membutuhkan dan menyukainya.” Demikian kata saya.

Anak saya tampak termenung, lalu dia berkata sambil tersenyum, “Saya belum mengerti ayah. Kalau kita menerima makanan yang tidak kita sukai, berarti kita berpura-pura suka dengan makanan itu. berarti kita berbohong. Padahal berbohong itu tidak boleh. Saya jadi bingung, ayah.”

“Tidak usahlah bingung, nak. Itu hanya pendapat ayah. Kamu punya pendapat sendiri. Tapi ayah harus menyampaikan pendapat ayah. Kalau perkataan ayah benar, kelakpun kamu akan mengerti bahwa yang dikatakan ayah ini benar. Mungkin juga pendapat kamu benar, tapi ayah tidak mengetahuinya. Ayah telah memaksamu untuk melakukan hal yang baik menurut ayah, tapi tidak baik menurut dirimu sendiri. ayah tidak tahu, apakah ini adil bagimu. Tempo hari ayah juga memarahi kamu, karena melihat kamu sedang mengejar-ngejar ular di halaman sekolah. Ayah mencegah kamu untuk menghindarkan kamu dari bahaya. Mungkin kamu belum tahu, bagaimana bahaya yang ditimbulkan dari gigitan ular beracun, sehingga kamu berani mendekati ular tersebut. Oleh karena, walaupun maksud kamu sebenarnya adalah untuk menggiring ular itu agar tidak mati digebukin anak-anak atau penjaga sekolah, tapi ayah melihat perbuatanmu itu membahayakan bagi dirimu sendiri. ayah tidak ingin kamu terkena bahaya itu. ayah tidak ingin di lain hari, kamu mendekati ular lagi. Semoga saja kemarahan ayah itu membuatmu berpikir untuk menemukan cara lain menyelamatkan ular, misal dengan meminta bantuan orang dewasa lain, dan bukan melakukannya sendiri. Sekarang cukuplah diskusi ini sampai di sini, hari sudah terlalu sore, mari kita pulang“ saya menjelaskan panjang lebar, dengan contoh yang lainya lagi untuk menjelaskan apa-apa yang saya perintahkan kepada anak saya  itu benar-benar untuk kebaikan dia, walaupun dia belum mengerti bahwa hal itu baik dan benar. Akhirnya saya menutup diskusi dan mengajak anak saya pulang ke rumah.

Hal yang saya renungkan dari dialog itu adalah tentang perbedaan nilai baik-buru, benar salah antara saya dengan anak saya. Saya yakin bahwa suatu perbuatan tertentu itu buruk. Tapi anak saya yakin bahwa perbuatan tersebut baik. Pertanyaan saya, adilkah saya bila memaksa anak saya untuk melakukan hal yang baik menurut diri saya, padahal buruk menurut dia?  Memang benar bahwa apa yang dianggap baik oleh anak saya itu belum tentu baik menurut Allah. Tapi bukankah itu juga berlaku bagi saya? Artinya apa yang saya anggap baik belum tentu baik menurut Allah? Jadi, manakah sikap yang bijaksana, membiarkan anak saya melakukan sesuatu yang menurutnya baik ataukah harus memaksa dia melakukan hal yang baik menurut pendapat saya?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Perbedaan Nilai Baik-Buruk, Benar-Salah menurut Ayah dan Anak
« Jawab #1 pada: Pebruari 01, 2013, 05:06:33 PM »
Quote (selected)
Pertanyaan saya, adilkah saya bila memaksa anak saya untuk melakukan hal yang baik menurut diri saya, padahal buruk menurut dia?  Memang benar bahwa apa yang dianggap baik oleh anak saya itu belum tentu baik menurut Allah. Tapi bukankah itu juga berlaku bagi saya? Artinya apa yang saya anggap baik belum tentu baik menurut Allah? Jadi, manakah sikap yang bijaksana, membiarkan anak saya melakukan sesuatu yang menurutnya baik ataukah harus memaksa dia melakukan hal yang baik menurut pendapat saya?

membaca cerita diatas jadi terpikir kata-kata orang tua "Tak tak mah moal bisa ngaluhuran hulu", walau pun adie sendiri rasanya kurang sreg dengan peribahasa itu.

tapi terlepas dari sreg dan tidak sreg, adie mereasa pengalaman orang tua tentang hal yang baik dan buruk lebih banyak daripada orang muda walaupun ada beberapa pengalaman yang tidak dialami orang tua.

adie rasa memaksa dengan cara yang baik untuk melakukan yang baik kepada anak tidak ada salahnya.

Biasanya pengalaman adie sebagai seorang anak tidak mau menerima larangan "Gak boleh","Jangan" dan lainnya tanpa alasan yang yang mudah dimengerti.

jadi pendapat adie membiarkan anak melakukan hal baik menurutnya selama tidak bertentangan dengan hal baik yang para orang tua ketahui, Kalau bertentangan berarti dengan cara yang baik kita harus menunjukan hal baik menurut para orang tua
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 388
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Perbedaan Nilai Baik-Buruk, Benar-Salah menurut Ayah dan Anak
« Jawab #2 pada: Pebruari 01, 2013, 10:58:50 PM »
berarti Radi => luar biasa!
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 17
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Perbedaan Nilai Baik-Buruk, Benar-Salah menurut Ayah dan Anak
« Jawab #3 pada: Pebruari 02, 2013, 05:03:01 PM »
berarti Radi => luar biasa!

Setuju dengan Kang Asep!!
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Perbedaan Nilai Baik-Buruk, Benar-Salah menurut Ayah dan Anak
« Jawab #4 pada: Pebruari 02, 2013, 05:38:18 PM »
berarti Radi => luar biasa!

tapi itu baru sebatas teori pak, mudah2an adie bisa mengamalkan apa yang adie ketahui, SEMANGAT LOGICERS
 

Tags: dialog logic diskusi 
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
2172 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 11, 2015, 10:53:55 AM
oleh Monox D. I-Fly
4 Jawaban
1331 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 29, 2012, 10:28:48 PM
oleh ratna
3 Jawaban
1618 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 02, 2013, 10:24:53 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
1124 Dilihat
Tulisan terakhir April 25, 2013, 08:33:39 AM
oleh Abu Zahra
10 Jawaban
5001 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 30, 2015, 10:15:56 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
610 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 08, 2013, 01:42:19 PM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
902 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 20, 2013, 07:46:48 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
892 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 29, 2014, 03:15:05 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
422 Dilihat
Tulisan terakhir September 10, 2015, 06:23:26 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
283 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 31, 2016, 12:06:44 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan