Penulis Topik: menjawab kritikan ibnu taimiyah terhadap definsi  (Dibaca 2825 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
menjawab kritikan ibnu taimiyah terhadap definsi
« pada: Pebruari 15, 2012, 10:08:34 AM »
Kutip dari: yusufmuslim
sementara pada hakikatnya dia cuma membantah pandangan para ahli logika yunani, terutama para pendukungnya dari kalangan Arab Islam di masanya. (myquran.org)

Maka sering saya pertanyakan kepada para pengkultus Ibnu Taimiyah itu, kemanakah arah tujuan kritik ibnu Taimiyah itu? Kepada Logika Aristoteles ataukah Logika Salah oknum penganut Logika?

Jika kepada Logika itu sendiri, maka itu pertanda ketidak fahaman dia terhadap logika.
Jika terhadap Logika Salah Oknum, maka kritikan itu tidak menjadi pertanda ketidak fahaman beliau terhadap Logika.

Ahli logika mana yang sebenarnya menyatakan hal  berikut :

Quote (selected)
Tidak ada konsep yang bisa dibentuk kecuali dengan cara pendefinisian/menggunakan definisi.

Siapa nama ahli logika itu? Tidaklah mungkin pernyataan tersebut dinyatakan oleh seorang yang disebut ahli logika.  Jika memang ada, maka batal sebutan “ahli logika” baginya.

Ada kemungkinan lain. Yakni kesalahan terjemah dari bahasa Grik ke bahasa Arab, sehingga hakikat (essensi) diartikan sebagai konsep. Atau Kesalahan terjemah dari bahasa Arab ke bahasa Inggris. Atau kesalahan terjemah dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Kemungkinan ini ada, karena merupakan hal yang mustahil dalam ilmu Logika dinyatakan konsep hanya bisa dibentuk melalui pendefinisian. Jadi, kemungkinan. Dan sudah sangat jelas, bahwa yang hanya bisa difahami melalui definisi dalam Logika adalah hakikat (essensi).

Quote (selected)
Mengenai klaim bahwa definisi menuntun kepada pengetahuan akan konsep benda-benda, Ibn Taymiyyah berargumen bahwa definisi tidak mampu menghasilkan konsep-konsep atas realitas karena sebuah definisi adalah pernyataan dan klaim dari seorang pendefinisi.

Apa itu klaim?

Intisari dari kritikan Ibnu Taimiyah itu adalah menyatakan bahwa definisi tidak memberi faedah apa-apa kepada si pembuat definisi itu sendiri maupun kepada orang lain.

Pertama-tama mari kita ingat-ingat segenap buku-buku ilmu pengetahuan ilmiah yang pernah kita baca. Dan kita akan menyadari bahwa tidak ada suatu disiplin ilmu yang tidak menggunakan definisi. Para ilmuwan di seluruh dunia senantiasa menggunakan definisi untuk menjelaskan batasan mengenai suau zat. Apakah tidak dapat kita temukan jawaban dari pertanyaan, jika saja suatu definisi tidak berguna, maka mengapa para ilmuwan di seluruh dunia menggunakan definisi-definisi dalam berbagai karya ilmiahnya?

Kedua,  kemudian coba perhatikan, ada sekte-sekte agama tertentu yang begitu takut dengan yang namanya definisi. Mengapa? Karena hanya dengan mendefinisikan segala sesuatunya, maka terbongkarlah kesalahan-kesalahan ajaran sesat sekte itu. Ketakutan terhadap definisi itu kemudian diwariskan secara turun temurun dari zaman ke zaman. Oleh karena itu, tak heran kemudian muncul fatwa-fatwa haram terhadap logika. Bukan saja fatwa-fatwa haram, tapi juga fatwa “bunuh para ahli logika”. Silahkan baca sejarah Logika dari zaman ke zaman. Jika saja definisi tidak memberikan faedah apa-apa, mengapa begitu sangat menggelisahkan sekelompok orang yang tidak suka dengan logika? Renungkan itu!

Quote (selected)
Jika seorang pendengar mengetahui kebenaran dari klaim pendefinisi tersebut, maka si pendengar ini tidak membutuhkan definisi tersebut karena dia telah memiliki pengetahuan atas masalah/hal yang didefinisikan tersebut sebelum si pendengar ini mengetahui definisi tersebut.

Ibnu Taimiyah telah membuat hypothetical proposition dengan pernyataan jika-maka nya itu. Jika A adalah B, maka A tidak C. Demikian bentuk umum dari pernyataan ibnu Taimiyah.

Jika Hipothetical itu dikonveri ke dalam categorical proposition, maka sebagai berikut :

Setiap A adalah B
Setiap B adalah C
Jadi, setiap A adalah C.

Quote (selected)
Si pendengar tidak membutuhkan definisi, karena si pendengar sudah mengetahui kebenaran definisi. Dan setiap yang sudah mengetahui kebenaran definisi tidak membutuhkan definisi.

Demikian Logika Ibnu Taimiyah. Harus diperjelas, membutuhkan atau tidak membutuhkan definisi tersebut untuk apa? Hal yang mungkin yang dimaksud oleh Ibnu Taimiyah itu adalah “tidak membutuhkan definisi untuk memahami suatu kebenaran karena kebenaran tersebut sudah diketahui sebelum sampainya definisi tersebut”. Menyampaikan suatu definisi kepada orang yang sudah tau kebenarannya itu ibarat memberi tau orang  yang sudah tau, tiada artinya. Jika memang itu yang dimaksud oleh ibnu taimiyah tentang “tidak membutuhkan”, maka memang benar bahwa yang sudah mengetehui kebenaran definisi itu tidak membutuhkan definisi tersebut.

Kalau begitu, bagaimana bila mengemukakan suatu definisi itu kepada orang yang belum tau kebenaran definisi itu?  Sama saja, Ibnu Taimiyah menganggap bahwa mengemukakan definisi kepada yang belum tau kebenaran definisi itu pun tidak ada faedahnya. Walaupun menyampaikan definisi kepada yang belum tau kebenarannya itu seperti memberi tau orang yang belum tau, tapi orang yang belum tau itu tidak tau jalan untuk dapat menilai benar salahnya definisi tersebut.  Ibnu Taimiyah berpikir, bagaimana orang bisa memahami bahwa pernyataan dan klaim si pendefinisi itu benar, sedangkan orang si pendefinisi itu bukanlah nabi yang maksum yang terjaga dari kesalahan?

Untuk menilai benar salahnya sesuatu, Ibnu Taimiyah lebih melihat “siap yang berkata” bukan “apa yang dikatakan”. Itu terbukti dalam kritikannya terhadap definisi tersebut. Terlebih lagi definisi itu datangnya dari Aristoteles yang dianggapnya orang kafir. Karena suatu definisi tidak dikatakan oleh orang maksum (nabi), maka tidak ada jalan untuk memahami kebenaran definisi itu. Demikianlah Ibnu Taimiyah. Artinya, seandainya definisi itu disampaikan oleh nabi, maka langsung saja Ibnu Taimiyah akan percaya bahwa definisi itu benar. Dan barulah itu yang akan dianggapnya sebagai berfaedah.

Dari semua komentar ibnu Taimiyah terhadap logika, sebagaimana sebagiannya telah dijelaskan dalam uraian diatas, maka dari situlah muncul sebuah kesimpulan bahwa dalam menilai benar salahnya suatu definisi, ibnu Taimiyah tidak memiliki suatu ilmu yang menjadi perangkat atau alat untuk menilai.benar salahnya suatu definisi. Mungkin kepadanya tiada guru yang menjelaskan, bagaimana suatu definisi dapat difahami sebagai definisi yang benar dan salah.

Apakah perangkat yang bisa digunakan untuk menilai benar salahnya suatu definisi?
Berikut ini adalah pengetahuan yang dapat dijadikan alat/perangkat untuk menilai apakah suatu definisi itu benar atau tidak :

1.   Pengetahuan tentang lingkungan Jenis (Genus)
2.   Pengetahuan tentang lingkungan golongan (species)
3.   Pengetahuan tentang sifat pemisah (differentia)
4.   Pengetahuan tentang sifat khusus (propria)
5.   Pengetahuan tantang sifat umum (accident)


Quote (selected)
Jadi menggunakan argumen Ibn taimiyyah, definisi "manusia adalah hewan yang berfikir" tidak akan menghasilkan konsep atas realitas karena itu cuma klaim dari si pembuat definisi, dalam hal ini Aristoteles.


Pertama, Klaim tersebut dapat dibuktikan bahwa hal itu adalah benar. Sebaliknya ibnu taimiyah tidak dapat membuktikan bahwa hal itu adalah salah.

Kedua, Kritikan tersebut mengandung arti kritikan Ibnu Taimiyah tidak sebatas pada ahli logika arab dan logika yang salah dalam penggunaan, melainkan juga kritikan terhadap Logika itu sendiri dan kepada Aristoteles.

Quote (selected)
Jika saya tidak tahu bahwa definisi "manusia adalah hewan yang berfikir" adalah benar, dan tidak ada bukti atas hal tersebut, maka saya tidak akan mampu mencapai pengetahuan mengenai "manusia adalah hewan yang berfikit tersebut" DAN PERLU DIINGAT BAHWA INI ADALAH BANTAHAN ATAS KLAIM PARA AHLI LOGIKA YUNANI BAHWA "DEFINISI MENUNTUN KEPADA KONSEPSI HAL-HAL/BENDA-BENDA".

Jika memang anda tidak tahu bahwa definisi tersebut benar dan tidak ada bukti kepada anda bahwa hal itu benar, maka sudah barang tentu tidak ada alasan bagi anda untuk menganggap definisi tersebut benar. Itu berlaku bagi semua pernyataan dan pengetahuan, bukan saja terhadap sesuatu yang disebut definisi. Dan jika demikian kenyataan kritik ibnu taimiyah, maka yang menjadi masalah adalah “ketidak tahuan Ibnu Taimiyah tentang bagaimana menguji kebenaran sebuah definisi.

Bagaimana menguji kebenaran definisi “manusia adalah hewan yang berpikir” ?

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa dibutuhkan perangkat penilai untuk dapat menilai benar dan salahnya suatu definisi. Ada 5 perngkat, sebagaimana yang telah dijelaskan. Tentu saja bukan persoalan mudah. Jika kelima perangkat tersebut diuraikan satu persatu, mungkin akan menghabiskan belasan halaman. Maka pada kesempatan ini, akan saya jelaskan secara ringkas saja.

Hirarkie tertinggi dari seluruh keberadaan ini adalah makhluk. Apakah manusia itu makhluk? Ya. Manusia adalah makhluk. Apakah salah jika dinyatakan bahwa manusia adalah makhluk? Tidak. Makhluk adalah lingkungan Jenis Tertinggi (Proximum Genus) dari manusia.

Sebelum itu, perlu difahami terlebih dahulu, apa itu Jenis (Genus)? Genus adalah kumpulan berbagai diri yang beragam bentuk, namun dihimpun dalam suatu himpunan karena kesamaan sifat. Inilah definisi dari Genus (Jenis). Apakah manusia, hewan, tumbuhan, planet-planet, semua dihimpun dengan satu sifat yang sama, yaitu “yang tercipta ada”.

Oleh karena itu, harus diterima dengan akal sehat bahwa manusia itu termasuk kepada jenis makhluk. Kalau ada orang yang menyangkal bahwa manusia itu bukanlah makhluk, maka itu namanya OGL (orang gila). Kalau menerima bahwa manusia termasuk kepada jenis makhluk, maka harus dapat diterima pula bahwa hewan maupun tumbuhan adalah satu jenis dengan manusia dalam proximum genus, yakni sama-sama jenis makhluk. Tetapi, manusia tidak satu golongan(species) dengan hewan dan makhluk-makhluk lain yang berbeda bentuk.

Apakah manusia bisa didefinisikan sebagai makhluk hidup? Tidak bisa, karena definisi itu membutuhkan sifat pemisah (differentia). Harus ditemukan, apakah sesuatu yang bisa memisahkan manusia dari makhluk-makhluk lainnya? Itulah yang dimaksud dengan differentia. Jika menemukan sifat pemisah itu, maka berarti menemukan essensi manusia. Misalnya, bila ditemukan bahwa sifat yang memishkan manusia dari lain-lain makhluk adalah dalam hal kemampuannya berpikir, maka dapat didefinisikan bahwa “manusia adalah makhluk yang berpikir”. Ini adalah definisi yang sah dan benar dan disebut definisi essensil. Tetapi definisi ini tidak bersifat sempurna. Kenapa? Karena di bawah makhluk ada benda dan non benda secara dichotomi. Sedangkan manusia masuk di dalam wilayah benda atas suatu kesamaan sifat. Maka definisi “Manusia adalah makhluk yang berpikir” merupakan Definisi Essensi Tak Sempurna. Untuk menyempurnakan definisi ini, makhluk harus di eksrak ke dalam kategori-kategori, seperti misalnya, benda, benda hidup, dll.

Jikalau ada jenis tertinggi, maka ada jenis terbawah. Diantara jenis tertinggi dan jenis terbawah ada yang disebut dengan Subaltera Genera atau jenis pertengahan. Subaltera Genera dari manusia itu diantaranya benda, benda hidup, dan hewan.

Apakah manusia itu benda? Ya. Manusia itu adalah jenis benda. Oleh karena itu, manusia itu sejenis dengan benda. Terhimpun dalam satu kesatuan dengan benda-benda lainya karena dipersatukan oleh suatu kesatuan sifat, yaitu “materialis” atau “yang bersifat material” atau “yang bersifat kebendaan”. Apakah salah jika dinyatakan bahwa manusia adalah benda? Tidak. Karena manusia memang benda.

Demikianlah secara terus menerus sebuah definisi disempurnakan dengan mengekstrak lingkungan jenis kepada lingkungan jenis yang lebih rendah, sampai menemukan lingkungan jenis yang terendah. 

Di dalam himpunan benda itu ada benda hidup dan benda mati. Sifat yang menjadi pemersatu benda hidup adalah “yang bernyawa” sedangkan sifat yang menjadi pemersatu benda mati adalah “yang tidak bernyawa”.   Di dalam lingkungan benda hidup itu adalah tumbuhan. Ada beragam jenis tumbuhan yang dipersatukan oleh suatu sifat yang membedakannya dari lain-lain benda hidup (differentia). Apakah differentia tumbuhan itu? 

Semua orang tahu apa itu tumbuhan. Tapi tidak mudah mengenali essensi dan mendefinisikan tumbuhan atau menjawab pertanyaan mengapa sesuatu itu disebut tumbuhan, atau apa yang memishakan kelompok tumbuhan ini dengan sseuatu yang bukan tumbuhan? Apakah manusia dapat dikelompokan ke dalam tumbuhan? Tiada landasan bagi akal untuk mengelompokan manusia ke dalam jenis tumbuhan selama tidak dapat ditemukan sifat pemersatu antara manusia dan tumbuhan itu. Sehingga manusia tidaklah mungkin disebut “tumbuhan yang berpikir”. Jangan dulu mencari sifat pemersatu antara manusia dan tumbuhan, silahkan dicari sifat pemersatu antara sesama tumbuhan itu sendiri. Ini pohon kelapa, itu pohon singkong, di kola ada lumut. Semua itu disebut tumbuhan. Jawab pertanyaan ini, mengapa semua itu disebut tumbuhan? Pastilah ada sifat pemersatu, mengapa sesuatu itu disebut tumbuhan? Berusahalah menemukan jawaban ini, jika anda memang ingin memahami kebenaran logika.

Selain tumbuha, ada  benda hidup lain yang disebut dengan hewan. Ini kambing, dan itu kerbau. Di sisi lain ada plankton, kutu dan semut. Semua itu disebut hewan. Tapi apakah yang menyebabkan semua itu disebut hewan? Pasti ada sifat pemisah (differentia) yang memisahkan antara hewan itu dengan tumbuhan? Apakah sifat pemisah itu? Dan pastilah ada sifat pemersatu yang menyebabkan kambing, kerbau, planton, dan kutu disebut sebagai hewan. Apakah sifat pemersatu itu? Temukan jawaban dari pertanyaan ini! Maka anda dapat melihat, apakah definisi “manusia adlah hewan yang berpikir” adalah definisi yang benar atau salah.

Sumber : A. Rochman, Kupas Logika,  No.12393
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:menjawab kritikan ibnu taimiyah terhadap definsi
« Jawab #1 pada: Pebruari 18, 2012, 03:56:38 PM »
Kutip dari: yusufmuslim
Konteks historisnya adalah Ibn Taimiyyah (bukan saya, lho ya. Ingat itu!!!) melihat betapa sangat pervasif-nya pengaruh logika yunani dalam dunia keilmuan Islam, padahal, menurut pandangan dia, belajar agama ya kepada sumber agama itu: Quran dan Hadith, bukan malah mengambil-ambil sesuatu dari luar Islam. Begitupun, kritikannya terhadap filsafat dan logika adalah pada bagaimana para ahli tasawwuf "sesat" [lagi harus saya tegaskan INI MENURUT DIA !!!] menggunakan filsafat dan logika untuk menjadi pendukung paham sesat mereka.

Saya tanggapi hal ini untuk kedua kalinya.

“Belajara agama harus kepada sumber agama”. Demikiankah pandangan Ibnu Taimiyah.

Trus, belajar Logika harus sama siapa?

Belajar bahasa arab harus sama siapa?

Jika al-quran hendak diterjemahkan ke dalam english, perlu terampil berbahasa inggris. Belajar english harus kepada siapa?

Jika al-Quran hendak diungkapkan dengan bahasa Logika, belajar logika harus kepada siapa?

Jika al-quran hendak dikaji berdasarkan ilmu sastra, maka belajar sastra harus kepada siapa?

Quote (selected)
Tentu saja kalau menurut anda bantahan dia salah, maka yang salah adalah para ahli logika itu, bukan Ibn Taimiyyah.

Tidak ada bukti bahwa para ahli logika itu membuat pernyataan-pernyataan sebagaimana yang dituduhkan oleh ibnu taimiyah. Bisa jadi, pernyataan-pernyataan itu adalah karangan dari ibnu taimiyah sendiri dan bukan benar-benar pernyataan para ahli logika yang menjadi objek kritikan ibnu taimiyah. Apakah hal yang menutup kemunginan ini? Tidak ada.

Quote (selected)
Tentu saja kalau menurut anda bantahan dia salah, maka yang salah adalah para ahli logika itu, bukan Ibn Taimiyyah.

Idealnya Logika dibaca dalam bahasa Grik. Sedangan pernyataan logika ahli logika islam pada masa ibnu taimiyah dan kritikan ibnu taimiyah itu dibaca dalam bahasa arab untuk melihat apakah yang sebenarnya salah itu adalah para ahli logika itu ataukah kritikan ibnu taimiyah. Apakah anda bisa menyebutkan nama-nama para ahli logika itu, siapa sebenarnya yang kritisi oleh ibnu taimiyah? Guru besar logika dalam dunia islam adalah al-Farabi. Apakah ibnu taimiyah mengkritisi pernyataan-pernyataan al-farabi?

Kutip dari: yusufmuslim
Dan dari siapa anda mendapat pengetahuan ini? DAri Aristoteles langsung?

Atau anda cuma membaca buku logika berbahasa Indonesia yang mengutip perkataan Ahli, yang mengutip lagi, dan yang terakhir ini pun mengutip lagi?

Adalah fair kalau saya menghadapkan kritik yang sama kepada anda sebagaimana yang anda hadapkan kepada Ibn Taimiyyah dan saya: bagaimana anda bisa begitu yakin tidak ada kesalahan terjemahan dalam buku-buku berbahasa Indonesia yang anda baca tersebut?


Tentu fair. Bedanya, saya dapat menjawab kritikan anda. Tapi apakah ibnu taimiyah dapat menjawab kritikan saya?

Saya memahami bahwa “yang hanya bisa difahami melalui definsi itu adalah essensi, bukan konsepsi” adalah dari seluruh referensi buku logika yang pernah saya baca. Tak satupun dari buku-buku itu yang menyatakan bahwa suatu konsep atau konsepsi hanya bisa difahami melalui definisi. Tetapi dari semua buku logika itu telah dinyatakan bahwa satu-satunya yang hanya bisa difahami melaui definisi adalah essesi atau hakika sesuatu.

Semua buku logika yang saya baca itu berbahasa Indonesia, ditulis oleh para ahli logika di Indonesia. Semua mereka menyatakan hal sama. Bahwa yang hanya bisa difahami melalui definisia adalah essensi. Tidaklah mungkin para ahli itu bermufakat untuk berbohong. Dan tidaklah mungkin keseluruhan ahli tersebut sama-sama memberikan terjemahan yang salah. Dalama kaidah logika, jika suatu keterangan diperoleh dari sekian banyak sumber yang mustahil bermufakat untuk berbohong, maka keterangan itu termasuk kepada argumentum ad judiciam dan termasuk pula ke dalam derajat mutawatir apabila dibandingkan dengan kaidah ilmu hadits.

Lupakan para ahli, dan lupakan seluruh buku-buku, karena akal dapat membuktikan bahwa tidaklah mungkin konsep hanya bisa difahami melalui definisi. Dan terbuti hanya hakikat itulah yang bisa difahami melalui definisi. Asal tau saja, apa itu konsepsi dan apa itu definisi. Oleh karena telah sampai pada pembuktian yang bersifat akliah, maka mustahil Aristoteles yang membuat pernyataan bahwa konsep hanya bisa difahami melalui definisi. Itu sangat meyakinkan, kendatupun saya tidak pernah dan tidak bisa membaca karya aristotels dalam bahasa aslinya.

Berbeda halnya dengan ibnu taimiyah, dia mengkritik pernyataan para ahli logika. Saya tidak minta banyak. Sebutkan satu saja, siapa nama ahli logika yang dikritik oleh ibnu taimiyah itu, dan di dalam kitab mana dapat kita temukan pernyataan ahli logika itu selain yang tertulis di dalam karya ibnu taimiyah itu? Sampai saat ini tidaklah jelas, siapa ahli logika yang dikritisi dan meragukan, apakh  ahli logika tersebut benar-benar membuat pernyataan demikian. Kendatipun demikian, tidaklah dpat dipastikan bahwa pernyataan ahli logika itu hanya ilustrasi yang salah dari ibnu taimiyah. Bukan kepastian, melainkan kemungkinan.

Kutip dari: yusufmuslim
Selanjutnya, apa bedanya antara konsep dengan hakikat? Apa yang begitu berbeda antara konsep dengan hakikat sehingga anda mengatakan dengan menyalah-artikan hakikat sebagai konsep, terlihat bahwa Ibn Taimyyah tidak memahami logika?

Konsepsi adalah pengertian yang terdapat di dalam pikiran.

Hakikat adalah essensi dari suatu diri.

Di dalam konsepsi adalah hakikat. Hakikat termasuk di dalam konsepsi. Tetapi luas wialayah konsepsi itu tidak sama dengan luas wilayah hakikat. Konsepsi lebih luas dari pada hakikat.

Konsepsi dapat difahami dengan propsosi maupun dengan definisi. Oleh karena itu tidaklah benar jika dinyatakan bahwa konsepsi hanya bisa difahami melalui definisi. Karena dengan proposisi pun konsepsi dapat difahami. Akan tetapi, hakikat tidaklah mungkin difahami dengan cara lain selain definisi.

Kutip dari: yusufmuslim
Ini kalau saya tidak salah dinamakan fallacy of authority ber-dalil dengan otoritas: sesuatu itu mestilah benar karena seseorang atau sekumpulan orang yang lebih pintar mengatakan itu benar.

Mirip, tapi bukan.

Seandainya itu memang fallacy, Perlu juga diingat bahwa fallacy bukan berarti hal salah. Bergantung dari maksud dan tujuannya.

Appeals to authority berarti “sesuatu mesti dianggap benar” karena sesuatu itu dikatakan oleh seorang tokoh, orang yang dianggap lebih pintar, berwibawa, berpengaruh atau orang suci. Tetapi, appeals to authority ini juga seringkali termasuk kepada argumentun ada verecundiam, yang berarti “bersandar kepada ahlinya”. Walaupun dalilnya adalah lemah 7 tahap dibawah argumentun ad verecundiam sebagai argumen yang paling kuat, tetapi apabila hal itu diungkapkan tidak dalam rangka “mesti dianggap benar”, melainkan sekedar “perlu difahami adanya indikasi kebenaran”, maka itu tidak termasuk ke dalam fallacy, melainkan ke dalam argumentum ad verecundiam.

Jikalau para dokter mengatakan bahwa anak-anak perlu diimunisasi untuk meningkatkan kekebalan tubuh mereka, maka masyarakat boleh mengikuti pendapat para dokter itu. Kaidahnya, orang awam perlu mengikuti apa yang dikatakan oleh para ahli. Kendatipun orang awam akan jadi binbung, bila kelak banyak para ahli yang mengatakan bahwa imunisasi itu sbenarnya berbahaya bagi anak-anak. Tetapi sebelum ada argumentasi yang lebih kuat, bercundus (bersandar pada keterangan para ahli) adalah menjadi suatu kebutuhan.

Sekali saya tegaskan, bahwa unkapan saya yang mirip dengan fallacy tersebut bukanlah fallacy, melainkan argumentum ad vercundiam. Bukan suatu argumentasi yang mesti dianggap benar, melainkan yang perlu dianggap benar sebelum argumentasi yang membantah kebenarnanya, atau dianggap sebagai argumentasi yang mengindikasikan adanya kebenaran.

Kutip dari: yusufmuslim
Perlu saya ingatkan bahwa para ahli logika dan filsafat barat memandang kritikan Ibn Taimiyyah sebagai sebuah alat untuk lebih menyempurnakan Logika, yang sebagaimana cabang ilmu lainnya, masih dan akan terus berkembang.

Artinya, kalau anda menganggap logika sebagai ilmu, tidak ada alasan untuk memandangnya sebagai sesuatu yang bernilai absolut.

Logika telah sempurna sejak ditemjukannya oleh Aristoteles. Sejak 4 abad SM hingga sekarang, tiada seoarng ilmuwanpun yang bisa menambahkan agak sedikitpun para Logika. Itulah keistimewaan aristoteles dan logika yang membedakannya dari lain-lain ilmu. Jikalau ada yang harus dianggap pernah menambahkan atau menyempurnakan Logika adalah tidak lain seorang bernama Theoprastus, murid Aristoteles yang paling pandai. Itupun sebenarnya Theoprastus tidaklah benar-benar menyempurnakan logika yang memang sudah sempurna, melainkan meracik dan menciptakan istiilah baru dari bahan-bahan yang sudah diberikan oleh gurunya, Aristoteles.

Soal meracik, mengubah istilah dari satu istilah ke isitlah lainnya memang berubah dari zaman ke zaman. Tapi itu bukan temuan-temuan baru dalam logika. Hanya mirip dengan alih bahasa saja. Apalagi ketika logika disaling dan diterjemahkan ke dalam bahasa arab, maka istilah-istilah yang digunakan menjadi jauh dari istilah yang sebenarnya. Seperti misalnya Logika menajadi al-mantiq, term menjadi Had, premisse menjadi muqodimah, dll. Itu sama sekali bukan penyempurnaan ataupun penambahan, melainkan hanya mengubahan istilah.

Silahkan kumpulkan seluruh buku logika yang ada. Buku-buku itu satu sama lain kadang tampak berbeda-beda sekali dalam istilah dan gaya pembahasannya, tapi tak satupun yang berisi tambahan baru pada Logika Aristoteles itu. Segenap para ahli logika diseluruh dunia, tak ada yang dapat menambahkan ataupun menemukan hal-hal baru untuk ditambahkan ke dalam logika Aristotes itu.

Jika para ahli logika barat menganggap bahwa kritikan ibnu taimiyah itu sebagai sarana untuk menyempurnakan logika, maka hal yang mungkin pernyataan itu bermakna bahwa kritikan ibnu taimiyah itu mendorong para ahli logika itu lebih jauh menelaah isi kritikan ibnu taimiyah dan menjawabnya dengan logika. Dengan cara itu, keterampilan logika mereka semakin terasah. Ini adalah hal yang mungkin.

Sebagaimana hal yang saya rasakan sendiri, bahwa Logika itu sangatlah “sepi” dari tantangan. Jarang orang  yang dapat melayani berpikir secara logika. Jarangan orang melayangkan kritik terhadap logika. Hal itu disebabkan, jarang orang mengerti logika. Para pelajar dan para ahli logika mengakui bahwa logika itu memang sebuah pelajaran yang sangat membosankan, tapi sangat perlu untuk dipelajari guna menghindari kekeliruan dari berpikir. Tapi berapa banyak yang mampu bertahan dengan pelajaran yang membosankan itu? Tidak banyak. Itu smua menjadi sebab “sepi” nya tantangan terhadap logika. Ketika ada orang yang mencoba mengkritik logika itu bisa dimaknai sebagai “gairah baru” oleh para ahli (yang mungkin sebenarnya masih belajar) untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam menggunakan logika.

Kutip dari: yusufmuslim
SAya tidak melihat hal ini, setidak-tidaknya tidak pada bacaan saya atas Ibn Taimiyyah. Misalnya pada kedua link yang saya sebutkan di thread ini.

Boleh saya tahu darimana anda mengambil kesimpulan "dia melihat siapa yang berkata bukan apa yang dikatakan" ini?

Kalau tidak salah, di dalam thread sebelumnya sdr. Sahabat mengutipkan kritikan ibnu taimiyah yang isi pernyataannya kira-kira berisi ketidak berfaedahan definisi karena dua alasan. Pertama karena jika orang yang mendengar definisi itu sudah tau kebenaran definisi, berati definisi tidak memberikan informasi yang baru kepada si pendengar. Kedua, apabila si pendengar tidak/belum mengetahui kebenaran definisi tersebut, maka tidak akan ada jalan bagi si pendengar untuk dapat mengetahui kebenaran definisi tersebut, karena sebagaimana yang beliau katakan “bagaimana kita dapat mengetahui bahwa definisi itu benar sedangkan definisi itu dinyatakan oleh orang yang tidak makhsum (tidak suci dari kesalahan). “ dari postingan sdr. Sahabat itulah saya menyimpulkan bahwa ibnu taimiyah dalam hal kbenaran definisi itu melihat kepda “siapa yang menyatkan definisi tersebut “.

Kutip dari: yusufmuslim
Halaman xxxii-xxxv yang saya sebutkan--YANG MENJADI PE-ER ANDA UNTUK MENUNJUKKAN PEMAHAMAN "TINGKAT DASAR" IBN TAIMIYYAH ATAS LOGIKA SEBAGAIMANA YANG ANDA TUDUHKAN DENGAN SINIS DI ATAS--memuat bagian kritikan mengenai silogisme: complete definition (hadd tamam), species (anwa'), genera (ajnas), general accident (arad amm), dll.

Mengapa anda belum membacanya?

Saya telah menyempatkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anda ditengah kesibukan pekerjaan saja. Dan saya juga harus mengatur agar waktu kerja saja tidak terlalu banyak terganggu, sehingga saya berdosa karena korupsi waktu kerja. Untuk menghindari saya terlalu banyak makan waktu, Saya sangat berharap anda membantu saya mengemukakan kritikan-kritikan ibnu taimiyah di sini satu persatu, agar saya menjawab semua kritikan itu secara bertahap satu demi satu pula. Dengan demikian saya tidak perlu membaca kritikan aristoteles secara keseluruhan skarang ini.

Adapun penilaian saya terhadap ibnu taimiyah bahwa pemahan logika beliau hanya pada tingat dasar adalah yang mungkin penilaian yang salah dan juga belum tentu salah. Jika terbukti kritikan ibnu taimiyah menyangkut keseluruhan bab, ada indikasi bahwa penilaian saya salah. Tapi baru indikasi. Jika ternyata ada satu saja kritikan ibnu taimiyah yang benar dan mampu memperlihatkan satu saja sisi kesalahan logika, maka disitulah terbukti jikalau penilaian saya terhadap ibnu taimiyah adalah benar-bena salah. Silahkan!

Kutip dari: yusufmuslim
GAk juga.

Apa yang anda maksud dengan mahluk? Creature atau Being?
Bahasa Indonesia sedemikian terpengaruh dengan agama Islam, sehingga orang atheis mungkin akan menolak bahasa Indonesia sebagai bahasa yang logis.

Sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa yang dimaksud makhluk disitu adalah “yang tercipta ada” atau “yang terlahir ada”.

Apa itu creature ? apa itu being?

Kutip dari: yusufmuslim
Semua yang anda sampaikan di atas belum benar-benar membantah argumen Ibn Taimiyyah atas proposisi nomor dua di atas. Atau, setidaknya begitulah yang saya lihat. Bisa menjelaskan dimana relevansi-nya antara penjelasan panjang anda atas bagaimana memverifikasi logika dengan kritikan ibn Taimiyyah sementara saya melihat anda memiliki pandangan yang berbeda dengan Ibn Taimiyyah atas "apa itu yang benar".

Tentang definisi membawa kepada pemahaman akan hal-hal ?

Dari hirari keberadaan seperti misalnya keberadaan manusia sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, karena definisi itu dapat difahami di mana posisi manusia, dan apa hakikatnya.

Anda tau tumbuhan dan hewan. Pengetahuan anda terhadap hewan dan tumbuhan itu juga disebut pemahaman. Anda tentunya memahami apa itu hewan dan apa itu tumbuhan. Tapi apabila anda berupaya mendefinisikan apa itu tumbuhan dan apa itu hewan, maka anda akan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang hal-hal tersebut. Dan saya sangat berharap anda mau mencoba mendefinisikan dengan bahasa anda sendiri, apa itu tumbuhan dan apa itu hewan, lalu mengemukakannya kepada saya. Agar disksi ini tidak hanya sebatas diskusi teoritik, melainkan berlandakan pula kepada praktik. Sehingga akhirnya anda bisa memahami bahwa ternyata memang benar definisi itu membawa kita lebih jauh kepada pemahaman akan hal-hal.

Kutip dari: yusufmuslim
Selanjutnya, mengenai hubungan antara "genus", "differentia", "spesies", dan "definisi yang sempurna". Dan ini dari saya sendiri.
Jika definisi sudah sedemikian rinci (sudah mengandung differentia-differentia sampai kepada yang paling "subtle") sehingga menjadi demikian panjang, bagaimana sebuah definisi masih dikatakan sebagai definisi sementara ia sudah lebih kepada bab dan tidak definitive--terbatas?

Proses yang saya jelaskan diatas itu adalah proses panjang penyelidikan definisi itu sendiri. Atau dapat dikatakan proses terbentuknya sebuah definisi. Definisi “manusia adalah hewan yang berpikir” tampak sederhana dan berwujud satu kalimat saja. Tapi proses terbentuknya definisi itu ternyata berisi uraian yang sangat panjang, dijelaskan melalui categorical proposition. Setelah suatu definiendum selesai di definisikan dengan definisi  yang sempurna, maka lengkaplah batasan mengenai suatu diri itu. Yakni definiendum (yang didefinisikan) bersifat setara dengan definiens (definisi).

Mendefinisikan sesuatu itu memang tidak mudah. Butuh waktu yang mungkin tidak sbentar untuk bisa mendefiniskan sesuatu. Makin sederhana lingkungan jenis sesuatu, maka makin sulit sesuatu didefinisikan. Akhirnya sampai pada suatu pemahaman bahwa tidaklah mungkin segala sesuatunya dapat didefinisikan berhubung banyaknya objek yang tidak terbatas ini. Hal-hal yang perlu didefiisikan adalah hal-hal pokok dan memang butuh didefinisikan saja. Sebagian hal cukup difahami melalui proposisi. Dan ini pula yang memustahilkan bahwa konsepsi hanya bisa difahami melalui definisi.



Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:menjawab kritikan ibnu taimiyah terhadap definsi
« Jawab #2 pada: Pebruari 20, 2012, 03:18:20 PM »
Kutip dari: yusufmuslim
SAya tidak tahu dengan anda, tetapi kalau saya menjadi anda, saya akan berusaha menjelaskan hal di atas dengan lebih mendalam.
Mohon dielaborasi lebih lanjut.

Kalau yang saya tangkap dari bacaan-bacaan saya: konsep itu adalah ide umum mengenai sesuatu hal/benda baik yang abstrak maupun yang kongkret. Dalam dunia akademik, kita menjumpai kata-kata/ucapan seperti "konsep musyawarah adalah...", "konsep 1 meter adalah...", "dia tidak memahami konsep fisika..." dll.

Dari sudut pandang ini, konsep memang adalah hal yang dijelaskan oleh definisi. Bahkan sering antara definisi dan konsep dikacaukan/tidak dibedakan penggunaannya.
Dari yang saya baca adalah bahwa kita memahami fenomena "big bang"--misalnya--melalui konsep yang disampaikan atas "big bang" itu. Dan pada gilirannya, kita juga menerangkan pemahaman kita atas big bang dalam bentuk konsep yang kita sampaikan kepada orang lain.

Intinya, saya tidak melihat adanya perlunya apa yang anda anggap sebagai pelurusan pemahaman Ibn Taimiyyah atas logika, yakni pembedaan konsep dan hakikat.

Syaikh Akram NAdwi yang saya kutip di atas saya rasa menyebutkan konsep dalam pengertian pemahaman atas sesuatu hal/benda yang sedang didefinisikan. Karena memang ini yang dikritik Ibn Taimiyyah: bahwa definisi dipandang sebagai satu-satunya cara untuk memahami sesuatu hal/benda yang sedang didefinisikan itu.

Ini terlihat dengan bantahannya bahwa ada cara lain untuk memahami sesuatu hal/benda. Misalnya jika ada yang bertanya: apa itu "tangan"? maka orang yang ditanya tinggal tunjukkan "tangan" dan orang yang bertanya akan memahami "tangan" itu.

Intinya, dari sudut pandang ini apa yang anda namakan sebagai "hakikat" adalah merupakan hal yang sama dengan yang dinamai ahli logika arab dan dikutipkan Ibn Taimiyyah dengan "konsep".

Jikalau mau bersikukuh bahwa konsep itu sama dengan hakikat, maka itu silahkan saja. Saya sudah menjelaskan perbedaan dan persamaan antara konsep dan hakikat. Kalau mau bersikeras bahwa itu sama, maka penjelasan apapun pasti tidak akan ada gunanya.
Bukan untuk yang mau bersikeras, melainkan untuk yang mau memahami,  saya akan menjelaskan kembali untuk kedua kalinya persamaan dan perbedaan antara konsep dan hakikat.
Konsep adalah ide/pemahaman/pengertian yang ada di dalam pikiran.
Hakikat adalah essensi suatu diri.
Definisinya saja sudah beda.
Lalu di mana letak persamaan atau hubungan antara konsep dan hakikat? Seperti hubungan manusia dengan benda, seperti hubungan kalimat dengan paragraf. Apakah manusia itu termasuk kepada benda? Ya benar. Tapi benda tidak hanya manusia. Apakah sebuah paragraf merupakan kumpulan kalimat? Ya benar. Tapi tidak bisa dikatakan bahwa kalimat sama dengan paragraf.
Demikian pula halnya hubungan konsep dengan hakikat. Apakah sebuah hakikat itu adalah konsep? Ya. Hakikat itu adalah konsep. Setiap hakikat pastilah konsep. Tapi tidak setiap konsep berarti hakikat.
Ada seorang anak kecil sedang menonton sebuah karnaval bersama ayahnya. Si ayah berkata, “sebentar lagi akan ada rombongan anak sd lewat.” Si anak tertarik ingin menarik serombongan anak sd lewat.
Kemudian munculah rombongan anak sd itu berbaris perkelas. Si ayah berkata kepada anaknya, “ini adalah barisan kelas 1, ini adalah barisan kelas 2, ......ini ada barisan kelas 6.” Setelah rombongan habis berlalu, si anak kecil bertanya, “ayah, manakah barisan anak sd nya?” si anak tidak mengerti kalau barisan kelas 1 sd. Kelas 6 tadi, ya itulah yang dimaksud dengan anak sd. Kadang-kadang dijelaskan dengan berbagai cara pun si anak belum dapat mengerti, karena sudah terlebih dahulu si anak mempersepsi bahwa rombongan sd itu adalah rombongan yang terpisah dari rombongan kelas-kelas. Haruskah dipaksakan untuk mengerti? Tidak. Butuh waktu bagi si anak untuk lebih dewasa pemikiran dan mampu menerima penjelasan sang ayah.
Seperti itulah perbedaan konsep dan hakikat. Hakikat berada dalam wilayah konsep. Dan konsep memiliki lingkungan yang lebih luas dari pada hakikat.
Di dalam logika, sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya, ada tiga bab utama, yaitu term, proposisi dan syllogisme.
Di dalam term, terdapat bab tentang :
1.   Konsep
2.   Kategori
3.   Klasifikasi
4.   Dichotomi
5.   Definisi

Konsep merupakan sub dari term yang berbeda dari sub-sub lainnya. Konsepsi dibedakan dari definisi. Di dalam definisi itulah terdapat pengajaran tentang hakikat. Terdapat 9 pasal yang harus diepelajari untuk dapat memahami  bab konsep. Dan ada 4 pasal yang harus difahami untuk bisa memahami definisi, salah satunya adalah pasal mengenai hakikat. Dari penyusunan kurikulum ini saja sudah bisa menandakan adanya perbedaan makna antara konsepsi dan hakikat.
Kutip dari: yusufmuslim
Karena itu, dalam dunia ilmiah, penggunaan fallacy ini jarang dilakukan. Terutama karena penyebutan "Kan para ahli bilang gitu..." atau kalimat yang semacamnya saja menunjukkan kesan yang nyata bahwa si pembicara tidak benar-benar menguasai hal yang dibicarakan (kelihatan keawamannya) dan karenanya patut diragukan pernyataannya.
Atau mungkin yang berbicara bercundus karena sulit menjelaskan bahasa ilmiah kepada orang awam atau menganggap yang diajak bicara tidak cukup pintar untuk bisa mengerti isi pembicaraannya.
Kutip dari: yusufmuslim
Begitu ya?
Ada tulisan bagus untuk anda di sini http://www.questia.com/PM.qst?a=o&d=59675405 yang menerangkan SEJARAH DAN PERKEMBANGAN logika.

Btw. anda pernah mendengar Karl Popper?

Dalam dunia ilmiah, konsep falsifiability Popper sering dikutip untuk menentukan apakah sesuatu pengetahuan merupakan ilmu (yang ilmiah) atau tidak. Menurut dia, dan ini kesepakatan umum dalam dunia ilmiah, suatau bentuk pengetahuan, khususnya suatu teori, baru dikatakan ilmiah apabila IA BISA DIBANTAH/DITUNJUKKAN KESALAHANNYA.
Faktanya, tidak ada satupun ilmuwan yang dapat membantah teori-teori aristoteles dalam bidang logika. Termasuk ibnu taimiyah. Tak satupun kritikan ibnu taimiyah itu yang dapat dianggap mampu menunjukan kelemahan logika.
Bandingkan dengan kritikan Galileo Galilei terhadap kesimpulan Aristoteles. Gelileo dapat membuktikan kesalahan kesimpulan Aristoteles dengan bukti-bukti yang nyata. Dan itu dapat diakui para ahli logika di seluruh dunia. Sedangkan ibnu taimiyah, siapa yang dapat mengakuinya bahwa itu adalah kritikan yang benar dan mampu mematahkan teori aristoteles? Tidak ada, kecuali para pengagumnya yang fanatik.
Perlu diketahui bahwa kritikan Galileo pun hanya kepada kesimpulan ilmiah Aristoteles, tapi tidak menyentuh kepada persoalan teori logika.
Kutip dari: yusufmuslim
Artinya, kalau anda menganggap logika sebagai ilmu, ia mestilah memenuhi syarat harus bisa dibantah/ditunjukkan kesalahannya.

Kalau tidak, logika mestilah cuma dogma.
Logika bisa dan boleh dibantah. Tapi sejauh ini, tidak ada bantahan yang bisa menunjukan bahwa itu adalah teori yang salah. Segala sesuatu memiliki keterbatasan dan kelemahan. Itulah yang membuat sesuatu itu dapat ditunjuken kelemahannya. Salah satu kelemahan logika premissenya mesti bergantung keapda ilmiah. Untuk melahirkan kesimpulan yang benar dalam bidang ilmiah, premisse akhirnya harus bersifat ilmiah. Logika tidak bisa berdiri sendiri, memisahkan diri dari ilmiah. Ini batas logika. Ini adalah kelemahan logika. Dapat diakui oleh para ahli logika di manapun. Tapi apa yang dilakuakn oleh ibnu taimiyah, sama sekali tidak dapat disebut “menunjukan kelemahan” atau “kesalahan logika”.
Kutip dari: yusufmuslim
Sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya, saya rasa anda-lah yang mestinya "melihat kepada apa yang disampaikan, bukan kepada siapa yang menyampaikan".

Kritikan Ibn Taimiyyah tidak ada sangkut pautnya dengan "melihat kepada siapa yang menyampaikan" tetapi kepada fakta bahwa tidak ada seorangpun yang bebas dari kesalahan DALAM HUBUNGANNYA DENGAN KE-ESESNSIAL-AN LOGIKA UNTUK MEMAHAMI HAL-HAL BENDA-BENDA MENURUT LOGIKA YUNANI KUNO.
Pengetahuan anda dengan pengetahuan sdr. Sahabat itu berbeda. Hal-hal yang dikutip oleh sdr. Sahabat dari ibnu taimiyah adalah berbeda dengan hal-hal yang anda kutip dari ibnu taimiyah. Oleh karena itu, lupakan saja pembahasan tentang “ibnu taimiyah melihat siapa yang berkata” karna ini adalah informasi yang luput dari pengetahuan anda. Silahkan bahas hal-hal lain yang jelas informasinya bagi anda.
Kutip dari: yusufmuslim
Kita terapkan pada kasus yang anda bawakan saja, yakni definisi "manusia adalah hewan yang berfikir".

BAgaimana "hewan yang berfikir" bisa membedakan manusia dengan anjing atau simpanse sementara menurut perkembangan ilmu psikologi akhir-akhir ini bahwa hewan ternyata juga bisa berfikir. Cek di http://www.psychologytoday.com/articles/199911/do-animals-think?page=3 atau di http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,978023,00.html.
Terlepas dari itu, bagaimana kalau orang lain tidak setuju dengan definisi "manusia sebagai hewan yang berfikir" tetapi "manusia sebagai hewan yang bisa tertawa", misalnya?
Definisi “manusia adalah hewan yang bisa tertawa” disebut definisi eksidentil. Kenapa? Karena “tertawa” bukanlah essensi dari manusia. Essensi dari sesuatu itu adalah apabila ia ada, maka sesuatu itupun ada. Dan jika ia tidak ada, maka sesuatu itupun tidak ada. Jika essensi manusia adalah “yang berpikir”, maka manusia ada hanya jika ia berpikir. Bila ia tidak berpikir, maka manusia itupun tidak ada. Maka socrates mengatakan “aku ada karena aku berpikir”. Sedangkan tertawa, kendatipun ia menjadi sifat pemisah dari lain-lain golongan hewan yang memang tidak bisa tertawa, tapi tertawa bukan essensi. Ia disebut sifat khusus. Tertawa dalah sifat khusus yang dimiliki manusia, tapi bukan essensi manusia. Maka definisinya disebut definisi eksidentil, bukan definisi essensil.
Untuk membantu memudahkan memahamkan definisi aristoteles tentang manusia, maka sekali lagi saya anjurkan kepada anda untuk mencoba mendefinisikan dua hal berikut :
1.   Tumbuhan
2.   hewan
kalau orang membantah bahwa manusia itu bukanlah hewan, dan yakin bahwa bantahannya itu benar, berarti dia yakin bahwa dia itu tau apa itu manusia dan apa itu hewan ? kalau tidak tau apa itu hewan, bagaimana bisa membantah bahwa manusia itu bukan hewan?
Kalaulah ibnu taimiyah masih hidup, maka tentu saya akan bertanya kepada beliau “apa itu hewan?” tapi karena beliau sudah tidak ada, yang ada adalah anda dan para pengagum belieu, maka hanya bisa tanya kepada anda, para pengagum beliau dan orang yang setuju dengan bantahan beliau “apa itu hewan?” Jikalau tidak tau jawaban dari pertanyaan tersebut, berarti dia  telah membantah sesuatu yang tidak dia fahami.
Mengatakan sesuatu seperti “anda tidak bisa memahami ini karena anda belum mempraktikan sesuatu” dalam logika bisa merupakan sebuah fallacy. Tetapi sekali lagi, fallacy tidak berarti salah. Jikalau orang mendiskusikan “dua batu, besar dan kecil, bila dijatuhkan dari atas menara tinggi, manakah yang akan sampai ke permukaan bumi terlebih dulu?” Tentu saja orang boleh berteori. Tapi ujung dari teori itu, untuk memsatikan, ya perlu dipraktikan dengan benar-benar mencoba menjatuhkan dua batu besar dan kecil dari atas menara. Itu namanya percobaan ilmiah. Mengajak orang kepada praktik seperti itu berarti mengajak untuk melakukan percobaan ilmiah, bukan fallacy. Seperti kata ibnu taimiyah “tinggal mengangkat tangan kanan dan menunjuk ke arah telinga” demikian cara untuk memahami “konsep telinga”. Seperti itu pula untuk memahami kebenaran definisi Aristoteles, coba praktikan terlebih dahulu dengan mendefinisikan “apa itu hewan”.

Quote (selected)
Kalaupun anda keberatan dengan perkembangan terbaru di atas, tetap saja fair kalau kita katakan bahwa "cuma manusialah hwan yang bisa berfikir" masih diperdebatkan dan karenanya "hewan yang berfikir" tidak bisa digunakan untuk mendefinisikan manusia.
Sesuatu yang diperdebatkan bukanlah suatu faktor yang menyebabkan sesuatu itu tidak bisa digunakan sebagai definisi. Ada 4 syarat agar sesuatu itu secarah sah disebut definisi. Yang paling inti adalah jika luas lingkungan definiens sama dengan luas lingkungan definiendum, maka ssuatu itu sah disebut definisi, apakah ia diperdebatkan atau tidak.   



Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
2115 Dilihat
Tulisan terakhir September 29, 2013, 09:44:11 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
2011 Dilihat
Tulisan terakhir November 18, 2015, 09:48:24 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
894 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 29, 2013, 07:07:25 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1163 Dilihat
Tulisan terakhir April 17, 2014, 10:30:42 AM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
650 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 14, 2014, 07:25:33 PM
oleh Kang Asep
Kritikan

Dimulai oleh Kang Asep Renungan

0 Jawaban
370 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 25, 2015, 12:56:30 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
701 Dilihat
Tulisan terakhir September 19, 2015, 09:54:03 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
529 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 25, 2016, 09:11:55 PM
oleh Sultan
2 Jawaban
154 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 16, 2017, 09:05:11 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
29 Dilihat
Tulisan terakhir November 11, 2017, 10:08:13 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan