Penulis Topik: Contoh Analisa Sejarah dengan Logika  (Dibaca 157 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Contoh Analisa Sejarah dengan Logika
« pada: April 15, 2018, 12:00:41 AM »
Banyak manfaat yang dapat dipetik dari ilmu logika. Namun memberikan contoh-contoh manfaat tersebut, bukanlah persoalan mudah. Karena itu, saya berusaha mengoleksi contoh-contoh manfaat ilmu logika yang saya temukan dalam pengalaman sehari-hari.

Salah satu manfaat ilmu logika adalah kemampuan kita dalam melakukan analisa-analisa logika saat membaca buku-buku sejarah. Ini sangat penting untuk menyembuhkan penyakit fanatisme terhadap buku-buku bacaan, yaitu penyakit ad vercundus. Karena banyak orang yang gemar membaca buku, lalu dengan mudah begitu saja mengimani isi bacaannya tanpa mencernanya dengan logika yang baik. sehingga lalu muncul industri hoax, karena banyaknya orang yang mudah termakan oleh hoax. Di media sosial, banyak sekali bertebaran tulisan-tulisan panjang yang mengagumkan dan seolah-olah berisi kebenaran, disusul dengan decak kagum pembacanya. Dan saya memberi komentar, "tulisan panjang dan mengharukan, hanya satu kata yang kurang, yaitu `katanya`". Tidak ada satu barispun di dalam tuilsan itu yang berisi dengan argumentum ad judiciam. Semuanya hanyalah argumentum ad verecundiam, adhominem dan bahkan ad ignoratium. Tapi ajaibnya, itu menjadi santapan yang sangat diminati oleh orang-orang.

Bahasa yang mudah dicerna serta menyentuh perasaan, membangkitkan rasa fanatisme dan keakuan, inilah yang menjadi penyebab industri hoax laris manis. Sementara bagi banyak orang kajian-kajian logika itu terasa rumit, sulit dicerna , dan butuh kekuatan ekstra untuk memikirkannya. Sementara sudah menjadi sifat umumnya orang, mengambil apa yang termudah. Walaupun demikian, masih banyak orang yang mengutamakan kebenarna-kebenaran argumentum ad judiciam, walaupun itu lebih sulit untuk didapatkan.

"Logika mulai bekerja dari kontadiks-kontradiksi". Semboyan ini saya buat untuk mendorong para logicer menjadi peka terhadap kontradiksi-kontradiksi. Jangan sampai baca buku, lalu mengimani semua isinya tanpa perduli kalau di dalamnya terdapat kontradiksi-kontradiksi. Juga jangan sampai menuduh sesuatu itu kontradiksi tanpa membuktikannya dengan cara yang benar. Logicer harus mengetahui parameter yang tepat untuk menilai sesuatu itu kontardiksi atau bukan, serta mengetahui metoda pembuktiannya.

Sebagai contoh tentang Abu Bakar Shidiq r.a. Biografi Abu Bakar dalam buku-buku versi Syiah sangat kontras, berlawanan dengan Biografi Abu Bakar versi Sunni. Dalam versi Syiah, Abu Bakar digambarkan sebagai pribadi yang bodoh. Sedangkan dalam versi Sunni, Abu Bakar digambarkan sebagai pribadi yang bijaksana. Muncul pertanyaan, mana yang benar, versi Syiah atau Sunni ? Kaum Sunni tentu akan mengatakan bahwa yang benar adalah versi Sunni. Kaum Syiah akan mengatakan bahwa yang benar adalah versi Syiah. Sementara saya sebagai logicer, akan menyatakan "tidak tahu" selama parameter-parameter untuk menakar benar-salah tersebut belum jelas. Hal yang perlu untuk ditanyakan adalah "Parameter apa yang dapat disepakati bersama oleh Syiah dan Sunni untuk menilai sesuatu benar atau salah ?"

Abu Bakar pernah mengumpulkan lebih dari 500 hadits yang kemudian dibakarnya seraya mengatakan, "Janganlah kalian mengabarkan sesuatupun atas Rasul (saw). Siapa yang ditanya tentang sesuatu, hendaklah ia menjawab, "Cukuplah kita berpegang dengan al Quran saja." [1]

Satu hal lain yang pernah Abu Bakar katakan adalah "Janganlah kalian memaksa saya untuk mengucapkan sunnah Nabi mu. Karena aku tidak akan pernah mengatakannya." [2]

Tapi dalam kisah perdebatan Abu Bakar dengan Fatimah tentang tanah Fadaq, di situ Abu Bakar menyangkal pendapat Fatimah dengan argumen yang diklaim sebagai hadits nabi. Pendapat Fatimah kontradiksi dengan pendapat Abu Bakar. Kontradiksinya adalah sebagai berikut :

Abu Bakar : Setiap nabi tidak mewariskan harta kepada keturunannya
Fatimah : Sebagian nabi mewariskan harta kepada keturunannya

Untuk membuktikan kebenaran pendapatnya masing-masing, keduanya mempergunakan dalil. Fatimah Az Zahra menggunakan dali-dalil dari al Quran. Sedangkan Abu Bakar menggunakan sebuah hadits dari Nabi yang tidak pernah ada seseorang yang meriwayatkan, kecuali Abu Bakar sendiri. [3].

Tidak ada penyangkalan dari seluruh mazhab islam terhadap kebenaran sejarah perdebatan ini, bahwa benar telah terjadi perdebatan sengit antara Abu Bakar dan Fatimah. Dan semua pihak sepakat bahwa perdebatan itu berakar dari pertentangan pendapat tentang tanah Fadaq. Jika semua pihak sudah sepakat, maka tak ada hal yang dapat diperdebatkan lagi dalam hal ini. Akan tetapi, sikap persoalan tersebut bermacam-macam. Berikut adalah berbagai sikap yang pernah saya temukan :

Pertama, ada yang berkata, "itu kan persoalan masa lalu, aneh mengapa kamu mempermasalahkan persoalan orang-orang di masa lalu ? Bukankah itu sia-sia."

Jawaban saya, "Itu tidak sia-sia. Al Quran menceritakan kisah perselisihan orang terdahulu, pada zaman purbakala. Apakah itu sia-sia ? Tentu tidak. Demikian pula, yang ingin saya ketahui dari persoalan ini bukan saja tentang Abu Bakar dan Fatimah, tapi tentang logika Anda. Jika logika Anda lurus, maka pendapat Anda patut saya ikuti. Jika logika Anda bengkok, maka perlu saya luruskan."

Kedua, ada yang berkata, "Memang Abu Bakar bertentangan pendapat dengan Fatimah dalam persoalan tanah Fadaq, tetapi keduanya tidak bersalah. Karena yang satu adalah putri Nabi saw dan yang lainnya adalah sahabat nabi sawl. Jadi, keduanya sama benarnya dan sama mulianya."

Tanggapan saya, "Kebenaran tidak dapat dilihat dari siapa orangnya. Tetapi kita harus mengenali kebenaran itu sendiri, baru kita tahu siapa yang berpegang pada kebenaran tersebut. Jadi, jangan terbalik cara berpikirnya."

Logika tidak memberi ruang untuk dapat menilai bahwa dua hal yang kontradiksi itu sama-sama bernilai benar, kecuali keduanya dapat dinyatakan sebagai hal non kontradiksi.

Ketiga, ada kelompok yang menilai Abu Bakar benar, dan Fatimah salah. Karena argumen Abu Bakar benar.

Keempat, ada kelompok yang menilai Abu Bakar salah, dan Fatimah benar, karena Argumen Fatimah benar.

Dalam persoalan mana benar, mana salah, saya selalu menggunakan semboyan, "benar-salah, itu terserah Anda. Logika tidak memproduksi benar-salah, melainkan hanya menguji validitas argumentasinya saja." Seperti misalnya, dua hal yang kontradiksi, tetapi dua-duanya dinyatakan benar, maka itu berarti tidak valid. Dan suatu proposisi yang muncul dari argumentasi yang tidak valid, tidak dapat dinilai benar atau salah. Karena tidak jelas benar-salahnya, maka bagaimana kebenarannya dapat diterima ?

Kemudian dari Abu Bakar sendiri, dapat diambil  fakta :

A) Abu Bakar melarang menyampaikan hadis nabi
B) Abu Bakar mengumpulkan hadits nabi
C) Abu Bakar menyampaikan hadits nabi

Dari ketiga fakta di atas, tidak dapat dinyatakan sebagai kontradiktif. Karena berdasarkan teori logika, kontradiksi adalah nilai dua pendapat yang saling bertentangan, di mana dua-duanya mustahil sama-sama benar. Sedangkan fakta di atas, bisa jadi A, B dan C, semuanya benar.

Misalnya kemudian muncul pendapat, "jika A, maka tidak B". Artinya, jika Abu Bakar melarang menyampaikan hadis nabi saw, maka tentu beliau sendiri tidak akan menyampaikan hadis nabi. Jika B, maka tidak A. Dengan demikian "jika B, maka tidak A". Artinya jika Abu Bakar menyampaikan hadis, maka beliau tidak melarang menyampaikan hadis".  Implikasi ini, memaksa mendudukan proposisi-proposisi di atas sebagai kontradiksi, bahwa B itu ekuivalen dengan negasi A, sehingga jika A, maka tidak mungkin bukan A, sehingga proposisi A, B dan C mustahil semuanya benar.

Term "melarang menyampaikan hadits"  yang terdapat di dalam proposisi A, dengan term "menyampaikan hadis" di dalam proposisi C. Sedangkan syarat kontradiksi, semua term yang dalam satu proposisi, harus ekuivalen dengan term proposisi yang menjadi pasangannya. Dengan demikian jelas, A dan C sama sekali tidak kontradiksi.

Selanjutnya, kita dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan berikut :

1) benarkah Abu Bakar melarang menyampaikan hadits nabi ?
2) benarkah Abu Bakar mengumpulkan hadis nabi ?
3) benarkah Abu Bakar menyampaikan hadis nabi ?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, harus saya jawab, "tidak tahu". Karena memang saya tidak tahu.

Lalu apa gunanya analisa-analisa logika ini, apabila kita tidak sampai pada suatu kesimpulan mana yang benar dan mana yang salah ?

Gunanya untuk melihat kontradiksi sebagai kontradiksi, dan yang tak kontradiksi sebagai tak kontradiksi. Menyimpulkan bahwa C salah karena A benar, atau sebaliknya C benar karena A salah, maka ini adalah pemahaman yang keliru. Dengan demikian, analisa-analisa logika ini sampai juga kepada suatu kesimpulan mana benar, dan mana salah. Tetapi tidak semua fakta dapat dan harus diketahui, sehingga tidak semua harus sampai pada kesimpulan benar salah. Tidak penting mana yang benar dari proposisi A,B dan C. Tapi penting untuk mengetahui bahwa ketiganya tidaklah kontradiksi. Dalam membaca buku-buku sejarah, apabila tidak ditemukan kontradiksi-kontadiksi, maka itu di luar kajian logika. Dengan demikian  menganalisa sejarah dengan logika, berarti memeriksa kontradiksi-kontradiksinya. Jadi, apa yang dianggap penting dari sudut pandang logika terhadap kajian sejarah adalah mengalisa kontradiksi-kontradiksi tadi.

___________
1)Prod. Dr. Muhammad Tijani, "Al Syiah Hum Ahlu Sunnah", Hal. 180
2)Prod. Dr. Muhammad Tijani, "Al Syiah Hum Ahlu Sunnah", Hal. 182
3) Lihat tulisan saya berjudul : Perdebatan Mengharukan antara Abu Bakar dengan Fatimah
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1539 Dilihat
Tulisan terakhir November 27, 2012, 02:50:43 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2769 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 14, 2012, 05:50:33 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1717 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 14, 2012, 06:08:20 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
1754 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 20, 2015, 12:20:19 AM
oleh Ziels
24 Jawaban
5927 Dilihat
Tulisan terakhir September 27, 2013, 07:05:04 AM
oleh Kang Asep
14 Jawaban
3078 Dilihat
Tulisan terakhir November 13, 2015, 10:28:21 PM
oleh Monox D. I-Fly
5 Jawaban
3028 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 13, 2013, 05:34:22 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
16697 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2016, 02:43:48 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
320 Dilihat
Tulisan terakhir September 19, 2017, 05:43:39 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
289 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 10, 2018, 11:42:46 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan