Penulis Topik: Dua Konteks  (Dibaca 117 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Dua Konteks
« pada: November 15, 2017, 08:05:42 PM »
SK : kontradiksi
====================
1. Kontradiksi atau Bukan
2. Kasus Kontradiksi
3. Tafsiran Kontradiktif
4. Hipothetical Proposisi Yang Kontradiksi
5. Kontradiksi Dengan Perbuatan
6. Kerancuan Konsep
7. Dua Konteks

Jumlah Karakter : 22.004
Kira-kira : 11 halaman A5
====================

7. Dua Konteks
Edisi : 15 Nopember 2017, 16:24:07

Fakor yang seringkali mengacaukan jalannya diskusi adalah adanya penggunaan dua konteks dalam satu topik diskusi. Penggunaan dua konteks ini mengakibatkan suatu pendapat tidak dapat dikoreksi benar-salahnya. Karena semuanya bisa menjadi benar, dan semuanya bisa menjadi salah.

Dalam dialektika logika, koreksi keyakinan dapat dilakukan dengan cara menunjukan adanya kontradiksi-kontradiksi. Kontradiksi merupakan bukti pasti akan adanya kesalahan dalam suatu pendapat. Tetapi dengan menggunakan dua konteks, maka setiap orang tidak dapat melihat adanya kontradiksi di dalam pendapatnya sendiri, tetapi sebaliknya pendapat orang lain selalu terlihat salah, karena kontradiksi dengan pendapatnya.

Penggunaan dua konteks terjadi di dalam berbagai kelompok diskusi. Dalam pengalaman saya, Contoh kasus yang sering terjadi dalam diskusi tentang "aku", apakah "aku" ini ada atau tiada. Ini diskusi tentang ajaran Buddhisme tentang Anatta. Bermula dari dua bentuk proposisi yang kontrari :

A. Aku itu ada
E. Aku tidak ada

Jika salah satu proposisi di atas bernilai benar, maka pastilah yang lainnya bernilai salah. Tapi karena dikatakan bahwa "aku" pada proposisi pertama dan kedua konteksnya berbeda, maka kedua proposisi tadi tidak lagi dianggap kontrari atau kontradiksi. Lalu, jika demikian, maka bagaimana kita dapat menemukan negasi dari sebuah proposisi ?

Setiap pendapat pasti ada negasinya. Jika benar Anda adalah laki-laki, maka pastilah keliru jika dikatakan bahwa Anda bukan laki-laki. Karena "bukan laki-laki", merupakan negasi dari "laki-laki".  Jika benar "aku itu ada", maka semestinya pernyataan "aku tidak ada" bernilai salah. Jika dikatakan keduanya bernilai benar, maka mana negasi dari proposisi "aku ada" ?

Dalam diskusi yang baik, seseorang tidak hanya dapat menunjukan mana yang benar, tapi juga dapat menunjukan negasi dari kebenaran itu, yakni pendapat yang bernilai salah. Tidak hanya dapat menunjukan mana yang salah, tetapi juga seseorang harus dapat menunjukan negasi dari kesalahan itu, yakni pendapat yang benar.

Mari kita perjelas permasalahan ini dengan kasus tentang Anatta !

Kutip : [1]
---------------
Anatta dalam bahasa pali berarti "Tiada-Aku". Sebagai konsep merupakan antipola dari kata Atta yang berati "Aku". Dalam falsafah buddhis Anatta menunjukkan bahwa segenap hal-ihwal sesunguhnya tidak mempunyai inti yang tetap dan makna yang inheren dan langgeng. Dalam praktik bersemedi Anatta ditunjukkan melalui pengamatan diri sendiri, di mana tubuh, perasaan, pikiran dan kondisi jiwa dapat timbul dan menghilang, bergerak dan berubah tanpa kemampuan pengamat untuk menghentikan atau menciptakannya.
============

"tiada aku" ini berarti "aku itu tak ada". Di dalam tubuh dan batin ini tidak ada faktor yang dpaat disebut dengan "aku". Ini tubuhku, ini mataku, ini perasaanku, ini pikiranku, dan sebagainya. Lalu, "aku" nya yang mana ? Tidak pernah ditemukan faktor yang disebut dengan "aku". Karena itu, kemudian dinyatakan bahwa "tiada aku" atau "aku tidak ada".  Ini adalah ajaran Buddhisme.

Pertanyaannya, apa negasi dari "aku tidak ada" ? Tentunya, negasinya adalah "aku ada". Dengan demikian, jika dikatakan "aku tidak ada" bernilai benar, maka seharusnya "aku ada" bernilai salah. Jika ini bernilai salah, lalu mengapa buddha menyebut dirinya sendiri "aku" ?[1] Bukankah itu menunjukan  Buddha mengakui  "aku ada" merupakan pendapat yang benar ? Tetapi jawabannya, perkataan Buddha tersebut benar, karena "aku" di sana beda konteks. Teman-teman Buddhis menyebutnya "aku" dalam kebenaran konvensional. Entah apa itu yang dimaksud konvensional. Tetapi dengan adanya konteks yang berbeda tadi, maka dua bentuk yang kontradiktif, "aku itu ada" dan "aku itu tak ada", keduanya sama-sama benar.

Sebenarnya, beda konteks itu berarti beda definisi. "tiada aku", ini bernilai benar, ketika definisi "aku" di sini adalah "inti diri". Buddha tidak mengakui adanya "inti diri" yang disebut "aku", sehingga menyatakan "tiada aku". Sedangkan dalam kalimat " aku mengingkat kembali kehidupan-kehidupanku yang lampau", maka "aku" dalam kalimat ini mengandung arti "panca khanda". Karena itu, secara logika dapat dimengerti bahwa "aku ada" dan "tiada aku" tidaklah kontradiktif. Akan tetapi, kembali lagi masalahnya, "bagaimana kita dapat menemukan negasi dari "aku ada", jika nilainya sama benar dengan "tiada aku" ?

Jelas sekali bahwa negasi dari "ada" itu "tiada", maka negasi dari "aku ada", itu pasti "tiada aku". Tetapi "tiada aku" ini tidak dapat dijadikan sebagai negasi "aku ada" dalam kalimat "aku mengingkat kembali kehidupan-kehidupanku yang lampau". Karena "aku" dalam kalimat ini jelas beda definisi. Kalau bahasa logika, itu pasti akan dibedakan dengan aku1 dan aku2, atau A dan B, sehingga variabelnya terlihat sama dan menimbulkan salah tafsir.

Logika dapat mengenali perbedaan definisi untuk satu istilah yang digunakan dalam dua konteks yang berbeda. Oke, .. Dapat dimengerti bahwa perkaaan Buddha tentang anatta tidak kontradiktif dengan perkataanya sendiri tentang "aku mengingat ...". Dan karena konteksnya berbeda, maka pernyataan Buddha tentang "aku mengingat .." harus dikesampngkan dulu, sehingga dalam  diskusi tidak menggunakan dua konteks untuk satu topik.

_____________
1) lihat pernyataan Buddha ketika menyebut dirinya "aku" dalam tulisan "Lahir dan mati Berulang-ulang".

« Edit Terakhir: November 15, 2017, 08:10:03 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
758 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 22, 2014, 04:45:43 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
144 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 18, 2017, 07:57:25 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
111 Dilihat
Tulisan terakhir November 17, 2017, 02:34:51 AM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan