Penulis Topik: Musik  (Dibaca 681 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Musik
« pada: Januari 19, 2014, 05:39:26 AM »
Dalam kesempatan kali ini, saya bermaksud melakukan "kupas logika" terhadap artikel berjudul Saatnya Meninggalkan Musik di myquran.org. agar kita benar-benar memiliki keyakinan yang pasti, apakah benar setiap musik itu haram ?



Quote (selected)
Siapa saja yang hidup di akhir zaman, tidak lepas dari lantunan suara musik atau nyanyian. Bahkan mungkin di antara kita –dulunya- adalah orang-orang yang sangat gandrung terhadap lantunan suara seperti itu. Bahkan mendengar lantunan tersebut juga sudah menjadi sarapan tiap harinya. Itulah yang juga terjadi pada sosok si fulan. Hidupnya dulu tidaklah bisa lepas dari gitar dan musik. Namun, sekarang hidupnya jauh berbeda. Setelah Allah mengenalkannya dengan Al haq (penerang dari Al Qur’an dan As Sunnah), dia pun perlahan-lahan menjauhi berbagai nyanyian. Alhamdulillah, dia pun mendapatkan ganti yang lebih baik yaitu dengan kalamullah (Al Qur’an) yang semakin membuat dirinya  mencintai dan merindukan perjumpaan dengan Rabbnya.

kita sepakat bahwa "rajian membaca al Quran" merupakan sesuatu yang baik. tapi ini tidak berarti otomatis “setiap nyanyian itu haram”.

Quote (selected)
Lalu, apa yang menyebabkan hatinya bisa berpaling kepada kalamullah dan meninggalkan nyanyian? Tentu saja, karena taufik Allah kemudian siraman ilmu.

Apakah benar karena taufik dari Allah, atau hanya akibat dari kesalahan penalaran ? belum kita ketahui. Tapi kalau dikatakan “karena siraman ilmu”, maka mari kita simak, ilmu seperti apa yang membuat dia meninggalkan musik.

Quote (selected)
Dengan mengetahui dalil Al Qur’an dan Hadits yang membicarakan bahaya lantunan yang melalaikan, dia pun mulai meninggalkannya perlahan-lahan. Juga dengan bimbingan perkataan para ulama, dia semakin jelas dengan hukum keharamannya.

Dalil al Quran dan Hadits yang dijadikan argumen pengharaman musik itulah yang akan kita simak.

Dalil Pertama : Perkataan Tidak Berguna

Quote (selected)
Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS. Luqman: 6-7)

Ibnu Jarir Ath Thabariy -rahimahullah- dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa para pakar tafsir berselisih pendapat apa yang dimaksud dengan لَهْوَ الْحَدِيثِ “lahwal hadits” dalam ayat tersebut. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah nyanyian dan mendengarkannya. Lalu setelah itu Ibnu Jarir menyebutkan beberapa perkataan ulama salaf mengenai tafsir ayat tersebut. Di antaranya adalah dari Abu Ash Shobaa’ Al Bakri –rahimahullah-. Beliau mengatakan bahwa dia mendengar Ibnu Mas’ud ditanya mengenai tafsir ayat tersebut, lantas beliau –radhiyallahu ‘anhu- berkata,

الغِنَاءُ، وَالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، يُرَدِّدُهَا ثَلاَث َمَرَّاتٍ.

“Yang dimaksud adalah nyanyian, demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali.[1]

Penafsiran senada disampaikan oleh Mujahid, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, dan Qotadah. Dari Ibnu Abi Najih, Mujahid berkata bahwa yang dimaksud lahwu hadits adalah bedug (genderang).[2]

Asy Syaukani dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Lahwal hadits adalah segala sesuatu yang melalaikan seseorang dari berbuat baik. Hal itu bisa berupa nyanyian, permainan, cerita-cerita bohong dan setiap kemungkaran.” Lalu, Asy Syaukani menukil perkataan Al Qurtubhi yang mengatakan bahwa tafsiran yang paling bagus untuk makna lahwal hadits adalah nyanyian. Inilah pendapat para sahabat dan tabi’in.[3]

Jika ada yang mengatakan, “Penjelasan tadi kan hanya penafsiran sahabat, bagaimana mungkin bisa jadi hujjah (dalil)?”

Maka, cukup kami katakan bahwa tafsiran sahabat terhadap suatu ayat bisa menjadi hujjah, bahkan bisa dianggap sama dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (derajat marfu’). Simaklah perkataan Ibnul Qayyim setelah menjelaskan penafsiran mengenai “lahwal hadits” di atas sebagai berikut,

“Al Hakim Abu ‘Abdillah dalam kitab tafsirnya di Al Mustadrok mengatakan bahwa seharusnya setiap orang yang haus terhadap ilmu mengetahui bahwa tafsiran sahabat –yang mereka ini menyaksikan turunnya wahyu- menurut Bukhari dan Muslim dianggap sebagai perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di tempat lainnya, beliau mengatakan bahwa menurutnya, penafsiran sahabat tentang suatu ayat sama statusnya dengan hadits marfu’ (yang sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Lalu, Ibnul Qayyim mengatakan, “Walaupun itu adalah penafsiran sahabat, tetap penafsiran mereka lebih didahulukan daripada penafsiran orang-orang sesudahnya. Alasannya, mereka adalah umat yang paling mengerti tentang maksud dari ayat yang diturunkan oleh Allah karena Al Qur’an turun di masa mereka hidup”.[4]

Jadi, jelaslah bahwa pemaknaan لَهْوَ الْحَدِيثِ /lahwal hadits/ dengan nyanyian patut kita terima karena ini adalah perkataan sahabat yang statusnya bisa sama dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama, yang harus diperhatikan adalah “Apakah Allah mengatakan di dalam kitabNya, bahwa yang dimaksud dengan “perkataan yang tidak berguna” tersebut merupakan nyanyian ? Jika jawabannya “tidak”, maka jangan terburu-buru mengatakan “Allah mengharamkan nyanyian”.

Kedua, Apakah Allah mengatakan di dalam kitabNya bahwa “lahwal hadits” tersebut adalah nyanyian?” Jika jawabannya “tidak”, maka jangan terburu-buru mengatakan bahwa “Setiap nyanyian itu merupakan lahwal hadits” menurut Allah.

Jadi, sebenarnya yang menafsirkan lahwal hadis sebagai nyanyain itu siapa ? bukan Allah, bukan Rasul Allah. Berdasarkan uraian di atas, yang menafsirkan adalah para mufasir. Bahkan para mufasirpun berbeda pendapat.

Quote (selected)
Ibnu Jarir Ath Thabariy -rahimahullah- dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa para pakar tafsir berselisih pendapat apa yang dimaksud dengan لَهْوَ الْحَدِيثِ “lahwal hadits” dalam ayat tersebut. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah nyanyian dan mendengarkannya.

Perhatikan, kenapa tidak dimuat pula pendapat mufasir yang menyelisihi sebagian mufasir tersebut ? dan mengapa hanya “tafsir nyanyian” yang dikemukakan ? mengapa tidak diungkap semua tafsiran para mufasir dan biarkan para pembaca menimbang sendiri, mana benar dan mana salah ?

Ketiga, perhatikan! Apakah ada di antara para mufasir tersebut ada yang menyatakan bahwa “setiap nyanyian itu haram” ? atau apakah ada diantara mereka yang menyatakan bahwa “setiap nyanyiah itu berarti “perkataan yang tidak berguna” ?

Keempat, jika tidak satupun para mufasir yang menyatakan bahwa “setiap nyanyiah adalah Lahwal Hadis”, maka siapakah kiranya yang menebarkan keyakinan bahwa “setiap nyanyian itu lahwal hadis” ? dan siapa yang menebar keyakinan bahwa “setiap nyanyian haram” ?

Dengan  keempat point yang saya kemukakan, maka apakah Anda tidak melihat bahwa dalil pengharamakan nyanyian yang pertama itu merupakan dalil yang rapuh, yang belum dapat melahirkan kepastian haramnya nyanyian ?

Sementara sekian dulu dari saya. Insya Allah, bila ada umur panjang, disambung kembali di lain waktu.


Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
156 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 18, 2016, 04:22:55 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
220 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 13, 2017, 06:04:48 AM
oleh Dian mardiansyah

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan