Penulis Topik: Kebebasan Berpendapat  (Dibaca 502 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 60 times
  • Total likes: 416
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kebebasan Berpendapat
« pada: Desember 31, 2014, 10:08:49 PM »

saya pikir Ulil Abshar itu orang yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. apa saya salah ?

Mereka berpendapat bahwa Osama, Abu Bakar Al Baghdadi, dan kawan-kawannya itu adalah Mujahidin. dan mereka ingin menyampaikan pendapatnya ke publik. apa mereka salah ? apa mereka melanggar undang-undang ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 60 times
  • Total likes: 416
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Kebebasan Berpendapat
« Jawab #1 pada: Pebruari 08, 2018, 12:08:57 PM »
Kebebasan Berpendapat
Edisi : 08 February 2018, 12:05:48

Saya berkeyakinan bahwa di sebuah negara merdeka, orang akan bebas mengatakan apapun sebagai cara menyatakan pendapatnya. Ketika ada pihak-pihak yang harus dipenjara karena pendapatnya, maka itu menunjukan bahwa negara tersebut masih dalam penjajahan, belumlah merdeka.

Tetapi, ada perbedaan antara menghina dan berpendapat. Apakah perkataan yang menghina merupakan suatu bentuk kejahatan dan pelakunya harus dihukum ? Saya tidak mengetahuinya. Akan tetapi, problem yang muncul saat ini adalah suatu pendapat dapat dinyatakan sebagai "hinaan". Atau sebaliknya, hinaan dapat dinyatakan sebagai "berpendapat". Jadi, apakah batasan antara berpendapat dan menghina ?"

Di Indonesia, kebebasan berpendapat dijamin oleh undang-undang UUD 45 pasal 28E ayat(3). yang berbunyi “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan menyampaikan pendapat”. Semua sepakat mengenai jaminan kebebasan berpendapat ini.

Pasal tersebut diperjelas dalam UU No. 9 tahun 1998 :

1. Kemerdekaan menyampaikan pendapat = Yaitu hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Dimuka umum = Yaitu dihadapan orang banyak termasuk juga tempat yang dapat dilihat oleh orang lain.

Kutip dari : Henry Yosodiningrat {1]
-------------------------
Saya sangat menghargai kebebasan mengemukakan pendapat. Akan tetapi dalam menggunakan hak itu tentunya harus ada batasan, sehingga tidak  menyerang hak serta kehormatan orang lain. Untuk itu sudah ada beberapa pasal di dalam KUHP.
=================

Bagaimanakan batasannya ? Berikut adalah batasannya :

Kutip : [2]
---------------
Batasan-batasan Mengemukakan Pendapat.
Kemerdekaan menyatakan pendapat ternyata ada batasnya. Pembatasan ini dimaksudkan agar terwujud kebebasan bertanggung jawab. Orang tidak boleh sebebasbebasnya dalam menyatakan pendapat tetapi tunduk pada beberapa batasan. Batasanbatasan tersebut antara lain :

a. Hak dan kebebasan orang lain
b. Norma-norma yang diakui dan berlaku umum
c. Keamanan dan ketertiban umum
d. Keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa

Contoh penyampaian pendapat yang mengganggu hak kebebasan orang lain : menyatakan pendapat dengan jalan menutup seluruh jalan sehingga membatasi orang yang akan lewat.

Contoh penyampaian pendapat yang mengabaikan norma : penyampaian pendapat dengan cara berpawai telanjang.

Contoh penyampaian pendapat yang mengganggu keamanan dan ketertiban : penyampaian pendapat dengan cara membakar ban-ban bekas atau merusak barang yang dilewati.

Contoh penyampaian pendapat yang menciptakan perpecahan bangsa : penyampaian pendapat dengan cara menjelek-njelekkan suku lain. Penyampaian pendapat tanpa batas dan tidak bertanggungjawab berarti menyatakan pendapat sebebas-bebasnya tanpa mematuhi batasan-batasannya. menyatakan pendapat Berarti juga tidak mau tahu serta mengelak dari segala akibat yang ditimbulkannya
============

Apakah batasan tersebut tertuang dalam KUHP seperti yang dimaksud oleh mas Henry ?

Lalu, apa yang dimaksud dengan "dengan cara apapun dan tidak memandang batas-batas yang tertuang dalam pasal 19 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia "“ Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat, dalam hal ini  termasuk kebebasan mempunyai pendapat dengan tidak mendapat gangguan dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan keterangan dan pendapat dengan cara apapun juga dan tidak memandang batas-batas.”

A) Kebebasan berpendapat harus dibatasi
E) Kebebasan berpendapat tidak harus dibatasi

Mana yang benar ?

Saya meyakini E) Kebebasan berpendapat tidak harus dibatasi. Yang harus dibatasi adalah cara menyampaikan pendapat dan cara mengimpelentasikan pendapat tersebut. Karena itu, saya tidak menyetujui gerakan-gerakan seperti pembubaran pengajian, pembubaran organisasi kemasyarakatan karena ideologinya, tidak setuju seseorang dihukum karena mengkritik dan juga tidak menyetujui hukuman atas tuduhan penistaan agama. Akan tetapi, setuju bahwa seseorang harus dihukum karena "perilaku yang jahat", bukan karena pendapatnya.

Misalnya, boleh saja seseorang berpendapat bahwa tetangganyai "ahli bid`ah". Tetapi, apabila kemudian ada dia yang meludahi tetanggannya, karena pendapat tersebut, maka dia  itu harus dihukum karena tindakannya itu, bukan karena pendapatnya. Bentuk ektrimnya, seseorang boleh berpendapat bahwa lawan bicaranya pantas untuk dibunuh. Dan dia tidak boleh dihukum karena pendapat itu. Tetapi apabila dia sudah memerintahkan untuk membunuh, atau sudah berusaha untuk melakukan pembunuhan, maka itu harus dihukum. Jadi, hukum harus dijatuhkan atas perilaku yang salah, bukan pendapat yang salah. 

Hal ini juga terjadi pada zaman para wali. Di mana, murid-murid Syek Lemah Abang (Siti Jenar) melakukan keonaran. Tapi kemudian Siti Jenar yang harus dihukum mati, padahal beliau tidak memerintahkan murid-muridnya untuk melakukan keonaran. Apa yang dilakukan terhadap Syekh Siti Jenar adalah bentuk ketidakadilan.

Bagaimana menurut pendapat Anda ?
____________
[1]https://www.youtube.com/watch?v=BgHFwcrZ4Zw&feature=youtu.be&t=459
[2]https://ppknsmp123.blogspot.co.id/2016/03/apa-saja-batasan-batasan-mengemukakan.html
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 60 times
  • Total likes: 416
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Kebebasan Berpendapat
« Jawab #2 pada: Pebruari 08, 2018, 12:48:57 PM »
Mas Sultan, [08.02.18 12:34]
Apakah cara menyampaikan suatu pendapat tidak termasuk dalam berpendapat ?

Kang Asep, [08.02.18 12:35]
ya termasuk.

Mas Sultan, [08.02.18 12:36]
Berarti cara menyampaikan suatu pendapat adalah berpendapat ?

Kang Asep, [08.02.18 12:37]
benar.

Mas Sultan, [08.02.18 12:45]
• Cara menyampaikan suatu pendapat adalah berpendapat

Kalau begitu apakah kebebasan sebagian yang berpendapat (berpendapat) harus dibatasi dan kebebasan sebagian yang berpendapat (berpendapat) tidak harus dibatasi ?

Kang Asep, [08.02.18 12:46]
tidak.  pernyataan saya di atas keliru. akan saya koreksi.

yang benar, kebebasan berpendapat itu harus dibatasi. yang tidak harus dibatasi itu adalah pendapatnya itu sendiri.

Mas Sultan, [08.02.18 12:47]
Setuju
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 60 times
  • Total likes: 416
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Kebebasan Berpendapat
« Jawab #3 pada: Pebruari 08, 2018, 12:56:15 PM »
wan, [08.02.18 12:48]
Jika pendapatnya dibatasi, bukannya berarti kita tidak bebas berpendapat?

Kang Asep, [08.02.18 12:49]
betul.

Kang Asep, [08.02.18 12:51]
jadi, gimana dong ? ????

Mas Sultan, [08.02.18 12:52]
Tetàpi bukan berarti jika berpendapatnya dibatasi, maka pendapat kita tidak dibebaskan.

Kang Asep, [08.02.18 12:52]
betul.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 60 times
  • Total likes: 416
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Kebebasan Berpendapat
« Jawab #4 pada: Pebruari 08, 2018, 02:01:44 PM »
Aflah al-Humaidi, [08.02.18 13:58]
Jadi, definisi yg bagaimanakah yg kita pakai untuk term "pendapat" dan "berpendapat" pada kesempatan ini?
1. Apakah pendapat dan berpendapat itu sama atau berbeda? Apakah bedanya hanya makna fungsional kata saja (pendapat=perihal, berpendapat=aktivitas)? Atau bedanya menyangkut hal yang lebih dari sekedar fungsi bentuk kata?
2. Pendapat itu ada di mana? Yg masih dalam pikiran atau yg sudah dikeluarkan/dinyatakan/diungkapkan?
3. Kebebasan yg dimaksud apakah kebebasan menyusun, memiliki dan/atau menyetujui suatu ide, atau kebebasan menyatakan ide?

Kang Asep, [08.02.18 14:01]
imbuhan ber itu memiliki banyak arti.

berlari => melakukan lari
berambut => memiliki rambut

jadi, "ber" itu bisa berarti berperilaku, bisa pula memiliki.

karena itu, "berpendapat" dalam arti "berperilaku menyampaikan pendapat" itu harus dibatasi. tetapi "berpendapat" dalam arti "memiliki pendapat" itu tidak boleh dibatasi.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan