Penulis Topik: Logika dan Agama  (Dibaca 163 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 383
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Logika dan Agama
« pada: Juni 29, 2017, 11:56:01 AM »
Daftar Isi
====================
1. Logika Dan Agama
1.1. Antara Hukum Logika Dan Agama
1.2. Logika Dalam Beragama
1.3. Agama Dan Jari
====================

1. Logika Dan Agama
Edisi : 29 Juni 2017, 07:08:59

NN, [26.06.17 08:23]
Didalam agama islam tak mesti pke logikan kan

Asep Rochman, [26.06.17 08:30]
saya hanya mengajarkan ilmu logika. Soal apakah itu nanti mau dpake untuk urusan agama atau tidak, terserah pribadinya masing-masing. Hanya saja saya tidak tahu, bagaimana caranya beragama tanpa pake logika.

Sahl Abbad, [26.06.17 08:40]
Islam adalah agama kebenaran,maka tidak benar dan mustahil jika ajarannya mengesampingkan ilmu logika karena logika sendiri adalah cara atau metode berpikir secara tepat nan benar.

Allah murka kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya (Yunus : 100)

1.1. Antara Hukum Logika Dan Agama
Edisi : 29 Juni 2017, 07:52:53

Banyak orang menuduh saya mendewakan logika, melekat pada Logika Aristoteles, fanatik pada logika Aristoteles dan ada juga yang menuduh saya menyembah akal.  Saya nyatakan bahwa semua tuduhan itu tidak benar. hanya berupa tuduhan dan tidak pernah ada satupun dari tuduhan itu yang dapat dibuktikan.

Hukum Logika merupakan kebenaran multak.  Dari sejak zaman purba hingga sekarang, tidak ada seorangpun yang dapat menyangkal atau membuktikan kesalahan Hukum Logika. Pernyataan saya ini bukan fanatisme, tapi kenyataan yang tidak dapat dibantah oleh siapapun. Jika ada yang dapat membuktikan kesalahan hukum logika , silahkan lakukan. Karena bantaham tanpa bukti itu tidak berguna.

Logika membuat saya tidak berpihak pada agama manapun dan tidak pula membuat saya menyangkal agama manapun karena labelnya. Logika membuat saya berpihak pada kebenaran dari manapun kebenaran itu datangnya.

Logika mengajarkan pada saya bahwa sebuah pernyataan tidak menjadi benar karena dikatakan oleh muslim, budhis, kristiani atau hindu. sebuah pernyataan hanya bernilai benar bila ia selaras dengan definisinya. Karena itu nilai benar atau salah bukan milik agama atau kelompok tertentu, melainkan milik sang pemilik definisi.

Logika membuat pikiran saya terbuka dan bersedia menerima kebenaran dari siapapum datangnya. apakah itu dari muslim, kristiani, hindu atau Budhis. selama itu benar, maka akan diterima sebagai kebenaran. Logika telah membuat saya menjadi seorang pluralis.

Saya telah menerima sepenuhnya hukum logika sebagai hukum yang benar. Keyakinam saya akan kebenaran Hukum Logika tidak tergoyahkan dan tidak mungkin tergoyahkan. Di dalam Hukum Logika tidak ada kontradiksi. Penyangkalan terhadap hukum logika adalah mustahil, di alam khayal sekalipun.

Kutip :
------------------
Kaidah-kaidah berfikir dalam Logika bersifat niscaya atau mesti. Penolakan terhadap kaidah berfikir ini mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil pula dalam semua khayalan yang mungkin[1]. Contohnya, sesuatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan yang bukan dirinya. Prinsip berfikir ini telah tertanam secara niscaya sejak manusia lahir. Tertanam secara spontan. Dan selalu hadir kapan saja fikiran digunakan. Dan harus selalu diterima kapan saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh, prinsip ini sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang maujud[2]. Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran dalam alam bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerimanya berarti meruntuhkan seluruh bagunan agama, filsafat, sains dan teknologi, dan seluruh pengetahuan manusia.[3]
=================

Di sisi lain, saya menolak sebagian ajaran agama dan mustahil menerimanya sebagai kebenaran. Karena ajaran agama tersebut kontradiksi dengan ajaran agama lainnya. Mustahil saya mengakui dua-duanya benar..dan telebih bila ajaran agama tersebut bertentangan dengan Hukum Logika, hukum yang mutlak.

Di sini tampaknya saya menempatkan Hukum Logika di atas Hukum Agama. Padahal tidak demikian. Logika hanyalah alat untuk mengidentifikasi ajaran agama yang palsu, agama yang seakan benar padahal isinya salah.Hukum Logika dan Hukum Agama adalah sama-sama Hukum. Tidak dikatakan yang satu di atas yang lain. Mana yang lebih derajatnya, ilmu matematika atau fisika ? Keduanya adalah ilmu. Yang satu tidak di atas yang lain.

___________
Note :
 1)    all possible intelligebles
 2)   the very property of being
 3)    Dimitri Mahayana
___________
===========

1.2. Logika Dalam Beragama
Edisi : 29 Juni 2017, 07:34:58

Penulis : Sanglokus

AGAMA adalah pedoman perilaku bagi umat manusia agar berbuat baik dan menjauhi perbuatan yang tidak baik. Agama, ketika tertulis dalam bahasa aslinya, merupakan agama murni. Namun terjemahan dan tafsirnya, bisa berubah dari waktu ke waktu. Sebab, terjemah atau tafsir dilakukan oleh manusia. Karena manusia penerjemah dan penafsir kemampuannya tidak setingkat nabi, bisa saja terjemah dan tafsirnya menjadi keliru atau lebih buruknya lagi sengaja dikelirukan dengan tujuan tertentu. dan dalam perjalanan sejarah mejadi banyak ragam agama. Secara umum agama Yahudi ada 71 golongan, agama Nasrani ada 72 golongan dan Islam ada 73 golongan. refrensi jumlah golongan itu dari data, sementara saya sendiri tidak tahu data yang sebenernya karena golongan yang sebenernya bisa lebih banyak.

Walaupun agama merupakan pedoman berperilaku baik dan menghindarkan perilaku buruk, namun faktanya banyak umat beragama yang berperilaku buruk, baik dalam bentuk pikiran, tulisan, ucapan maupun tindakan. Agama menjadi terlihat salah karena perilaku pemeluknya yang sudah keluar dari rel atau malah menambah rel sendiri.

Bahasa asli kitab suci tidak mungkin salah . Namun bahasa terjemah bisa saja salah. karena kualitas terjemah tergantung kualitas sipenerjemah. Tergantung kualitas wawasan berpikir (IQ), pengalaman hidup, kemampuan menerjemahkan penguasaan bahasa,kemampuan berlogika dan kepentingan prioritas. maka dari itu terjemahan semua agama masih bisa memiliki kemungkinan potensi yang salah.

Munculnya sikap sok suci. Suka membanggakan gelar agamis, merasa dari turunan terbaik dalam beragama dan merasa ilmunya lebih banyak dalam agama adalah keburukan berikutnya selain kemungkinan salah menterjmahkan kitab suci, karena memiliki sikap ini menyebabkan kebenaran sejati sulit sekali untuk memasuki diri.

Effect dari sok suci berlanjut menjadi Tidak mau menerima pendapat yg benar dari orang lain ,cara berpikirnya banyak yang sempit seperti katak dalam rempurung. jika diberitahu caranya berpikir salah, ucapannya salah dan perbuatannya salah, seringkali mereka langsung membantah tanpah mencerna terlebih dulu. Bahkan secara langsung tidak mau menerima pendapat orang lain yang benar. Semua pendapat yang menghujam dan tidak sesuai dengan pendapatnya dianggap salah.

Effect berantai selanjutanya adalah perilaku buruk sebagian umat beragama adalah tidak mau mengakui kesalahan. kalau dikoreksi, langsung reaktif membela diri. Langsung melakukan pembenaran-pembenaran (justifikasi). Apa yang dilakukan tidak mungkin salah.

masih ada lagi effect berantai selanjutnya yaitu berupa perilaku toleransi yang rendah. bahkan bisa dikatakan dengan kasarnya tidak mempunyai rasa toleransi sama sekali. Jika berhadapan dengan golongan yang tidak sepaham dengannya, maka dimusuhi dan bahkan jika perlu disingkirkan, diusir atau bahkan diperlakukan secara anarki. atau lebih parah di cap KAFIR.

Guru adalah seseorang yang harus kita hormati akan tetapi dalam belajar agama menganggap semua ucapan guru agama benar,lebih benar,paling benar dan selalu benar itu sangat disayangkan, coba kita renungkan secara harfiah guru juga seorang manusia tempatnya benar dan salah serta mempunyai keterbatasan-keterbatasan dalam dirinya. celakanya adalah. hampir sebagian metode pengajaran agama apapun di dunia ini adalah metode dogmatis. Terima saja saja dan anggap saja itu benar. jangan dirasionalkan dan dilogikakan. Sehingga akibatnya apa yang dikatakan guru agamanya adalah benar, pasti benar, lebih benar, paling benar dan bahkan selalu benar hingga hari kiamat.

Sebagian ajaran guru agama yang salah adalah agama tidak bisa dilogikakan. Bukankah agama merupakan pedoman perilaku yang benar dan perilaku yang salah. Bukankah baik dan buruk intinya adalah norma? Bukankah benar dan salah dasarnya ada pada ilmu logika?

Logika manusia kebenarannya berdasarkan fakta,realita dan etika. Logika alam kebenarannya berdasarkan hukum sebab akibat. Sedangkan logika Tuhan tingkat kebenarannya hanya diketahui oleh Tuhan.

Belajar ilmu agama tanpa belajar ilmu logika secara sempurna hanya akan menghasilkan umat beragama yang tidak mampu bernalar secara benar dan Cenderung selalu menyalahkan pendapat orang lain.

Mudah2an tulisan diatas banyak salahnya sehingga saya bisa belajar lebih banyak lagi, kalau ada yang benar didalamnya semoga bisa diambil manfaatnya.

Saya juga tidak pandai menulis, jadi pasti ada kemungkinan salah tanda baca atau antara paragraf satu dan lainnya tidak ada beraturan, Mohon dimaafkan.

Semboyan LOGIKA " dengan logika maka akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman dan menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi"

1.3. Agama Dan Jari
Edisi : 29 Juni 2017, 07:41:51

AGAMA DAN JARI
 
"Kepercayaan agama," kata Sang Guru, "bukanlah pernyataan akan Realitas, tetapi sebuah petunjuk, yang mengarahkan pada sesuatu yang tetap merupakan suatu misteri. Misteri itu melampaui pemahaman akal budi manusia. Pendeknya, kepercayaan agama hanyalah sebuah jari yang menunjuk pada bulan.
 
Beberapa orang beragama tidak pernah beranjak lebih jauh dari mengamati jari belaka.
 
Yang lain malah asyik mengisapnya.
 
Yang lain lagi menggunakan jari untuk mengucek mata. Inilah orang-orang fanatik yang telah dibutakan oleh agama.
 
Sangat jarang penganut agama yang cukup mengambil jarak dari jari mereka untuk dapat melihat apa yang ditunjuk. Mereka inilah yang, karena melampaui kepercayaan mereka, justru dianggap sebagai penghujat."


(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello,Penerbit Kanisius, Cetakan 1, 1997)
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged

com


Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
1989 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 15, 2016, 01:49:00 PM
oleh Amoy
6 Jawaban
2329 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 12, 2013, 04:22:24 PM
oleh Kang Asep
17 Jawaban
4530 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 03, 2013, 11:13:50 AM
oleh Abu Hanan
23 Jawaban
8043 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 23, 2014, 08:08:28 AM
oleh Kang Asep
Agama

Dimulai oleh Kang Asep Definisi

3 Jawaban
1953 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 14, 2015, 09:42:09 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
415 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2015, 10:31:18 AM
oleh comicers
4 Jawaban
1402 Dilihat
Tulisan terakhir April 02, 2015, 09:49:21 AM
oleh comicers
1 Jawaban
716 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 12, 2015, 11:20:09 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
273 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 31, 2016, 12:04:10 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
377 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 10, 2016, 10:02:42 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan