Penulis Topik: Antara Logika, Mistik dan Kesucian  (Dibaca 2534 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Antara Logika, Mistik dan Kesucian
« pada: September 22, 2012, 01:18:38 AM »
Saya adalah seorang murid yang belajar tarekat pada seorang guru yang saya sebut dengan panggilan “Sang Guru”. Ajaran-ajaran beliau telah banyak memberi perubahan besar yang positif dalam hidup saya. Dan ajaran-ajaran beliau mengantarkan saya pada suatu kehidupan yang bahagia. Oleh karena itulah saya mencintai dan menghormati Sang Guru.

Apa yang diajarkan oleh Sang Guru adalah serupa dengan ilmu tarekat dan tasawuf atau ilmu-ilmu kebatinan. Beliau mengajar saya dengan gaya yang unik dan aneh, sampai saya mencapai pencerahan-pencerahan spiritual. Tapi beliu mengajar nyaris tanpa nash-nash dan dalil-dalil teori agama. Oleh karena itu, kemudian saya juga berguru kepada guru-guru lain untuk mempelajari nash-nash, terutama pada kelompok LDII dan syiah. Selain itu, saya juga berguru kepada ulama-ulama dari kelompok lainnya. Mengapa? Apakah tidak cukup dengan ilmu yang diberikan oleh Sang Guru? Ya benar. Sebab, selain kemampuan mencapai pencerahan-pencerahan spiritual tertentu, saya juga butuh nalar yang benar.

Ketika saya belajar kepada guru-guru lain, termasuk kepada ulama-ulama syiah, saya tidak dapat menemukan diantara mereka yang maqam jiwanya melebihi “Sang Guru”, dalam soal pencapaian bentuk-bentuk kesucian, atau kemampuan menembus alam-alam gaib. Para ulama itu “jago” dalam hal teori, tapi dalam hal praktik, itu jauh dibawah sang Guru. Hal ini terkadang membuat saya malas untuk meneruskan belajar dan kadang berniat untuk mencukupkan diri dengan apa-apa yang telah diajarkan oleh Sang Guru. Bahkan ketika saya sampaikan bagaimana ajaran-ajaran sang Guru kepada seorang ulama syiah, maka ia terkagum-kagum dan mengakui bahwa itu adalah ajaran yang luhur. Ia mengatakan bahwa di Iran, ajaran-ajaran yang saya sampaikan itu dikaji oleh “kaum irfan”, artinya itu kajian ulama kelas tinggi. Saya heran, padahal dalam ajaran Sang Guru, apa-apa yang saya uraikan itu adalah pelajaran dasar.

Tetapi ulama syiah ini juga menjelaskan bahwa bukan hanya kesucian yang diperlukan melainkan juga nalar yang benar. Kalau saya ilustrasikan, maka yang diajarkan oleh ulama syiah itu, ia berkata “Misalnya, antum orang yang suci, lalu saya tanya, berapakah 9 x 9 ? lalu antum jawab, 100, maka orang lain mungkin akan menganggap antum bodoh atau barangkali gila. Atau kalau antum mengatakan bahwa segala sesuatu tidak sama dengan dirinya sendiri, maka hal itu bertentangan dengan akal sehat. Lalu, apakah artinya kesucian antum bila antum berbuat kesalahan dalam  berpikir?”

Saya pikir, benar juga yang dikatakan oleh ulama syiah itu. Sang Guru seringkali mengatakan ajaran-ajaran yang aneh dan nyeleneh, yang secara syariat tampaknya itu salah, tapi secara hakikat itu benar. Sebagai contoh, ia berkata di depan semua murid-muridnya yang hadir, “Saya tidak akan melarang kalian untuk berbuat maksiat, tapi saya hanya berpesan, bahwa apabila kalian hendak bermaksiat seperti hendak mencuri misalnya, maka jangan lupa bacalah basmalah!” kalau kata-kata semacam ini di dengar oleh pihak luar, tentulah akan menjadi fitnah besar. Bukankah seharusnya seorang guru melarang murid-muridnya untuk bermaksiat? Mengapa malah menyuruh baca basmalah ketika hendak maksiat? Itulah ajaran yang mungkin dianggap aneh dan nyeleneh.

Tapi suatu keajaiban terjadi, bahwa ketika ada seorang murid yang benar-benar hendak mencuri sesuatu, kemudian ia ingat perkataan Sang Guru, lalu iapun membaca basmalah sebelum mencuri, maka tiba-tiba tangannya serperti tersengat listrik. Iapun kesakitan dan tak jadi mencuri. Ketika hal itu hendak diulangi lagi, kejadian yang sama terjadi. Maka dengan membaca basmalah tersebut, selalu muncul sebuah kekuatan gaib yang menjaga para murid dari berlaku maksiat. Bahkan ketika ada yang mencoba hendak menyentuh wanita yang bukan mahramnya, ia tiba-taba terpental keras dan jatuh ke lantai. Hal ini belum tentu terjadi pada seorang yang bukan murid Sang Guru.

Setelah dibuktikan oleh suatu pengalaman, barulah dapat difahami bahwa wasiat dari Sang Guru itu benar adanya. Walaupun benar, yang kebenarannya dibuktikan secara ajaib, tapi perkataan, “bacalah basmalah sebelum bermaksiat!” adalah suatu teori yang membingungkan yang secara syar`i tampaknya itu bukan suatu teori yang sah. Orang bilang, “tidak ada contoh dari nabi.”

Di waktu lain, Sang Guru berkata, “Janganlah kalian takut pada Allah. Karena yang takut pada Allah itu orang kafir!”

Saya menyanggah perkataan Sang Guru dengan berkata, “Lalu, bagaimana dengan bunyi ayat al Quran `Hai orang-orang beriman, takutlah kalian kepada Allah dengan setakut-takutnya.` ?”

Sang Guru tidak menyanggah, dan ia berkata, “Memang menurut ayat tersebut kalian harus takut pada Allah, tapi saya katakan `janganlah kalian takut pada Allah!` “ tentu saja, hal ini secara nalar bisa ditafsirkan sebagai pengingkaran terhadap ayat-ayat al Quran.

Kadang di waktu lain, seakan-akan Sang Guru mengada-adakan syariat baru, di mana ada seorang lelaki yang memiliki dua istri, kemudian istri pertamanya dia ceraikan. Mengetahui hal itu Sang Guru berkata, “Jika istri pertama diceraikan, berarti istri kedua juga wajib diceraikan. Jika tidak maka istri kedua itu akan sakit-sakitan”

Saya menyangkal Sang Guru dan berkata, “setau saya, tidak ada aturan seperti itu dalam syariat Islam.”

Beliau menjawab, “Silahkan tanya kepada para ulama, kalau kamu gak percaya.”

Sayapun bertanya kepada ulama dari berbagai mazhab, mulai ulama salafi hingga syiah. Semuanya juga menyangkal hukum “wajib cerai” tersebut. maka orang menyangka Sang Guru telah mengada-adakan syariat.

Tapi, suatu hari istri kedua itu bercerita bahwa dulu ketika baru saja menikah, bapaknya pernah menasihati suaminya. Katanya, “kalau kamu punya uang sepuluh ribu, maka tujuh ribu lima ratus untuk istri pertamamu, dan dua ribu lima ratus untuk istri keduamu. Demikianlah aturan yang berlaku.”

Mendengar perkataan bapaknya itu, sang istri muda merasa tidak terima. Ia menganggap aturan itu tidak adil, lalu dia berdoa “Ya Allah, aku ingin diperlakukan sama dengan istri pertama!”

Doa itu dikabulkan. Dalam banyak hal, suaminya memperlakukan kedua istri secara sama. Bahkan ajaibnya, jumlah anak pun sama. Karena itu mungkin Sang Guru berkata, “istri tua diceraikan, yang muda juga seharusnya demikian.” Karena permintaan si istri muda dalam doanya kepada Allah.

Demikianlah! Banyak sudah perkataan-perkataan beliau yang secara lahir salah dan bertentangan dengan syariat, tetapi ternyata hakikatnya benar.

Di waktu lain lagi, ketika saya menasihati murid-murid, “Sebaiknya kalian tidak merokok. Tinggalkanlah rokok. Uang seribu perak, itu mungkin sangat berarti bagi fakir miskin, dari pada kalian belikan rokok.”

Esoknya, Sang Guru berkata kepada para murid, “saya wajibkan kalian merokok!”

Seorang murid kebingungan dan mengadu kepada saya, “Bagaimana ini, Anda menyuruh kami berhenti merokok, Sang Guru menyuruh kami merokok. Mana yang harus saya taati?”

Saya bertanya, “menurut kamu sendiri, mana yang lebih baik, merokok atau tidak merokok?”

“kalo menurut saya sih, lebih baik tidak merokok. Tapi karena memang saya sudah menjadi perokok sejak SMU dan suka merokok sampe sekarang, terus disuruh merokok lagi, maka saya pilih merokok.” Jawab si murid.

Saya berkata, “Lakukan apa yang menurutmu baik untuk kamu lakukan atau silahkan melakukan apa yang kamu inginkan!”

Dengan cara Sang Guru mengajar, banyak orang merasa “tak tahan”, bahkan jadi “salah faham”, sehingga timbulah fitnah. Tak ubahnya seperti Gus Dur dahulu, di mana perkataan-perkataannya banyak yang nyeleneh. Akibatnya? Kita tahu sendiri, apa yang dilakukan rakyat terhadap Gus Dur.

Kalau saya hitung dari daftar, jumlah murid Sang Guru lebih dari 10.000 orang, tersebar di berbagai pelosok negeri hingga ke mancanegara. Tapi Sang Guru berkata kepada saya, “Dari seluruh murid saya, murid yang mampu mewarisi hampir seluruh ilmu saya tidak lebih dari 10 orang.  Salah satunya adalah kamu!”

Lalu saya membandingkan pula dengan kakek saya sendiri. beliau juga seorang ahli ilmu batin. Ia seringkali menceritakan pengalaman-pengalaman mistiknya yang luar biasa kepada orang lain. Tapi ia tidak mengerti alur berpikir logic, dan tidak memperhatikan bahwa orang lain menganggap cerita-ceritanya itu adalah  tidak masuk akal. Sang Kakek juga tidak menguatkan argumen-argumentasi ajarannya dengan nash-nash yang ada. Ia tidak pernah tau bahwa apa-apa yang diajarkannya kepada saya, semua itu telah diberitakan di dalam al Quran karim.  Dan tak jarang cerita-cerita dan filsafat sang kakek menjadi bahan tertawaan orang. Dia sendiri menyadarinya sehingga ia berkata, “Biarlah kakek dikatakan gila sama orang lain, apa yang kakek ceritakan adalah yang sebenarnya.”

Ajaran Sang Kakek telah sepenuhnya di wariskan kepada saya. Tetapi dalam cara menyampaikan tentulah berbeda. Saya mengukur taraf berpikir orang lain, serta selalu menggunakan metoda logika. Lalu apa yang ingin saya ceritakan, saya ceritakan secara bertahap sehingga bisa difahami sebagai sesuatu yang masuk akal. Setidaknya dengan logika, kesalah fahaman dapat jauh lebih banyak dikurangi.  Tak jarang orang yang berdialog dengan kakek saya kemudian mengadu kepada saya, lalu saya jelaskan semua itu secara logic sehingga akhirnya mereka mengerti. Demikian pula, saya seringkali menajdi penerjemah ajaran Sang Guru yang kadang membingungkan para murid lain.

Suatu hari, kepada ulama syiah saya menceritakan kemampuan-kemampuan supranatural Sang Guru. Ulama syiah itu bertanya, “Apakah guru ente bisa terbang di angkasa seperti burung?”

“tidak bisa!”

“Kalau begitu, siapa yang lebih hebat, guru ente atau burung?”

“Dalam hal terbang, burunglah yang leih hebat.” Jawab saya.

“Apakah guru ente bisa berpindah dari satu negara ke negera lainnya dalam waktu sekejap?”

“Tidak bisa.” Jawab saya.

“Kalau iblis bisa. Siapa yang lebih hebat kesaktiannya, guru ente atau iblis? Lebih dari itu, iblis sudah berdialog dengan Allah, bahkan ia telah beribadah selama 6 ribu tahun, lebih hebat enggak tuh dibanding Guru Ente? Tapi mengapa iblis kemudian digolongkan kepada golongan orang-orang kafir? Karena ia mengingkari pemimpin yang ditunjuk oleh Allah.” Demikian kata ulama syiah tersebut.

Saya tidak dapat menyangkal perkataan ulama syiah ini. Dia menunjukan bahwa “kesucian saja” tidaklah cukup, apalagi sekedar bentuk-bentuk kesaktian. Sebab, seseorang tidak akan merasa bahagia hatinya bila ia menyadari bahwa dirinya telah berpikir dengan tidak benar, atau telah salah faham, meyakini hal-hal salah. Jika saya tidak butuh kepada nalar yang benar, maka saya akan diam saja ketika seorang hindu bertanya kepada saya, “Anda muslim, tapi kenapa bermeditasi seperti orang hindu?” saya tidak akan merasa gembira bila tidak dapat menjawab pertanyaan itu scara benar. Jadi, tuntutan akan kebutuhan terhadap “nalar yang benar”, itulah yang kemudian membuat saya merasa tidak cukup hanya berguru kepada Sang Guru.

Dengan Logika, kita bisa bergerak ke akhir sebelum memulai. Seperti misalnya, jika ada seorang guru yang sakti, yang bisa mengajarkan saya untuk bisa terbang seperti burung, maka akankah saya berguru kepadanya? Lalu, jika saya sudah bisa terbang, maka apakah yang akan saya lakukan? Akan digunakan untuk apa kemampuan itu? apakah dampak negatif yang akan saya terima dari munculnya kemampuan tersebut dalam diri saya? Kalau akhirnya diketahui bahwa semua itu tidak ada artinya, bahkan cenderung akan merugikan diri saya sendiri, maka tentu saya tidak akan belajar terbang seperti burung.

Hal yang sama saksikan pada murid-murid yang terobsesi dengan ilmu-ilmu mistik. Mereka sangat bersemangat untuk belajar cara menyingkap alam-alam gaib, seperti misalnya bagaimana mendeteksi keberadaan jin, mengkal jin, mengobati orang kerasukan, berkomunikasi dengan jin atau melihat alam-alam yang lebih tinggi dari alam jin. Tapi kalau dengan logikanya dia mengetahui bahwa kemampuan-kemampuan seperti itu tidak lantas membuat dirinya menjadi manusia yang lebih baik, maka ia tidak akan terobsesi untuk menguasai ilmu-ilmu seperti itu.

Kesimpulannya, akhirnya kemampuan-kemampuan supranatural dan bahkan kesucian akan menjadi hancur atau tidak ada artinya, bila kita tidak memiliki logika yang lurus. Inilah yang menjadi alasan, mengapa saya ingin seluruh murid-murid saya mengedepankan logika di atas mistik dan kesucian. Sebaliknya, logika tanpa kesucian dan mistik, ibarat kulit kacang tanpa isi.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Antara Logika, Mistik dan Kesucian
« Jawab #1 pada: September 24, 2012, 03:42:57 PM »
Assalamualikum wr wb pak...

Pak apa Segala sesuatu bisa di pecahkan dengan cara berpikir menggunakan LOGIKA?

Berpikir Logika yang lurus itu bagaimana?

Apa pemikirian logika tergantung pengetahuan yang ada pada diri tiap orang?

Bagaimana cara menganalisa pernyataan orang lain kalo secara logika benar tapi menurut hati ada yang salah? atau sebaliknya?
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Antara Logika, Mistik dan Kesucian
« Jawab #2 pada: September 24, 2012, 08:07:05 PM »
Assalamualikum wr wb pak...

Pak apa Segala sesuatu bisa di pecahkan dengan cara berpikir menggunakan LOGIKA?

waalaikum salam. terima kasih telah aktif kembali berdiskusi!

tidak smua hal bisa dipecahkan dengan cara berpikir logic.

tetapi semua hal yang dikatakan dalam bentuk kata-kata, bisa diuraikan secara logic.

karena logika itu sendiri mempelajari "ilmu kata".

walaupun kita tidak bisa mendefinisikan segala sesuatu, tapi segala sesuatu yang bisa disebut ada definisinya. dan aturan membuat definisi itu ada dalam logika. oleh karena itu, logika menyentuh segala sesuatu yang bisa disebut.

Quote (selected)
Berpikir Logika yang lurus itu bagaimana?

yang sesuai dengan hukum-hukum berpikir yang benar.

Quote (selected)
Apa pemikirian logika tergantung pengetahuan yang ada pada diri tiap orang?

logika tidak bergantung kepada pemikiran siapapun, karena ia adalah hukum yang universal. undang-undang berpikir.

segala pemikiran manusia secara logic tidak pernah keluar dari 64 modus berpikir. tetapi kesimpulan yang disimpulkan oleh masing-masing orang memang berbeda, sesuai dengan bahan-bahan yang disimpulkannya, dan melali modus mana sesuatu itu disimpulkan.

Quote (selected)
Bagaimana cara menganalisa pernyataan orang lain kalo secara logika benar tapi menurut hati ada yang salah? atau sebaliknya?

logika itu butuh pembuktian ilmiah. sebenar-benarnya logika, itu hanyalah hipotesa. hanya bersifat dugaan. tapi yang bersifat pasti dalam hipotesa itu adalah "jalan pikirannya". misalnya, jika A adalah B, dan B adalah C, maka pasti A adalah C. tidak bisa tidak, dan tidak boleh tidak begitu. karena itu sudah bersifat sangat pasti. itu disebut kepastian logic. tapi kalau dari sisi ilmiah, itu hanyalah hipotesa, atau sekedar dugaan yang harus dibuktikan secara ilmiah, apakah benar A itu C? jika ternyata tidak benar, bukan berarti logika yang salah, tapi pasti ada kesalahan di dalam material syllogismenya atau kesalahan dalam "bahan pikiran".
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Antara Logika, Mistik dan Kesucian
« Jawab #3 pada: September 26, 2012, 09:54:12 AM »
waalaikum salam. terima kasih telah aktif kembali berdiskusi!

Sama-sama pak, Kalo ada waktu luang InsyaAllah mampir dan nimbrung komentar disini

logika tidak bergantung kepada pemikiran siapapun, karena ia adalah hukum yang universal. undang-undang berpikir.

sip pak, kalo begitu adie harus belajar lagi logika dengan lanjut

soalnya waktu dulu adie baru belajar jika A adalah B, dan B adalah C, maka pasti A adalah C dari bapak

berarti adie haru belajar lagi di tread TEORI LOGIKA
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Antara Logika, Mistik dan Kesucian
« Jawab #4 pada: September 26, 2012, 04:40:20 PM »
syukurlah kalo ada smangat kembali untuk belajar logika.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Antara Logika, Mistik dan Kesucian
« Jawab #5 pada: September 27, 2012, 10:54:54 AM »
syukurlah kalo ada smangat kembali untuk belajar logika.

Iya mudah2an semangatnya gak turun naik pak ^_^
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Antara Logika, Mistik dan Kesucian
« Jawab #6 pada: Maret 11, 2015, 11:42:09 AM »
Sepertinya "Sang Guru" ini termasuk orang bertipe "Anti-Hero" ya...?
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
2398 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 14, 2013, 02:54:49 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1069 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 21, 2012, 04:25:37 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1387 Dilihat
Tulisan terakhir September 26, 2012, 10:16:34 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1132 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 04, 2015, 07:55:17 PM
oleh Ziels
1 Jawaban
1345 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 23, 2013, 09:18:36 PM
oleh Sandy_dkk
4 Jawaban
2718 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 21, 2013, 06:47:27 AM
oleh Kang Asep
10 Jawaban
1980 Dilihat
Tulisan terakhir November 14, 2015, 10:22:55 AM
oleh Monox D. I-Fly
3 Jawaban
784 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 27, 2014, 06:34:39 PM
oleh kang radi
2 Jawaban
495 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 21, 2016, 10:29:02 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
251 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 31, 2016, 12:04:10 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan