Komunitas Para Pemikir

Kategori Umum => Kupas Logika => Topik dimulai oleh: Kang Asep pada Juli 08, 2013, 09:14:03 PM

Judul: Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 08, 2013, 09:14:03 PM
Sejak lama, penentuan awal ramadhan menjadi kontroversi dengan adanya dua metoda yang berbeda, yaitu hisab dan rukyat. semestinya kita, sebagai para pemikir logic, mampu menyimpulkan dengan tepat, mana metoda yang benar dari keduanya, hisab atau rukyat, apakah keduanya benar, ataukah keduanya salah. Apakah menurut hukum logika keduanya bisa sama-sama benar, ataukah mustahil sama-sama benar? apakah ada kumungkinan sama-sama salah ataukah mustahil sama-sama salah?

kajian Kupas Tuntas logika ini tentunya sebuah pekerjaan besar. tetapi, kita bisa memulainya dari hal yang ringan dan sederhana, mudah-mudahan sampai pada suatu kesimpulan yang jelas dan bermanfaat.

kalau kita mau mengkaji persoalan fiqih yang kontroversi hingga mengerti mana syariat yang benar, maka itu lebih baik lagi. tapi selama ini saya pribadi, untuk mengawali puasa itu memilih bertaklid kepada ulama yang terpercaya. oleh kaerna itu, sebenarnya pemahaman saya tentang sistem penentuan awal ramadhan itu bisa dibilang masih nihil. di sini, saya mencoba mengupasnya dari awal, dan menelaahnya setahap demi setahap dengan logika. mudah-mudahan dibantu oleh kang sandy dibidang matematika dan astronomi.
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 08, 2013, 09:21:56 PM
Kutipan[1] :
============================================
Perbedaan penetapan awal bulan Hijriah tak terlepas dari perbedaan metode penetuan awal bulan yang digunakan oleh pihak yang ber-ijtihad. Selama ini dikenal dua metode yang utama dalam penentuan awal bulan Hijriyah, yaitu metode rukyah dan metode hisab. Kedua metode ini sama-sama didasari interpretasi terhadap Alquran maupun hadis yang menjelaskan tentang tata cara memulai mengakhiri puasa.

Metode rukyah menggunakan pengamatan langsung dengan mata (rukyah bil-ain), sementara metode hisab menggunakan pengamatan tak langsung dengan mengandalkan hitungan ilmiah (rukyah bil-ilmi). Meski begitu, kedua metode ini tetap memakai Ilmu Hisab atau Ilmu Falak dalam prosesnya masing-masing. Hanya saja metode rukyah masih memakai pengamatan fisik sebagai final keputusan sedangkan metode hisab cukup dengan perhitungan ilmiah semata tanpa perlu lagi membuktikan dengan pengamatan fisik.

Dalam menentukan masuknya awal bulan kelompok yang berpedoman pada rukyat murni yang menetapkan awal bulan hijriah hanya observasi hilal semata, menghasilkan istimbat hukum apabila hilal tampak pada saat observasi, maka ditetapkan tanggal 1 bulan baru keesokan harinya dan apabila bulan tidak tampak maka di-istikmal-kan (disempurnakan) 30 hari bulan yang sedang berjalan.

Metode yang kedua adalah metode hisab murni berpedoman pada konsep wujudul hilal, yaitu konsep yang menyatakan bahwa keberadaan hilal tidak perlu di-rukyat tetapi cukup dengan perhitungan saja, karena apabila hilal sudah ada secara perhitungan maka dianggap sudah ada secara substansi walaupun tidak mungkin dilihat baik karena terlalu rendah atau tertutup awan, konsep ini sangat berpatokan pada posisi hilal sudah di atas ufuk tanpa mematok ketinggian tertentu.

Kementerian Agama RI sebagai lembaga negara yang berwenang menetapkan awal Ramadhan secara resmi dalam sistem ketatanegaraan kita menggunakan metode imkanur rukyah (kemungkinan hilal dapat di-rukyat) dalam penentuan awal bulan qamariah. Metode ini menyatakan bahwa hilal dianggap terlihat dan keesokannya dapat ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila: Pertama, ketika matahari terbenam, altitude (ketinggian) bulan di atas horison tidak kurang dari 2 derajat; Kedua, jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3 derajat, dan; Ketiga, ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku. Hal ini didasarkan pada pengalaman  astromonis seluruh dunia yang belum pernah dapat mengobservasi hilal jika belum memenuhi kriteria di atas dan tentunya dengan bukti yang otentik.
===========================================
 1. http://aceh.tribunnews.com/2013/07/08/penentuan-awal-ramadhan-mengapa-beda
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 08, 2013, 09:29:29 PM
Quote (selected)
Metode rukyah menggunakan pengamatan langsung dengan mata (rukyah bil-ain), sementara metode hisab menggunakan pengamatan tak langsung dengan mengandalkan hitungan ilmiah (rukyah bil-ilmi).

hitungan yang benar itu harus sesuai dengan fakta. benar atau tidak?

rukyat itu hitungan. dan hilal itu adalah fakta.

jika hitungan itu benar dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi pengamatan mata, maka seharusnya hitungan itu sesuai dengan fakta yang bisa dilihat oleh mata. betul atau tidak?

jika benar, maka sistem hisab itu bagai hipotesa. sedangkan pengmatan lansung adalah pembuktian kebenaran dari hipotesaa tersebut. benar atau tidak?
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Sandy_dkk pada Juli 08, 2013, 09:43:24 PM
hitungan yang benar itu harus sesuai dengan fakta. benar atau tidak?

rukyat itu hitungan. dan hilal itu adalah fakta.

jika hitungan itu benar dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi pengamatan mata, maka seharusnya hitungan itu sesuai dengan fakta yang bisa dilihat oleh mata. betul atau tidak?

jika benar, maka sistem hisab itu bagai hipotesa. sedangkan pengmatan lansung adalah pembuktian kebenaran dari hipotesaa tersebut. benar atau tidak?

benar, seharusnya metode rukyah dan hisab itu selaras. keduanya mestinya sama2 benar atau sama2 salah (salah dalam artian jika hari ini menurut rukyah bukan tanggal 1 ramadhan, maka menurut hisab juga mesti demikian), dan mestinya tidak berselisih antara metode satu dengan lainnya.

jika berselisih antara keduanya, maka hanya ada dua kemungkinan, yaitu perhitungan hisabnya salah, atau penglihatan mata yang salah.

tapi, keselarasan antara keduanya mesti didahului oleh kesepakatan definisi dari "awal bulan".
Quote (selected)
Pertama, ketika matahari terbenam, altitude (ketinggian) bulan di atas horison tidak kurang dari 2 derajat; Kedua, jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3 derajat, dan; Ketiga, ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.

kutipan tsb adalah definisi dari "awal bulan".
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 08, 2013, 09:50:15 PM
Kutip dari: sandy
Pertama, ketika matahari terbenam, altitude (ketinggian) bulan di atas horison tidak kurang dari 2 derajat; Kedua, jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3 derajat, dan; Ketiga, ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.

banyak istilah yang belum saya fahami.

1. horison
2. sudut elongasi
3. konjungsi

bagaimana pengertian dari istilah-istilah tersebut? kalau bisa sekalian dengan contoh gambarnya!  :kacsint2:
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 08, 2013, 10:24:27 PM
nemu definisi horison dari wikipedia :

(http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7d/Horizon.jpg/220px-Horizon.jpg)

Cakrawala, kaki langit, horizon (dari bahasa Yunani orizein yang bermakna "membatasi"), atau ufuk adalah garis yang memisahkan bumi dari langit. Lebih tepatnya, horizon adalah garis yang membagi arah garis pandang kita ke dalam dua kategori: arah garis pandang yang memotong permukaan Bumi, dan yang tidak. Di banyak lokasi, horizon benar terhalangi oleh pohon, bangunan, gunung, dan sejenisnya, yang membuat perpotongan antara bidang permukaan bumi dan bidang langit kemudian dikenal sebagai horizon tampak.

horizon bumi terlihat dari pesawat ulang alik.
(http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/9b/Earth%27s_horizon_as_seen_from_Shuttle_Endeavour.jpg/220px-Earth%27s_horizon_as_seen_from_Shuttle_Endeavour.jpg)

Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 08, 2013, 10:32:05 PM
Kutip dari: sandy
benar, seharusnya metode rukyah dan hisab itu selaras. keduanya mestinya sama2 benar atau sama2 salah (salah dalam artian jika hari ini menurut rukyah bukan tanggal 1 ramadhan, maka menurut hisab juga mesti demikian), dan mestinya tidak berselisih antara metode satu dengan lainnya.

kalau begitu, jika benar, hari ini adalah awal ramadhan, maka salah, bila besok adalah awal ramadhan. tetapi, bila salah, hari awal ramadhan, maka bisa juga salah, besok awal ramdhan. begitulah sifat dari kontrari. tidak bisa sama-sama benar, tapi bisa sama-sama salah.

awal ramdhan Muhammadiyah berbeda dengan awal ramadhan yang ditentukan oleh pemerintah. dengan demikian, tidak mungkin kedua-duanya sama benar. kalau kedua-duanya sama-sama salah, itu mungkin. begitulah menurut hukum logika.

selanjutnya, mari kita uji logika kita untuk mengetahui, jika ada yang benar diantara Muhammadiyah dan Pemerintah, maka mana yang benar dan mana yang salah. jika salah keduanya, maka lalu bagaimana yang sebenarnya.
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Sandy_dkk pada Juli 09, 2013, 12:50:40 AM
banyak istilah yang belum saya fahami.

1. horison
2. sudut elongasi
3. konjungsi

bagaimana pengertian dari istilah-istilah tersebut? kalau bisa sekalian dengan contoh gambarnya!  :kacsint2:

definisi horizon yang ditemukan kang Asep, saya rasa sudah cukup.

sudut elongasi adalah jarak sudut antara bulan dan matahari. elongasi 0o berarti konjungsi, 180o diberi nama oposisi dan 90o diberi nama kuadratur.

konjungsi adalah saat ketika matahari dan bulan berada pada garis datar yang sama, atau saat elongasi 0o.

(https://fbcdn-sphotos-g-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/q71/969316_4678121046103_56410497_n.jpg)

(https://fbcdn-sphotos-a-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/1044991_4678121126105_630799115_n.jpg)
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Sandy_dkk pada Juli 09, 2013, 02:25:34 AM
kalau begitu, jika benar, hari ini adalah awal ramadhan, maka salah, bila besok adalah awal ramadhan. tetapi, bila salah, hari awal ramadhan, maka bisa juga salah, besok awal ramdhan. begitulah sifat dari kontrari. tidak bisa sama-sama benar, tapi bisa sama-sama salah.

awal ramdhan Muhammadiyah berbeda dengan awal ramadhan yang ditentukan oleh pemerintah. dengan demikian, tidak mungkin kedua-duanya sama benar. kalau kedua-duanya sama-sama salah, itu mungkin. begitulah menurut hukum logika.

selanjutnya, mari kita uji logika kita untuk mengetahui, jika ada yang benar diantara Muhammadiyah dan Pemerintah, maka mana yang benar dan mana yang salah. jika salah keduanya, maka lalu bagaimana yang sebenarnya.

benar.

tapi, kita perlu tahu juga bahwa definisi dari "awal bulan" menurut Muhammadiyah berbeda dengan definisi menurut pemerintah.

jika pemerintah mendefinisikannya sebagai berikut:
awal bulan adalah saat dimana matahari terbenam yang memenuhi kondisi:

sementara Muhammadiyah mendefinisikannya sebagai berikut:
awal bulan adalah saat dimana matahari terbenam yang memenuhi kondisi:

Muhammadiyah tidak mensyaratkan ketinggian bulan di atas horison tidak kurang dari 2°, yang penting bulan ada diatas horizon tanpa mensyaratkan nilai ketinggian tertentu.
Muhammadiyah tidak mensyaratkan sudut elongasi tidak kurang dari 3°.
Muhammadiyah tidak mensyaratkan umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi, yang penting konjungsi telah terjadi.



dari Pos Observasi Bulan bukit bela-belu Parangkusumo (Yogyakarta), diperoleh data2 berikut (08/07/2013):
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 09, 2013, 07:08:50 AM
Kutip dari: sandy
ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang dari 2°

maksudnya 2 derajat dari bumi atau dari matahari?

kemudian, bila ternyata terjadi perbedaan definisi antara pemerintah dengan Muhammdiyah, berarti yang lebih penting untuk lebih dulu kita kaji adalah "definisi mana yang benar". penting sekali kita menemukan alasan pemerintah tentang argumentasi dari definisinya tersebut. soalnya, kalau definisinya salah, berarti selanjutnya juga salah. jadi kita tidak perlu bersusah payah lagi mendalami argumentasi lainnya selain dari definisi tersebut.

menurut hukum logika, setiap orang boleh membuat definisi masing-masing. oleh karena itu dua definisi yang berlainan atau bahkan bertentangan bisa sama-sama benar. ini saya sebut dengan "wilayah kewenangan definisi". pertanyaannya, siapa yang berwenang mendefinisikan awal ramadhan? jangankan Muhammadiyah, sayapun boleh-boleh saja mendefinisikan awal ramadhan sesuka saya. saya berwenang atas definisi saya sendiri. tetapi konsekuensinya umat Islam tidak harus berpedoman pada definisi saya, atau bahkan haram berpedoman pada definisi dari saya, bila definisi dari saya bertentangan dengan definisi awal ramadhan dari Rasulullah saw. definisi yang disampaikan oleh Rasulullah saw, itulah yang wajib dijadikan pedoman oleh umat Islam.

sebagaimana kita ketahui, baik pemerintah maupun Muhammadiyah merasa sama-sama berdasarkan kepada al Quran dan Hadits. kalau sudah begini, tentu kajiannya akan memakan waktu dan membutuhkan pembahasan berjilid-jilid buku, dan kajian kupas tuntas penentuan awal ramadhan di sini bisa mencapai ratusan halaman hanya untuk membuktikan mana definisi yang benar. Ini seperti buang-buang waktu. lebih mudah bagi umat awam untuk bertaklid kepada ulama dalam urusan fiqih. dan lebih penting untuk menelaah, kelompok ulama mana yang benar. kalau sudah mengenal mana ulama yang benar, selanjutnya untuk setiap persoalan fiqih cukup bertaklid saja kepadanya. selesai persoalan. kalau umat awam mau mengerti sendiri semua kebenaran persoalan fiqih, umur seribu tahun tidak akan cukup untuk memahami semuanya. Kabarnya, butuh 21 kitab sebagai referensi untuk menentukan awal ramadhan.

Kutipan[1]:
=================================================
"Dalam rapat tersebut dibahas tentang penentuan 1 Ramadan. Setidaknya mereka menggunakan 21 kitab baik salaf maupun kitab modern," kata Saleh yang juga Wakil Ketua PWNI Jatim ini, Senin 8 Juli 2013.

Disebutkan Saleh, dari 21 kitab yang digunakan sebagai rujukan terdapat 18 kitab yang menyimpulkan tanggal 1 Ramadan jatuh pada hari Rabu 10 Juli 2013. Namun, kesimpulan tersebut belum bisa menjadi keputusan. Karena masih harus menunggu Rukyatul Hilal yang digelar hari ini, Senin 8 Juli 2013.
========================================================

itu baru untuk persoalan penentuan awal ramdhan. belum lagi problem-problem fiqih lainnya. kalau umat awam ikut sibuk memikirkan persoalan seperti ini, akhirnya menjadi seperti "mengambil kulit meninggalkan kacang".

tapi kalau thread ini sekedar untuk melatih logika dengan menelaah soal penentuan awal ramadhan, okelah kita lanjutkan!
 1. http://nasional.news.viva.co.id/news/read/427126-18-kitab-untuk-simpulkan-awal-ramadhan
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: ratna pada Juli 11, 2013, 10:59:16 AM
^ Lebih baik dilanjutkan saja kang, supaya terlatih terampil dan tangkas menggunakan logika!
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Sandy_dkk pada Juli 12, 2013, 08:42:05 PM
hal yang mungkin belum kita ketahui, bahwa sebenarnya pemerintah kita sama sekali tidak menerapkan rukyah murni dalam pengambilan keputusan awal ramadhan. ketika hasil hisab menunjukkan bahwa saat matahari terbenam ketinggian bulan di atas horizon kurang dari 2o, maka kesaksian seseorang yang mengaku melihat bulan pada hari itu akan tertolak.
dan yang perlu diketahui juga, perhitungan atau hisab terhadap posisi matahari dan bulan antara pemerintah dan Muhammadiyah tidak pernah berselisih. yang membuatnya berbeda hanyalah persoalan definisi, sehingga walaupun hasil perhitungan sama, penetapan awal bulan tetap mungkin berbeda.

kembali ke persoalan definisi,
pemerintah menetapkan definisi awal bulan dengan kriteria tertentu tsb berdasarkan posisi bulan yang memungkinkan untuk dapat memantulkan cahaya matahari sehingga dapat terlihat oleh penduduk bumi. kenapa harus 2o? karena jika kurang, mustahil bulan dapat dilihat oleh penduduk bumi. kenapa jarak waktu antara konjungsi dan terbenamnya bulan harus tidak kurang dari 8 jam? karena jika kurang mustahil bulan dapat terlihat dari bumi. semua bisa dihisab, tapi mustahil dirukyat.
bukankah penentuan awal bulan pada masa Rasulullah hanya berdasarkan penglihatan? maka dari itu, walaupun sebenarnya bulan sudah muncul, selama tidak mungkin terlihat, itu bukanlah awal bulan.

sementara Muhammadiyah murni memakai ilmu hisab tanpa pertimbangkan rukyat. jika menurut hisab bulan telah wujud, maka walaupun bulan mustahil terlihat hari itu tetap ditetapkan sebagai awal bulan.
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 13, 2013, 04:48:00 AM
kalau semuanya bisa dihisab, cukup dengan hisab, sudah pasti benar melalui hisab, lalu kenapa Rasulullah menyuruh orang untuk melihat hilal?
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Sandy_dkk pada Juli 13, 2013, 02:40:08 PM
entahlah, mungkin logika hisab belum dikuasai bangsa arab, sehingga segalanya mengandalkan empirisme.
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 13, 2013, 05:53:35 PM
jadi, mana yang lebih tepat, metoda yang digunakan oleh Muhammadiyah dengan metoda hisabnya, atau metoda pemerintah dengan metoda rukyatnya?

Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Sandy_dkk pada Juli 13, 2013, 08:52:19 PM
baik hisab maupun rukyat, sama tepatnya. baik hisab maupun rukyat, sama benarnya.

jika hasil hisab menyimpulkan bahwa hari ini bulan berada lebih dari 2o di atas horizon saat matahari terbenam, maka silahkan dirukyat, hasilnya PASTI sama.

jika hasil hisab menyimpulkan bahwa hari ini bulan berada kurang dari 2o di atas horizon saat matahari terbenam, maka silahkan dirukyat, PASTI anda tidak akan bisa melihat bulan, karena menurut hisab pula, pada kondisi ini tidak ada cahaya matahari yang dapat dipantulkan bulan ke bumi.

jadi, apa yang membuat penentuan awal bulan antara Muhammadiyah dan pemerintah bisa berbeda? Muhammadiyah menganggap, bahwa jika bulan ada di atas horizon, berapapun ketinggiannya saat matahari terbenam, maka itu sudah merupakan pertanda awal bulan. sementara pemerintah menganggap, bahwa jika bulan ada di atas horizon, belumlah cukup sebagai pertanda awal bulan, jika ketinggiannya belum mencapai 2o.

jadi, metode tidaklah menjadi soal. baik metode hisab dengan akal maupun rukyah dengan indera, sama benarnya.
yang jadi soal adalah, dari mana dasarnya Muhammadiyah menganggap ketinggian bulan berapa pun di atas horizon saat matahari terbenam adalah pertanda awal bulan? padahal, jika ketinggian bulan kurang dari 2o, mustahil bulan bisa dilihat, sedangkan Rasulullah dahulu hanya mengandalkan penglihatan.
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 14, 2013, 05:01:26 AM
^ jadi, definisi mana yang benar berdasarkan nash?
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Sandy_dkk pada Juli 14, 2013, 01:03:14 PM
definisi dari pemerintah lah yang benar.
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: wa2nlinux pada Juli 14, 2013, 01:05:13 PM
Apakah mungkin perhitungannya berubah ?
Maksud saya variabel-variabel yang digunakan dikarenakan pergeseran matahari bulan bitang dll. Apakah pengambilan nilai variabel yang menggunakan metode hisab selalu diambil menggunakan keadaan terkini atau variabel tersebut mengikuti yang dulu ?
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 14, 2013, 07:39:43 PM
^ kalau menurut intuisi saya sih, perubahan perhitungan itu mungkin, sebagai akibat perubahan perilaku pada benda-benda langit. kita dapat memprediksi dengan suatu prediksi yang akurat berdasarkan analogi, bahwa besok matahari akan terbit dari timur. perhitungan ini diyakini hampir sertus persen tidak akan meleset. walaupun begitu, tidak mustahil bila besok matahari terbit dari barat, bila ada sebab-sebab di luar perkiraan manusia yang menyebabkan hal itu terjadi.
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Sandy_dkk pada Juli 14, 2013, 08:03:16 PM
Apakah mungkin perhitungannya berubah ?
Maksud saya variabel-variabel yang digunakan dikarenakan pergeseran matahari bulan bitang dll. Apakah pengambilan nilai variabel yang menggunakan metode hisab selalu diambil menggunakan keadaan terkini atau variabel tersebut mengikuti yang dulu ?

secara konseptual hisab dan rukyat merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

hisab yang merupakan perhitungan astronomi, menghasilkan prediksi waktu, posisi, arah yang bermanfaat dalam pelaksanaan hilal atau rukyat. dan sebaliknya, hasil rukyat akan berupa data2 posisi yang nantinya bisa dikomparasikan dengan hisab. jadi, ilmu hisab tidak akan pernah ada tanpa adanya rukyat. dan rukyat pun tidak akan akurat dan cepat bidikannya tanpa adanya hisab.

variabel2 yang digunakan pada perhitungan hisab di indonesia berasal dari pengamatan satelit MTSAT.

siapa sebenarnya melakukan hisab? Muhammadiyah kah? bukan! semua perhitungan telah dilakukan oleh BMKG. pemerintah dan Muhammadiyah sama2 menggunakan data dari BMKG. data yang dipakai persis sama, hanya saja kriteria awal bulan mereka yang berbeda.

data2 dari BMKG bisa dilihat disini:
data.bmkg.go.id/share/Dokumen/informasi_hilal_ramadhan_1434h.pdf (http://data.bmkg.go.id/share/Dokumen/informasi_hilal_ramadhan_1434h.pdf)
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Sandy_dkk pada Juli 14, 2013, 08:08:11 PM
semua golongan umat muslim Indonesia seharusnya tidak mengabaikan masalah perbedaan pendapat awal puasa dan lebaran, dengan berlindung pada kata2 toleransi. semua golongan harus mau duduk bersama, membentuk tim perumus yang membahas persoalan ini dari segenap aspek. keputusan tunggal harus terjadi supaya tidak terjadi lagi awal puasa dan lebaran yang berbeda.

tapi sekali lagi, masalahnya bukanlah pada metode hisab atau rukyah yang digunakan. ini adalah permasalahan cara menginterprestasikan berbagai dalil.

perbedaan awal puasa dan lebaran bukanlah permasalahan teknologi, bukan permasalahan matematika, bukan pula permasalahan algoritma program perhitungan.
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 14, 2013, 08:22:53 PM
definisi dari pemerintah lah yang benar.

sayapun seumur hidup telah bertaklid kepada keputusan pemerintah soal penentuan awal ramadhan. karena sebagai penganut kebatinan, saya meyakini bahwa soal fiqih itu adalah soal lahir dengan tujuan yang bathin. artinya, bila tujuan bathinnya bisa tercapai, kesalahan atau perbedaan di dalam hal dhahir bukanlah suatu masalah.

sama seperti dalam persoalan shalat, banyak orang yang mempersalahkan soal fiqih shalat, satu sama lain saling menyalahkan. kaum syiah shalat dengan meluruskan tangan. kaum sunni shalat dengan mensedekapkan tangan. keduanya juga berdasarkan hadits-hadits yang banyak jumlahnya. buat saya, tidak khawatir, mau shalat dengan cara meluruskan tangan atau mensedekapkan tangan, karena yang terpenting makna bhatin dan tujuan shalat itu sendiri.

Ali bin Abi Thalib melihat seorang pemuda yang rajin shalat sunnah di Kuffah. usai shalat, imam Ali bertanya keapda pemuda itu, "Wahai pemuda, apakah kamu tahu makna shalat?"

"saya tau." jawab pemuda itu, "Shalat itu adalh doa, konsentrasi dan kecintaan keapda keluarga nabi".

jadi, mau sedekap atau mau meluruskan tangan mungkin itu penting, tapi lurusnya hati, itulah yang lebih penting.

demikian pula dalam hal kapan memulai shaum ramadhan.
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: abupiri pada Juli 15, 2013, 11:33:51 AM
Kalo di Indonesia, saya sepaham dengan kang Asep penyebab perbedaan adalah perbedaan defenisi wujudul hilal. Dan sepaham juga dengan kang Sandy perbedaan defenisi wujudul hilal akibat dari perbedaan interpretasi terhadap nash. (mohon dikoreksi jika salah)

Tapi bagaimana dengan kalender global, apakah akang2 percaya baik ditinjau dari nash maupun sains?
Mohon petunjuk akang2 sekalian..
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 15, 2013, 04:56:59 PM
^ bagaimana permasalahannya dengan kalender global tersebut?
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Sandy_dkk pada Juli 15, 2013, 10:29:30 PM
Kalo di Indonesia, saya sepaham dengan kang Asep penyebab perbedaan adalah perbedaan defenisi wujudul hilal. Dan sepaham juga dengan kang Sandy perbedaan defenisi wujudul hilal akibat dari perbedaan interpretasi terhadap nash. (mohon dikoreksi jika salah)

Tapi bagaimana dengan kalender global, apakah akang2 percaya baik ditinjau dari nash maupun sains?
Mohon petunjuk akang2 sekalian..

terus terang, ketika disuruh membayangkan sebuah kalender lunar yang bersifat global, saya belum sanggup. membayangkan saja belum sanggup, apalagi jika disuruh membuatnya. kecuali jika hanya kalender lunar lokal saja, maka dengan modal software2 aplikasi falak yang telah banyak beredar, dengan sedikit belajar kita2 yang awam pun bisa melakukannya.


kenapa saya tidak sanggup membayangkan kalender lunar yang bersifat global?
pertama, kita harus bersama2 menyepakati dulu definisi dari awal bulan. walaupun sampai sekarang umat kita masih berselisih perihal definisi tsb, namun ini bukanlah kendala utama, karena bukan tidak mungkin suatu saat kita bisa menyepakatinya.

kendala utamanya adalah, jika kita bandingkan dengan pembuatan kalender solar global yang berdasarkan pada pergerakan revolusi bumi, maka pada penetapan kalender ini telah disepakati sebuah garis dimana awal hari, awal bulan, dan awal tahun bermula, yaitu garis bujur 0o di kota Greenwich.

sementara pada kalender lunar, garis awal wujudnya hilal di muka bumi setiap awal bulan berubah2, tidak selalu berupa garis bujur yang lurus, dan koordinatnya pun berubah2. bisa jadi, awal tahun ini hilal pertama kali wujud di kota Makkah, sedangkan awal tahun depan hilal pertama wujud di kota New York.


waktu di Jogja dulu, kalo gak salah pada lebaran tahun 2010, pernah pemerintah kita menetapkan hari lebaran jatuh pada satu hari, sementara pemerintah arab saudi menetapkan lebaran sehari sebelumnya. takmir masjid kami berkomentar "tidak mungkin lebaran di indonesia lebih lambat dari pada lebaran di arab, soalnya kan waktu kita lebih cepat 4 jam dari arab, jadi mana mungkin lebaran di arab lebih cepat 1 hari dari indonesia? pasti ada yang salah..."
mungkin banyak masyarakat kita yang juga beranggapan demikian, padahal tidak demikian. karena waktu kita yang lebih cepat dari arab saudi itu berdasarkan waktu kalender solar, tidak bisa dijadikan patokan penetapan awal bulan hijriyah.
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Juli 16, 2013, 04:48:39 AM
^.. owh.. begitu ya?!! ternyata pelik persoalannya. Butuh berbagai jenis ilmu untuk memahami benar atau salah.
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: abupiri pada Juli 16, 2013, 10:47:14 AM
Misalkan kita anggap dulu defenisi wujudul hilal dari Muhammadiyah benar yakni konjungsi terjadi sblm matahari terbenam yg berarti hilal telah wujud saat matahari terbenam dengan mengabaikan ketinggiannya diatas ufuk.
Dengan defenisi diatas memungkinkan ditarik satu garis bujur sebagai patokan layaknya Greenwich dan garis deadline di bujur berlawanannya (180deg)? Bagaimana menurut kang Sandy?
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: wa2nlinux pada Juli 16, 2013, 07:14:30 PM
secara konseptual hisab dan rukyat merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

hisab yang merupakan perhitungan astronomi, menghasilkan prediksi waktu, posisi, arah yang bermanfaat dalam pelaksanaan hilal atau rukyat. dan sebaliknya, hasil rukyat akan berupa data2 posisi yang nantinya bisa dikomparasikan dengan hisab. jadi, ilmu hisab tidak akan pernah ada tanpa adanya rukyat. dan rukyat pun tidak akan akurat dan cepat bidikannya tanpa adanya hisab.

variabel2 yang digunakan pada perhitungan hisab di indonesia berasal dari pengamatan satelit MTSAT.

siapa sebenarnya melakukan hisab? Muhammadiyah kah? bukan! semua perhitungan telah dilakukan oleh BMKG. pemerintah dan Muhammadiyah sama2 menggunakan data dari BMKG. data yang dipakai persis sama, hanya saja kriteria awal bulan mereka yang berbeda.

data2 dari BMKG bisa dilihat disini:
data.bmkg.go.id/share/Dokumen/informasi_hilal_ramadhan_1434h.pdf (http://data.bmkg.go.id/share/Dokumen/informasi_hilal_ramadhan_1434h.pdf)

Seperti kita ketahui bahwa muhamadiyah memberikan informasi awal bulan ramadhan jauh lebih dahulu dari pada yang dilakukan oleh pemerintah. Dari maklumat yang diberikan oleh PP Muhamadiyah tertanggal 23 Mei 2013, yang menjadi pertanyaan saya adalah nilai variabel yang digunakan oleh hisab ini mengambil variabel kapan ?

Apakah mungkin adanya rentang hari antara tanggal 23 Mei s/d senin 8 Juli 2013 terjadi perubahan variabel ? Sehingga memungkinkan perbedaan penentuan awal ramadhan.

Perbedaan (walaupun tipis) hasil hisab muhamadiyah dan data dari bmkg misalkan mengenai ijtima’  pada hari Senin, 8 Juli 2013 M,
pukul 14 : 14 WIB (BMKG)
pukul 14 : 15:55 WIB (muhamadiyah)

Kecuali tahun 1434H ini saya mengamati bahwah rukyah globalnya dari HT Hasilnya selalu sama dengan hisabnya Muhamadiyah untuk penentuan awal ramadhan. Apakah mungkin perubahan variabel menyebabkan hal tersebut ??

Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: abupiri pada Juli 17, 2013, 12:39:52 AM
Ini ada link gambar
www.ranahberita.com/gambar/img51c08913a4959Hilal.jpg

Perhatikan posisi hilal di 2 derajat (syarat agar terlihat) hanya afrika bagian selatan. Selain disana hilal tdk akan tampak utk belahan bumi timur shg hasil rukyat global HT tdk melihat hilal tgl 8 Juli 2013, pun krn tdk ada laporan dari negara muslim di afrika bag.selatan.
Sementara Muhammadiyah,selip sedikit saja bulan dari posisi ijtima' saat terbenam matahari sdh wujudul hilal walaupun hanya di sebagian wilayah Indonesia. Perhatikan posisi 0 derajat hilal.
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: abupiri pada Juli 18, 2013, 06:38:59 PM
Sebenarnya saya sangat interes dan bakal terus interes dgn isu panyatuan kalender Islam. Makanya saya terus mencari saudara2 yg percaya dgn hal tsb. Kawan2 Hizbut Tahrir dan Muhammadiyah juga sptnya punya impian ke arah sana. Tinggal bgmn menyusun dialektikanya saja agar bisa diterima oleh banyak kalangan. Menarik apa yg disampaikan oleh Bpk. Syamsul Anwar dlm sebuah tulisannya yg bertajuk "Peradaban Tanpa Kalender Unifikatif : Itukah pilihan Kita?". Argumen Muhammadiyah ttg defenisi wujudul hilal yg sama sekali meninggalkan rukyat menjadi logis karena disampaikan dgn dialektika yg sempurna. Cuman memang blm begitu saya pahami pendekatan apa yg dipakai mereka ttg penatuan kalender krn setau saya bnyk sekali faktor2 yg hrs diperhatikan spt ketidakkonsistenan lokasi pertama wjudul hilal setiap tahun. Belum lagi penyesuaian dgn kalender solar agar tidak terjadi kekacauan administrasi. Pun pasti ada wilayah yg dikorbankan dlm arti harus puasa pdhal ketinggian hilal masih minus atau menunda puasa sampai lusa pdhal sdh melihat hilal mlm ini.dan tentu saja ini bertentangan dgn nash sunnah "Berpuasalah karena melihat hilal dan ber"ied"lah krn melihat hilal.Tapi jika didialektikakan lg dgn qur'an jd bertentangan juga krn sejatinya puasa karena Allah.Kabarnya sih sedang dijalankan 4 metoda pendekatan. Mana yg persen error nya paling kecil yg akan dipilih sbg instrumen penyusun kalendar lunar global. Cuman percobaan baru akan selasai tahun 2100 yg  kemungkinan besar kita udh ga ada di dunia ini
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Abu Zahra pada Juli 18, 2013, 08:10:38 PM
Hilal (tanggal satu) asalnya sangat mudah untuk dilihat tanpa menggunakan alat teropong sekalipun jika di langit tidak ada sesuatu. Jika di suatu tempat ada lima ratus orang, maka semuanya akan melihatnya. Jika di satu tempat ada lima puluh orang yang mengamati hilal, tetapi hanya dua orang saja yang melihat, maka jangan diterima kesaksiannya, sebab bila dua orang melihat, maka orang lain pun yang ada di situ mesti melihatnya.

Sejak Imam Husain as putra Rasulullah saw dibunuh oleh kaum muslim yang membunuhnya, hilal (bulan Ramadhân) tidak mau lagi menampakkan dirinya dengan jelas, maka di mana pun ummat Islam akan selalu berbeda dalam menetapkan awal bulan Ramadhan dan satu Syawwâl. Untuk tahun ini saja di Indonesia ada yang mulai shaum hari Ahad, ada yang Senin, ada yang Selasa dan ada yang Rabu.
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: ratna pada Juli 19, 2013, 12:57:51 AM
^Apakah hubungan antara syahidnya Imam Husein ra dengan penampakan hilal seperti yang Ustadz sampaikan adalah berdasarkan dari suatu riwayat?
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Sandy_dkk pada Juli 19, 2013, 09:53:16 PM
Kutip dari: abupiri
Misalkan kita anggap dulu defenisi wujudul hilal dari Muhammadiyah benar yakni konjungsi terjadi sblm matahari terbenam yg berarti hilal telah wujud saat matahari terbenam dengan mengabaikan ketinggiannya diatas ufuk.
Dengan defenisi diatas memungkinkan ditarik satu garis bujur sebagai patokan layaknya Greenwich dan garis deadline di bujur berlawanannya (180deg)? Bagaimana menurut kang Sandy?

Kutip dari: abupiri
(http://www.ranahberita.com/gambar/img51c08913a4959Hilal.jpg)

nah, pada gambar yang kang abupiri tampilkan di atas, bisa kita lihat bahwa garis yang menunjukkan posisi hilal bukanlah garis bujur, sehingga tidak bisa ditarik sebuah garis bujur untuk patokan awal bulan.
posisinya setiap tahun pun tidak selalu sama seperti itu, ini tergantung pada gerak rotasi, presesi, dan nutasi bumi (http://medialogika.org/kajian-ilmiah/kuliah-ilmu-falak-%281%29-ilmu-falak-dalam-peradaban-manusia/msg8005/#msg8005).
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Blackrose pada September 13, 2013, 08:29:00 AM
Ramadhan sudah lewat, dan terjadilah perbedaan penentuan awal ramadhan.
Ada hal yang masih sedikit mengganjal. Bagaimana jika diseluruh Indonesia mendung, tidak mungkin terlihat. Apakah otomatis hisab digunakan oleh pemerintah, atau kita menunggu esok harinya (menunggu hari cerah?)
Judul: Re:Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Sandy_dkk pada September 14, 2013, 12:03:33 PM
Ramadhan sudah lewat, dan terjadilah perbedaan penentuan awal ramadhan.
Ada hal yang masih sedikit mengganjal. Bagaimana jika diseluruh Indonesia mendung, tidak mungkin terlihat. Apakah otomatis hisab digunakan oleh pemerintah, atau kita menunggu esok harinya (menunggu hari cerah?)

terlihat atau tidak, pemerintah menggunakan hisab. namun hasilnya ya kemungkinan besar berbeda dengan hisab muhammadiyah.
Judul: Re: Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Oktober 02, 2013, 05:30:31 PM
sebenarnya saya belum mengerti, kenapa sama-sama menggunakan hisab, tapi hasilnya berbeda. apa rumus hisabnya berbeda ?
Judul: Re: Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Sandy_dkk pada Oktober 02, 2013, 05:55:24 PM
sebenarnya saya belum mengerti, kenapa sama-sama menggunakan hisab, tapi hasilnya berbeda. apa rumus hisabnya berbeda ?

rumusnya sama, hasilnya pun sama.

yang membuat berbeda, saya contohkan sebagai berikut:

menurut perhitungan dengan rumus yang sama, maka diketahui bahwa pada tanggal 20 agustus 2011 ketinggian hilal bulan saat matahari terbenam adalah 20, maka besok ditetapkan Muhammadiyah sebagai awal bulan hijriyah (ramadhan), sementara pemerintah tidak. karena menurut pemerintah awal bulan adalah saat ketinggian hilal minimal 30 saat matahari terbenam.

intinya pada perbedaan definisi awal bulan.
Judul: Re: Kupas Tuntas Penentuan Awal Ramadhan dengan Logika
Ditulis oleh: Kang Asep pada Oktober 02, 2013, 06:44:17 PM
rumus dan hasil hisab sama. beda definisi awal ramadhan beda, maka awal ramadhannya berbeda. saya mengerti sekarang. terima kasih!