Penulis Topik: Menegaskan Peranan Logika  (Dibaca 29 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Menegaskan Peranan Logika
« pada: Mei 30, 2018, 04:58:20 PM »
Menegaskan Peranan Logika
Edisi : 30 Mei 2018

Syed Hamid, [28.05.18 22:39]
----------------------------
"Jika ingin umur panjang maka jalani gaya hidup sehat".
Tidak berarti gaya hidup sehat adalah satu2nya sebab panjang umur.
Yang bisa dinilai adalah bahwa kalimat tersebut bukanlah kalimat yang sempurna (benar) dari sudut pandang ilmu logika. Tapi bukan berarti salah konteks. Karena kita paham maksud dari kalimat tersebut maka ketika akan diuji content nya maka kalimat tersebut harus disempurnakan dahulu.
" Gaya hidup sehat adalah salah satu faktor utama untuk umur panjang".
===================

Cara menalarnya tidak seperti itu, Syed. Logika tidak menafsirkan kalimat antara pengantar dan pengiring dalam implikasi sebagai hubungan sebab akibat. “Jika A, maka B”, tidak berarti A adalah sebab bagi B atau sebaliknya. (Ini telah saya jelaskan dalam tulisan berjudul “Penjelasan Hukum Kausalitas Imiah”). Akan tetapi, sebagian kalimat implikasi merupakan konklusi. Contohnya, pernyataan “jika A, maka C”, ini mengandung premis tersembunyi, di mana selengkapnya adalah sebagai berikut :

Jika A, maka B
Jika B, maka C
Jadi, jika A, maka C

Sebuah konklusi, tentu harus logis, argumentasinya harus valid. Jika tidak, maka rusaklah struktur bangungan ilmu pengetahuan. Intisari dari nalar logika adalah validitas argumen. Jika argumen tak valid ditolelir, itu beararti logika kita dilumpuhkan.

Dalam contoh di atas, konklusinya berniai salah, bila premis-premisnya bernilai salah, walaupun argumentasinya valid. Berarti, bisa terjadi konklusi logis argumentasinya valid, namun isi kesimpulan salah. Apabila premis keduanya “jika B, maka belum tentu C”, berarti konklusi tidak logis, argumentasi tidak valid, walaupun semua proposisinya bernilai benar.

“Jika ingin umur panjang, maka jalani gaya hidup sehat”

Pertanyaannya, apakah pernyataan tersebut merupakan konklusi ? jika “ya”, maka yang namanya konklusi harus jelas premis-premisnya. Mana premis-premisnya ? Saya tidak melihat pernyataan tersebut sebagai konklusi, sehingga kasus dalam pernyataan “manusia nomaden” tidak dapat diungkap dari contoh ini. Tapi yang lebih tahu, tentu yang membuat pernyataan. Karena itu, jika itu merupakan pernyataan Syed Hamid sendiri, maka silahkan dikonfirmasi, apakah itu konklusi atau bukan ? jika ternyata konklusi, maka silahkan sampaikan premis-premisnya dan kita akan menguji validitasnya.

jadi, ini tidak berbicara mengenai sebab akibat, tapi mengenai syllogisme, untuk melihat logis enggak, valid enggak. Jika sebuah argumentasi tidak harus valid, lalu apa peran dan fungsi logika dalam dunia ilmiah ?

Bandingkan perbedaannya dengan pernyataan di bawa ini :
“Jika manusia menetap, maka manusia bercocok tanam. Jika manusia bercocok tanam, maka menjadi pemamah biak. Jika menjadi pemamah biak, maka mudah berbuat dzalim. Dengan demikian, jika menetap, maka mudah berbuat dzalim.”
Jelas itu merupakan sebuah syllogisme. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menguji validitasnya dulu, dan langkah keduanya adalah menguji kebenarannya.

Mbak Layla sudah mengubahnya ke dalam bentuk variabel :

Layla Moonlite, [28.05.18 08:08]
--------------------------
A= manusia menetap
B=bercocok tanam
C=mudah mendapatkan makanan
D=pemamah biak
E= mudah berbuat dzalim

(A -> B) ^( B->C) ^( C->D)^ (D->E).  A -> E
================

Dan telah saya nyatakan bahwa argumentasi tersebut valid dengan. Valid belum tentu benar. Kemudian, dinyatakan bahwa salah satunya premisnya bernilai salah. Yang menyatakan ini bukan saya, tapi Mbak Layla.

Kang Asep, [28.05.18 07:30]
------------------------
dengan demikian, apakah pernyataan "jika makhluk pemamah biak, maka mudah berbuat dzalim" bernilai benar atau salah ?
==============

Layla Moonlite, [28.05.18 07:50]
----------------------
Salah, karena terdapat pemamah biak tapi ternyata tidak mudah berbuat dzalim
============
Sebagaimana sering saya sampaikan, bahwa logika tidak mencampuri keyakinan orang lain tentang benar-salah, tapi mencari konsekuensi logisnya. Dengan demikian, bila Mbak Layla meyakini bahwa premisnya bernilai salah, maka bagaimana mungkin meyakini bahwa isinya konklusinya bernilai benar ? itu namanya tidak logis. Nilai salah pada isi konklusi merupakan konsekuensi logis dari premis-premis yang salah. Bukan hanya salah, bila kemudian premis (D->E) diubah menjadi – (D->E), maka konklusinya juga tidak logis, argumentasinya tidak valid.

“Jika makhluk pemamah biak, maka mudah berbuat dzalim”

Pertanyaannya, apakah pernyataan tersebut benar ? jika terdapat makhluk pemamah biak, tetapi tidak mudah berbuat dzalim, maka bagaimana pernyataan tersebut dapat bernilai benar. Hukum kontradiksi memustahilkan mutanaqidain (dua pendapat yang kontradiksi) bernilai sama-sama benar.

Untuk lebih jelasnya, saya kutipkan kembali kontardiksinya :
1)   Jika makhluk pemamah biak, maka mudah berbuat dzalim
2)   Ada makhluk pemamah biak, tapi tidak mudah berbuat dzalim
Jika pernyataan pertama benar, maka mestilah pernyataan kedua salah. Tapi jika seseorang meyakini bahwa pernyataan kedua benar, mestilah mengakui bahwa pernyataan pertama salah.  Jika seseorang mengakui kedua pernyataan tersebut benar, maka itu sama saja dengan mengakui sesuatu sambil mengingkarinya. Jadi, tidak ada pilihan, harus memilih dari salah satu pendapat, mana yang benar. Mbak Layla meyakini kebenaran proposisi yang kedua, maka konskuensinya tidak ada piilhan lain, kecuali menetapkan nilai salah pada pernyataan sang profesor.   Alur berpikir ini bersifat pasti, serta tidak ada kemungkinan lainnya.

Salah satu manfaat dari memeplajari bab Fallacy adalah agar kita tidak jatuh ke dalamnya. Contoh sederhana dari fallacy adalah sebagai berikut :

Orang Jawa itu ramah
Paijo itu orang Jawa
Jadi, pastilah Paijo ramah

Ulama itu orang yang jujur
Saya adalah ulama
Jadi, saya pasti jujur

Jalan pikiran di atas disebut Falalcy of Glitering Generalities. Kita mengetahui bahwa maksudnya “orang Jawa itu ramah” adalah “mayoritas orang Jawa itu ramah”, dan maksudnya “ulama itu orang yang jujur” adalah “semestinya”, “sebagian” atau “mayoritas ulama”.  Namun dalam pernyataan di atas kata kam Qadiyah (kuantitas proposisi) tidak disebutkan, sehingga “maksud” tersebut tersembunyi. Dan kemudian apa yang tersembunyi tersebut harus dikemukakan, ketika tejadi kesalahan penalaran. Bahwa argumentasi tidak valid, karena middle term tidaklah meniap. Mentolelir kesalahan nalar seperti itu memberi peluang kepada para penjahat untuk menggiring pemikiran orang lain bahwa dirinya benar, seperti perkataan Panditji pada Polisi ketika polisi menginterogasinya, Panditji berkata, “saya Seorang Brahmana. Dan seorang Brahamana menganut ahimsaisme, pantang untuk membunuh. Jadi, tidak mungkin saya membunuh”. Ini juga kasusnya sama, menggeneralisasi sesuatu, “mayoritas”, “kemungkinan besar” atau “kecenderungan” dari seorang Brahmana adalah “tidak membunuh” karena menangut Ahimaisme. Namun kecenderungan seperti itu tidak boleh melahirkan kesimpulan “saya tidak mungkin membunuh, karena saya Brahmana”, sehingga polisi marah dan berkata kepadanya, “Cukup ! berhentilah bermain fallacy”.

Kasus yang sama terjadi pada pernyataan sang profesor dalam susun pikiran yang disebut Sorite.

A adalah B
B adalah C
C adalah D
D adalah E
Jadi, A adalah E

Kuantitas pada term B, C dan C haruslah bersifat meniap (universal), bukan “sebagian”, “kecenderungan” atau “mayoritas”. Jika tidak, maka argumentasinya dipastikan tidak valid, konklusinya tidak logis. Bila ketaklogisan ini harus dianggap benar, maka aturan ini harus diberlakukan pada banyak kasus lain yang serupa sehingga menimbulkan kekacauan. Seperti misalnya, kita juga harus membenarkan argumen pengharaman ziarah kubur.

“Jika ziarah kubur, maka syirik. Jika syirik, maka haram. Dengan demikian, jika ziarah kubur, maka haram”.

Kesimpulannya harus dianggap benar walaupun implikasinya hanya berupa kecenderungan, “jika ziarah kubur, cenderung syirik”,serta mengabaikan fakta bahwa “ada yang ziarah kubur, tapi tidak syirik”, pandangan matanya hanya tertuju pada banyaknya orang yang ziarah kubur dan mayoritas berbuat syirik.

Dalam kasus lain ada yang mengatakan “jika merokok, maka akan menjadi pencandu narkoba, karena 99% pecandu narkoba adalah perokok”. Pendapat ini terlihat menyenangkan dan benar bagi mereka yang anti rokok, tapi tidak menyenangkan dan terlhat salah oleh mereka yang perokok. Tapi logika punya aturan tersendiri, bukan karena senang atau tak senang, sebuah konklusi itu harus logis, argumentasi itu harus valid. Jika tidak, bukan hanya kesalahan iman yang terjadi pada diri kita sendiri, tetapi berpotensi munculnya kedzaliman. Tujuannya bagus, mendorong orang untuk berhenti merokok dan menjelaskan bahaya dari merokok. Tapi cara berargumentasinya itu tidak bagus. Jka pendapat seperti harus dianggap benar, maka aturannya harus dapat diterapkan pada kasus lain, seperti “pemakan nasi akan menajdi pecandu narkoba, karena 99% pacandu narkoba gemar makan nasi.” Tapi, bagaimana pernyataan ini ditolak dengan alasan “rokok itu beda dengan nasi” ? ya benar, rokok itu beda dengan nasi, tapi apa kaidah yang membedakannya. Sedangkan dalam pernyataan tadi, tidak ada alasan lain, kecuali karena “99% pecandu narkoba adalah perokok”, mengapa aturannya diskriminatif ?

Tujuannya bagus, dan isi kesimpulannya benar, tidak berarti logis dan tidak berarti argumentasinya valid. Seperti seorang Habib pernah berkata, “Kita mencintai ahlul bayt Nabi saw. Ahlul Bayt Nabi saw mencintai Rasulullah. Berarti kita mencintai Rasulullah.” Premis minornya benar. Premis mayornya benar. Dan isi konklusinya benar, tapi tidak logis, pula tak valid. Lalu mengapa itu harus dipermasalahkan ? karena bahayanya, apabila ditolelir, kita mesti menerima jalan pikiran yang serupa. Dalam kasus cinta ahlul Bayt, maka kelihatannya tak ada masalah, serta tidak menimbulkan kerugian apapun, tak ada kedzaliman yang muncul, yang ada malah kebaikan, mendorong orang untuk mencintai ahlul bayt nabi yang memang merupakan kewajiban umat Islam. Tapi bila pola seperti itu diterapkan pada kasus lain, maka kedzaliman dapat terjadi, kerugian dapat timbul.  “Saya mencintai Sinta. Sinta mencintai Udin. Jadi, saya mencintai Udin ?” kedzaliman terjadi, bila saya dituduh cinta pada Udin, apalagi bila premis yang muncul “saya ingin menikah dengan Sinta. Sinta ingin menikah dengan Udin”, bagaimana kelak orang akan menvonis bahwa saya ingin menikah dengan Udin ?

Kembali ke kasus pernyataan Sang Profesor. Tujuannya bagus, mendorong orang untuk tidak serakah terhadap makanan dan harta benda. Saya mendukung niat baik seperti itu.  Namun tidak dapat mentolelir pola argumentasinya, karena dapat menimbujlkan kedzaliman dan kerugian, apabila pola yang sama diterapkan pada kasus-kasus yang lain. Karena itu perlu untuk diluruskan.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
6 Jawaban
2648 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 12, 2013, 04:22:24 PM
oleh Kang Asep
17 Jawaban
5147 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 03, 2013, 11:13:50 AM
oleh Abu Hanan
6 Jawaban
1916 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 08, 2013, 10:43:59 PM
oleh Kang Asep
Logika

Dimulai oleh Kang Asep Definisi

0 Jawaban
2731 Dilihat
Tulisan terakhir November 22, 2013, 02:52:23 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
991 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2015, 10:56:40 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
1471 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 24, 2016, 12:55:05 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
522 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 27, 2015, 08:09:18 AM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
919 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 13, 2015, 09:11:54 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1562 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 24, 2016, 11:41:03 AM
oleh kang erick
0 Jawaban
478 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 07, 2016, 07:31:11 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan