Penulis Topik: Inkonsistensi Definisi  (Dibaca 876 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Sandy_dkk

Inkonsistensi Definisi
« pada: Mei 21, 2016, 07:45:14 PM »
20/05/2016 18:01:18: Bung Sandy: salah satu tipuan ampuh untuk mengelabui pikiran manusia (kecuali para logicer) adalah dengan "inkonsistensi definisi".

20/05/2016 18:23:49: Bung Sandy: saya tergila-gila kepada Allah. karena saya gila, maka tak berdosa saya telanjang di tengah pasar.

20/05/2016 18:24:31: Bung Sandy: maka berhati2 terhadap inkonsistensi definisi

20/05/2016 18:30:37: Bung Sandy: ada inkonsistensi definisi, definiendum yang sama tapi multi-definiens.

ada juga inkonsistensi term, definiendumnya sudah berbeda, tapi ketidakmampuan memilah term bisa membuatnya nampak sama.

"dangdutan yang mengumbar aurat" dan "dangdutan" jelas berbeda.

20/05/2016 18:34:06: Bung Sandy: karena minum alkohol itu haram, maka kau jangan minum.

20/05/2016 18:38:56: Bung Sandy: kadang si pembicara tidak bermaksud menipu, tapi si pendengar justru tertipu, ini karena terburu2 dalam menentukan definisi milik orang lain dan memastikannya.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 203
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 27
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Inkonsistensi Definisi
« Jawab #1 pada: Mei 22, 2016, 02:18:55 PM »

20/05/2016 18:23:49: Bung Sandy: saya tergila-gila kepada Allah. karena saya gila, maka tak berdosa saya telanjang di tengah pasar.




20/05/2016 18:34:06: Bung Sandy: karena minum alkohol itu haram, maka kau jangan minum.


Sepertinya contoh2 di atas tidak sesuai dengan judul akang inkosistensi definisi.
Untuk contoh pertama, ada kalimat " saya tergila - gila dengan Allah ".Ini bukan kalimat yang menjelaskan definisi melainkan kalimat yang menjelaskan kondisi atau keadaan.
Lalu ada term " karena " dalam contoh tersebut yang menjelaskan tentang Alasan, dan lagi2 tidak ada satu pun kalimat di dalam contoh ini yang menyinggung masalah definisi.
Jadi bagaimana bisa kang contoh pertama ini di jadikan contoh untuk masalah inkonsistensi definisi ?

Untuk contoh kedua, ada kalimat " karena minum alkohol itu haram " ini adalah kalimat yang menjelaskan tentang Alasan, dan kalimat ini tidak menjelaskan apa pun tentang definisi.
Lalu dilanjutkan dengan kalimat " maka kau jangan minum " di kalimat ini ada term " maka " yang menjelaskan tentang Konsekuensi dan di dalam kalimat ini tidak menyinggung apa pun tentang masalah definisi.
Jadi, menurut saya kedua contoh ini tidak bisa deh kang dijadikan contoh untuk topik inkonsistensi definisi..
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Inkonsistensi Definisi
« Jawab #2 pada: Mei 23, 2016, 11:32:50 PM »
hehe. ini hasil copas dari tulisan chat di whatsapp, jadi mungkin maksud yang ingin saya sasar tidak tertunjukkan dengan baik.

Quote (selected)
20/05/2016 18:23:49: Bung Sandy: saya tergila-gila kepada Allah. karena saya gila, maka tak berdosa saya telanjang di tengah pasar

saya urai dulu:
1. saya tergila-gila kepada Allah
2. karena saya gila, maka tak berdosa saya telanjang di tengah pasar

keduanya dihubungkan oleh kata "gila", seolah "gila" disana merupakan term yang sama. term yang sama maksudnya adalah term dengan definisi yang sama sehingga layak dihubungkan, padahal keduanya berbeda.
saya kutipkan beberapa pengertian gila secara umum yang tertulis di KBBI untuk memperjelas masalah ini:
Quote (selected)
gila:
1. sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal)
2. tidak biasa; tidak sebagaimana mestinya; berbuat yang bukan-bukan (tidak masuk akal)
3. terlalu; kurang ajar (dipakai sebagai kata seru, kata afektif); ungkapan kagum (hebat)
4. terlanda perasaan sangat suka (gemar, asyik, cinta, kasih sayang)
5. tidak masuk akal

berdasar wilayah kewenangan definisi, maka kita menyerahkan definisi sepenuhnya pada pemilik kalimat. namun bagi pendengar yang tidak memiliki perhitungan terhadap definisi, kalimat "saya tergila-gila kepada Allah" besar kemungkinan akan menimbulkan asumsi definisi terhadap "gila" sesuai atau mendekati pengertian definisi yang no.4 dari KBBI yaitu "terlanda perasaan sangat suka (gemar, asyik, cinta, kasih sayang)". sementara kalimat "karena saya gila, maka tak berdosa saya telanjang di tengah pasar" besar kemungkinan akan menimbulkan asumsi definisi terhadap "gila" sesuai atau mendekati pengertian definisi yang no.1 dari KBBI yaitu "sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal)".

karena muncul asumsi definisi yang berbeda yang kurang disadari oleh pendengar yang tidak memiliki perhitungan terhadap definisi, maka sebenarnya kedua kalimat tsb tidak terkait sama sekali, tapi seolah2 kalimat kedua merupakan konsekuensi dari kalimat pertama, ini akan mengacaukan jalan pikiran. bisa jadi akan ada yang menunjukkan "kegilaan (menurut definisi yang no.1)" kepada Allah dengan jalan bersikap seperti orang "gila (menurut definisi yang ke.4)". semoga asumsi saya tidak pernah terjadi.



Quote (selected)
20/05/2016 18:34:06: Bung Sandy: karena minum alkohol itu haram, maka kau jangan minum

1. karena minum alkohol itu haram
2. maka kau jangan minum

pada kasus ini sebenarnya sudah jelas bahwa term yang saya tebalkan pada kedua kalimat tsb berbeda, "minum alkohol" dan "minum", sehingga jelas kalimat kedua tidak bisa dijadikan konsekuensi dari kalimat pertama. untuk kasus "minum alkohol" dan "minum" ini sepertinya tak mungkin menimbulkan kekacauan jalan pikiran bagi para pendengar. tapi kalimat pada kasus ini serupa dengan kalimat "dangdutan yang mengumbar aurat itu maksiat. jadi kalo mau ke undangan yang ada acara dangdutannya, bisa pagi2 sebelum acara walimahan, dangdutannya belum dimulai". para pendengar yang tidak memiliki perhitungan terhadap definisi, bisa jadi menganggap benar bahwa karena "dangdutan yang mengumbar aurat itu maksiat" maka "dangdutan pada acara walimahan adalah maksiat", walaupun bisa jadi bahkan kemungkinan besar dangdutan pada acara walimahan adalah dangdutan yang mengumbar aurat sehingga wajib dihindari, tapi tidak ada yang bisa memastikan hal ini.

kekacauan2 semacam ini diakibatkan oleh yang saya sebut dengan "inkonsistensi definisi". para logicer yang sudah bisa memilah dan mengasumsikan mana definisi yang sesuai seperti Kang Sultan, mungkin tidak akan mengalami kekacauan pikiran seperti ini, namun tidak ada jaminan untuk orang lain.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 203
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 27
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Inkonsistensi Definisi
« Jawab #3 pada: Mei 23, 2016, 11:55:17 PM »
hehe. ini hasil copas dari tulisan chat di whatsapp, jadi mungkin maksud yang ingin saya sasar tidak tertunjukkan dengan baik.

saya urai dulu:
1. saya tergila-gila kepada Allah
2. karena saya gila, maka tak berdosa saya telanjang di tengah pasar

keduanya dihubungkan oleh kata "gila", seolah "gila" disana merupakan term yang sama. term yang sama maksudnya adalah term dengan definisi yang sama sehingga layak dihubungkan, padahal keduanya berbeda.
saya kutipkan beberapa pengertian gila secara umum yang tertulis di KBBI untuk memperjelas masalah ini:
berdasar wilayah kewenangan definisi, maka kita menyerahkan definisi sepenuhnya pada pemilik kalimat. namun bagi pendengar yang tidak memiliki perhitungan terhadap definisi, kalimat "saya tergila-gila kepada Allah" besar kemungkinan akan menimbulkan asumsi definisi terhadap "gila" sesuai atau mendekati pengertian definisi yang no.4 dari KBBI yaitu "terlanda perasaan sangat suka (gemar, asyik, cinta, kasih sayang)". sementara kalimat "karena saya gila, maka tak berdosa saya telanjang di tengah pasar" besar kemungkinan akan menimbulkan asumsi definisi terhadap "gila" sesuai atau mendekati pengertian definisi yang no.1 dari KBBI yaitu "sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal)".

karena muncul asumsi definisi yang berbeda yang kurang disadari oleh pendengar yang tidak memiliki perhitungan terhadap definisi, maka sebenarnya kedua kalimat tsb tidak terkait sama sekali, tapi seolah2 kalimat kedua merupakan konsekuensi dari kalimat pertama, ini akan mengacaukan jalan pikiran. bisa jadi akan ada yang menunjukkan "kegilaan (menurut definisi yang no.1)" kepada Allah dengan jalan bersikap seperti orang "gila (menurut definisi yang ke.4)". semoga asumsi saya tidak pernah terjadi.



1. karena minum alkohol itu haram
2. maka kau jangan minum

pada kasus ini sebenarnya sudah jelas bahwa term yang saya tebalkan pada kedua kalimat tsb berbeda, "minum alkohol" dan "minum", sehingga jelas kalimat kedua tidak bisa dijadikan konsekuensi dari kalimat pertama. untuk kasus "minum alkohol" dan "minum" ini sepertinya tak mungkin menimbulkan kekacauan jalan pikiran bagi para pendengar. tapi kalimat pada kasus ini serupa dengan kalimat "dangdutan yang mengumbar aurat itu maksiat. jadi kalo mau ke undangan yang ada acara dangdutannya, bisa pagi2 sebelum acara walimahan, dangdutannya belum dimulai". para pendengar yang tidak memiliki perhitungan terhadap definisi, bisa jadi menganggap benar bahwa karena "dangdutan yang mengumbar aurat itu maksiat" maka "dangdutan pada acara walimahan adalah maksiat", walaupun bisa jadi bahkan kemungkinan besar dangdutan pada acara walimahan adalah dangdutan yang mengumbar aurat sehingga wajib dihindari, tapi tidak ada yang bisa memastikan hal ini.

kekacauan2 semacam ini diakibatkan oleh yang saya sebut dengan "inkonsistensi definisi". para logicer yang sudah bisa memilah dan mengasumsikan mana definisi yang sesuai seperti Kang Sultan, mungkin tidak akan mengalami kekacauan pikiran seperti ini, namun tidak ada jaminan untuk orang lain.

Oh.. sekarang saya sudah mengerti titik tekan argumen akang.
Ini sama contohnya sama seperti kalimat :
1.Melakukan APEL pagi
   
Dan kalimat :
2.Makan buah APEL

Menurut saya sih ini juga menyangkut masalah AKSENTUASI...


Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Inkonsistensi Definisi
« Jawab #4 pada: Mei 24, 2016, 12:12:33 AM »
ya ya ya ...

"dalam kegiatan apel pagi, acara inti dari kegiatan ini adalah makan buah apel"
 :57:
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
5740 Dilihat
Tulisan terakhir November 26, 2012, 03:30:50 PM
oleh Kang Asep
Definisi Makhluk

Dimulai oleh Sandy_dkk « 1 2 3 » Definisi

31 Jawaban
11929 Dilihat
Tulisan terakhir November 29, 2015, 07:36:22 PM
oleh Monox D. I-Fly
4 Jawaban
2195 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 20, 2013, 10:16:12 AM
oleh Abu Zahra
Definisi Bid'ah

Dimulai oleh ratna « 1 2 3 » Definisi

32 Jawaban
8752 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 14, 2013, 12:39:01 PM
oleh ratna
2 Jawaban
1932 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 28, 2014, 05:11:09 AM
oleh Kang Asep
7 Jawaban
1557 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 04, 2014, 10:23:19 AM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
1086 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 17, 2014, 02:00:43 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
522 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 26, 2015, 01:01:13 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
228 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 27, 2018, 08:44:34 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
41 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 28, 2018, 03:26:34 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan