Penulis Topik: Filsafat Ego dan egoisme.  (Dibaca 6452 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 60 times
  • Total likes: 416
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Filsafat Ego dan egoisme.
« pada: Oktober 31, 2012, 03:31:29 PM »
Ego artinya "aku". eogisme artinya "faham keakuan". egoisme identik dengan sikap seseorang yang terlalu mementingkan diri sendiri, berpijak pada keyakinan bahwa "aku" ada bersemayam di dalam diri. Sedangkan filsafat ego adalah kajian yang mengupas ego sebagaimana adanya.

ketika seseorang berkata, "saya menyukai anda", berarti ia juga menyatakan bahwa "saya" adalah sesuatu yang ada, yang eksis. Tentu saja, saya ataupun anda, keduanya merupakan hal yang ada atau eksis. Tetapi, "saya" yang ada atau bersemayam di dalam tubuh ini adalah "saya" yang tidak ada atau tidak esksis. egoisme muncul dari sebuah khayalan bahwa "saya yang bersemayam di dalam tubuh" adalah eksis. dari sinilah filsafat ego dimulai.

saya ceritakan dulu sebuah kisah :

sang guru pernah mengajak saya untuk bertemu dengan seorang yang katanya ahli ilmu. sang guru menghormati ahli ilmu ini, dan mengajak saya untuk bersama-sama berguru kepadanya. tentu saja, saya dengan rasa hormat siap melaksanakan ajakan sang guru. Tetapi, soal keyakinan, tidak bisa diajak begitu saja. karena berubah atau berkembangnya keyakinan itu harus berlandaskan kepada ilmul yakin wa ainal yakin.

mulanya saya mendengarkan beberapa penjelasan dari sang ahli ilmu. dan karena saya mendapat izin untuk berdialog, maka saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada sang ahli ilmu. saya berpikir, bila dia bisa menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan, maka sungguh saya telah bertemu dengan seseorang yang layak menjadi guru bagi saya. Tapi bila tidak, maka tidak ada alasan bagi saya untuk mau berguru kepadanya.

dia menjawab, "lha, kok sebegitu jelasnya wujud mu, kamu masih mencari-carinya?"

"nah, anda bilang 'wujud saya`, ini wujud saya, lalu `saya` nya yang mana? ini adalah tubuh-saya, apakah tubuh = saya ?"

ahli ilmu itu berkata, "gila kali kamu, kok kamu memusingkan otak kamu dengan dengan mencari-cari dirimu sendiri yang sudah jelas adanya."

ya. sudah. saya tidak lanjut pertanyaannya. dalam hati saya berkata, "kok ahli ilmu seperti ini jawabannya?" lalu saya bertanya lagi kepada dia, "manusia itu terdiri dari tubuh dan batin. mana yang dimaksud dengan tubuh, dan mana yang dimaksud dengan batin?"

dia menjawab, "ya, itu tubuhmu yang sedang duduk di situ itulah tubuhmu."

"kalau batin?"

"kalau batin, itu berasal dari kata butun yang artinya perut. jadi, butun itu artinya perut." lalu dia dan beberap pengikutnya tertawa. memang, sepertinya sang ahli ilmu ini sudah tidak berminat menjawab pertanyaan saya dengan serius, atau memang tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

lalu saya berkata, "kalau begitu saya mohon maaf lahir dan batin, artinya mohon maaf tubuh dan perut. apa begitu?"

dengan semua jawabannya itu, tidak ada alasan bagi saya untuk menjadikan dia sebagai guru. jika dia belum dapat menyelami filsafat ego, dan masih meyakini bahwa "sang aku" ada di dalam dirinya, berarti segenap perbuatannya yang direalisasikan di dalam pikiran, perkataan dan perbuatannya akan bermuara pada "sang aku" atau "sang ego", ini tak lain sebagai egoisme. ajaran yang suci harus bebas dari egoisme.

selama orang masih berpijak pada keyakinan bahwa "aku" ada di dalam diri, maka selama itu pulalah ia menganut faham egoisme. dia belum memahami "aku" sebagaimana adanya, yakni "aku" sebagai kumpulan dari tubuh dan batin. saya menyebut diri ini sebagai "aku" atau "saya", tapi saya tidak dapat melihat ada "saya" atau "aku" di dalam diri ini. oleh karena itu, kepemilikan segala sesuatu yang disandarkan kepada "aku" sebenarnya ilusi, atau khayalan manusia saja, hanya konsepsi. setelah seseorang menyelami dengan benar filsafat "aku" ini, maka ia tidak akan bisa menganggap hal-hal sebagai miliknya. "ini rumah saya, ini anak saya, ini istri saya, ini harta saya, ini ilmu saya, ini pendapat saya."

"aku" bagaikan sebuah bangunan "rumah". rumah itu memang ada. tapi kalau rumah itu dibongkar dan dibagi kepada bagiannya masing-masing, ini pintu, ini jendela, ini atap, ini lantai, dsb, maka rumah itu tidak ada. orang bisa berkata, "ini pintu rumah, ini jendela rumah, ini lantai rumah, dan ini atap rumah". lalu "manakah rumah nya?" orang bisa berkata, "ini hidung saya, ini mulut saya, ini kepala saya", lalu "mana yang dimaksud `saya`?" seorang pelawak menujuk kepada sebuah garis cekung dibawah hidung ke bibir, "nah inilah saya" katanya. "semua kan sudah ada namanya, hidung, mulut, telinga, mata, dll. cuma ini satu-satunya yang tidak diketahui namanya. jadi mungkin inilah yang disebut `saya`.  :D

contoh lain, ketika menonton sebuah arak-arakan, seorang ayah berkata kepada anaknya yang masih berumur 4 tahun. "nak, perhatikan, nanti di jalan ini akan lewat barisan ana-anak SD membawa bendera!". lalu beberapa saat kemudian barisan anak-anak yang membawa bendera itu lewat. sang ayah menyebutnya satu persatu sesuai dengan papan pengenal yang ada pada setiap barisan. "Ini barisan kelas satu, ini barisan kelas dua, ....ini barisan kelas enam." setelah selesai, si ayah mengajak pulang. tapi si anak menolak dan berkata, "ayah, tunggu dulu, barisan SD nya belum lewat."

sang ayah berkata, "barusan kan sudha lewat, anak-anak yang bawa bendera itu."

"itu kan kelas satu, dua, tiga, empat, lima dan enam, kalo SD nya mana yah?" tanya sang anak.

si ayah bingung, bagaimana menjelaskan kepada anak-anak bahwa sekumpulan anak dari kelas 1 hingga kelas 6 tadi itulah yang dimaksud dengan anak-anak SD. ternyata kesalah fahaman seperti ini tidak hanya terjadi pada anak balita. orang-orang dewasapun seringkali salah faham terhadap dirinya seprti kesalah fahaman balita tadi, dengan menganggap "ada aku" di dalam dirinya.

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 20
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #1 pada: Oktober 31, 2012, 07:33:12 PM »
"ini rumah saya, ini kebun saya, ini istri saya, ini anak saya." Eksisnya saya disini adalah sebagai pertanggungjawaban hukum, supaya ada keteraturan hubungan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan hubunganya dengan Tuhan dalam lingkup hukum agama. Kalau "saya" disini tidak eksis lalu segala sesuatu yang disandarkan kepadanya itu bagaimana pertanggungjawabanya? Kemudian "saya" atau "aku" itu siapa?
 

Offline perduto

Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #2 pada: Oktober 31, 2012, 08:25:48 PM »
serius kurang mengerti kang, poin yang hendak disampaikan. bukankah aku/saya ini merupakan kesatuan dari eksistensi fisik dan non fisik seseorang (pola pikir dsb)?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 60 times
  • Total likes: 416
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #3 pada: Oktober 31, 2012, 08:54:21 PM »
filsafat ego ini merupakan filsafat yang paling sulit difahami oleh para filsuf. Logika kita harus mapan dulu, sebelum menyelaminya.

saya sampaikan mulai dari yang paling sederhana dulu. di sini, saya menyebut dua term yang "sama bentul" tapi "beda makna". apa itu ? yaitu term "saya" dan term "saya". keduanya berbentuk sama, tapi makna beda.

"saya" adalah sesuatu yang esksis. (term pertama)
"saya" adalah sesuatu yang tidak eksis. (term kedua)

"kebun saya ditanami jagung", mengacu pada term pertama.
"tidak ada saya di dalam diri ini" mengacu pada term kedua.

sampai di sini bisa difahami?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline perduto

Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #4 pada: Oktober 31, 2012, 09:48:49 PM »
nah term pertama mengerti, tapi yang kedua kurang mengerti.
"tidak ada saya dalam diri ini" pemahaman saya karena ada kata dalam diri ini artinya: saya adalah bagian dari diri ini, yang itu tidak mungkin karena saya = diri ini, jadi saya dan diri ini adalah satu kesatuan.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 20
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #5 pada: Oktober 31, 2012, 10:12:33 PM »
assalamualaikum kang perduto, gimana kabarnya..
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 20
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #6 pada: Oktober 31, 2012, 10:18:00 PM »
serius kurang mengerti kang, poin yang hendak disampaikan. bukankah aku/saya ini merupakan kesatuan dari eksistensi fisik dan non fisik seseorang (pola pikir dsb)?
akang ini nanya sama saya atau sama kang asep?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 60 times
  • Total likes: 416
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #7 pada: Oktober 31, 2012, 10:26:41 PM »
nah term pertama mengerti, tapi yang kedua kurang mengerti.
"tidak ada saya dalam diri ini" pemahaman saya karena ada kata dalam diri ini artinya: saya adalah bagian dari diri ini, yang itu tidak mungkin karena saya = diri ini, jadi saya dan diri ini adalah satu kesatuan.

nah itulah yang saya maksud. saya dan diri adalah satu kesatuan. ini pemahaman yang benar.

tapi sebagian orang tidak memahami "saya" sebagai satu kesatuan, melainkan menganggap "saya" ada di dalam diri.

seperti sebuah bangunan yang disebut rumah, tidak bisa dikatakan "ada rumah di dalam bangunan ini", karena bangunan itu sendiri yang dimaksud dengan rumah.

oleh karena itu, ketika orang menyandarkan suatu llmu kepada dirinya dengan menyebut "ini adalah ilmu saya", maka saya yang mana? pikiran, perasaan, hidung, mulut atau keseluruhan dari unsur diri?
« Edit Terakhir: Oktober 31, 2012, 10:28:15 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 60 times
  • Total likes: 416
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #8 pada: Oktober 31, 2012, 10:30:24 PM »
perhatikan kalau kita sedang marah? sebenarnya siapa yang marah? hati, pikiran, hati, jantung, perut, atau hidung?  atau semuanya marah? karena "gigi" merupakan bagian dari "aku", maka apabila "aku" marah, berarti "gigi" juga marah. apa begitu?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 20
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #9 pada: Oktober 31, 2012, 10:39:06 PM »
^ kalo satu kesatuan ya musti begitu
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 20
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #10 pada: Oktober 31, 2012, 10:46:39 PM »
dari awal baca pikiran saya mengarah ke fahamnya sayyidina al hallaj, al junaid...apa benar kang?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 60 times
  • Total likes: 416
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #11 pada: Oktober 31, 2012, 11:28:43 PM »
dari awal baca pikiran saya mengarah ke fahamnya sayyidina al hallaj, al junaid...apa benar kang?

saya tidak banyak mengetahui seluk-beluk faham al hallaj, jadi saya tidak mengetahui apa hal-hal yang telah saya sampaikan di atas mengarah ke faham al hallaj atau tidak.

saya coba jelaskan dengan cara berikut :

ketika seseorang mengamati bagian-bagian tubuhnya, maka orang itu tidak dapat menemukan ssuatu yang disebut "saya". ketika dia melihat tangannya sendiri, dia mengatakan "ini tangan, dan bukan saya", ketika ia melihat perutnya sendiri, dia mengatakan "ini perut, dan bukan saya". tapi ketika melihat keseluruhan dirinya, ia menyebut keseluruhan diri itu sebagai "saya".

saya guru memperumapamakan hal ini dengan setetes air di dalam samudra luas. ketika ia melihat dirinya, maka ia menyebut dirinya "hanyalah setetes air" dan tidak ada samudra. samudra itu hanyalah ilusi. karena sesungguhnya itu hanya kumpulan tetesan-tetesan air yang banyak. tapi ketika tetes air itu melihat lautan yang luas, ia melihat samudra, dan tidak melihat "tetes air". ini adalah soal penyebutan kepada "bagian" ataukah "seluruh" unsur dari suatu diri.

sama halnya ketika seseorang duduk diam di dalam bus yang melaju kencang. ketika ia melihat kepada dirinya sendiri, ia melihat bahwa dirinya itu sedang diam. tapi ketika melihat kepada bus yang melaju kencang, ia sadar bahwa dirinya itu sedang bergerak cepat.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline perduto

Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #12 pada: November 01, 2012, 03:29:24 PM »
assalamualaikum kang perduto, gimana kabarnya..

walaikumsalam, allhamdullilah masih diberi kesempatan nengok forum ini :)

nah itulah yang saya maksud. saya dan diri adalah satu kesatuan. ini pemahaman yang benar.

tapi sebagian orang tidak memahami "saya" sebagai satu kesatuan, melainkan menganggap "saya" ada di dalam diri.

seperti sebuah bangunan yang disebut rumah, tidak bisa dikatakan "ada rumah di dalam bangunan ini", karena bangunan itu sendiri yang dimaksud dengan rumah.

oleh karena itu, ketika orang menyandarkan suatu llmu kepada dirinya dengan menyebut "ini adalah ilmu saya", maka saya yang mana? pikiran, perasaan, hidung, mulut atau keseluruhan dari unsur diri?

akhirnya bisa menangkap, wah berat juga ya kang bahasannya :)
 

Offline filsufsufi

Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #13 pada: November 02, 2012, 02:37:20 PM »
Filsafat Ego? masuk dalam kajian filsafat manusia ya? tapi yg dibahas dalam filsafat manusia adalah ego dalam artian lain, yaitu "kehendak diri" bukan "siapa diri", silakan baca filsafat egonya Muhammad Iqbal juga membahas "kehendak diri", kalo pembahasannya menjadi "siapa diri" tentu saja jadi masuk kepada filsafat islam yang banyak di wakili oleh tasawwuf, karena tasawwuf adalah bagian tertinggi dari filsafat Islam, yang mewakili dalam mencari "siapa aku", tulisan2 dari Jalaluddin Rumi tentu saja sudah cukup banyak menjawab "siapa aku", tapi biasanya sulit dimengerti karena bahasa yg dipakai adalah bahasa sastra, contoh :

Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
 
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,

bukan Majusi, bukan Islam.

Bukan dari Timur, maupun Barat.
 
Bukan dari darat, maupun laut.

Bukan dari Sumber Alam,

bukan dari surga yang berputar,

Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;

Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;

Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;

Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;

Bukan dari dunia kini atau akan datang:

Surga atau neraka;

Bukan dari Adam, Hawa,

Taman Surgawi atau Firdaus;

Tempatku tidak bertempat,

Jejakku tidak berjejak.

Baik raga maupun jiwaku: semuanya

adalah kehidupan Kekasihku …

Note: bahasa sastra jangan dijadikan landasan pengambilan hukum seperti banyak yg dilakukan oleh pembenci sufi mengutip syair2 "tentang Aku" dari Jalaluddin Rumi untuk mengkafirkan ahli sufi
« Edit Terakhir: November 02, 2012, 02:40:39 PM oleh filsufsufi »
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 60 times
  • Total likes: 416
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Filsafat Ego dan egoisme.
« Jawab #14 pada: November 02, 2012, 02:45:19 PM »
Bahasa sastra itu harus dinilai dengan ilmu sastra
Bahasa logika itu harus dinilai dengan ilmu logika

kalo sastra dinilai dengan logika, sedangkan logika dinilai dengan sastra, jadilah dunia ini jungkir balik.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
1999 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 15, 2016, 01:49:00 PM
oleh Amoy
0 Jawaban
2072 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 01, 2013, 09:02:49 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1475 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 21, 2013, 05:03:50 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
5644 Dilihat
Tulisan terakhir November 05, 2013, 08:02:59 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
771 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 02, 2013, 07:01:46 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
794 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 07, 2015, 07:31:59 AM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
1006 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 20, 2016, 09:42:08 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
678 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 18, 2015, 01:21:03 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
1296 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 22, 2015, 09:25:06 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
288 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 21, 2016, 08:54:15 PM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan