Penulis Topik: circular argumen dan penyempitan makna  (Dibaca 1066 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 355
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
circular argumen dan penyempitan makna
« pada: Juli 31, 2012, 05:47:37 AM »
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(Q.S 4:59)

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S 3:31)

Allah dan Rasul telah ditafsir menjadi al-Quran dan Sunnah. Padahal Allah tidak sama dengan al-Quran. Rasul tidak pula sama dengan sunnah, apalagi hadits. Jika Allah sama dengan al-Quran, niscaya yang wajib disembah oleh sekalian makhluk adalah al-Quran. Dengan demikian, memaknai lapad Allah dengan al-Quran merupakan penyempitan dari makna yang sebenarnya. Apalagi apabila Allah dan Rasul kemudian ditafsirkan menjadi “mushaf Quran” dan “kitab hadits”, maknanya tentu akan lebih sempit lagi.

Allah adalah pencipta langit dan bumi, dan Dialah yang menurunkan adz-dzikra kepada ahlinya, yaitu Rasulullah, Muhammad saw. Jadi, tempat mengembalikan pendapat adalah Rasulullah, bukan sunnahnya. Sehingga Allah memerintahkan umat untuk bertanya kepada ahla dzikra, bila tidak mengetahui suatu perkara, bukan mencari jawaban di dalam lembaran-lembaran mushaf. Ketahuilah bahwa perselisihan umat tidak akan selesai dengan cara kembali kepada “lembaran-lembaran mushaf Quran dan al-Hadits”. Perhatikan saja contoh perselisihan umat ini dalam soal menentukan awal ramadhan, apakah bisa sampai pada titik temu, padahal tidak ada satupun pihak yang sudi mengkui “tidak kembali kepada al-quran dan sunnah”?.

Jika al-Quran dan sunnah tidak menyelesaikan perselisihan, maka apa fungsi dari “kembali kepada al-Quran dan Sunnah”? Untuk apa Allah memerintahkan umat untuk tidak bercerai-berai dan tidak berikhtilaf, jika tidak ada jalan keluar dari sana?

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat, (Q.S 3:105)

Yang dimaksud dengan Tafaraqu `bercerai-berai` adalah ialah perpecahan dalam hal itiqad (keyakinan) dan yang dimaksud dengan ikhtilaf `berselisih` adalah bercerai berai dalam badan serta fisik. Dan didahulukan `bercerai beai` karena ia sebagai penyebab amal yangmenghantarkan mereka pada perselisihan .. (Ali Umar Al-Habsyi, Dua Pusaka Nabi, Hal. 22 Par. 1).

Coba bayangkan, bila saja saat ini Rasulullah hidup di tengah-tengah kita, maka perbedaan pendapat antara kaum Muhammadiyah dengan kaum NU dalam menentukan awal ramadhan itu tidaklah perlu berkepanjangan. Cukuplah kedua belah pihak menghadap kepada Rasulullah untuk menanyakan, pendapat mana yang benar. Maka seketika itu juga, selesailah perselisihan? Apakah hal ini tidak pernah terpikirkan oleh Anda semua?

Mereka berkata, “Tapi masalahnya, saat ini Rasulullah telah wafat, kita tidak bisa bertanya langsung kepada Rasulullah. Dan Rasulullah telah berpesan agar kita berpegang kepada kitabullah dan sunnahnya.”

Benar. Tapi mengapa sunnah kemudian ditafirkan menjadi al-Hadits. Sehingga orang yang ingin berpegang kepada sunnah Rasulullah dirujuk untuk berpegang kepada kitab-kitab hadits?

Lalu dengan mengabaikan perintah untuk berpegang teguh kepada ahli bait nabi, dan menguatkan hadits “kitabullah wa sunnati” dengan surah 4:59, maka terjadilah circular argumen. Tahukah anda, apa itu circular argumen? Yaitu putaran tak berujung. Seperti dialog berikut :

Bujang      : Tuan, apakah sunnah itu?
Tuan      : yang dicontohkan oleh Rasulullah
Bujang      : Lalu, apakah yang dicontohkan oleh Rasulullah itu?
Tuan      : Dia adalah sunnah.

Bujang      : mengapa kita harus lebih berpegang kepada hadits “kitabullah wa sunnati” dari pada kepada hadits         
                          “kitabullah wa itrati” ?
Tuan             : karena hadits itu telah dikuat oleh surah 4:59, perintah untuk bepegang kepada al-quran dan sunnah.
Bujang      : lalu, kenapa lapad “Rasul” dalam ayat itu ditafsir menjadi “sunnah” ?
Tuan             : Berdasarkan hadits “kitabullah wa sunnati”

Itulah circular argumen, antara pertanyaan dengan jawaban, antara alasan dan kesimpulan adalah itu-itu juga.  Kita tidak dapat menerima circular argumen sebagai “kebenaran”.

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged

c2e


Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
2798 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 31, 2012, 08:38:03 PM
oleh perduto
5 Jawaban
3005 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 13, 2013, 06:25:45 AM
oleh fafa
0 Jawaban
2337 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 09, 2013, 12:22:18 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
402 Dilihat
Tulisan terakhir April 10, 2015, 10:48:57 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
414 Dilihat
Tulisan terakhir September 10, 2015, 06:23:26 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
398 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 29, 2016, 10:16:44 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
526 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 03, 2016, 11:02:24 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
422 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 03, 2016, 06:24:27 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
367 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 06, 2016, 03:20:27 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
21 Dilihat
Tulisan terakhir November 17, 2017, 09:37:04 AM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan