Penulis Topik: Nibbana, sebuah hasilkah?  (Dibaca 7727 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Nibbana, sebuah hasilkah?
« pada: Juni 27, 2013, 07:05:32 AM »
Kutip dari: Emiliana
Tapi Nibbhana itu adalah hasil, bukan sebab.

kalau Nibbana hasil, berarti Nibbana itu terkondisi. benar atau tidak?

apakah pernah sang Buddha menyatakan dengan tegas, bahwa Nibbana dalah sebuah hasil?

Kutip dari: emiliana
Sori itu komentar ud nyaris 3 bulan yg lalu, Kang...begini, sy ceroboh dgn mengatakan Nibbhana adlh hasil saat itu...stlh baca2 lagi sana-sini, Nibbhana bukanlah hasil, maupun sebab...Jalan Mulia Berunsur 8 ibaratnya jalan menuju puncak gunung, tp puncak gunung bukanlah bentukan JMB 8..kira2 begitu yaaa

Sadhu sadhu sadu

ya, benar, Nibbana bukan hasil, bukan sebab atau akibat. dia tidak di luar, tidak pula di dalam. tapi bukannya tidak diluar, bukan pula tidak di dalam. bukannya bukan sebab, bukan pula bukan hasil, juga bukannya bukan akibat.

jika dia adalah sebab, dan bukan akibat, maka ini adalah keliru. karena bagaimana suatu realitas tertinggi, sempurna dan tidak berkondisi, bisa melahirkan menyebabkan sesuatu yang rendah, terkondisi, dan tak sempurna? bila ia akibat, tapi bukan sebab, maka ini juga keliru. sebab, Nibbana tidak bergantung pada suatu sebab. karena yang sempurna tidak menyebabkan sesuatu, kecuali yang sempurna, maka ia disebut bukan sebab dan bukannya bukan sebab. dan karena ia tidak terkondisi oleh suatu apapun, maka tidaklah mungkin ia akibat. karena akibat itu terkondisi pada sebab. bagaimana mungkin realitas tertinggi, yang tidak terkondisi, yang sempurna bisa disebabkan oleh yang terkondisi, yang tak sempurna, dan bukan realitas tertinggi? yang sempurna tidak mungkin disebabkan oleh suatu sebab, kecuali yang sempurna pula. oleh karena itu, ia bukan akibat bukan pula bukan akibat. yang benar adalah Nibbana itu merupakan sebab-akibat itu sendiri.

Kutip dari: abu hanan
menarik..

Kutip dari: kang Asep
sebab, Nibbana
tidak bergantung pada suatu
sebab.

nibbhana butuh proses..proses terkondisi untuk mencapai tak terkondisi..
bugimanah bisa menuju nibbhana bila tanfa proses?nibbhana tergantung dari latihan..apakah tanfa jmb8 dan sejenisnyah dapat menjadi nibbhana?

yup..nibbhana mungkin bukan hasil tetapi tak dapat diingkari bahwa nibbhana adalah impian buddhis..impian yang wajib diraih dan itu bicara hasil..

seperti kejernihan kaca yang tertutup oleh debu yang tebal. itulah proses merealisasi nibbana. kejernihan kaca sebenarnya sudah merupakan sifat kacanya itu sendiri. sejak tadinya, sejak awalnya dia sudah jernih. ketika menjadi tidak jernih, itu karena ada suatu proses suatu yang bukan kaca menempel pada kaca. dengan menyingkirkan debu, maka kaca jernih kembali. tapi kejernihan kaca bukanlah hasil dari debu atau debu yang disingkirkan. debu yang disingkirkan bukanlah sebab bagi kejernihan kaca. walaupun dalam perumpmaan kaca ini orang bisa berkata,"karena debunya dibersihkan, maka kaca jadi jernih". padahal kejernihan itu sudah ada bahkan jauh sebelum kaca dibersihkan, yaitu sebelum debu itu ada.

kita ini bagaikan kotoran debu. Nibbana sudah ada sejak awalnya dan yang paling awal. ketika ia tidak terlihat, itu karena terhalang oleh kotoran debu. dengan menyingkirkan debu, kita tidak menciptakan Nibbana, tapi merealisasi Nibbana, membuat Nibbana itu terlihat terang.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline comicers

Re:Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #1 pada: September 05, 2013, 03:17:58 PM »
mau nanya, katanya Kang Asep kan nibbana bisa dibuktikan dgn cara dirasakan melalui meditasi. & saya ingat dulu Kang Asep menyetarakan antara Tuhan dlm agama Samawi & Nibbana dlm Buddhisme. saya mau nanya, apakah Tuhan juga dapat dirasakan dlm meditasi ?
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #2 pada: September 05, 2013, 04:24:27 PM »
betul, bisa. walaupun kata "dirasakan" bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkannya. sebab, sesuatu yang dirasakan itu identik sebagai objek perasaan. padahal baik Tuhan maupun Nibbana, bukanlah objek perasaan. tapi orang yang melihat bukti kekuasaan Tuhan yang besar, lalu tumbuhlah sebuah perasaan di dalam dirinya bahwa Tuhan itu ada. demikian pula, ketika seseorang meditasi sampai pada tahap tertentu akan merasakan bahwa Tuhan itu ada. biasa kaum buddhis yang sibuk menyangkal soal ketuhanan justru yang meditasinya belum sampai kepada tahap ini. umat buddhis yang telah sampai pada tahap yang tinggi di dalam meditasinya, tidak lagi mempersoalkan masalah Tuhan ada atau tiada.

Bikkhu Utomo mempermisalkan dengan "kolong meja". ia berkata, "seperti kolong meja ini, apakah kolong meja itu ada atau tiada?" Ada tapi tiada. jika ada terus ditelusuri, maka berujung pada tiada. jika tiada terus ditelurusi, maka berujung ada.

contoh lain, sang Buddha menyangkal tentang adanya "aku", tapi sang Buddha sendiri sering menyebut dirinya sendiri "aku".

demikian pula tentang Tuhan, apakah dapat "dirasakan" atau "tidak dapat dirasakan" di dalam meditasi, adalah bergantung kepada bagaimana maksud dari "measakan" tersebut.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline whitelotus

  • Tamu
  • *
  • Tulisan: 33
  • Total likes: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika Hanyalah Sebuah Sarana
    • Lihat Profil
Re: Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #3 pada: Oktober 24, 2013, 10:00:33 AM »

seperti kejernihan kaca yang tertutup oleh debu yang tebal. itulah proses merealisasi nibbana. kejernihan kaca sebenarnya sudah merupakan sifat kacanya itu sendiri. sejak tadinya, sejak awalnya dia sudah jernih. ketika menjadi tidak jernih, itu karena ada suatu proses suatu yang bukan kaca menempel pada kaca. dengan menyingkirkan debu, maka kaca jernih kembali. tapi kejernihan kaca bukanlah hasil dari debu atau debu yang disingkirkan. debu yang disingkirkan bukanlah sebab bagi kejernihan kaca. walaupun dalam perumpmaan kaca ini orang bisa berkata,"karena debunya dibersihkan, maka kaca jadi jernih". padahal kejernihan itu sudah ada bahkan jauh sebelum kaca dibersihkan, yaitu sebelum debu itu ada.

Ini tergantung dari mana anda melihat.

kita ini bagaikan kotoran debu. Nibbana sudah ada sejak awalnya dan yang paling awal. ketika ia tidak terlihat, itu karena terhalang oleh kotoran debu. dengan menyingkirkan debu, kita tidak menciptakan Nibbana, tapi merealisasi Nibbana, membuat Nibbana itu terlihat terang.

Bandingkan puisi ini
"Tubuh adalah pohon pencerahan.
Pikiran adalah tempat berdirinya cermin bersih berkilau.
Usaplah setiap hari dengan penuh perhatian, tanpa henti,
agar tetap bersih dari debu duniawi"

dengan puisi ini
"Pada hakikatnya tiada pohon pencerahan.
Tidak juga ada cermin bersih kemilau dan tempat berdirinya.
Karena sejak semula semuanya kosong,
di mana pula debu bisa melekat?"

Apa yang anda jelaskan seperti puisi yang atas.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #4 pada: Oktober 24, 2013, 12:39:04 PM »
Bandingkan puisi ini
"Tubuh adalah pohon pencerahan.
Pikiran adalah tempat berdirinya cermin bersih berkilau.
Usaplah setiap hari dengan penuh perhatian, tanpa henti,
agar tetap bersih dari debu duniawi"

dengan puisi ini
"Pada hakikatnya tiada pohon pencerahan.
Tidak juga ada cermin bersih kemilau dan tempat berdirinya.
Karena sejak semula semuanya kosong,
di mana pula debu bisa melekat?"

Apa yang anda jelaskan seperti puisi yang atas.

Puisi A adalah ada
Puisi B adalah tidak ada
Jika kosong sama dengan tidak ada.

Maka Puisi A bertentangan dengan Puisi B. Jenis pertentangannya adalah kontrari, tidak mungkin keduanya benar secara bersamaan.
 

Offline whitelotus

  • Tamu
  • *
  • Tulisan: 33
  • Total likes: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika Hanyalah Sebuah Sarana
    • Lihat Profil
Re: Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #5 pada: Oktober 24, 2013, 01:14:33 PM »
Puisi A adalah ada
Puisi B adalah tidak ada
Jika kosong sama dengan tidak ada.

Maka Puisi A bertentangan dengan Puisi B. Jenis pertentangannya adalah kontrari, tidak mungkin keduanya benar secara bersamaan.

Orang yang tercerahkan melihat kedua puisi tersebut adalah suatu proses, jadi tidak ada pertentangan di antara keduanya...
 

Offline whitelotus

  • Tamu
  • *
  • Tulisan: 33
  • Total likes: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika Hanyalah Sebuah Sarana
    • Lihat Profil
Re: Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #6 pada: Oktober 24, 2013, 01:41:21 PM »
Orang yang tercerahkan melihat kedua puisi tersebut adalah suatu proses, jadi tidak ada pertentangan di antara keduanya...

Quote (selected)
"Tubuh adalah pohon pencerahan.
Pikiran adalah tempat berdirinya cermin bersih berkilau.
Usaplah setiap hari dengan penuh perhatian, tanpa henti,
agar tetap bersih dari debu duniawi"

Puisi ini untuk kebanyakan orang yang masih diliputi pemikiraan benar dan salah. Karena itu ada istilah membersihkan dari debu

Quote (selected)
"Pada hakikatnya tiada pohon pencerahan.
Tidak juga ada cermin bersih kemilau dan tempat berdirinya.
Karena sejak semula semuanya kosong,
di mana pula debu bisa melekat?"

Pada puisi ini untuk sebagian kecil orang atau orang yang telah matang secara batin, tidak ada pertentangan benar dan salah.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #7 pada: Oktober 25, 2013, 08:00:58 PM »
Orang yang tercerahkan melihat kedua puisi tersebut adalah suatu proses, jadi tidak ada pertentangan di antara keduanya...

Jika kedua puisi itu sebuah proses maka tidak ada pertentangan. Yang ada adalah hubungan sebab akibat. Jika P maka Q. Jika ada debu kemudian dibersihkan maka debu menjadi tidak ada. Dari ada menjadi tidak ada.

"Pada hakikatnya tiada pohon pencerahan.
Tidak juga ada cermin bersih kemilau dan tempat berdirinya.
Karena sejak semula semuanya kosong,
di mana pula debu bisa melekat?"

Apa yang anda jelaskan seperti puisi yang atas.

Jika sejak semula semuanya adalah kosong, lalu mengapa ada tubuh, pikiran dan debu?
« Edit Terakhir: Oktober 25, 2013, 08:14:56 PM oleh ratna »
 

Offline whitelotus

  • Tamu
  • *
  • Tulisan: 33
  • Total likes: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika Hanyalah Sebuah Sarana
    • Lihat Profil
Re: Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #8 pada: Oktober 25, 2013, 08:32:08 PM »
Jika kedua puisi itu sebuah proses maka tidak ada pertentangan. Yang ada adalah hubungan sebab akibat. Jika P maka Q. Jika ada debu kemudian dibersihkan maka debu menjadi tidak ada. Dari ada menjadi tidak ada.

Jika sejak semula semuanya adalah kosong, lalu mengapa ada tubuh, pikiran dan debu?


Kedua puisi tersebut dibuat dari dua orang murid zen, yaitu shenxiu & huineng.
Puisi yang pertama dibuat oleh shenxiu, dan puisi yang kedua dibuat oleh huineng.

Puisi yang pertama karena melihat dari pandangan wujud sehingga ada perkataan melakukan pembersihan.
Puisi yang kedua karena melihat dari sisi kosong sehingga tidak ada lagi yang dibersihkan. 

Jadi dua orang tersebut melihat dari 2 sisi yang berbeda, seperti dua orang melihat koin mata uang dari sisi yang berbeda.

Kalau sudah kosong bagaimana ada tubuh atau debu.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #9 pada: Oktober 26, 2013, 06:54:55 PM »
Kalau sudah kosong bagaimana ada tubuh atau debu.

Tentu saja kalau sudah kosong pastilah tidak ada apapun, dalam hal ini saya setuju dengan anda. Tapi baiklah coba kita cermati sekali lagi puisi tersebut :

"Pada hakikatnya tiada pohon pencerahan.
Tidak juga ada cermin bersih kemilau dan tempat berdirinya.
Karena sejak semula semuanya kosong,
di mana pula debu bisa melekat?"

Nah kalimat yang saya bold biru tersebut memberikan informasi bahwa sejak semula semuanya kosong, tidak ada apapun, baik itu berupa pohon pencerahan, cermin dan tempat berdirinya dan juga debu. Atau bisa ditafsirkan sejak semula hanyalah kekosongan belaka. Bagaimana....

 

Offline whitelotus

  • Tamu
  • *
  • Tulisan: 33
  • Total likes: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika Hanyalah Sebuah Sarana
    • Lihat Profil
Re: Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #10 pada: Oktober 27, 2013, 07:27:27 AM »
Tentu saja kalau sudah kosong pastilah tidak ada apapun, dalam hal ini saya setuju dengan anda. Tapi baiklah coba kita cermati sekali lagi puisi tersebut :

Nah kalimat yang saya bold biru tersebut memberikan informasi bahwa sejak semula semuanya kosong, tidak ada apapun, baik itu berupa pohon pencerahan, cermin dan tempat berdirinya dan juga debu. Atau bisa ditafsirkan sejak semula hanyalah kekosongan belaka. Bagaimana....

kekosongan dalam ajaran Buddha tidak sama dengan nihil. Nagarjuna pernah membahas kekosongan dengan persamaan negasi dari negasi. Dalam logika ilmiah memang ada pemisahan yang jelas antara isi dan kosong, hal ini bisa dilihat dari pembahasan kang asep

tapi kalau premis-premis itu berbentuk AA, maka melahirkan kesimpulan I.

setiap lemari itu berisi
setiap lemari itu kosong

maka kesimpulannya adalah :

sebagian yang berisi itu kosong

masalahnya, true or false proposisi berikut :

setiap isi bukanlah kosong
setiap isi adalah kosong

jika keduanya dianggap benar, merupakan hal yang mustahil menurut hukum logika.

maka seharusnya menjadi term "lemari" tersebut bermakna "unsur lemari". sehingga bentuk yang sebenarnya adalah :

sebagian unsur lemari adalah kosong
sebagian unsur lemari adalah isi

ini baru jalan keluar dari petentangan kontrari.

juga bandingkan dengan ini

Dalam Buddhisme, segala sesuatu itu diyakini sebagai terdiri dari unsur-unsur. sang Buddha mengibaratkannya seperti buih air di sungai. buih tersebut bisa membentuk sebuah gundukan besar. tapi sebenarnya isinya kosong.

segala benda, apabila kita menguraikan ke pada unsur-unsur terkecil, maka hasilnya adalah kosong. inilah yang difahami oleh kaum Buddhis.

kita duduk di atas kursi. kita menganggap bahwa kursi itu adalah sesuatu yang eksis. padahal kursi itu tidak ada. ia hanya konsep atau ilusi yang diciptakan oleh manusia. karena kalau kita mengamati kursi, itu hanyalah sekumpulan kayu, yang dibentuk, direkat atau dipaku. jadi, tak ada kursi. yang ada hanyalah kayu.

kemudian, ketika kayu itu sendiri diamati, maka sebenarnya tidak ada kayu, yang ada hanyalah sekumpulan molekul. jadi, tak ada kayu. kayu hanyalah konsep manusia. yang ada hanyalah sekumpulan molekul. sekumupulan molekul juga sebenarnya tidak ada. begitulah terus sampai menemukan kosong (sunya). jadi, semua materi ini disusun oleh kekosongan. inilah yang kemudian menjadi filsafat isi adalah kosong, kosong adalah isi.

sebenarnya pernah ada sebuah kajian ilmu fisika yang menjelaskan bahwa setelah melalui penyelidikan ternyata proton dan elektron itu dibentuk oleh suatu yang imateri, atau "bukan materi". tapi saya lupa, di mana kajian itu saya baca. hal ini katanya membingungkan para ilmuwan. kalau materi tersusun oleh yang imateri, maka bagaimana materi bisa disebut "ada" sebagai materi.

Pernyataan kang asep yang di atas sudah dengan jelas memisahkan wujud dan kosong, tetapi pernyataan di bawah menjelaskan materi juga kosong. Hal ini dipertanyakan kenapa bisa begitu ?

Karena itu dalam ajaran Buddha dijelaskan bahwa materi (isi) bisa menjadi kosong dan kosong bisa menjadi isi. Saya mau bertanya persepsi anda udara itu kosong atau isi ?

Karena hal itu Sang Buddha menjelaskan bahwa pikiran manusia penuh dengan ilusi, tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Seperti halnya kalau kita salah paham dengan orang lain, hal ini terjadi karena persepsi kita tidak sama dengan persepsi orang lain.

Dengan tulisan ini semoga jelas, salam.....
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #11 pada: Oktober 27, 2013, 07:56:20 AM »
logika punya kaidah, bahwa nilai benar dan salah sebuah proposisi itu tidak berdiri sendiri, melainkan bersandar kepada suatu argumen. oleh karena itu, filsafat "isi adalah kosong, kosong adalah isi", bisa benar, bisa pula salah. bergantung kepada bagaimana argumentasinya.

argumentasi berikut :

lemari itu isi
lemari itu kosong

maka isi adalah kosong

merupakan argumentasi yang keliru untuk menjelaskan filsafat "isi adalah kosong".
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #12 pada: Oktober 27, 2013, 04:37:01 PM »
kekosongan dalam ajaran Buddha tidak sama dengan nihil.

Karena itu dalam ajaran Buddha dijelaskan bahwa materi (isi) bisa menjadi kosong dan kosong bisa menjadi isi. Saya mau bertanya persepsi anda udara itu kosong atau isi ?

Karena hal itu Sang Buddha menjelaskan bahwa pikiran manusia penuh dengan ilusi, tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Seperti halnya kalau kita salah paham dengan orang lain, hal ini terjadi karena persepsi kita tidak sama dengan persepsi orang lain.

Pada dasarnya saya berusaha mengikuti dan memahami alur pemikiran anda, hal ini akan menjadi lebih sulit lagi jika kemudian ternyata terjadi perbedaan persepsi antara saya dengan anda. Oleh karena itu saya ingin mengetahui terlebih dahulu definisi 'kosong' menurut anda.

o..ya satu lagi :

Karena hal itu Sang Buddha menjelaskan bahwa pikiran manusia penuh dengan ilusi, tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Seperti halnya kalau kita salah paham dengan orang lain, hal ini terjadi karena persepsi kita tidak sama dengan persepsi orang lain.

Yang saya bold biru itu, bagaimana menurut anda, apakah yang dimaksud itu setiap manusia ataukah sebagian manusia?
 

Offline Sandy_dkk

Re: Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #13 pada: Oktober 27, 2013, 08:22:07 PM »
Kutip dari: whitelotus
Saya mau bertanya persepsi anda udara itu kosong atau isi ?

kosong dari apa, isi dari apa?

variabelnya harus disepakati dulu.

ketika kita berbicara tentang lemari yang terbuat dari kayu, maka variabel dari kosong dan isi adalah kayu. isi berarti isi dengan kayu, kosong berarti kosong dari kayu.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline injil_asli

Re: Nibbana, sebuah hasilkah?
« Jawab #14 pada: Oktober 28, 2013, 12:00:33 PM »
kosong dari apa, isi dari apa?

variabelnya harus disepakati dulu.

ketika kita berbicara tentang lemari yang terbuat dari kayu, maka variabel dari kosong dan isi adalah kayu. isi berarti isi dengan kayu, kosong berarti kosong dari kayu.
Kosong dari ego, saat pengosongan telah sempurna maka saat itu disebut telah "berisi"
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
1402 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 23, 2013, 09:07:19 PM
oleh Sandy_dkk
2 Jawaban
2815 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 07, 2013, 11:13:46 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2367 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 08, 2013, 12:30:57 PM
oleh Kang Asep
11 Jawaban
4681 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 17, 2014, 09:36:54 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
611 Dilihat
Tulisan terakhir April 09, 2013, 01:07:29 PM
oleh Awal Dj
22 Jawaban
4694 Dilihat
Tulisan terakhir November 01, 2014, 03:18:14 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
709 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 09, 2015, 10:04:28 AM
oleh comicers
0 Jawaban
203 Dilihat
Tulisan terakhir September 23, 2016, 08:57:31 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
324 Dilihat
Tulisan terakhir September 25, 2016, 08:32:27 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
160 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 15, 2018, 09:48:11 PM
oleh shekinah

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan